
Setelah mendengar penjelasan dari Toglo, orang itu langsung memanggil-manggil nama temannya itu yang bernama Penjol
"Jol penjol..Pejooolll."
Toglo hanya tertawa sambil menyeringai, dengan memnadang orang itu begitu tajamnya lalu Toglo berkata.
"Hahaha abang-abàng, sudah gua bilang temanmu itu lagi tidur pulas, di panggil sekeras apapun dia tidak akan nyaut." Ujar Toglo.
"Hai anak edan, kau apa kan teman gue itu." Bentaknya.
"Gua tidak apa-apa kan temanmu itu, cuma tadi gua kasih obat tidur aja ko." Ujar Toglo sambil menyeringai.
"Kurang ajar kau, sudah apa kan teman gue." Ujarnya kesal.
"Hahaha... banyak omong kau, sekarang juga lo' akan gua sered ke kantor polisi." Ujar Toglo.
Orang itu tersontak kaget ketika Toglo akan membawa dirinya ke kantor polisi, lalu orang itu tidak banyak lagi berpikir, dengan cepat tangan kanan orang itu meraih piva besi ukuran satu inci dengan panjang satu meter, kemudian ia menyerang Toglo sambil menghantamkan viva besi itu.
Tapi hanya dengan mudah nya Toglo mengelak dari serangan lawan, dan serangan viva besi itu makan ruang kosong.
Kemudian orang itu membangun lagi serangannya dengan memutarkan viva besi tersebut, kini di dalam ruangan gilingan padi itu jadi berisik, suara-suara benturan benda keras yang di hantamkan oleh orang itu yang terkadang beradu dengan benda lain, terus bertubi-tubi menyerang Toglo.
Tapi Toglo tidak nampak kerepotan sedikitpun dengan serangan yang di lancarkan lawannya itu
Sebruuutt....
Orang itu mengayunkan viva besi ke arah kepalanya Toglo, dengan gerakan yang cepat tangan kiri Toglo menangkap pergelangan tangan kanan orang itu yang lagi menggenggam viva besi tersebut, lalu secepat kilat Toglo memasukan elbo tangan kanannya sembari menggeser kakinya merapat pada orang itu.
Deeaasss...
Elbo yang sangat keras telah bersarang di tulang rahangnya orang itu.
Jeregjeg.
Orang itu langsung sempoyongan dan mundur beberapa langkah kebelakang, lalu Toglo berjalan perlahan mendekati orang itu dengan tatapan matanya yang tajam, menatap liar orang itu.
Orang itu sampai melotot ketika Toglo mebdekatinya dengan tatapan matanya yang liar dan tajam.
"Itu orang, manusia apa siluman sih, gerakannya cepat sekali." Gumamnya dalam hati.
Semakin Toglo mendekati, orang itu nampak terlihat gelisah, lalu ia mengayunkan lagi viva besi tersebut ke arah Toglo.
Toglo mengelak sambil memutarkan tubuhnya tiga putaran, dalam waktu sekejap tubuh Toglo sudah berada di belakang orang itu, kemudian tangan kekar Toglo meraih leher orang itu lalu di tarik dengan cepat, kemudian Toglo membantingkan orang itu ke lantai.
Brruuaakk..
Auuugghh..
Suara yang terdengar dari mulut orang itu, karena merasakan sakit dari benturan tubuhnya ke lantai yang telah di plester.
__ADS_1
Baru saja ia mau mengangkat tubuhnya, Toglo sudah mengangkatnya dengan memegang kedua kerah bajunya itu.
"Sekarang abang pilih kantor polisi atau gua teriakan biar masa pada keluar." Gertaknya Toglo.
Orang itu tidak menjawab sekata pun, karena rasa sakit di tubuhnya pun masih terasa, demi mempertahankan harga dirinya supaya bisa lepas dari cengkaraman Toglo, orang itu langsung menerjang lagi dengan viva besi secara bertubi-tubi seperti orang gila yang mengamuk, buat Toglo serangan yang tanpa siasat dan aturan sangat memudah kan untuk melumpuhkannya, secepat Kilat Toglo melesit ke atas memutarkan tubuhnya dengan gerakan tendangan memutar.
Duuk
Duk...
Deaasss ...
Auugghh...
Jerit kesakitan terdengar dari mulut orang itu, bersama'an dengan melayang tubuhnya jatuh ke lantai.
Blaakk..
Tubuh kaku terbaring di lantai tidak berdaya lagi, lalu Toglo mengambil tali tambang, kemudian tubuh orang itu di angkat dan di senderkan di sebuah tiang bangunan lalu kedua tangannya di tarik kebelakang dan di ikatnya sekencang mungkin.
Selepas itu Toglo mengeluarkan sebuah handponnya untuk menghubungi sang pemilik gilingan padi tersebut, yang kebetulan Toglo sangat mengenali sang pemilik gilingan padi itu.
Panggilan pun sudah terhubung dan sudah tersambung di via whatssap.
Dan Toglo menceritakan dari awal sampai terjadi perkelahian di dalam bangunan itu.
Tidak lama kemudian terdengar suara kendara'an roda dua di luar bangunan, lalu samar-samar nampak terlihat dua orang berjalan yang tersinari lampu memasuki ke dalam bangunan gilingan padi, yang tak lain pak Sodikin dan adik nya Junaedi sang pemilik gilingan padi itu, lalu pak sodikin mendekati pada Toglo dan berkata.
"Itu pak sudah saya ringkus, dan dia masih belum sadar juga." Jawab Toglo.
Lalu pak sidikin dan Junaedi mendekati ke arah orang itu yang masih belum sadarkan diri.
"Coba kamu perhatikan Dik, apa kamu kenal sama orang ini, plaaaakkk." Ujar pak Sodikin sambil menampar pipinya orang itu.
Tapi yang di tampar masih aja terpejam tidak sadarkan diri, Toglo pun sampai kaget dengan sikapnya pak Sodikin yang telah menampar orang yang sudah tidak berdaya.
"Waah pak Sodikin tidak boleh begitu, dia kan sudah tidak berdaya lagi, lagian barang pak sodikin pun masih tetap utuh belum hilang." Ujar Toglo memberi nasehat.
"Habisnya kesel glo, sebenarnya saya juga sering kehilangan, beras, gabah kepunya'an bandar dulu hilang, saya yang harus ganti." Jawabnya.
"Ya itu kan belum tentu dia yang ngambilnya, ya sudah yang penting sekarang orangnya sudah ke tangkap sekarang terserah pak Sodikin mau di bawa ke kantor polisi itu lebih baik, mau di lepasin juga itu hak bapak, intinya kan mesin-mesin di sini masih tetap utuh." Ujar Toglo.
"Orang kaya begini, harus di hukum glo, saya berterima kasih sekali padamu glo, sudah menangkap orang yang mau mencoba ambil mesin di sini, emang kamu baru pulang kerja, lalu adikmu mana?." Tanya pak Sodikin.
"Hari ini saya tidak kerja, kan pak Dirman habis nikahkan Astuti, jadi dua hari kerja bantuin pak Dirman bersama Wawan juga, dia ku suruh nunggu disana." Ujar Toglo.
"Ooh iya saya sampai lupa, makasih ya glo kamu sudah menyelamatkan harta perusaha'an saya, karena cuma ini satu-satunya jalan hidup saya buat menapkahi anak istri." Ucap pak Sodikin.
"Iya sama-sama pak, mungkin secara kebetulan aja saya lewat di jam segini, Oh iya pak temannya saya ikat tuh di luar di samping bangunan ini, saya gak bisa berlama-lama, nanti bila bapak butuh bantuan saya atau polisi yang mau minta keterngan suruh datang aja ke rumah, saya siap memberikan keterangan apa adanya." Jelasnya Toglo.
__ADS_1
"Iya siap Glo, sekali lagi makasih ya." Ujar pak Sodikin.
"Berterima kasihlah pada Allah swt pak, saya cuma perantara saja." Ujar Toglo sembari melangkah keluar menuju pada Wawan yang masih menunggu di balik semak-semak belukar.
Pak Sodikinnpun lalu menghubungi pihak yang berwajib untuk membawa ke dua orang yang sudah membobol gilingan padi miliknya
Sedangkan Toglo dan Wawan sudah melaju kembali dengan sepedanya, yang tidak jauh lagi akan segera sampai ke rumah tempat kediamannya.
Tidak lama kemudian Toglo dan Wawan sudah sampai di depan rumah, nampak Wiwin lagi duduk di bangku yang terbuat dari bambu.
"Assalam mualaikum." Sapa Toglo.
Wiwinpun sampai kaget bercampur senang dengan kedatangan kaka-kakanya.
"Wa alaikum salam, ko lama amat sih bang ku dari tadi di sini nunggu abang pulang." Jawab Wiwin.
"Iya ma'ap dek, abang dan kak Wawan harus bantuin beres-bers dulu, apalagi di jalannya tadi ada kendala." Ujar Toglo alias Wanda.
"Nenek mana dek?." Tanya Wawan.
"Nenek sudah tidur kak." Jawab Wiwin.
"Lalu nenek sudah makan?." Tanya Wanda/Toglo.
"Sudah bang, waktu abang sore anterin nasi itu, nenek makannya lahap sekali gak biasanya nenek makannya banyak." Jawab Wiwin.
"Ya syukur dah, abang senang mendengarnya." Ujar Toglo.
Selepas itu Toglo, Wawan dan Wiwin masuk kedalam rumah, nampak terlihat oleh Toglo dan Wawan nenek Jumi lagi tertidur dengan sangat pulasnya, Toglo tersenyum penuh bahagia melihat nenek Jumi tertidur dengan pulas.
................
Sementara di rumahnya pak Dirman.
Disebuah kamar depan nampak Astitu dan Kamal lagi menikmati malam pengantin barunya.
"Sekarang kita sudah resmi menjadi suami istri, ku mau bertanya padamu wahai istriku." Ujar Kamal.
"Mau bertanya apa? wahai suamiku." Jawab Astuti.
Kamalpun tersenyum sambil memandang intens wajah Astuti.
"Wajah cantik nan rupawan ini milik siapa?." Tanya Kamal.
"Ya sudah tentu milik suamiku." Jawab Astuti.
"Hehee, lalu ini mili siapa?." Tanya Kamal sambil mencolek hidung mancungnya Astuti.
"Ya sudah tentu milik suamiku." Jawab Astuti.
__ADS_1
Kamal dan Astuti lalu saling rengkuh mengungkapkan seluruh isi hati dan perasa'annya.
Angin malam yang semakin terasa dingin se akan menyelimuti pada pasangan pengantin baru itu, hingga akhirnya dewa kamajaya pun sudah merasuk kedalam diri mereka, sehingga terciptalah sebuah gelora cinta yang membara di antara keduanya.