
Setibanya di dalam satpam pun langsung memberikan laporannya. "Selamat siang buk Bos, gadis itu sudah pergi." Ujar Satpam.
"Iya pak terima kasih, sekarang bapak kembali lagi ketempat kerja." Ujar Astuti.
"Siap buk Bos." Jawab Satpam.
Astuti masih duduk di kursi di ruangan kerjanya Nina yunita. "Oh iya Buk Nina, File yang kemarin sudah di pelajari belum?." Tanya Astuti.
"Sudah buk sudah saya kerjakan, ini tinggal sedikit lagi." Jawab Nina.
"Ya sudah kalau begitu, sekarang Buk Nina istirahat aja dulu, biar File nya saya yang kerjakan." Saut Astuti.
"Biarin buk, apalagi ibuk baru aja pulang dari pondok Haur Koneng, pasti sangat ke lelahan." Ujar Nina yunita.
"Ya sudah kalau begitu, oh iya Pandi mana? ko gak ke lihatan?." Tanya Astuti.
"Tadi di gudang, lagi ngecek bua pengiriman hari ini." Jawab Nina.
Selepas itu Astuti langsung masuk ke ruangan kerjanya.
Sementara di bagian bengkel banyak kendara'an para pengunjung yang lagi memadati halaman menunggu giliran, dan di waktu itu pula muncul Gito dengan motor Rx king nya.
Lalu Gito turun dari kendara'annya dan berjalan menuju bengkel sambil tegur sapa pada orang-orang yang lagi duduk di kursi.
"Selamat siang, wah lagi nunggu giliran ya, sebentar saya nya baru abis pulang dari pondok Haur Koneng, nganterin Bos besar." Sapa Gito
"Selamat siang juga, oke bang nyantai aja, kita pun tidak buru-buru amat." Balasnya.
Selepas itu Gito pergi ke ruangan ganti salin dengan pakaian seragam kerjanya, dan setelah itu Gito kembali dan langsung memberikan pelayanan pada para castamer.
Setelah Gito turun tangan para pelanggan yang nunggu giliran pun sudah mulai agak berkurang dari berbagai keluhannya, Kini tinggal beberapa kendara'an yang belum di tangani.
Selang tiga puluh menit semua kendara'an sudah selesai, Gito dan tiga anak buahnya kini duduk santai sambil menunggu pelanggan lainnya datang.
Lalu Gito menyuruh salah satu anak buahnya untuk pergi ke warung kopi yang ada di samping bengkel.
"Wan pesen kopi dong, suntuk nih mungpung pelanggan lagi sepi nih." Suruh Gito.
"Oke Bang, berapa?." Tanya Iwan.
"Ya empat atuh masa yang lainnya mau manyun." Ucap Gito.
Tapi baru saja Iwan mau melangkah kan kakinya, tiba-tiba ada yang menghentikan langkahnya.
"Lima dong."
Semua menolehkan pandangannya pada arah suara yang bergeming di belakangnya, nampak terlihat oleh mereka Pandi berjalan menghampiri lalu duduk di bangku sampingnya Gito.
"Eeh pak' Pandi, ko sudah keluar emang kerja'an nya sudah kelar?." Tanya Gito.
"Ya sudah dong, Oh iya Wan, saya sama rokonya sebungkus, biasa ceklis nanti tanggal muda baru bayar." Jawab Pandi sambil mengalihkan bicaranya pada Iwan.
Iwanpun langsung mengacungkan Jempol kanan nya. "Oke Bos."
.........
__ADS_1
Sepuluh menit kemudian.
Iwan datang dengan membawa nampan berisikan empat gelas kopi hitam yang nampak masih mengepul, lalu iwan menaro dua gelas kopi di meja untuk Gito dan Pandi. "Ini kopinya Bos, dan ini roko kepunya'an nya pak Pandi."
"Tanks ya Wan." Ujar Pandi.
"Iya Bos sama-sama."
Setelah itu baru mereka menikmati kopi kental hitam manis dengan sebuah seripitan-seripitan nampak begitu nikmat.
Betapa enaknya pekerja di bagian bengkel, selagi tidak ada pelanggan yang datang mereka bisa santai duduk manis seperti yang lagi di lakukan sekarang ini, karena upah gaji mereka seminggu sekali, ya kalau di hitung perbulannya, setandar UMR di kota ini, belum lagi ada tambahan di hitung dari banyak para castamer yang datang, terkecuali Gito dan Pandi gaji nya sudah bulanan.
Selagi asik nya mereka ngopi sambil bersantai, tiba- tiba segerombolan orang bermotor dengan berpakaian tak ubahnya seperti anak jalanan, anting terpasang di kiri kanannya kuping mereka, berwajah serem, tato terukir di kiri kanannya tangan mereka, tanpak adanya sopan santun di antara mereka, langsung mengetok-ngetok pintu gerbang yang mau memasuki halaman area parkiran Toko dan Distributor, dengan suara kenalpot berisik.
"Woii buka."
Tok...Tok...Tok.
Satpam yang bertugas jaga di depan, sampai gemetaran dan ke takutan, lalu Satpam tersebut berlari ke arah Pandi dan Gito yang lagi berada di Bengkel, karena jarak antar Distributor dan bengkel lumayan agak jauh yang sudah di geser posisinya semenjak Nandi membangun kantor, dan Bengkel dipindahin ke depan jalan Gang yang mau mengarah ke rumahnya ibuknya Sindi, cuman di kasih pintu sedikit buat menembus ke Kantor dan Distributor.
Setelah tiba di hadapan Pandi dan Gito satpam melaporkan kejadian di luar pintu gerbang, dengan napas yang ngos ngosan.
"Pak Bos, ga.. ga..." Tidak bisa berkata lepas karena rasa panik dan takut, di tambah langsung di potong oleh Gito.
"Ga ga apa, gandul apa gayung, bicara yang benar." Ujar Gito.
Perlahan Satpam menarik napas, lalu di hempaskan perlahan, setelah terasa ngemplong Satpam pun bicara.
"Gawat pak Bos, di luar gerbang banyak motor, dan menggedor-gedor pintu gerbang, saya takut mau di buka juga." Jelasnya Satpam tersebut.
"Wah kayanya mereka orang-orang berandal, mau apa mereka, ayo To' kita tanya mau apa sih mereka itu." Ajak Pandi pada Gito.
Akhirnya Pandi dan Gito langsung bergegas pergi menuju pada pintu gerbang yang lagi pada berisik oleh suara-suara benda kers di pukul-pukul pada pintu gerbang itu.
Setelah tiba di depan Gerbang , Gito dan Pandi membuka gerbang sedikit, dan berkata.
"Ada apa ini, kenapa kalian sampai menggedor-gedor pintu gerbang ini?." Tanya Pandi.
Orang-orang berandal itu langsung mendorong pintu pintu gerbang itu beramai-ramai, Pandi dan Gito pun tidak kuat untuk menahannya karena banyaknya tenaga yang mendorong dari luar, akhirnya Gerbang pun bergeser kesamping dengan cepat sampai-sampai rodanya mau lepas dari rel pinu gerbang tersebut.
Mereka semua masuk memenuhi halaman parkiran Distri butor, sambil berteriak-teriak.
"Hai kalian anak buahnya Nandi kan, sekarang di mana Bos mu itu?." Tanya salah satu dari mereka.
"Iya kita ini Karyawannya Nandi, lantas kalian mau apa mencari Bos kami?." Tanya Pandi.
"Kami kesini mau ada urusan sama Bos mu itu, sekarang cepat kasih tau di mana Bosmu si Nandi." Bentaknya.
"Sebentar dulu bang, ini apa duduk permasalahannya yang tiba-tiba datang mau urusan, urusan apa?." Tanya Pandi.
"Nandi sudah menanam permusuhan sama kami, dan sudah banyak ikut campur masalah kami." Ujarnya.
Kemudian Gito maju sedikit ke depan, sambil netranya menatap tajam pada pimpinan orang-orang berandal itu. "Hai Bang, Nandi ikut campur, pasti karena ada perbuatan kalian yang melanggar hukum, karena Nandi tidak mungkin membiarkan kejahatan menari-nari di hadapannya." Ujar Gito.
"Kurang ajar, rupanya kalian harus dihajar, ayo teman-teman kita hancurkan perusahaannya di Nandi berikut karawannya ini." Serunya pimpinan berandal itu pada kawanannya.
__ADS_1
Gito dan Pandi langsung terlibat perkelahian yang sangat tidak seimbang.
Sementara Astuti yang lagi di dalam kantor mendapt laporan dari Satpam bahwa di luar ada puluhan orang menyerang dan berteriak memanggil Nandi, Astuti pun memerintahkan pada Nina untuk cepat menghubungi Nandi dan para pamili Gang Si'iran, dan meminta pada Nina untuk menutup rapat pintu masuk.
Lalu Astuti bergegas keluar, setibanya di teras kantor nampak terlihat oleh Astuti Gito dan Pandi lagi terlibat perkrlahian yang sangat tidak seimbang, Astuti langsung melesat melompat ke tengah-tengah arena pertempuran.
Astuti dengan sangat cepat bergerak melancarkan pukulan dan tendangannya pada para perusuh itu.
Bak
Buk
Bak
Buk
Bak..Buk.
Suara pukulan dan tendangan Astuti, pandi dan Gito lancarkan, tapi sekuat apapun Bela diri Astuti, Gito dan Pandi bila dikerubuni puluhan orang menjadi sangat merepotkan juga, sehingga Astuti, Gito dan Pandi terkena pukulan dan tendangan karena di bokong dan di serbu secara beramai-ramai.
Di sa'at Pandi, Gito dan Astuti kewalahan karena ruang geraknya terus di desak. Kemudian Nandi dan para pamili Gang Si'iran datang dengan mengendarai motor Rx king cobra.
Nandi, Kamal, Toglo, Mira, Hasan, Doni dan Asep salah satu anak buahnya Toglo.
Mereka pun langsung berkelebat melesat ke tengah-tengah arena pertempuran, kini suasana pun menjadi berubah, pertempuran begitu sangat seru.
Para pamili Gang Si'iran begitu agresip dan gesit dalam menghantam, membanting dan berbagai macam taktik dan siasat utuk menjatuhkan lawan yang jumlahnya sangat banyak. Tenaga dan kekuatan pun benar-benar di uji di pertarungan yang tidak seimbang itu, apalagi Toglo dia benar-benar sadis, Pemuda berdarah dingin ini yang tidak terlalu banyak komentar, Toglo bisa lebih kejam bila lawannya kejam.
Toglo memutarkan tubuhnya, Melancarkan tendangan menghantam orang berandal, langsung di ikuti dengan pukulan-pukulan tinju bumi, satu persatu orang-orang berandal itu saling berjatuhan, kemudian Gito dan Hasan bergerak begitu cepat menerjang, menghantam.
Suara-suara tinju yang bersarang di wajah, di dada dan di sebagian anggota tubuh orang-orang berandal begitu terdengar menyakitkan.
Darah keluar dari sudut bibir, dengan muka lebam dan ada pula yang terkilir kaki dan tangan, oleh aksi dari para pamili Gang Si'iran, yang begitu mengerikan.
Pukulan-pukulan Nandi yang mematikan sudah banyak menjatuhkan lawan-lawannya, di tambah ilmu Guntau Kamal dan Jurus karate Astuti dan Mira begitu serta bela diri tarung derajat Pandi dan Doni, cepat menusuk dan membanting lawannya hingga pasukan orang-orang berandal yang mempunyai dendam sama Nandi atas peristiwa lalu sangatlah kewalahan menghadapi amukan dari para pamili Gang Si'iran.
Karena tidak kuatnya dan tidak adanya kemampuan bela diri yang sempurna, mereka pun akhirnya pada berlarian memburu pada kendara'annya masing-masing.
Toglo yang masih menyimpan amarah dan rasa kesalnya melesat ingin menerjang orang berandal yang berada di garis paling belakang, tapi Nandi berteriak untuk menghentikan aksinya Toglo.
"Hentikan...Glo, biarkan tidak usah di kejar." Seru Nandi.
"Tapi pak Bos. Tuman biar mereka kapok dan kita sered ke jeruji penjara." Jawab Toglo.
"Untuk kali ini biarkan saja mereka merasakan sakit atas perbuatannya, apabila nanti mereka bikin ulah lagi, baru kita satroni dan kita sered kepenjara, saya pun tau siapa dedengkot dari mereka." Ujar Nandi.
Akhirnya para pamili Gang Si'iran memburu pada bangku yang ada di samping kantor, duduk sambil bersandar melepaskan lelah, sementara tiga anak buahnya Gito dan para pelanggan yang baru datang, yang sempat menyaksikan pertempuran tadi memberikan acunngan jempolnya, merasa senang dan puas atas ke kalahan orang-orang berandal yang selalu bikin ulah di mana-mana.
*******
Bersambung.
Selamat hari raya idul adha, ma'apkan atas segala kekurangan dan kesalahanku, nantikan kisah lanjutannya di episode selanjutnya.
Terima kasih atas dukungannya, salam sejahtera, sehat-sehat dan sukses selalu.
__ADS_1