
Nandi langsung kaget, begitu Astuti muncul dan berkata seperti mengejeknya.
''Apa'an siih lo de, bikin gua kaget aja.'' Ucap Nandi.
''Idiiiih, Aa abis telepon ama siapa nih, ko girang amat pagi ini.'' Ucap Astuti mengejek.
''Kagak, gua kagak telpon siapa-siapa.'' Jawab Nandi.
''Hehee, Aa bo'ooong, ingat Aa bohong itu do....... sa.'' Ucap Astuti.
''Iya ma'ap de, gua malu kalau harus berterus terang, Bukan gua yang nelpon tapi Sindi.'' Ucap Nandi.
''Cuma bilang gitu doang, apa susahnya sih Aa.'' ucap Astuti.
''Ya sudah tidak usah dibahas lagi, ada salam dari Sindi de.'' Ucap Nandi.
''Salam kembali.'' Jawab Astuti.
Kini matahari sudah bersinar terang menyinari kota kembang, dan jalan raya pun sudah mulai dipenuhi dengan berbagai kendara'an, untuk melakukan aktipitas kembali.
Siang itu Nandi seperti biasa masih disibukan dengan kerja'annya, ada beberapa motor yang lagi Nandi service, Pekerja'an Nandi lumayan banyak, nampak terlihat ada beberpa motor yang masih terparkir didepannya bengkel, karena menunggu giliran.
Sementara ditempat lain.
Sindi yang lagi duduk berhadapan dengan cermin, sambil menyisir rambutnya yang panjang terurai, Dan berdandan dengan memoles kedua pipinya dengan bedak, lalu mewarnai kedua bagian bibirnya dengan lipstik.
Sindi lalu berdiri sambil membolak balikan tubuhnya dengan pandangan tetap kearah cermin tersebut.
''Sin cepetan, nanti keburu siang.'' Panggil Rendi.
''Iya Aa, tunggu sebentar.'' Jawab Sindi.
Setelah sindi berdandan, ia pun keluar dari kamarnya, sedangkan Rendi sudah menunggu diluar dan sebuah motor Honda beat pun sudah terdengar menyala siap untuk berangkat.
''Kalu cewe itu dandannya lamaaa amat, apa saja siiiih yang kamu tempelkan diwajah dan dibadanmu.'' Ucap Rendi nampak kesel.
''Iiih Aa mah, cewe itu kalau berdandan emang begitu, harus pake bedak, lipstik, dan lain sebaginya, emang cowo, cuma pake baju yang rapi, ya sudah begitu doang.'' Jawab Sindi.
''Ayo cepetan naik Sin.'' Ucap Rendi.
''Bu. Bu, aku berangkat dulu ya.'' Ucap Sindi dan Rendi.
''Iya nak hati-hati dijalan, jangan ngebut-ngebut Rendi bawa motornya.'' Ucap ibunya.
''Baik Bu.'' jawabnya.
Setelah itu, sindi lalu menaiki motor Honda beat dan duduk dijok belakangnya Rendi, Motorpun kini sudah melaju dengan kencangnya.
Di hari sabtu jalanan nampak tidak terlalu padat, jadi sangat mempermudah Rendi agar lebih cepat sampai ketujuan.
Kini Rendi dan Sindi, sudah keluar dari jalan ketupat, dan mulai memasuki jalan Delima.
Motor terus digas pool, lima belas menit kemudian Rendi dan sindi sudah sampai dipertiga'an jalan yang mau masuk ke gang si'iran.
Rendipun sudah membelokan motornya ke kiri memasuki gang si'iran, tinggal beberpa detik untuk sampai ke tempatnya Nandi.
Tidak lama kemudian Rendi telah tiba didepan rumahnya Nandi, Nampak Nandi lagi duduk santai didepan bengkelnya, Sambil ditemani secangkir kopi disampingnya.
Rendipun mematikan motornya dan membuka helmnya, sindipun begitu.
''Asalam mualaikum.'' Ucap Rendi mengucapkan salam.
''Wa alaikum salam.' Jawab Nandi.
''Gimana kabarnya di, mana yang lain.'' Ucap Rendi.
''Alhamdulilah kabar baik sih, yang lain siapa, Kamal maksud lo.'' Ucap Nandi.
''Iya itu, kan yang sering gua lihat disini, Kamal dan kang Hasan.'' Jawab Rendi.
''Belum datang, ooh iya sin ditanyain tuti.'' Ucap Nandi.
''Oooh ya, ya sudah gue nemuin Tuti dulu ya.'' Jawab Sindi.
Sindi langsung bergegas masuk kedalam rumah hendak ketemu sama Astuti.
''Assalam mualaikum.'' Sindi mengucapkan Salam.
''Wa alaikum Salam wrb.'' terdengar dari dalam menjawab salamnya Sindi.
Ternyata Bu sari yang membuka pintu.
''Eeh nak Sindi.'' Ucap Bu Sari.
''Iya Bu, Astutinya ada?.'' Tanya Sindi.
''Ooh , ada lagi di belakang.'' Jawab Bu Sari.
Bu Sari langsung masuk lagi untuk memanggil Astuti anaknya, sedangkan Sindi menunggu duduk dkursi, yang terpasang di teras depan rumah.
''Tut, di luar ada Sindi loh.'' Ucap Bu Sari.
''Ooh ya, sendiri Bu.'' Ucap Astuti.
''Kayanya sih sama abangnya, soalnya Ibu lihat ada orang lagi ngobrol di bengkel sama Nandi.'' Jawab Bu sari.
''Ya sudah atuh Bu, ku mau nemuin Sindi dulu.'' Ucap Astuti.
Astutipun langsung beranjak pergi keluar untuk menemui Sindi yang lagi duduk diteras.
''Haii Siin.'' Ucap Astuti
''Haiii Tut, lagi sibuk ya, ma'ap nih gue ganggu waktumu.'' Ucap Sindi.
''Ooh, tidak apa-apa, nyantai aja kali, sama siapa lo, sendiri..'' Kata Astuti.
__ADS_1
''Sama Aa Rendi, tuh lagi ngobrol sama Aa Nandi.'' Jawab Sindi.
''Lo mau minum apa, air putih dingin apa teh hangat.'' Ucap Astuti.
''Apa aja deh, asal jangan racun yang kau berikan padaku.'' Ucap Sindi.
''Gila lo, emang gue apa'an.'' Ucap Astuti.
''Bercanda...'' Jawab Sindi.
Tak lama kemudian Astuti sudah kembali dengan membawa tiga gelas air teh manis yang sudah dicampur es batu, dan segelas kopi panas.
''Gila lo banyak amat.'' Ucap Sindi.
''Emangnya buat lo, noh buat abangmu dan Aa Nandi.'' Jawab Astuti.
''Idiiiih, perhatian amat adiknya Aa Nandi.'' Ucap Sindi.
''Iyaa.. Doooong...'' Jawab Astuti.
Astuti lalu mengantarkan ait teh dan kopi panas pada Nandi dan Rendi.
''Ini minumnya Bang rendi dan ini kopi buat Aa Nandi, gimana sih Aa, tamu ko g dikasih minum.'' Ucap Astuti.
''Masa allah, gua lupa, ma'ap ya Ren, untuk lo ngerti de Tut.'' Ucap Nandi.
''Gak apa-apa, nyantai aja kali.'' Jawab Rendi.
''Bang Rendi, ayo diminum, nanti keburu panas lo.'' Ucap Astuti.
''Ooh iya, makasih ya, bisa aja lo tut.'' Ucap Rendi.
''Iya kan itu es teh manis, kalau tidak buru-buru diminum nanti keburu panas, hehee.'' Jawab Astuti.
Astutin pun langsung pergi lagi, menemani Sindi ngobrol.
''Ooh iya, gua kesini mau jenguk, katanya istri kang hasan abis melahirkan.'' Ucap Rendi.
''Pasti sindi yang cerita.'' Ucap Nandi.
''Iya sindi cerita sama gua, kalau gak nengok malu kan gua sudah kenal akrab.'' Ucap Rendi.
''kebetulan sekarang sudah pulang, jadi kerumahnya aja, bareng sama nyokap gua.'' Kata Nandi.
''Is oke.'' Jawab Rendi.
Selepas itu Rendi dan Sindi berangkat kerumahnya Hasan, beserta Bu sari dan Nandi juga.
Untuk menengok Pasangan Hasan dan Lina yang baru mempunyai sibuah hati.
Tidak lama kemudian, mereka sudah tiba di depan rumahnya Hasan.
Tok tok tok.
''Assalam mualaikum.'' Ucap Nandi mengucapkan Salam.
Pintupun sudah nampak terbuka.
''Nandi, Bu sari, dan ini Siapa.'' Ucap Seorang wanita yang tak lain ibunya Hasan.
''Iya Tante, ini teman-temannya Hasan.'' Jawab Nandi sambil menunjuk pada Rendi dan Sindi.
''Oooh begitu, mari masuk, kebetulan Bu Sari kesini, tadinya hasan mau kerumah mau minta ngurutin Lina.'' Ucap Ibunya Hasan yang bernama Sarah.
''Ooh iya, Hasan kemana tante?.'' Tanya Nandi.
''Tadi tuh kepasar beli keperluan bayi, nah itu kayanya suara motornya.'' Jawab Bu Sarah.
''Assalam mualaikum.'' terdengar dari luar mengucapkan Salam.
''Wa alaikum salam.'' mereka menjawab.
''Wah banyak tamu nih, Rendi.. Sindi. Sudah lama nih?.'' Tanya Hasan.
''Baru aja, Selamat ya kang, semoga anaknya menjadi anak yang soleh, digampangkan rijkinya, ma'ap nih gua baru bisa datang.'' Ucap Rendi.
''Aaamiiin, iiih tenang aja sih.'' Jawab Hasan.
''Oo iya Bu, ma'ap sebelumnya, ku mau minta tolong sama Bu sari, tolong Istri saya Bu, Bantuin supaya cepat pulih.'' Ucap Hasan.
''Tenang aja san, tidak diminta juga pasti ibu tolongin, karena tangan ibu itu suka gatel kalau melihat waniat habis melahirkan, pingin ngurut.'' Jawab Bu sari.
Hasan pun mengajak Bu sari, Rendi dan Sindi untuk melihat Bayinya yang baru berumur tiga hari.
Sesampainya di dalam kamarnya, nampak Lina lagi menyusui bayinya.
Sibayi pun terlihat mulutnya menempel dikepala putingnya Lina dengan matanya terpejam.
Begitu Bu Sari, Rendi dan Sindi masuk, linapun langsung menutupi payudaranya yang lagi dihisap asinya oleh sijabang bayi dengan sarung.
''Lin, ini ada Bu sari, dan sahabat-sahabatku datang menjenguk bayi kita.'' Ucap Hasan.
Rendi dan Sindipun langsung salaman, sambil memperkenalkan dirinya.
''Kenalkan, saya Rendi sahabatnya kang Hasan, dan ini adiku.'' Ucap Rendi.
''Kenalin teteh, saya Sindi.'' Ucap Sindi
''Lina aja.'' Jawab Lina sambil menyambut salam dari Rendi dan Sindi.
Ko bisa kenal Aa Hasan?.'' Tanya Lina.
''Istriku ini Pacarnya Nandi.'' Ucap Hasan keceplosan.
Sindi langsung mendelik memberi kode pada Hasan bahwa disamping itu ada Rendi kakanya, Hasanpun langsung mengerti isaratnya Sindi.
__ADS_1
'''Ma ma'ap makduku sahabatnya Nandi.'' Ucap Hasan di ulang lagi.
Rendi hanya tersenyum melihat tingkah adiknya, yang seolah-olah hubungannya dengan Nandi tidak mau diketahui oleh kakanya yaitu Rendi.
''Hehee kalian itu aneh ya, ngapain juga kali, pakai isarat-isaratan segala, saya juga sudah tau kang Hasan.'' Ucap Rendi.
Mendengar Rendi berkata begitu Sindi langsung kaget, Tentang kakanya yang sudah mengetahui hubungannya dengan Nandi, Sindipun merasa malu dan mendadak mukanya berubah jadi kemerahan.
''Haii Sin, kenapa muka lo, ko jadi merah begitu, malu ya abang berkata begitu.'' Ucap Rendi.
''Apa'an sih Aa Rendi.'' Jawab Sindi.
Hasan dan Lina istrinya serta bu sari hanya tersenyum melihat tingkah sindi dan kakanya itu, dan Linapun terus mengalihkan pembicara'an Supaya Sindi tidak merasa canggung lagi, karena ucapannya Rendi.
''Ooh iya, makasih ya kalian sudah mau datang.'' Ucap Lina.
''Sama-sama teh Lin.'' Jawab Sindi.
''Mohon ma'aaap yang sebesar-besarnya, khusus bagi kaum adam, ngobrolnya diluar aja, karena saya mau di urut dulu sama Bu sari, ma'ap nih bukannya ngusir.'' Ucap Lina.
''Tapi Aa gak apa kan Sayang.'' Jawab Hasan.
''Hus.. Belum waktunya kamu, entar malah gak tahan, kamu harus puasa dulu san.'' Ucap Bu sari.
Rendipun tertawa karena melihat Hasan tingkahnya yang Lucu agak Nakal.
''Ya sudah saya dan Sindi sekalian pamit, maap ya tidak bisa ngasih apa-apa, ini buat si kasep semoga jadi anak yang soleh ya.'' Ucap Rendi sambil menyelipkan sebuah amplop ketangan sijabang bayi, yang di ikuti oleh Sindi.
Setelah itu Rendi dan Sindi keluar, menemui lagi Nandi diruang tengah.
''Sekarang gimana mau pulang apa mau main dulu dibengkel gua?.'' Tanya Nandi.
Kalau pulang juga masih siang, ya gua main dulu aja sambil belajar otomotip kan lumayan, kalau kursus kan mahal, hehee..'' Jawab Rendi.
''Sue lo Ren, tapi baguslah kita kan harus saling berbagi.'' Ucap Nandi.
Setelah itu Hasan pun keluar menemani Nandi di ruang tengah.
''Kalian dah pada ngopi belum?.'' Tanya Hasan.
''Sebelumnya terima kasih banyak kang Hasan, gua tadi sudah ngopi ditempatnya Nandi.'' Jawab Rendi.
''San gua pamit dulu ya, soal ada kerja'an yang belum beres nih.'' Ucap Nandi.
''Gua juga pamit ya kang, selamat ya, sekarang kan lo sudah jadi bapak, jadi Kurang kurangi tuh ... Ucap Rendi tersenyum lebar.
''kurng-kurangi apa maksud lo?.'' Tanya Hasan.
''Itu tuh, sipat nakal kang Hasan, hahaha.'' Ucap Rendi sambil tertawa, yang di ikuti oleh Nandi dan Sindi tertawa lebar.
''Siaall lo ah.'' Jawab Hasan.
Setelah itu Nandi, Rendi dan Sindi pamit pada Ibunya bu sari dan Bu Sarah ibunya Hasan.
Mereka pun keluar dari rumahnya Hasan, dengan berjalan kaki menuju ketempatnya Nandi.
Akhirnya mereka pun tiba ditempat, Nandi langsung menuju bengkelnya, yang ternyata sudah ada Kamal yang sudah meng handle pekerja'annya Nandi.
''Bang bang, motor gua mati nih bisa diduluin kagak.'' Ucap Nandi ngerjain Kamal.
Saking pokusnya kamal dengan pekerja'an, sampai ia tidak tau bahwa yang bicara itu Nandi sipemilik bengkel tersebut.
''Tunggu sebentar ya, dikit lagi nih.'' Jawab Kamal terus pokus.
''Apanya bang yang dikit lagi, emang abang lagi ngapain sih, lama amat kaya keong.'' Ucap Nandi terus ngerjain Kamal.
Mendengar perkata'an begitu Kamal jadi buyar kerjanya, berubah jadi emosi, dengan cepatnya Kamal mengambil kunci roda sambil membalikan badannya.
''Siaaal, ngelunjak amat kau.'' Ucap Kamal sambil memegang kunci roda.
Begitu Kamal membalikan badannya, kamal terpaku seperti patung, karena yang dilihatnya adalah Nandi, yang lagi tersenyum melebar, Kamal pun langsung menjatuhkan kunci rodanya dan berkata.
''Siaal lo dikirain siapa, untung gua lihat dulu muka lo.'' Ucap Kamal.
''Dasar lo mal, darah tinggi mu belum sembuh juga.'' Ucap Nandi.
''Ya bukan begitu, coba lo pikir disa'at gua lagi pokus kerja, tiba-tiba ada orang berkata begitu, ya otomatislah darah jadi mendidih.'' Ucap Kamal.
''Hahaha, bro-bro Nandi kan bos elo, gimana kalau tadi kunci roda itu menghantam kepalanya Nandi.'' Ucap Rendi ikut bicara.
''Ya anadai kata gua tidak melihat wajahnya pasti, tapi gua sangat yakin Nandi bisa menangkisnya meski posisinya lagi membelakangi gua.'' Jawab Kamal.
''Kenapa lo bisa seyakin itu?.'' Tanya Rendi.
''Karena pendengaran Nandi sangat tajam, dan mempunyai mata empat.'' Jawab Kamal.
''Hahaha... kaya kisah sipahit lidah dan simata empat aja.'' Ucap Rendi tertawa lebar.
''Dasar lo, mal-mal, kayanya lo penggantinya Hasan tukang lebay.'' Ucap Nandi.
''Gua berkata apa adanya, ko dibilang lebay.'' Ucap Kamal.
''Ya iyalah lo lebay, kalau kunci roda itu menghantam kepala gua, yang ada gua masuk UGD.'' Jawab Nandi.
''Idiiiiiih, segitunya sih, ya gaklah, menurut piling gua gak bakalan, E'eeh kopi atuh, masa gua udah belepotan dengan oli begini, ora di ke'i kopi sih, kepiye toh mas sampean.'' Ucap Kamal.
Rendi tertawa lebar melihat tingkah lucunya kamal, yang dikuti oleh tertawanya Sindi dan Astuti yang melihat kamal dari teras depan rumahnya pak Dirman.
*******************************************
Bersambung Eps 20
Nantikan kelanjutannya sikidal sang penolong di episode selanjutnya, jangan lupa tinggalkan jejaknya dengan.
👍like. Comentar. ❤ klik favorit. ⭐⭐⭐⭐⭐ Ranting. Dan vote juga.
__ADS_1
Selamat membaca dan terima kasih, atas dukungannya.