SI KIDAL SANG PENOLONG

SI KIDAL SANG PENOLONG
Si kidal sang penolong eps 208


__ADS_3

Setelah ki Topo, Burnaman dan Damar di bawa ke klinik, dan semua biaya pun sudah Nandi lunasin, kemudian setelah itu Nandi dan para famili Gang Si'iran pamit pergi pada ki Topo yang sudah mulai sadar dari pinsannya.


Nandi melakukan pertolongan pada ke tiga lelaki yang usianya sudah tua, apa lagi ki Topo yang sudah lanjut, Nandi memberi luang dan kesempatan pada mereka untuk kembali ke jalan yang benar.


Baru kali ini Ki topo mendapat lawan yang tangguh apalagi hanya seorang bocah, yang pantas menjadi cucunya, yang dengan mudahnya telah menumbangkanya.


Tidak terasa bulir-bulir air bening mengalir dari ke dua susut matanya, melewati pipi kiri dan kanan lalu jatuh di bantal.


Seorang Jawara, black crow kini harus terbaring di atas branker dan menjalani perawatan di sebuah klinik Husada.


Mungkin itu sebuah teguran dari sang pencipta bahwa semua makhluk hidup di muka bumi, semua pasti akan mengalami yang namanya ke matian, dan tidak ada yang jago di dunia ini, karena di atas langit masih ada langit.


Se sakti apa pun manusia, bila sudah di takdirkan mati takan bisa menghalanginya, bahkan yang sakti kaya apapun bila sudah di beri sakit, ia akan nampak melemah dan tidak berdaya.


Di dalam kesedihannya ki Topo, terus bermunculan bayangan kejahatannya yang pernah ia lakukan pada pada musuhnya atau orang-orang yang tidak berdosa.


Seperti mengejek dan mencemoohkannya, kini terbuka di hati yang paling dalam, suatu nasehat dari guru agamanya dulu sewaktu ia masih kecil, yang mengajarkan hal-hal yang baik, yang pernah di lupakan setelah ia menginjak dewasa hingga sa'at ini, terucap dari mulut ki Topo.


"Astagpirullah hal adzim." Ucap Ki Topo, kini ia menyadari akan jalan yang selama ini ia jalani yang selalu banyak merugikan orang.


"Terima kasih anak muda, sekarang saya sadar, mungkin ini semua teguran dari Allah subhanahu wata'ala, ampunkanlah segala dosa-dosa ku ya Allah." Ujar ki Topo bermonolog.


..............................


Sementara Nandi dan para famili Gang Si'iran semenjak kepulangannya dari mengantar tiga tokoh Black Crow yang terluka ke klinik, dalam perjalanannya pulang ke Gang Si'iran agak terhambat, jalanpun nampak macet, dalam parjalanan padat merayap..


"Ada apa ini, tidak biasanya di hari libur jalanan macet begini." Cetus Gito.


"Sepertinya ada ke celaka'an." Ujar Hasan.


Kemudian Nandi bertanya pada salah satu pengendara motor yang lain.


"Ma'ap bang ini ada apa sih, tidak biasanya jalanan macet di hari lubur begini?." Tanya Nandi.


"Katanya sih ada ke celaka'an, pengendara motor jatuh dan terlindes oleh mobil truk yang mengangkut bahan bangunan." Jawab nya.


"Ina lilahi, terus pengendara motor itu gimana ke ada'annya?." Nandi lanjut bertanya.


"Ya namanya terlindes, katanya langsing meninggal di tempat." Jawabnya.


Nandi bersama yang lainnya langsung menggidik mendengar kabar dati orang itu.


Sepuluh menit kemudian jalanan pun sudah mulai terkendali walau belum begitu lancar, tapi sudah bisa berjalan perlahan-lahan, setelah korban ke celaka'an sudah berhasil di amankan oleh para petugas kepolisian berikut supir truk tersebut.


Kemudian Nandi dan para famili Gang Si'iran pun sudah melaju dengan kecepatan tidak terlalu kencang menyusuri sepanjang jalan Biyawak.


Tidak lama kemudian Nandi beserta para famili Gang Si'iran telah tiba di Gang Si'iran, dan menghentika kendara'annya di depan Kedai, yang masih tertutup, karena kalau hari libur kedai pun ikut libur.


Toglo lalu turun dari motornya Nandi, yang di susul oleh Mira yang di bonceng oleh Gito, untuk segera membuka kedai karena Nandi meminta pada Mira, untuk segera bikinin Kopi untuk meregangkan otot-otot di otaknya, sehabis bertarung dengan orang-orang perguruan Black Crow.


Serolokk..


Suara Rolling door di bukanya, kemudian Mira menyalakan alat penyeduh kopi seperti Mesin espreso dan Drive brewer, untuk menghasil kopi yang lebih berkualitas dalam cita rasa kopi pilihan.

__ADS_1


Tiga puluh menit kemudian kopi pun sudah siap di antar.


Kemudian Mira mengantarkan beberapa gelas kopi lalu di daratkan di meja di mana Nandi dan para famili Gang Si'iran lagi berkumpul.


"Wah mantap nih, kopi espreso." Cetus Gito.


"Teh tuti emang gak bikin kopi?." Tanya Mira.


Astuti pun langsung menoleh pada arah suara yang memanggilnya. "Ooh iya Mir, gue bikinin capucino ya, tambah susu." Jawab Astuti.


"Oke siap."


"Oh iya Mir, sekalian buat suami gue, capucino juga ya." Ucap Astuti.


"Siap bos."


Mira melangkah memasuki ruang kerja di kedai itu, untuk membuat pesanannya Astuti.


Sementara Toglo pamit pada Nandi dan semua para famili Gang Si'iran, untuk pulang karena merasa khawatir pada nenek Jumi dan kedua adiknya.


Nandi pun mengerti dengan ke ada'annya Toglo, lalu Nandi meminta pada Mira untuk bikinin capucino susu tiga untuk Nenek Jumi, Wawan dan Wiwin.


Singkatnya Mira pun sudah selesai bikinin capucino plus susu, dengan tiga Cup.


"Ini Wan, gue bikinnya juga yang paling enak, salam ya buat adik dan nenekmu." Ujar Mira sembari memberikan kantong pelastik.


"Oke teh Mir, terima kasih." Ujar Toglo.


"Oke Wan, sama-sama." Jawab Mira.


"Iya Glo, makasih ya, salam buat nenek dan adikmu." Ujar Nandi.


Setelah itu Toglo pun langsung meluncur dengan sepeda gunungnya, menyusuri jalan Gang Si'iran ke bagian barat yang tembusnya ke Gang Sawah.


Goesan-goesan Toglo dalam melajukan sepedanya begitu cepat dan tidak seperti lelah, makanya tak heran bila Toglo mempunyai pisik yang kuat karena setiap hari dia selalu mengayuh srpeda gunungnya.


Tidak lama kemudian Toglo telah sampai di depan rumahnya, lalu dari arah selatan terdengan suara yang memanggilnya.


"Bang bang Wanda."


Lalu Toglo menolehkan pandangan ke arah pusat suara, nampak terlihat oleh Toglo adiknya Wiwin dan Wawan lagi asik bermain layangan.


"Dek Wiwin, emang sudah belajar, ko main layangan." Sapa Toglo.


"Sudah dong Bang."


"Bagus kalau begitu, ini abang bawain Capucino plus susu, yang di taburi dengan bubuk coklat itali." Ujar Toglo sambil memperlihatkan tentengannya.


Wiwinpun lalu berlari di tengah pematangan sawah yang kering karena habis di panen, dan banyak di pakai anak-anak main layangan.


"Awas dek hati-hati." Ujar Toglo.


"Iya Bang."

__ADS_1


Setibanya di dekat Toglo, Wiwin pun menerima dua Cup yang berisikan Capucino.


"Ini buat Wiwin dan kak Wawan, awas jangan lari." Ujar Toglo.


"Buat nenek mana?." Tanya Wiwin.


"Ini buat nenek." Jawab Toglo.


"Lalu bang wanda mana?." Wiwin lanjut bertanya


"Hehe anak pintar, udah adek tidak usah menghiraukan abang, abang sudah minum di kedainya pak Nandi." Ujar Toglo tersenyum tipis.


"Oh begituuu, toh." Cetus Wiwin sembari melangkah lagi menuju pada kakanya(Wawan) yang lagi asik main layangan.


Kemudian Toglo membuka pintu dan masuk ke dalam rumah. "Assalam mu'alaikum nek." Sapa Toglo.


"Wa alaikum salam, eeh kamu Toglo, tumben jam segini sudah pulang." Jawab nenek Jumi.


"Iya nek kan sekarang hari libur nek, aku cuma nemenin pak Nandi keluar, ya setelah beres urusannya ya aku pulang, ini nek aku bawain capucino untuk nenek." Ujar Toglo sambil menyimpan Cup di hadapan nenek Jumi.


"Wah, kamu tau aja kalau nenek suka ini." Lirih nenek Jumi.


Kemudian Toglo pun masuk ke kamarnya, setelah itu keluar lagi sambil membawa kain handuk, untuk membersihkan badannya di sumur pancuran samping rumahnya.


Setelah selesai mandinya, dan ganti salin, Toglo pun langsung keluar, duduk di bangku yang terbuat dari bambu, lalu mengeluarkan handpondnya dari balik saku celana depan.


Kini Toglo membuka aplikasi whatssap, melakukan chatingan dengan wanita yang ia rindukannya.


📱.Toglo "Halo sayang, apa kabar, hari libur lagi ngapain nih."


Toglo menunggu chat balasan dari wanita yang bernama Wulan, lima menit Toglo menunggu, akhirnya nada notifikasi berbunyi.


📱.Wulan "Halo juga Aa, Alhamdulilah kabar baik, maap telat balasnya, ku lagi beres-beres bantuin ibuk, Aa wanda sendiri lagi ngapain?."


📱.Toglo "Wah anak yang rajin, ku lagi nongkrong aja sambil lihat adik-adiku main layangan."


📱.Wulan "Kayanya enak tuh di sore begini main layangan, lagi pula suasana di Gang sawah itu enak, sambil melihat pemandangan."


📱.Toglo "Emang nya kamu tau tempat ku?."


📱.Wulan "Kalau Gang Sawah Gue tau, dulu waktu gue masih SMP sering main kesitu, mencari jangkrik, pokonya seru deh, rasanya gue pingin reinkarnasi ke masa kecil lagi."


📱.Toglo "Hahaha, Wulan-Wulan, segitu juga seharusnya lo' bersyukur, bisa tumbuh dewasa, dan punya kerjaan yang bisa meringankan beban orang tua."


📱.Wulan "Ya gua juga bersyukur Wan, maksud gue waktu kecil itu rasanya bahagia terus."


📱.Toglo "Ya iya atuh, waktu kecil itu belum kepikiran masalah beban mencari napkah, cuma gua yang sedari kecil sudah tau bagaimana cara mempertahan kan hidup."


📱.Wulan "Iya gue salut sama lo' Wan, makanya gue suka sama lo, awas jangan ge'er ya."


📱.Toglo "Tidak ko, gua tidak ke ge'eran."


📱.Wulan "Ya udah Wan, kita tutup dulu, nanti sambung lagi ya, gue harus bantuin ibuk dulu masak."

__ADS_1


Setelah itu Toglo pun langsung menutup aplikasi whatssap, dan handpond nya kembali di masukin kedalam saku celananya.


__ADS_2