
Setelah selesai bicaranya, Nandi dan Sindi berjalan menuju lagi pada mereka yang masih pada duduk dikursi teras depan rumah.
Singkatnya Nandi dan Astutipun kini sudah mulai melajukan motornya lagi, jalan yang berliku-liku dan banyak nya medan jalan yang turun naik.
motor yamaha Rx king melesat dengan kencangnya yang di ikuti motor Honda Gl 125 yang sudah dikorek dan dirubah bodinya mengikutinya dari belakang dengan suara kenaolpot yang besar membuat suasana jalanan menjadi gaduh.
Disa'at Nandi dan Astuti sudah memasuki jalanan yang menanjak tiba-tiba mereka menghentikan laju kendara'annya.
''Ada apa Aa, ko berhenti?.'' Tanya Astuti.
''Tuh lihat, gua ga tega melihat, sibapak tua, sudah jalannya menanjak ditambah harus mendorong gerobak dagangannya, Lo tunggu disini gua mau bantuin Bapak tua itu.'' Jawab Nandi.
Nandi pun lalu mendekati pak tua yang lagi ngos ngosan, mendorong gerobak dagangannya.
''Asalam mualaikum Pak.'' Ucap Nandi.
''Wa alaikum salam, ada apa nak mau beli apa.'' Jawab pak tua.
''Tidak pak, saya cuma mau bantuin Bapak mendorong gerobaknya, sini pak biar saya yang bawa gerobaknya, bapak mau kemana?.'' Tanya Nandi.
''Mau jualan nak, biasa mangkal dipinggiran pasar delima, Alhamdililah, terima kasih ya nak.'' Jawab Pak tua.
Nandipun lalu menarik gerobaknya dengan jalan yang menanjak memang sangat memeras tenaga sekali.
Lumayan cukup jauh nandi menarik gerobak tersebut, Hingga akhirnya Nandi pun telah tiba dijalanan yang datar, yang sudah sangat dekat dengan pasar delima.
sesampainya dijalanan yang datar Nandipun menarik napasnya turun naik, sambil menunggu pak tua tersebut.
''Buset dah ini gerobak luamyan berat juga, pantesan pak tua sampai tidak bisa naik tadi, kasihan juga pak tua, emang anak-anaknya pada kemana, ko tega orang tua memikul beban begini tiap hari, semoga pak tua dagangannya laris sampai habis, sungguh gak tega gua.'' Gerutu Nandi bicara sendiri.
Tidak lama kemudian pak tua muncul, dengan keringat yang mengucur mengalir dan berjatuhan dari kedua pelipisannya.
''Hah..Hah hah. terima kasih nak, kamu sangat baik, dan berjiwa penolong, semoga allah membalas budi baik mu.'' Ucap Pak tua sambil menarik napas.
''Aamiin pak, Bapak tiap hari begini?.'' Tanya Nandi.
''Iya nak tiap hari, kalau tidak begini saya mau makan apa untuk menyambung sisa hidupku dan keluargaku.'' Jawab pak tua.
''Kasihan juga Bapak ya, tanjakan ini lumayan panjang pak, apa anak-anak Bapak tidak mau bantuin.'' Ucap Nandi.
''Ya Biasanya anak Bapak yang bontot suka bawa gerobak ini, berhubung sekarang dia lagi sakit, jadi bapk yang bawa, dan untuk menambah biaya rumah sakit juga.'' Ucap Pak tua.
''Ina lilahi, sakit apa pak?.'' Tanya Nandi.
''Tipes nak, sekarang lagi dirawat di rumah sakit Harapan.'' Jawab Pak tua.
''Terus anak Bapak yang lainnya.'' Berkata Nandi.
''Bapak punya anak tiga, yang pertama cewe punya suami sama orang Jakarta, katanya sih suaminya salah satu karyawan diperusaha'an bonapit, ya bapk bahagia akhirnya anaku menemukan kebahagiannya, dan yang kedua cewe juga, suaminya orang serang Banten, tapi hingga detik ini pun anak-anaku tidak ada kabar, bahkan sudah enam lebaran tidak ada kesini.'' Ucap Pak tu.
''Astagpirullahaladim, ko sungguh tega sekali anak bapk.'' Ucap Nandi.
''Tidak apa-apa nak, melihat anak hidupnya berkecukupan bapak selaku orang tua sudah bersyukur banget, karena orang tua seperti bapak ini hanya bisa mendoakan agar anak-anak kelak menemui kebahagia'annya, karena bapak tidak bisa memberi apa-apa.'' Ucap Pak tua.
mendengar cerita pak tua itu, Nandi merasa sedih, serasa orang tuanya sendiri dulu juga begitu sama srperti yang lagi di alami olehnpak tua.
Setelah itu Nandi pun pamit sama pak tua, untuk mengambil motornya yang tadi sempat diparkir dibawah sewaktu menolong pak tua.
Pak tua banyak-banyak mrngucapkan terima kasih, ternyata masih ada pemuda sebaik Nandi yang mempunyai jiwa penolong.
Dan Nandipun memberikan pak tua uang, dengan alasan untuk meringankan biaya anaknya yang lagi dirawat.
Pak tua menerima pemberian dari Nandi dengan berderaian air mata, terasa sedih dan bahagia.
Sedihnya teringat sama anaknya yang tidak ada kabar sama sekali.
Bahagianya, merasa bersyukur sudah dipertemukan dengan pemuda yang berhati mulia.
''Ayo de kita lanjutkan lagi.'' Ajak Nandi.
''Bagaimana Aa, sudah aman gerobaknya pak tua?.'' Tanya Astuti.
''Amaan, nanti kita lihat aja, kan kelewat sama kita.'' Jawab Nandi.
Setelah itu Nandi dan Astuti langsung menghidupakan lagi motornya, masih di jalan yang menanjak, motorpun langsung melaju menaiki tanjakan yang lumayan cukup tinggi.
Setibanya dijalanan yang datar nandinpun berhenti ditempat jualan kue bandros.
''Nah itu pak tua lagi melayani pembelinya.'' Ucap Nandi sambil menunjuk pada pak tua yang lagi sibuk melayani.
''Ooh jadi pak tua jualan kue Bandros, kasihan juga ya Aa, semoga dagangannya cepat abis.'' Ucap Astuti.
''Kita beli de, buat ibu dan Bapak, serta buat kamal dan Hasan juga.'' Ucap Nandi.
''Emang jam segini, mereka masih pada kerja?.'' Tanya Astuti.
''Ya kerja, tapi diluar jam kerja harian, ada banyak motor yang turun mesin, Makanya besok lusa bengkel yang kamu pegang akan ditutup dulu.'' Ucap Nandi.
__ADS_1
''Kenapa harus ditutup Aa, kan Kasihan para pelanggan, nanti bisa pada kabur lo.'' Ucap Astuti.
''Ya kagak lah, kan cuma sehari, karena gito dan Pandi suruh bantuin dulu kamal dan Hasan, soalnya yang punya motornya minta tempo tiga hari.'' Jawab Nandi.
Setelah itu Nandi dan Astuti langsung mampir ke tempat jualannya pak tua.
''Pak, Alhamdulilah ya, laris dagangannya.'' Ucap Nandi.
Pak tua kaget, karena sibuknya melayani pembeli, sehingga tidak tau kedatangannya Nandi dan Astuti, pak tua langsung menoleh pada yang menyapanya itu.
''Ooh rupanya nak... Siapa, tadi tidak sempat kenalan dulu.'' Ucap Pak tua.
''Kenalkan saya Nandi, dan ini adik saya namanya Astuti.'' Ucap Nandi sambil mengulurkan tangannya, yang di ikuti oleh Astuti.
''Namaku Rohim...'' Kata Pak tua sambil menyambut salamnya dari Nandi dan Astuti.
''Ooh iya, silahkan Nak Nandi dan Nak Astuti, duduk dulu sekalian mencicipi kue bikinan bpk.'' Ucap Pak Rohim.
''Iya tetima kasih Pak, bungkus aja tiga puluh ribu, Sama surabinya pak dua puluh, jadi pas gocap.'' Ucap Nandi.
''Baik Nak Nandi.'' Jawab pak tua sambil membungkus kue bandros, kalau di betawi namanya kue pancong, dan kue Surabi ciri khas sunda.
''Ini Nank nandi, sudah gak usah bayar, karena kamu sudah nenolong bapak, terima kasih sebelumnya, kalau tidak ada kamu mungkin sampai detik ini juga bapak belum sampai disini.'' Ucap Pak Rohim.
''Sama-sama Pak, ku nolong bapk iklas ko, tanpa pamrih, sebelumnya makasih banyak, bukannya ku menolak pemberian bapak, udah ini terima aja untuk memperingan biaya perawatan anak bpak.'' Ucap Nandi sambil memasukin duit kedalam laci.
Singkat cerita Nandi dan Astuti telah melajukan lagi kendara'annya, untuk menuju Gang si'iran.
Kini motor yamaha Rx king melaju dengan kencangnya dijalan delima yang di'ikuti oleh motor Honda Gl 125 dengan suara knalpot besar laksana suara hely kopter, tidak lama kemudian Nandi dan Astuti kini sudah tiba, didepan bengkelnya, nampak Kamal dan Hasan yang masih sibuk dengan kerja'annya.
''Assalam mualaikum.'' Nandi mengucapkan salam.
''Wa alaikum salam.'' Jawab Kamal dan Hasan.
''Sekarang kita ngopi dulu, ini gua bawain kue surabi sama bandros, dan ini bawa de buat ibu sama bapak.'' Ucap Nandi pada Astuti.
''Baik.. Aa, oh iya mau dibikinin kopinya kagak.'' Ucap Astuti.
''Ya kalau kamunya gak cape, ya sudah sekalian bikin tiga ya.'' Kata Nandi.
''Okee...'' Jawab Astuti, sambil melangkah menuju rumahnya.
Kamal dan Hasan pun langsung memburu tempat duduk, tanpa basa-basi lagi mereka berdua langsung menyantap kue bandros dan kue surabi itu.
''Gileee, kedua bocah kaya belum makan seharian.'' Ucap Nandi.
''Betul itu.'' Jawab Hasan singkat.
Disa'at itu pula munculah Astuti, membawa nampan yang berisikan tiga gelas kopi hitam panas, Kepulan uap yang keluar dari tiga gelas kopi tersebut sampai tercium oleh Hasan dan Kamal.
''Widiiih.... Aroma apa ini.'' Ucap Kamal sambil mendengus-dengus hidungnya.
''Biasa aja kali hidungnya, kaya sijinggo mencium ikan aja.'' Ucap Astuti.
''Siapa tuh sijinggo Tut?.'' Kamal bertanya.
''Itu kucing nya gue.'' Jawab Astuti.
''Aah suee lo, masa gua disama'in sama kucing elo sih.'' Ucap Kamal.
''Ya gue bilang kaya, Lagian lo lebay sih.'' Ucap Astuti.
''Iya bener tuh Tut, Kamal itu banyak Gaya tapi kurang jajan.'' Kata Hasan ikut nimrung.
''Daripada lo, jajan kurang, gaya juga kaga ada, hahahaha.'' Jawab Kamal tertawa puas.
''Suee lo mal, dasar Pe'a.'' Ucap Hasan sambil pasang roman cambetut.
Nandi melihat tingkah dan gaya kedua temannya itu hanya tersenyum, dan bahagia karena kamal dan Hasan sahabatnya dari sejak masih kecil, dan Hasan yang paling tua usianya.
Ibarat kata dalam kendara'an, kamal dan Hasan adalah pencetusnya sebuah tenaga listrik untuk kebangkitan semangatnya Nandi.
''Ya Allah semoga sahabat-sahabatku selalu diberi kesehatan, sepi rasanya hidupku kalau tidak ada sahabat-sahabatku ini.'' Berkata Nandi dalam hati.
Malam pun terus bergeser, seiring dengan jarum jam berputar, Kamal dan Hasanpun, sudah menghentikan pekerja'annya, karena Nandi yang meminta, menurut Nandi kesehatan harus lebih diutamakan.
Kamal dan Hasan pun sudah membersihkan tubuhnya dikamar mandi yang telah tersedia, karena bengkel Nandi yang sekarang sudah jauh lebih bagus.
Dan tempat oprasinal pun sekarang jauh lebih luas dibanding sebelumnya.
Digang Si'iran pemuda sepantaran Nandi sudah cukup dibilang sukses didalam berbisnisnya, apalagi Nandi sudah buka cabang bengkel baru yang lokasinya dijalan ketupat itu.
''Wah seger rasanya kalau sudah mandi, langsung ku seripit lagi nih kopi.'' Ucap Kamal.
Dan setelah itu muncul Hasan sambil mengeringkan rambutnya pake handuk, terus duduk dibangku, sambil mengambil bungkus roko, lalu dikeluarkannya sebatang, terus djepitkan diantara dua bibir atas dan bibir bawah, dan dinyalakan korek gas lalu dibakarnya ujung roko tersebut.
Sepuuuuhhhh..... Asap mengepul keluar dari mulutnya Hasan.
__ADS_1
''Mantaapp.'' Ucap Hasan.
''Ooh iya San, Mal besok gua tarik dulu Gito dan Pandi kesini.'' Ucap Nandi.
''Terus bengkel disana gimana, kalau Gito dan Pandi ditarik dulu kesini?.'' Tanya Kamal.
''Bengkel yang disana, sementara gua tutup dulu untuk sehari itu saja.'' Jawab Nandi.
''Waah cakep tuh, kalau Gito dan Pandi membantu menghandle pkerja'an ini, gua yakin sehari juga kelar.'' Ucap Hasan.
Setelah itu Hasan pamit pada Nandi untuk pulang lebih dulu, Nandi pun mengerti dengan keada'an Hasan yang sudah berkeluarga.
Di naikinya motor Honda keluaran tahun 1970 dengan cat bodi merah kombinasi sungguh antik rupawan.
Kini tinggal Nandi dan Kamal yang masih stay di depan bengkel.
Udara dingin kini mulai menyelimuti kota bandung.
Kendara'an pun nampak masih memadati dijalan raya, Mol-mol dan toko-toko masih ramai dengan pengunjung yang datang keluar masuk, yang mau belanja, atau yang hanya sekedar jalan-jalan saja sambil menikmati ke indahan kota bandung di malam hari.
Kamalpun sudah pamitan pulang pada Nandi, karena malam sudah menunjukan pukul 23:00 kini Hanya Nandi duduk menyendiri di kursi teras depan rumahnya.
Nandi lalu mengambil handponnya, dan Dibukanya Aplikasi whatssap, lalu digulirnya layar kaca handpon ke atas dan ditemukan kontak whatssap yang ber inisial S.
''Gua telpon Sindi, mau gak ya besok ku ajak main.'' Kata Nandi berkata dalam hati, sambil melakukan panggilan pada Sindi.
Nuuttt..Nuuuutttt...
''Iya Halo Aa Nandi.'' Jawab Sindi.
.Nandi ''met malam Sin, ma'ap nih kalau gua ganggu istirahat lo.
.Sindi ''Met malam juga, tidak ko gue tidak merasa diganggu.
.Nandi ''Gimana besok, lo mau kagak gua ajak main.
.Sindi ''Oke Aa gue mau, Btw mainnya kemana sih.
.Nandi ''Nanti juga lo bakal tau, ya sudah ya, sampai ketemu besok, good night.
.Sindi ''Okee.. Sama-sama, makasih Aa.
Setelah itu Nandipun langsung mematikan handponnya, Raut wajah yang ceria nampak terlihat diwajah Nandi, mungkin ia merasa senang sekali karena ajaknnya untuk main dihari libur Pada Sindi, tidak menolaknya.
Dan malampun terus berlalu, laju kendara'an dijalan raya pun sudah nampak sepi, Hanya ada satu dua kendara'an yang masih terlihat melintas.
......................
Tidak lama kemudian malampun telah berganti dengan Pagi.
Jam 6:00 Nandi sudah mengeluarkan motornya, dan Di elap-elap dari debu yang menempel, dan motorpun mulai Nandi panasin.
Greng greng greng greng....
Suara motor yamaha Rx king yang lagi dipanasin, sementara Nandi seperti biasa, yang tidak bisa jauh dari yang satu itu, yaitu secangkir kopi dan sebatang roko, yang selalu menemaninya dengan setia.
Penampilan rapi dengan kemeja lengan panjang kotak-kotak clasik dan jaket levis warna biru kini sudah Nandi kenakan.
Pukul 7:00 Nandi sudah bersiap-siap untuk berangkat.
Nandi terus menemui kedua orang tuanya yang lagi pada didapur, pak Dirman yang lagi mengitung barang-barang akan dikeluarkan hari itu.
''Bu saya pamit ya mau main dulu, Nanti apabila Kamal, Hasan, Gito dan Pandi suruh bikin kopi sendiri aja, dan kopinya sudah ku siapkan.'' Ucap Nandi.
''Kamu mau main kemana sih Nandi, awas jangan lama-lama lo.'' Ucap Bu Sari.
''Waaah Bapak serius amat, gimana pak keuangannya lancar gak?.'' Tanya Nandi.
''Alhamdulilah Di lancar juga, emang kamu mau kemana, pagi begini sudah rapi aja.'' Ucap Nandi.
''Mau jalan pak, suntuk dibengkel melulu.'' Jawab Nandi.
''Ya sudah kamu hati-hati dijalannya, sama siapa?.'' Tanya Bu sari.
''Sama Sindi Bu.'' Jawab Nandi.
Setelah Nandi mendapat ijin dari Orang tuanya, ia pun lalu keluar rumah menuju pada motornya yang lagi terparkir didepan halaman rumah.
♤♤♤♤♤♤♤•••••••••♤♤♤♤♤♤♤♤
Bersambung.....
Nantikan kelanjutan kisah Sikidal sang penolong di episode selanjutnya.
Jangan lupa klik 👍like dan tulis comentar dan saran, favorit, ranting dan Vote nya juga.
Selamat membaca.
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya.