
para penonton pun sudah pada bubar, karena astuti yang menyuruh untuk segera bubar, dan jalananpun sudah mulai lancar kembali, Nandi dan kawan-kawanpun mulai melanjutkan lagi perjalanannya menuju gang si'iran.
Waktupun terus berjalan se iring dengan roda kehidupan berputar.
Kota yang pernah menjuluki dari dunia paris van java, kini tidaklah se indah dan sesejuk dulu, kota bandung kini berubah drastis sembilan puluh derajat, panas dan gersang, mungkin karena paktor dan pengaruh globalisasi yang semakin tinggi, dan menipisnya lapisan ozon sehingga matahari terasa panas menyengat.
Atau mungkin karena bumi ini sudah tua, dan banyaknya tangan-tangan yang tega berbuat nista, sehingga bumi ini kini terasa panas.
Makanya semesta telah menurunkan anak manusia, untuk meredamkan segela bentuk kejahatan dan tindakan dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Nandi suryaman kepanjangannya, yang diartikan menurut bahasa san sekerta adalah anak mentari, sang pembela kebenaran, entah kenapa Nandi lebih mengutamakan tangan kiri di dalam melakukan segala aktipitasnya, makanya masyarakat gang si'iran khususnya menjulukinya si kidal sang penolong, kini nama si kidal pun sudah menyebar luas hingga ke daerah-daerah peloksok di kota itu.
Si kidal sang penolong, dilahirkan ke dunia, mungkin sebagai penyeimbang kehidupan di era modernisasi yang semakin memanas.
Seperti yang sedang di alami dalam perjalanannya menuju pulang, Nandi menghentikan kendara'annya karena naluri dan jiwa penolongnya yang sangat kuat lalu ia turun dari motornya karena melihat seorang lelaki paruh baya lagi mendorong motornya, dengan tubuhnya sudah di basahi oleh keringat, mungkin karena sudah jauh ia mendorong motornya di tambah cuaca hari itu lagi panas.
Kemudian Nandi menghampiri lelaki itu dan bertanya?
''Ma'ap pak, kalau boleh saya tau, motor bapak mati apa kehabisan bensin?.'' Tanya Nandi.
Lalu lelaki itu menoleh pada arah suara yang menegurnya.
''Gak tau nak, bensinnya masih ada, tapi tiba-tiba motor ini mati, dan bapak tidak paham akan mesin.'' Jawabnya.
''Ooh begitu, bolehkah saya meringankan beban bapak, maksudku boleh saya melihatnya sebentar.'' Ujar Nandi.
''Ooh tentu, kamu mengerti dengan mesin?.'' Tanya lelaki paru baya itu.
''Insa allah saya tau pak.'' Saut Nandi.
Kemudian Nandi mensetandarkan motor lelaki itu.
Sementara kamal, Pandi, Gito, Astuti dan Toglo baru memahaminya kenapa tiba-tiba Nandi menghentikan kendara'annya.
''Ooh pantesan, Nandi berhenti, ternyata jiwa penolongnya mencium bau penderita'an.'' Celoteh Kamal.
''Iya benar, nah inilah sosok Nandi, selalu peduli pada sesama, kita beruntung bisa bersahabat dengan Nandi.'' Pungkas Pandi.
Sedangkan Nandi sendiri masih sibuk betulin motor lelaki itu.
''Bapak jarang service motornya?.'' Tanya Nandi.
''Bapak g tau nak, karena anak bapak yang sering pake motor ini, emang kenapa dengan motornya?.'' Tanya lelaki itu.
''Ini motor, jarang di service, oli mesinnya juga tinggal sedikil lagi, bapak bawa duit, kalau bapak bawa duit beli dulu oli mesin, dan busi satu, saya mua bersihin dulu karburatornya.'' Ujar Nandi.
''Justru itu nak kalau bapak bawa duit gak bakalan bpak dorong-dorong motor ini.'' Sautnya.
Nandi merasa kasihan mendengar ungkapan dari lelaki paru baya itu, kemudian Nandi menyuruh Astuti untuk membelikan Oli mesin setandar pabrik dan satu buah busi buat perapian.
Astuti pun langsung berangkat, ke sebuah toko spark park terdekat.
Tidak lama kemudian Astuti telah datang, dengan membawa apa yang Nandi pesan.
''Ini aa, oli sama businya.'' Ucap Astuti.
''Iya terima kasih dek.'' Ujar Nandi.
''Iya aa sama-sama.'' Saut astuti.
Kemudian kamal menghampiri Nandi untuk membantu pengerja'annya nandi supaya cepat selesai.
''Sini biar gua yang bersihin karburatornya.'' Ucap Kamal.
''Ooh ya sudah, cukup pake minyak bensin aja, soalnya gak ada kompresor, pake wd juga bersih.'' Ujar Nandi sambil membuka tas, tempat kunci-kunci dan sebuah wd untuk membersihkan kotoran yang sudah berkarat.
Singkat cerita pengerja'an motor kelaki paru baya itu pun sudah selesai, lalu Nandi mencoba menghidupkan motor itu, hanya sekali selah motorpun sudah nyala.
Nampak berseri-seri di wajah lelaki itu, kebahagia'an yang tidak bisa du ungkapkan, disa'at dirinya lagi kesusahan, semesta telah mengirimkan dewa penolong pada dirinya.
Tapi ada yang mengganjal di hati lelaki itu, bagaimana membayar semua pengorbanan anak muda itu, di tambah dirinya tidak membawa uang sepeserpun.
__ADS_1
''Nah sekarang motornya sudah nyala, dan bapak tidak akan capek-capek lagi mendorong.'' Ujar Nandi.
''Iya terima kasih anak muda, tapi gimana membayar biaya oprasionalnya, dan bekas beli oi sama busi.'' Ujarnya.
''Tenang aja sih pak, saya iklas menolong bapak.'' Saut Nandi.
Rasa senang terungkap di lelaki itu, ia langsung menurunkan tubuhnya seperti bersujud, mengucapkan rasa terima kasihnya yang tak terhingga, karena di jaman modern ini masih ada sosok pemuda yang peduli pada sesama, ditambah tidak perhitungan dalam mengeluarkan sebagian hartanya hanya untuk menolong orang yang belum di kenalinya.
Nandi langsung memegang ke dua bahu lelaki itu terus di angkatnya oleh kedua tangan Nandi.
''Sudah pak, bapak tidak usah berlebihan begitu, saya cuma manusia biasa pak, seperti halnya manusia pada unumnya, udah bapak berdiri.'' Ujar Nandi.
''Iya anak muda terima kasih banyak, semoga kebaikan kamu di balas berlipat ganda oleh allah subhanahu wata'ala.'' Ujarnya.
''Amiin, saya menolong bapak iklas, tidak mengharap imbalan sedikitpun, ooh iya masih jauhkah perjalanan bapak?.'' Tanya Nandi.
''Sudah dekat paling dua kiloan lagi.'' Jawabnya.
''Ooh ya sudah, bapak hati-hati dijalan, jaga keselamatan dan kesehatan.'' Ujar Nandi.
Setelah itu lelaki paru baya langsung menyalakan motornya, kemudian menarik gasnya bersama'an dengan masuknya gigi pertama, dengan memijit tombol klakson, sambil menoleh ke arah Nandi dan kawan-kawan.
''Mari semuanya, bapak pergi dulu ya, terima kasih banyak pada semuanya, assalam mualaikum.'' Ucapnya.
''Wa alaikum salam.'' Jawab semuanya serempak.
Kemudian Nandi dan kawan-kawan pun langsung menyalakan motornya, untuk meneruskan perjalanannya, menuju pulang ke gang si'iran.
Ke lima motor melaju dengan beriringan, tetap mematuhi rambu-rambu lalu lintas.
Nandi berada di barisan paling depan, di ikuti oleh Astuti, Gito, Pandi dan kamal yang berboncengan dengan Toglo, sedangkan Hasan dan Doni tidak ikut karena perintah dari Nandi untuk tetap di kerja'annya, apabila dikosongkan takut banyak para pelanggan yang datang.
Kini Nandi dan kawan-kawan pun sudah mulai memasuki jalan delima raya, yang sebentar lagi akan sampai di gang si'iran.
Tidak lama kemudian Nandi beserta kawanannya telah tiba di gang si'iran, waktu pun sudah menunjukan pukul 16:15 menit, bertepatan dengan keluarnya seluruh karyawan pt Anggita surya mandiri.
Dan semua karyawan yang baru keluar tidak lupa menegur sapa pada, kamal, Gito, pandi dan Toglo yang baru aja datang dan memarkirkan motorya di tempat parkiran.
Setelah Nandi berada di dalam rumah, di sambut oleh istri dan anaknya.
''Horee ayah pulang.'' Sambut Anggita sambil berlari.
Nandi pun langsung menyambut dan menggendong putrinya itu.
''Anak pintar, sekarang coba tebak ayah bawa apa ayo.'' Ujar Nandi.
Sejenak Anggita terdiam, sambil telunjuknya di tempelkan di dagu.
''Aku tau, pasti ayah bawa boneka panda.'' Saut Anggita.
''Wah anak ayah pintar meramal juga ya.'' Ucap Nandi.
Sementara Sindi tersenyum, dengan lesung pipitnya nampak di kedua pipinya.
''Asik aku punya boneka baru, ooh iya ayah, tadi aku lihat ayah bareng sama bibi Astuti?.'' Tanya Anggita.
''Iya benar tadi ayah pulang bareng sama bibi Astuti, om Kamal, om Gito, om Pandi dan om Toglo.'' Ujar Nandi.
''Ooh jadi ayah ada kerja'an di luar ya, kerja apa sih yah?.'' Anggita bertanya lagi.
''Ya kerja seperti di tempat ini.'' Ujar Nandi berbohong.
''Ooh begitu, Ucap Anggita.
Kemudian setelah itu Nandi pun langsung mengambuk handuk untuk mandi dan sekalian menunaikan ibadah solat ashar.
Setelah Nandi beres mandi dan solat, lalu mereka menuju ke meja makan, Sindi menuangkan nasinya kedalam piring lalu di campur lauk pauk dan sayuran, kemudian di serahkannya pada Nandi.
''Makan yang banyak sayang, aku lihat sekarang badanmu agak kurusan.'' Celoteh Sindi.
''Iya sayang terima kasih, mungkin karena terlalu banyak berpikir masalah usaha kita kali.'' Saut Nandi.
__ADS_1
''Ngapain aa harus banyak betpikir, kan ada bawahan.'' Ujar Sindi.
''Kalau ku gak mikir bagaimana dengan kemajuan usaha kita sayang.'' Ucap Nandi.
''Iya bukan begitu maksudku sayang, bukan berarti tidak boleh berpikir, maksudku kerja'an aa kan bisa sekertaris yang ngerjain, kalau aa lagi kurang pit.'' Ujar Sindi sambil nyuapin Anggita.
Ketika Nandi dan Sindi serta Anggita lagi asik makan, tiba-tiba terdengar suara orang yang mengetuk pintu sambil mengucapkan salam.
Tok
Tok
Tok..
''Asalam mualaikum''
''Sayang siap tuh yang mengetuk pintu, samperin dulu sana, aku lagi tanggung makan.'' Suruh Nandi.
''Iya, wa alaikum salam.'' Jawab Sindi, lalu ia bergegas berjalan menuju pintu depan, untuk membuka kan pintu.
Pintupun di bukanya perlahan, nampak dua orang laki-laki dan perempuan yang sudah berumur lagi berdiri.
''Mamah.. Papah, ayo masuk, sayang ada mamah sama papah.'' Panggil Sindi.
Ternyat dua orang itu pak Dirman dan buk Sari, mertuanya Sindi.
''Nandinya lagi ngapain sin?.'' Tanya pak Dirman.
''Lagi makan pah, ayo pah, mah kita makan bersama, Anggita juga lagi makan tuh.'' Ajak Sindi.
''Oh tidak, terima kasih, ya sudah lanjutkan dulu makannya jangan merasa terganggu sama papah dan mamah.'' Ujar pak Dirman.
''Iya sin, lanjutkan dulu makannya, kasihan tuh Anggita.'' Pungkas buk sari.
Kemudian Sindipun pergi lagi ke ruang makan, untik melanjutkan nyuapin Anggita.
''Buk, pak ayo makan bareng sini.'' Ajak Nandi bernada agak kencang, karena jarak antara ruang tamu dan ruang makan lumayan jauh.
''Iya Nandi, terima kasih, ibuk juga barusan aja habis makan sama bapkmu.'' Jawab buk sari.
Sepuluh menit kemudian Nandi pun sudah selesai makannya, lalu ia pergi ke ruang tamu untuk menemui kedua orang tuanya, dan Sindi mengikutinya sambil membawa minuman dan makanan cemilan.
''Tidak usah repot-repot sin.'' Ucap buk sari.
''Tidak ko buk, aku tidak merasa di repotkan, ayo di minum pah, mah.'' Saut Sindi.
''Iya sin terima kasih.'' Ucap pak Dirman.
''Oh iya, ada apa pak, buk, sepertinya ada sesuatu yang sangat penting?.'' Tanya Nandi.
''Begini Nandi, Sindi, tentang hubungannya Astuti adikmu dan Kamal itu, mau serius gak, soalnya mereka sudah lama menjalin hubungan, gak enak dengan omongan tetangga.'' Ucap pak Dirman.
''Ya aku juga gak tau, sekarang gini aja, bapak tanya sama dek tuti secara baik-baik, kan bapak sama ibu juga tau bagaimana sipatnya dek tuti.'' Ujar Nandi.
''Iya ibu juga kadang heran, kenapa ya Astuti ko tidak seperti layaknya kaum wanita, cara berpakaian dan tingkahnya seperti lelaki, suka berkelahi lagi.'' Pungkas buk sari.
''Ya tidak apa-apa buk, itu kan baru sipat dan karakternya, yang penting Astuti tidak menyalahi kodratnya sebagi wanita, dek tuti tetap wanita sejati ko, cuman sipat dan karakternya aja seperti cowo.'' Ujar Nandi.
Waktu pun tidak terasa, suara adzan maghrib sudah di perdengarkan, penyeru bagi kaum muslimin dan muslimat untuk melaksanakan ibadah solat maghrib.
**************
Bersambung.
Dukung terus ya, para author dan para reader, ma'ap bila jarang update, karena ku bagi-bagi waktu dengan pekerjaan.
Jangan lupa sertakan like, comentar, jadikan favorit, dan berikan votenya serta hadiah.
Terima kasih atas dukungannya, semoga sehat-sehat dan sukses selalu.
''Assalam mualaikum''
__ADS_1