SI KIDAL SANG PENOLONG

SI KIDAL SANG PENOLONG
Si kidal sang penolong Eps 187


__ADS_3

Ke tiga anak buah Gito sibuk menyediakan air untuk minum para Pamili Gang Si'iran yang ke lelahan atas aksinya melawan orang-orang berandal tersebut.


Asep suryadi salah satu anak buahnya Toglo yang ikut membantu, agak sedikit mengalami luka memar di bagian wajahnya. Lalu Nandi menyuruh pada Mira untuk mengambil air keran, untuk mengompres luka memar pada wajahnya Asep.


Setelah itu Mira kembali dengan menenteng ember kecil yang berisikan air keran, dan Nandi menyuruh Mira untuk tidak membawa ember tersebut ke hadapan para Pamilinya.


"Sudah taro aja dulu di situ." Ujar Nandi sembari melangkah mendekati Mira.


Mira pun langsung berjalan menghampiri para sahabatnya.


Sedangkan Nandi membawa ember itu ke tempat yang bersembunyi, lalu Nandi melepaskan kalung yang melingkar di lehernya itu, kemudian di celupkannya sambil netrannya di tutup rapat dan kedua bibirnya nampak terlihat seperti lagi membaca sesuatu.


"Bismilah hirohman nirohim, ya allah atas kekuatanmu dan atas kehendakmu, melalui kalung yang saya pakai ini, semoga menjadi jalan untuk kesembuhan lukanya karyawanku." Ujar Nandi bernda pelan.


Selang beberapa menit kalung itu pun di angakt dan di pakai lagi di lehernya.


Lalu Nandi membawa ember yang berisikan air ke hadapan Asep.


"Sini Sep, biar luka mu saya kompres." Panggil Nandi.


Asep pun tidak banyak komentar lalu ia mengangkat tubuhnya dari tempat duduk, dan di ayunkan tungkai kakinya mendekati Nandi.


"Kamu duduk, biar luka memarmu ini saya kompres, mudah-mudahan aja bisa sembuh." Ujar Nandi.


Asep pun langsung duduk, kemudian Nandi menyelupkan kain sapu tangan ke dalam ember yang berisikan air itu, lalu di angkat di peras sedikit, dan di kompreskan pada luka memar di wajah Asep, begitu dan begitu sampai berulang kali.


Selang dua puluh menit, sungguh suatau ke ajaiban dengan kekuatan dari Semesta dan atas kehendak Tuhan yang Maha Esa, luka memar di wajah Asep menghilang, dan wajah Asep kini kembali seperti sedia kala.


Kemudian Asep meraba-raba wajahnya, sampai matanya melotot penuh rasa heran, lalu ditepuk-tepuknya wajah yang tadinya memar dan terasa sakit bila tersentuh sedikit pun, kini hilang musnah atas kehendak Allah Subhanahu Wata'ala.


Selepas itu Nandi memabwa ember tersebut ke tempat biasa, OB suka menyimpannya, sedangkan Asep sendiri berjalan menuju di mana Toglo dan yang lainnya berada, sesampainya di tempat orang-orang lagi pada duduk, Kamal, Astuti dan Mira sampai terbelalak matanya ketika melihat wajahnya Asep yang sudah menjadi mulus, cuma ada bekas goresan kecil sedikit mungkin itu terkena kerikil saat Asaep terjatuh.


"Subhanallah, wah sep itu wajahmu nampak sudah tidak ada lagi luka memar, yang tadinya membiru agak ke merahan kini sudah tiada lagi tuh." Celetuk Kamal.


"Alhamdulilah pak, sekarang sudah tidak terasa sakit lagi." Ujar Asep.


"Syukur deh kalau begitu." Saut Kamal.


Setelah itu Nina pun keluar dari dalam kantor berjalan menuju pada Pandi yang lagi duduk di dekatnya Gito, dengan penuh rasa kuatir Nina langsung menghampiri Pandi dan bertanya?.

__ADS_1


"Pak pandi kamu tidak apa-apa?." Tanya Nina.


"Tidak apa-apa, cuma di bagian punggung agak terasa sakit, terkena tendangan sebelum Pak Nandi dan yang lainnya datang, saya sama Gito hampir kewalahan menghadapi puluhan orang-orang brengsek itu." Saut Pandi.


"Nanti di urut ya, di komplek ada ahli tukang urut, semua yang sudah di urut padanya pada cocok, ya mudah-mudahan aja Pak Pandi juga cocok." Ujar Nina.


"Biarin aja, nanti juga sembuh dengan sendirinya." Ucap Pandi.


"Iiih jangan di anggap sepele Pak, takutnya ada urat yang bergeser atau luka benturan di dalam." Ujar Nina.


"Iya Buk, terima kasih ya." Ujar Pandi tersenyum tipis dengan netra memandang datar wajah ayu Nina Yunita.


Di sisi lain Gito pun begitu, lagi saling pijit sama Mira, cuma Toglo dan Nandi yang duduk tanpak pasangannya, karena Sindi tidak ikut dan Toglo masih belum punya gebetan.


"Noh lihat Glo, Kamal, Pandi an Gito lagi saling pijit sama pasangannya, apa kamu gak ke pingin punya pacar?." Tanya Nandi.


"Hehee..Ya niat siha ada pak, tapi untuk sa'at ini saya belum kepikiran, ya tidak terlalu iri juga sih melihat ke romantisan mereka, karena masih ada teman, seperti Bapak, Doni, Hasan dan yang lainnya jadi saya tidak se orang diri menonton mereka." Ujar Toglo.


"Hahaa..Bisa aja sih kamu, oh iya apa badanmu ada yang terasa sakit gak?." Tanya Nandi.


"Alhamdulilah pak badan saya tidak ada yang terasa apa-apa." Jawab Toglo.


"Bapak juga lebih hebat, kuat dan penuh keberanian, dan saya akui saya sangat meng idolakan figur Bapak, apalagi Bapak adalah guru saya, karena Bapak, saya bisa belajar ilmu bela diri." Ujar Toglo.


"Ah kamu itu, sama seperti orang-orang, suka berlebihan, saya sama seperti layak nya orang-orang banyk ke kurangannya." Saut Nandi.


"Tidak Pak bagi saya Bapak adalah segalanya, dari mulai saya bertemu sama Bapak, waktu lagi mencari barang bekas dan saya sama nenek di kasih nasi bungkus sama uang yang begitu sangat berharga bagi saya dan nenek, hingga saya di angkat jadi pekerja di toko bapak hingga di kasih sepeda gunung yang sampai sekarang saya abadikan, jasa bapak sungguh tidak bisa di tukar dengan berlian yang paling mahal sekali pun." Ungkap Toglo.


"Ya sudah tidak usah membahas tentang balas budi, saya melakukan itu semua, karena saya merasakan orang tidak punya dan pingin menolong sesama dalam bentuk apa pun." Ujar Nandi sambil memegang bahu kanannya Toglo.


Selepas itu tidak terasa matahari sudah lurus berada di ubun-ubun kepala, dan alarm tanda waktu istirahat pun telah berbunyi, dan karayawan pun mulai keluar dari ruangan aktivitasnya, menuju tempat untuk mengisi perutnya di luar lingkup PT Angita Surya Mandiri, cabang jalan ketupat.


.............


Singkat cerita hari kini mulai senja, semua karyawan pun sudah pulang, dan Distributor sudah tutup tinggal securiy dan bagian logistic yang nampak masih stay di tempat karena menunggu kepulangan mobil yang mengirim barang keluar.


Sementara Nandi dan anak istri sudah duduk santai di depan rumahnya sambil menikmati udara senja, dengan kebiasa'annya yang tidak pernah lepas dari dirinya.


Secangkir kopi hitam kental yang selalu menemaninya baik dalam ke sendirian maupun lagi kumpul bareng.

__ADS_1


Kemudian Sindi datang membawa makanan cemilan berupa kacang garuda dan keripik singkong varian pedas.


"Biar lengkap melamunnya nih ku bawain cemilan, mau pilih yang mana, pedas apa gurih." Ucap Sindi.


"Idiih Mantap nih, kalau di suruh memilih ku pilih ini aja deh." Ujar Nandi sambil menunjuk pada anggota tubuh Sindi di bagian yang paling sensitip.


"Iiiih ayah jorok deh." Ucap Sindi sambil mencubit bagian pinggang Nandi.


"Awww sakit atuh sayaang." Saut Nandi.


"Masa jagoan sakit, baru aja di cubit." Sindi tersenyum manja.


"ya sakit atuh, namanya juga orang hidup, apalagi di cubit sama istri sakitnya berasa banget, hehee." Ucap Nandi tersenyum genit.


Sindi pun melemparkan senyumannya pada Nandi, sembari menatap datar pada wajah tampan suaminya, yang lagi bermain-main dengan asap putih hasil dari isapan sebatang roko, yang nampak begitu nikmat seperti dalam hidupnya tidak ada beban sedikit pun.


Dengan sikap manjanya lalu Sindi memiringkan tibuhnya dan bersandar di dada sang suami yang bidang dan kekar, Nandi pun langsung mengelus-elus rambut Sindi yang tebal hitam agak bergelombang, yang di belai begitu terlena merasakan setiap gerakan telapak tangan Nandi yang halus sampai tidak terasa nretranya terpejam, karena terbuai dengan sikapnya sang suami yang begitu sangat mencintanya dan menyayanginya apa adanya.


Hingga suara adzan maghrib terdengar berkumandang di Masjid yang tidak jauh dari rumahnya, lalu Nandi pun membangunkan istrinya, untuk segera mengambil air wudhu guna melaksanakan solat maghrib berjamaah.


"Sayang bangun." Ujar Nandi sambil menepuk-nepuk pipi Sindi perlahan.


Sindi membuka matanya perlahan, lalu mendelik ke atas nampak wajah sang suami yang lagi mentap turun wajahnya, Lalu Sindi bergerak menggeserkan tubuhnya dari dadanya Nandi.


"Rupanya hari sudah mulai gelap." Ujar Sindi.


"Iya makanya ku bangunin, ayo cepat ambil wudhu, dan ku mau langsung ke Masjid." Ucap Nandi.


Nandi dan Sindi beranjak dari tempat duduknya, dan ketika mau memasuki kedalam rumah, pak Dirman lewat dan memanggil. "Nandi kamu gak solat di Masjid?." Tanya Pak Dirman.


"Mau pak, sebentar mau ganti dulu salin." Jawab Nandi.


Nandi dan Sindi bergegas masuk rumah untuk ganti salin, lalu Nandi keluar menuju Ke Masjid untuk solat maghrib berjama'ah sedangkan Sindi solat di rumah sendiri, karena Anggita masih tertidur.


Suasana di Gang Si'iran nampak masih ramai anak-anak kecil lalu lalang di jalan, bermain sepeda ada pula yang bermain petak kumpet dan lain-lain.


Anak-anak tongkrongan Gang Si'iran pun sudah pada stay di tempat di sebuah pos Ronda dan ada pula di sebuah warung kopi, begitulah kehiduapn anak Gang kalau malam hari selalu kumpul sesama temannya dengan bermain guitar dan lain sebagainya.


******

__ADS_1


Berssambung


__ADS_2