SI KIDAL SANG PENOLONG

SI KIDAL SANG PENOLONG
Si kidal sang penolong eps 139


__ADS_3

Kini hari sudah menunjukan pukul 12:00, para pekerja Nandi sudah keluar dari tempat kerjanya masing-masing, ada yang pergi ke sebuah warung nasi dan ada pula yang duduk istirahat di kedai sambil menikmati makanan dan minuman yang ada di kedai tersebut.


Sementara Nandi, setelah keluar dari kantornya ia berpesan pada toglo untuk di bikinin kopi dan di antarkan ke rumahnya.


Setelah Nandi tiba di depan rumahnya nampak terlihat Anggita lagi asik main bersama Wawan dan Wiwin, Nandi pun tersenyum ramah, melihat anaknya yang begiru akrab dengan Wawan dan Wiwin, padahal baru satu hari juga belum mereka bertemu tapi seperti sudah kenal lama.


''Asalam mualaikum anak-anaku, mainnya jangan pada nakal ya, Wawan, Wiwin ajak main dek Gita ya.'' Ucap Nandi sambil melangkah masuk kedalam rumah.


''Baik pak.'' Jawab Wawan dan Wiwin.


Setelah itu Toglo datang dengan membawakan segelas kopi yang masih panas, Toglo tersontak kaget begitu pandangannya beradu dengan Wiwin dan Wawan.


Jantung Toglo seperti bergetar dan hatinya seperti merasakan ada getaran batin yang Toglo pun tidak mengerti dengan perasa'an hatinya.


Ketika Toglo lagi bengong memperhatikan Wawan dan Wiwin, Anggita menyapanya.


''Om Toglo, kenalkan nih, aku punya teman baru, ini bang Wawan dan ini teh Wiwin.'' Ujar Anggita.


''Ooh bagus atuh, jadi dek Gita tidak kesepian lagi dong.'' Jawab Toglo.


Kemudian Anggita memperkenalkan Wawan dan Wiwin pada Toglo.


''Ini bang wawan dan ini teh Wiwin, malahan teh Wiwin sama percis dengan om, ko bisa ya om.'' Ucap Anggita.


Lalu Toglo pun mendekati Wawan dan Wiwin, kemudian kopinya di dimpan dulu di atas meja.


''Kenalkan abang Toglo, dari gang sawah, dan adek-adek ini dari mana, sudah lama kenal sama dek Gita?.'' Tanya Toglo.


''Aku wawan bang.''


''Aku Wiwin kak.''


''Nama kembar yang bagus dan gampang di ingat, bentar ya abang nganterin kopi dulu buat pak Nandi.'' Ucap Toglo sambil meraih gelas yang berisikan kopi untuk di anterin ke dalam.


Toglo pun telah kembali dan langsung menanyakan tentang pertanya'annya tadi yang belum Wawan dan Wiwin jawab.


''Tadi abang bertanya, dan adek belum jawab.'' Ucap Toglo.


''Ma'ap bang aku lupa, pertanya'an yang mana ya.'' Ujar Wawan.


''Masih kecil pelupa, tadi abang bertanya, adek-adek ini dari mana? emang sudah lama kenal sama dek Gita.'' Ucap Toglo.


''Kami hanya anak gelandangan dan tidak mempunyai tempat tinggal, kami biasa pulang ke gubuk di pinggiran kali belakang pasar delima raya.'' Ucap Wawan.


''Ooh, Lalu orang tua kalian kemana?.'' Tanya Toglo.


''Kedua orang tua kami sudah meninggal bang, bapak meninggal karena kepikiran sama abang yang hanyut tersered air ketika kampung kami di landa banjir yang sangat besar, kemudian setelah ku naik kelas enam ibuk meninggal, karena sakit parah, nah dari situ hidup kami tidak menentu, ku harus banting tulang cari kerja'an untuk makan dek Wiwin, kadang ku ngemis dan apa aja yang penting ku bisa dapat uang, terkecuali mencuri, aku gak mau.'' Ucap Wawan.


''Hebat kamu dek, berjuang untuk adikmu, abang salut, terus kamu bisa kenal pak Nandi di mana?.'' Tanya Toglo.


Kemudian Wawan menceritakan waktu pertama kalinya bertemu dengan Nandi, sampai di kasih kartu nama segala.


''Nah dari kartu nama yang pak Nandi berikan sehingga kami sampai disini bang.'' Ucap Wawan.


''Syukurlah kalau begitu, abang turut bahagia, ya semoga aja pak Nandi bisa ngasih kerja'an disini.'' Ujar Toglo.


''Amiin,, Lalu abang kerjanya di bagian apa?.'' Tanya Wawan.


''Abang kerjanya di bagian bengkel, punya tiga anak buah, ooh iya, kalau kalian mau, tidurnya di tempat abang aja, cuma bukan rumah sih cuma gubuk tapi lumayan besar, kalau untuk tidur berempat masih leluasa.'' Ucap Toglo memberi penawaran pada Wawan.


''Tadi abang bilang be'empat?.'' Tanya Wawan.


''Iya berempat, abang tinggal sama nenek.'' Jawab Toglo.


''Ooh gitu, iya bang Toglo terima kasih.'' Saut Wawan.


''Abang tinggal dulu ya, soalnya bila jam istirahat,, abang sibuk di kedai melayani para karyawan yang mau ngopi dan lain sebagainya.'' Ucap Toglo.


''Iya bang Toglo.'' Saut Wawan.


Ketika Toglo mau melangkah sambil membuka pintu gerbang rumah Nandi, Wiwin memanggil.


''Abang Toglo.'' Panggil Wiwin


Toglo pun lalu membalikan lagi badannya sambil menoleh pada suara yang memanggil dirinya.


''Iya dek Wiwin ada apa?.'' Tanya Toglo.


''Abang Toglo kerjanya hati-hati ya.'' Saut Wiwin.


Toglo pun tersenyum, sambil memberikan acungan jempol pada Wiwin.


''Oke dek Wiwin, terima kasih ya.'' Ucap Toglo.


Entah kenapa selagi toglo melangkah menuju kedai, Wajah kedua kaka beradik itu, seperti sudah melekat dalam hatinya, dan seperti ada sentuhan tali batin yang sangat kuat, apalagi wajah wiwin sama persis dengan dirinya.


Lalu apakah benar Toglo dengan Wawan dan Wiwiin ada tali darah.

__ADS_1


.....................


Sementara di tempat lain.


Di sebuah distri butor, di jalan ketupat, di sa'at semua karyawan lagi pada melepaskan rasa lelahnya setelah habis bekerja, sebuah perusaha'an Nandi yang di kelola oleh Astuti.


Di sebuah cape yang tidak jauh dati tempat mereka bekerja, nampak Nina yunita dan pandi adi supraja lagi asik duduk berdua sambil minum kopi dan capucino kesuka'an Nina.


''Nin nanti pulangnya gua anterin ya.'' Ucap Pandi.


''Aa Pandi ini gimana, lalu motor aa Pandi mau di naikin di atas mobil gitu.'' Ujar Nina.


''Gak, maksud gua, gua nganterin lo' dengan cara gua ngikutin lo dari belakang dengan motor gue.'' Ujar Pandi


''Ooh begitu toh., is oke.'' Ucap Nina yunita.


''Makasih ya Nin.'' Ucap Pandi.


''Sama-sama aa, btw nanti dii hari pernikahannya Kamal sama Astut, lo' mau kado apa?.'' Tanya Nina.


''Ada deh, Kamal kan sahabat gua, jadi gua pun harus ngasih kado yang special buat mereka.'' Saut Pandi...


Kemudian setelah itu, Pandi dan Nina segera membayar makanan dan minumannya.


Pandi dan Nina pun segera melangkah keluar dari dalam cape tersebut, lalu menuju pada motornya yamaha rx king, setelah motornya di nyalakan nina pun naik dan duduk di belakangnya Nandi.


Kemudian motorpun melaju, menuju ke tempat kerjanya, yang jaraknya tidak terlalu jauh, sehingga tidak lama kemudian Pandi dan Nina sudah sampai di depan kantor pt Anggita surya mandiri.


Lalu kedua turun dari motor dan berjalan menghampiri Gito dan ketiga anak buahnya yang lagi duduk santai sambil menikmati secangkir kopi.


''Widiih dua sejoli ini nempel terus kaya prangko.'' Ujar Gito.


''Iya dong.'' Jawab Pandi.


''Mas Gito ngiri ya, makanya cepetan dong nyari.'' Pungkas Nina.


''Iya buk Nina, Gua mah nyantai aja.'' Ujar Gito.


''Yang sabar aja mas Gito, bila tuhan sudah berkehendak nanti juga akan bertemu dengan jodohnya.'' Ucap Nina.


''Amiiin.'' Saut Gito.


''Ooh iya, kamu sudah mendapat kabar belum, tentang Kamal dan Astuti, kapan tuh resepsinya?.'' Tanya Pandi pada Nina.


''Katanya sih habis lebaran haji.'' Jawab Nina.


................


Pukul 13:00.


Suara alarm pun sudah terdengar berbunyi, Nina, Pandi dan Gito langsung kembali ber'aktipitas.


Para pengunjung di bengkelpun sudah mulai berdatangan, memenuhi bengkel.


Gito dan ke tiga anak buahnya pun sangat sibuk, membongkar caver bodi motor, dengan berbagai macam keluhannya.


Dan mobil bok yang mau mengirimkan barang ke luar kota dan dalam kota sudah mulai keluar satu persatu dari area parkiran distributor pt Anggita surya mandiri cabang jalan ketupat.


Sementara ditempat lain.


Di gang si'iran, tepatnya di rumahnya Nandi suryaman, nampak Anggita lagi asik bermain ditaman depan rumah bersama Wawan dan Wiwin, Anggita banyak di ajarkan permainan ada budaya sunda warisan dari para leluhur yaitu permainan galah, bancakan dan sobintrong, Anggita pun sangat senang dengan permainan yang Wawan ajarkan.


Lalu Nandi keluar dengan mendorong motornya, terus dinyalakannya untuk di panasin terlebih dahulu, setelah itu Nandi menghampiri Anggita yang lagi asik bermain bersama Wawan dan Wiwin.


''Gita sayang, ayah pergi dulu ya, Wawan, Wiwin jaga dek Gita ya, ingat mainnya jangan di luar, kalau ada apa-apa cepat kasih tau ibuk, atau om Toglo.'' Pesan Nandi pada Wawan dan Wiwin.


''Baik pak.'' Jawab Wawan.


Kemudian Anggita berlari menghampiri ayahnya.


''Ayah mau kemana, ko bawa motor?.'' Tanya Anggita.


''Ayah ada perlu sebentar, kamu jangan nakal ya, main bersama ka wawan dan teh Wiwin.'' Ujar Nandi.


''Baik ayah, ayah hati-hati ya jangan ngebut bawa motornya.'' Ucap Anggita.


''Oke sayang, daaah.'' Jawab Nandi, sambil menaiki motornya, dan motorpun melaju perlahan keluar dari gerbang, kemudian Wawan pun langsung menutup gerbang tersebut dan di selotnya dari dalam.


Dan Nandi terus melaju melewati jalan tikus di antara sela-sela rumah penduduk gang si'iran, yang banyak belokan.


Tidak lama kemudian, Nandi telah tiba dijalanan yang yang banyak kerikil-kerikilnya, dan di sisi kiri kanan jalan banyak ladang dan sawah garapan para penduduk, setelah itu Nandi berhenti di depan kios yang menjual beraneka macam buah-buahan.


''Bang bungkusin mangga dan jeruk dua kilo-dua kilo.'' Ucap Nandi.


Lalu si pedagang buah-buahan itu memilih mangga dan jeruk dimasukin ke kantong plasrik sebanyak dua kiloan.


Setelah itu Nandi langsung membayarnya, lalu di cantolkannya buah tersebut di setang bagian kiri, Nandi langsung menyalakan lagi motornya terus ditarik gasnya motor pun melaju dengan kecepatan sedang.

__ADS_1


Tidak lama kemudian Nandi telah tiba di depan rumah yang setiap dindingnya terbuat dari bilik bambu, lalu Nandi berhenti, kemudian turun dari motornya yang sudah di setandarkan, melangkah menuju pintu rumah tersebut.


Tok


Tok


Tok


''Assalam mualaikum.'' Sapa Nandi.


Selang dua menit Nandi menunggu, terdengar dari dalam menjawab.


''Wa alaikum salam,, siapa di luar?.'' Tanya penghuni rumah.


''Aku nek Nandi.'' Jawab Nandi.


Si nenek pun kaget tidak biasanya Nandi datang, lalu nenek pun sudah berpikir yang tidak-tidak.


''Ada apa ya, jangan-jangn cucuku kenapa-kenapa.'' Gumam si nenek dalam hati.


Si nenek pun langsung bergegas membuka pintu, nampak Nandi lagi berdiri di depan pintu.


''Ooh kamu nak Nandi, tumben! ada apa?.'' Tanya si nenek.


''Boleh aku masuk nek.'' Ucap Nandi.


''Ooh tentu, ayo silahkan Nandi, nenek jadi tidak enak hati, ada apa gak biasanya kamu berkunjung kemari.'' Ucap nenek Jumi.


''Iya ma'ap nek, ku jarang silah turahmi kesini, terlalu banyak kesibukan, ooh iya ini buah jeruk dan mangga.'' Ucap Nandi sambil menyimpan buah jeruk dan mangga di atas meja.


''Gak apa-apa Nandi, iih ngerepotin aja, ngapain pake bawa makanan segala.'' Ujar nenek Jumi.


''Tidak apa-apa nek, gimana nenek sehat?.'' Tanya Nandi.


''Alhamdulilah hari ini nenek lagi dalam keada'an sehat wal'apiat, ma'ap sebenarnya ada sih Nandi?.'' Tanya nenek Jumi.


Kemudian Nandi menceritakan tentang Wawan, Wiwin dan kedua orang tuanya yang mempunyai kaka bernama Wanda yang hanyut waktu lagi terjadi banjir bandang di kampungnya.


''Dan yang saya aingin tanyakan pada nenek, apakah benar Toglo bukan cucu nenek, lalu nenek dimana waktu itu menemukan Toglo?.'' Tanya Nandi.


Nenek Jumi kaget dengan pertanya'annya Nandi, padahal menurut nenek Jumi ia tidak pernah menceritakan Toglo pada orang lain, selain pada Toglo sendiri.


''Tolong nek jawab dengan jujur, ini demi persaudara'an mereka, kasihan, mungkin Toglo sendiri berpikirnya jelek tentang orang tuanya.'' Pinta Nandi.


Kemudian nenek Jumi pun bicara, setelah di pikir-pikir bahwa ucapan Nandi benar sekali.


''Iya betul Nandi, waktu itu nenek lagi mencari barang-barang bekas, dan alhamdulilah nenek dapat barang banyak, pada bergeletkan penuh lumpur di atas pinggiran kali, setelah itu nenek pergi tapi waktu itu nenek kaget mendengar suara tangisan anak kecil, singkatnya nenek menemukan anak itu di dalam goa yang tidak terlalu dalam, dan pakainnya sangat kotor oleh lumpur, terus nenek bawa dan di rawat, yaitu Toglo yang sekarang sudah tumbuh dewasa.'' Jelasnya nenek Jumi bercerita waktu pertama kali menemukan Toglo.


''Lalu kenapa namanya ko Toglo, apa toglo sendiri yang ngasih tau namanya pada nenek.'' Ujar Nandi.


''Bukan Nandi, itu nenek yang memberi namanya, karena terlantar di dalam goa, ya sudah nenek kasih nama Toglo.'' Ucap nenek Jumi.


''Lalu nenek waktu itu tidak menanyakan namanya?.'' Tanya Nandi.


''Waktu itu nenek tanya, siapa namamu nak, tapi dia cuma menggelengkan kepala, tapi nenek menemukan kalung yang terbuat dari kulit pohon waru yang dikepang dipnggir anak itu.'' Ucap nenek Jumi.


''Sekarang masih ada kalung itu nek?.'' Tanya Nandi.


''Justru itu nenek lupa naronya di mana, dan ada gantungannya sih dari logam perak, nanti nenek cari lagi ya siapa tau ada petunjuk.'' Ucap nenek Jumi.


''Iya nek tolong ya nek di bantu, kasihan mereka.'' Ujar Nandi.


''Iya Nandi, terus anak itu tidurnya di mana?.'' Tanya nenek Jumi.


''Rencana sih sama bapak mau ditempatkan di ruangan belakang dekat gudang.'' Jawab Nandi.


''Kalau boleh suruh disini saja Nandi ikut Toglo, supaya nenek tidak kesepian, kalau Toglo pas jaga malam.'' Pinta nenek Jumi.


''Iya nek nanti ku bicarakan lagi sama bapak, ya sudah nek ku pulang dulu, masih banyak kerja'an di kantor, tolong dicari ya nek kalung itu.'' Ucap Nandi.


''Iya nak Nandi, ma'ap tidak di kasih apa-apa, maklum nenek tidak masak, karena suka dilarang sama Toglo.'' Ucap nenek Jumi.


''Iih tidak apa-apa nek, ku pulang dulu, assalam mualaikum.'' Ucap Nandi.


''Wa alaikum salam.'' Jawab nenek Jumi.


Setelah itu Nandi pun keluar dari kediamannya nenek Jumi, dan memburu pada motornya, kemudian dinyalakannya dan tancap gas, motor pun melaju meninggalkan nenek Jumi yang lagi berdiri di depan pintu mengiri kepergiannya Nandi.


**************


Bersambung.


Jangan lupa ya sertakan like, comentar, jadikan favorit bila suka, berikan vote serta hadiahnya.


Terima kasih atas dukungannya, salam sehat dan sukses selalu.


''Assalam mualaikum''

__ADS_1


__ADS_2