SI KIDAL SANG PENOLONG

SI KIDAL SANG PENOLONG
Si kidal sang penolong eps 223


__ADS_3

Suasana di kota pada malam hari masih nampak ramai oleh lau lalang orang-orang dengan berbagai tujuannya masing-masing.


Hiruk pikuk kendara'an nampak masih terus memadati di jalan raya, dengan melaju pada merayap, karena arus jalan sudah mulai macet.


Tiga orang pengendara motor dengan rambut gondrong tidak mengenakan helm, lagi terus memeped mobil portuner warna merah, kemudian tangan di ketukan pada kaca jendela mobil tersebut, dan salah satu dari kawannya mengeluarkan sebuah senjata api.


Tok


Tok


"Cepat buka pintunya, atau timah panas akan memakan kepalamu." Bentaknya dengan Paksa.


Rupanya ke tiga orang itu adalah para penjahat yang sedari tadi membuntuti mobil portuner tersebut.


Sang pengemudi mobil itu nampak mulai gugup dan ketakutan ia bingung mesti bagaimana, mau melaju keada'an jalan lagi macet, mau teriak, selongsong senjata api sudah mengarah pada kepalanya.


Akhirnya mau tidak mau ia memilih menuruti orang itu, perlahan pengemudi mobil itu membuka kaca jendela mobilnya.


"Sekarang buka pintunya, cepetan." Ujarnya sambil menodongkan senjata api.


pengemudi itu tidak berkata sedikitpun, ia hanya menuruti ke inginan orang itu sambil bergumam dalam hati.


"Ya Allah mimpi apa aku, aku mohon lindungilah diriku dari orang jahat yang sekarang ada di dekatku." Batinnya.


Setelah pintu terbuka orang itu pun lalu masuk, dan duduk di samping pengemudi sambil menutup rapat kembali pintu mobil tersebut.


"Ayo kemudi terus mobilmu cepat." Ancamnya sambil menodongkan selongsong senjata api ke kepala.


Lelaki paruh baya berbadan tegap, dan berkulit putih bersih nampak gemetaran, ketika sebuah benda bulat kecil terasa dingin menyentuh pelipisannya. Dan dalam mengendalikan setirpun seperti kurang kendali.


"Yang benar nyetirnya, kamu mau bunuh saya ya." Bentak lelaki gondrong itu.


"Iya bang, sebenarnya abang ini mau apa?." Tanya sang pengemudi mobil itu.


"Sudah jangan banyak tanya, ikuti saja apa kata gue." Bentaknya.


"Ba ba baik bang."


Kini jalanan pun sudah mulai lancar kembali, ketika sudah melintasi lampu hijau di setopan pertiga'an antara jalan mengkudu dan jalan ketupat.


Si pengemudi itu nampak seperti semringah ke tika ia tiba di jalan ke tupat, pas melihat seorang wanita tomboy keluar dari perusaha'an Distributor mengendari motor honda yang di modifikasi tracker drag, lalu si pengemudi itu memberi isyarat dengan me mijit klakson.


Tid tidid.


Wanita itu pun lalu melaju agak minggir ke sisi, dan ia pun tidak paham akan bunyi klason itu.


Si pengemudi mobil portuner itu berharap wanita itu dapat mengenalinya.


"Ayo dong dek Tuti lihat ke sini." Batin si pengemudi itu.


Ternyata wanita yang mengendarai motor Honda GL yang di modifikasi model Tracker drag itu adalah Astuti, yang baru pulang abis meeting, dengan relasinya, sambil mengerjakan beberapa file yang menumpuk.


Astuti dengan santainya melajukan kendara'annya, secara tidak sengaja netra Astuti menatap pada plat nomor mobil portuner tersebut dengan intens.


"Lha bukankah ini mobilnya bokapnya Nina, gue hapal plat nomornya." Ujar Astuti sembari menarik gasnya dan melewati dua pengendara motor yang mengikuti di belakang mobil tersebut.


Setelah sejajar dengan mobil itu Astuti pun lalu mengetuk kaca jendela mobil dan berkata.


"Pak Juna baru pulang ya." Sapa Astuti.

__ADS_1


"Iya dek Tu t Tuti." Jawabnya terbata-bata.


Astuti sejenak terdiam, memikirkan jawaban pengemudi yang di panggil Juna, seperti lagi dalam keada'an panik.


"Seperti ada yang tidak beres dengan pak Juna." Gumam Astuti dalam hati.


Lalu Astuti menoleh kebelakang pada dua orang pengendara motor yang sedari tadi tidak jauh dari mobil portuner itu.


"Wah celaka sepertinya pak Juna dalam keada'an bahaya." Batin Astuti.


Kemudian Astuti menarik gasnya dan menyalip dengan menggunting mobil itu.


Cekiiiiiittttttttt.


Suara bunyi rem yang di injak dalam keada'an kaget.


Duuk


Lelaki yang lagi duduk di samping Juna terpentok ke palanya.


Pluk


Plaak


Senjata yang ada di genggamannya terlepas jatuh ke jok dan memantul lalu jatuh ke bawah jok, dengan cepat Juna membuka pintu mobilnya keluar memburu pada Astuti.


"Tolongin Bapak dek Tuti, bapak mau di rampok." Ujarnya panik.


"Jadi di dalam ada perampoknya?." Tanya Astuti.


"Iya dek dan kedua pengendara motor itu temannya yang mengikuti dari tadi." Jawabnya.


Sementara kedua pengendara motor itu langsung melompat, sambil menodongkan sebuah belati.


Astuti dengan tenang dan Santainya, lalu melangkah turu dari motornya, sambil membuka helm nya.


"Ooww, sebuah pertunjukan yang luar biasa, jadi kalian ini mau merampok." Ujar Astuti.


"Hai kamu jangan ikut campur urusan kami, kalau tidak mau kami sakiti." Ujarnya sambil menodongkan pisaunya dan berjalan perlahan mendekati Juna.


Astuti tidak berkomentar lagi, hanya kelebatna kaki nya yang bicara, dengan cepat sekali kaki kanan Astuti berkelebat menendang tangan lelaki gondrong yang lagi menggengam sebuah belati.


Praaalaakk.


Belati itu jatuh terlempar menimpa aspal jalan, lalu salah satu temannya dan yang tadi ada di mobil kini telah sadar dari terpentoknya yang sempat membuat dirinya pinsan, keluar dan langsung memburu pada temannya.


"Kurang ajar kau Nona, rupanya kamu cari mati." Ujarnya.


Heeaaa...


Ke tiga lelaki gondrong itu akhir melakukan serangan pada Astuti, Astuti melompat kebelakang sambil melindungi Pak Ardi juna sambil berbisik.


"Sementara bapak berlindung cari tempat yang aman." Lirih Astuti berbisik.


Pak Ardi Juna pun langsung pergi untuk cari aman dulu, sambil memantau Astuti dari jauh.


"Sekarang kau akan ku habisi, karena sudah berani ikut campur urusan kami." Serunya sambil melakukan serangan.


Malam yang terus larut, dan kendara'anpun nampak sudah mulai sepi.

__ADS_1


Perkelahian Satu lawan tiga kini telah membuat suasana yang sepi menjadu gaduh oleh suara pertarungan.


Ke tiga orang awalnya menganggap remeh pada Astuti, kini mereka merasakan betapa kuat dan lincahnya Astuti dalam mengelak ataupun melakukan serangan balasan.


Hiuuuukkk...


Kelebatan pukulan dari tiga arah, ingin melumpuhkan Astuti.


Tapi Astuti bukanlah wanita sembarangan, dengan cepat Astuti merunduk sambil membalikan badannya lalu melesit ke atas sambil memutarkan tubuhnya.


Duk


Duk


Duk


Deeasss.


Kelebatan tendangan parabol, dengan cepat menghantam kepala dari ke tiga lelaki itu.


Jeregjeg


Ketiga lelaki itu mulai goyah dan terhuyung mau jatuh, dari situ Astuti langsung melompat dalam gerakan kuda terbang.


Deeasss


Deeeaass...


Satu tendangan dan pukulan Astuti mengantarkan dua orang lelaki gondrong jatuh tersungkur di pinggiran trotoar jalan.


Ketika salah satu temannya mau membokong astuti dari belakang dengan mengmbil belati yang terjatuh itu, entah dari mana datangnya, satu gempuran bogem mentah langsung menghajarnya.


Buuukkk.


Auuugghh


Blaaaakk.


Ia jatuh tersungkur di atas jalan, Astuti pun langsung menoleh ke arah tersebut nampak kamal dan Pandi lagi berdiri dengan gagah seperti menantang dunia.


"Aa ko ada di sini?." Tanya Astuti.


"Nina yang beri tahu gua Tut." Ujar Pandi me motong pembicara'an.


Sementara tiga lelaki gondrong itu segera bangun dari terjatuhnya, nampak di paras wajahnya nampak bringas menyimpan dendam yang sangat besar.


"Setan alas, akan ku bunuh kalian." Ujar nya, langsung membangun serangan.


"Jangan banyak bacot bangsat, sebaliknya gua yang akan menghabisi manusia tidak berguna seperti kalian, ayo maju." Tantang Kamal.


Ketiga orang itu pun tidak banyak bicara lagi mereka langsung melompat menerjang lawannya, kini pertarungan menjadi se imbang, karena Kamal dan Pandi datang tepat waktu.


*****


Bersambung.


Assalam mu'alaikum


Mohon maap bila up nya agak telat, berhubung Authornya lagi sibuk dengan kerja'an di luar sana, jadi belum sempat membagi waktu.

__ADS_1


Sekali lagi terima kasih sudah nemberi dukungannya 🙏🙏🙏


Salam sehat sejahtera dan sukses selalu.


__ADS_2