
Nandi, Toglo dan Hasan membawa sopir truk yang korban dari pengeroyokan para komplotan orang yang tidak bertanggung jawab itu, ke klinik terdekat di jalan Delima raya.
"Waduuh gua samapi lupa, istri dan anak gua nunggu di mobil, mana gua gak bawa handpon lagi." Ujar Nandi.
"Sekarang gini aja, pak Nandi pulang aja duluan biar bang sopir saya yang nungguin di sini." Ujar Toglo.
"Gak usah, gini aja, san lo' pulang duluan tolong anterin anak dan istri gua, biar nanti gua pulang bareng Toglo pake motor lo'." Ujar Nandi.
"Oke kalau begitu, Kunci mobilnya mana?." Tanya Hasan.
"Ada pada Sindi." Jawab Nandi.
Hasan pun langsung bergegas pergi menuju pada mobil Pajero New sport yaang terparkir agak jauh dari klinik tersebut.
Lalu Toglo bertanya pada Nandi.
"Pak bos ko Hasan tidak ngasih kunci motornya?." Toglo bertanya.
"Emang pake motor siapa?." Nandi balik bertanya.
"Ya pake motor dia sendiri pak bos." Jawab Toglo.
"Ooh, kalau motor dia itu gak ada kunci kontaknya, kan saya sendiri yang bikinnya." Ujar Nandi sambil tersenyum tipis.
"Ooh begitu toh." Pungkas Toglo.
Kemudian sang sopir sudah keluar dari ruang pengobatan dan membawa selebaran kertas resep obat untuk di ambil di tempat obat.
"Bagaimana bang, apa ada luka yang serius di bagian kepala?." Tanya Nandi.
"Tidak bang, kata dokter cuma luka ringan biasa nati juga sembuh kalau rutin minum obat." Ujarnya.
"Ooh syukut deh, Itu resep obatnya?." Tanya Nandi.
"Iya bang." Jawabnya.
"Sini biar gua aja yang ambil obat." Ujar Nandi sambil meminta selebaran kertas resep obat yang akan di ambil.
Setelah itu Nandi pergi ke ruang bagian pengambilan obat, setibanya di tempat ke ada'an tidak terlalu ramai jadi Nandi kebagian ngantri sebentar saja, dan setelah itu Nandi pun sudah mengambil obat tersebut dan membayarnya, kemudian ia kembali ke tempat dimana Toglo dan sopir truk tersebut menunggu.
"Nih obatnya bang, aturan pemakaiannya ada di situ." Ujar Nandi sambil memberikan obat pada sopir itu.
Sopir itu pun menerima obat tersebut dari tangannya Nandi dan berkata.
"Terima kasih bang, semuanya berapa?." Tanyanya.
"Udah gak usah, sakuin aja uang mu buat anak istrimu di rumah." Jawab Nandi.
"Terima kasih banyak bang, kalian sudah baik hati, sudah menolongku dari pengeroyokan, dl tambah abang bayarin aku berobat." Ujar sang sopir.
"Sama-sama, udah gak usah di fikirin, hati-hati ya di jalan bila ada apa-apa cepat hubungi polisi." Ujar Nandi.
Selepas itu sang sopir pun langsung pergi menuju pada mobil batangannya sebuah mobil truk.
Sementara Nandi dan Toglo langsung pulang ke gang Si'iran menggunakan motornya Hasan, sebuah motor jadul tahun tujuh puluhan yang telah di modifikasi rangka bodinya sehingga bentuknya menjadi sebuah motor antik yang keren dengan harganya selangit.
Cuaca di pagi itu nampak cerah, matahari pun sudah naik dengan kemiringan cahaya yang memancar ke bumi sekitar tiga puluh derajat atau garis miring diagonal. Nandi dan Toglo kini sudah tiba di gang Si'iran, lalu Nandi melajukan motor ke tempat di mana Toglo bekerja.
Setiba di bengkel nampak Asep, Gio dan Peri lagi sibuk melayani para castamer yang Service dan lain sebagainya.
Lalu Toglo turun dari motor, sedangkan Nandi membawa motornya Hasan ke samping bengkel di tempat parkiran khusus para karyawan bengkel.
__ADS_1
Hasan datang menghampiri Nandi dan berkata.
"Kunci mobil di buk Sindi pak bos." Ujar Hasan.
"Iya terima kasih ya San." Jawab Nandi.
"Sama-sama pak Bos." Ujar Hasan.
Kemudian Nandi duduk di bangku tempat kerjanya Hasan dan Doni.
"Ooh iya Don, nanti sekitar jam dua sore, ada kiriman barang ke Bogor, itu pun kalau kerja'annya sudah kelar, andai kamu sibuk gak usah, paling saya ambil supir dari tempatnya Astuti." Ujar Nandi.
"Gimana ya Bos, di bilang terlalu sibuk, nggak juga, di bilang gak sibuk, emang lagi ada projek ini motor pak Hendri itu, pingin di rubah menjadi gaya Bober." Ujar Doni.
Kemudian Nandi melihat-lihat motor Honda mega pro new yang akan di modifikasi itu, takutnya ada yang gak sepadan dengan perminta'annya castamer.
"Oke, kalau begitu, karena kerja'anmu masih lumayan banyak, biar nanti saya suruh pak ujang aja yang kirim." Ujar Nandi.
Setelah itu Nandi pun pergi meninggalkan Hasan dan Doni.
"Begitulah kalau punya kerja'an merangkap." Ujar Hasan.
"Ya harus gimana lagi bro, tapi enak juga sih kalau lagi ada tarikan, gaji di sini punya, uang jalan ada komplit kan gaji gua." Ujar Doni.
"Iya itu kan sudah rijki dan jalan hidup lo' aja Don, kalau gua sih lebih enak kerja kaya gini bisa duduk santai bisa ngopi, biarpun setiap hari bermain-main dengan panasnya las'an, tapi kan gak mesti, kalau lagi sepi kan gua balik ke bengkel bantuin Toglo." Ujar Hasan.
"Ooh iya, dari tadi gua gak lihat Kamal, kemana dia?." Tanya Doni.
"Tau tuh anak, mentang-mentang sekarang hidupnya sudah enak, kayanya tuh anak agak malas sekarang." Pungkas Hasan.
Ketika Hasan dan Doni lagi asik memperbincangkan Kamal, tiba-tiba ada suara berisik yang membuat Hasan dan Doni kaget.
Praaaakk..
Nampak terlihat oleh Hasan dan Doni se orang lelaki bertubuh gempal dengan rambut pirang di cat telah berdiri dengan bertulak pinggang.
"Buseet dah, dasar lo' bikin kaget gua aja." Ujar Hasan.
"Oh jadi sekarang kerja'an lo' berdua begitu ya, ngomongin gua, ternyata hati kalian sulit juga rupanya." Ujar lelaki itu yang tak lain adalah Kamal.
"Hahahaha, Kamaludin-kamaludin, gua gak ngomongin lo' cuma gua sama Doni membicarakan lo' kemana gak kelihatan gitu." Pungkas Hasan.
"Sue lo' berdua, ngiri aja sih lo' melihat hidup gua agak enakan, kan gua masih pengantin baru." Ujar Kamal.
Hasan dan Doni saling pandang sambil menyeringai, lalu berkata.
"Sekarang kan lo' sudah jadi bos, bikinin kopi dong, gua belum ngopi nih." Celoteh Doni.
"Ah elo' Doni, ikut-ikutan kaya Hasan bin maun. Btw kalian lagi ngerjain motor siapa?." Tanya Kamal.
"Motornya pak Hendri." Jawab Doni.
"Tuh kalian lagi punya projek besar, ngapain minta kopi sama gua." Ujar Kamal.
"Ah dasar pelit lo' ah, kan gua sam Doni di gaji tau, sama saja pendapatannya gajian sebulan." Ujar Hasan.
"Ya setidaknya ada bonus tambahan." Ucap Kamal.
"Ya bonusnya nanti kalau lebaran, atau kalau lagi ada dompres itupun setaun sekali." Ujar Hasan.
Ketika mereka lagi beradu argumen, tiba-tiba muncul Mira dengan membawa nampan ber'isi tiga gelas kopi, Hasan langsung tercengan kaget dan berkata.
__ADS_1
"Lho siapa yang pesen kopi Mir?." Tanya Hasan.
Mira pun langsung mendaratkan tiga gelas kopi di meja, lalu menjawab pertanya'annya Hasan.
"Kan ini Bos Kamal yang pesen." Jawab Mira.
Kini muka Hasan mendadak berubah yang tadinya bilangin Kamal pelit, kini seperti malu sendiri.
"Terus sekarang masih bilangin gua pelit, dasar lo' Hasan bin maung." Ujar kamal
"Iya sori dah, jadi malu nih gua." Ujar Hasan.
Begitulah kalau Kamal dan Hasan sudah bertemu, pasti selalu aja berisik saling buli dan saling ejek, tapi bagusnya mereka tak pernah marah, mereka selalu setia kawan.
Para pamili gang Si'iran selalu memegang teguh pada persahabatannya, dan saling bantu bila salah satu dari mereka lagi dalam ke susahan dan saling berbagi di sa'at lagi punya rijki atau lagi gembira dalam bentuk apa saja, sistim kekeluarga'an mereka begitu melekat, dan mrnjadi sorotan anak-anak yang lainnya.
Apalagi sekarang di tambah Doni, Toglo dan Wawan.
Dan semua mempunyai kemampuan bela diri di atas rata-rata terkecuali Wawan, karena ia belum tertarik untuk belajar bela diri.
Pukul 12:00
Jam istirahat sudah terdengar dari suara alarm, dan para karyawan Pt Anggita mandiri sudah keluar dari ruangan kerjanya masing-masing, dan berjalan menuju pada kedai yang dijaga oleh Mira.
Mira salah satu sahabat lamanya para pamili gang Si'iran, yang kini sudah menjalin hubungan(Pacaran) dengan Gito santoso, lelaki blasteran sunda Jawa atau yang sering di sebut orang Jasun.
Kini kedai itu banyak di kunjungi orang-orang, baik dari karyawannya Nandi atau pun orang-orang yang lewat yang sengaja mampir untuk menikmati kopi ala kedai Nandi yang cita rasanya banyak orang yang ketagihan.
Siang itu langit agak mendung, mungkin pertanda akan segera turun hujan, angin pun berhembus agak kencang.
Suasana dikedai pun nampak ramai sekali, setiap meja di penuhi oleh para karyawannya Pt Anggita mandiri.
Seperti halnya di sebuah meja yang posisinya di sebelah sudut, lagi di penuhi oleh Hasan, Doni, Kamal dan Toglo serta ke tiga anak buahnya, setiap seripitan kopi terdengar begitu nikmat bila di rasakan, dan kepulan asap putih yang di hisap dari hasil pembakaran sebatang roko nampak memenuhi ruangan itu.
"Widiiih enak benar nih kopi di siang ini, di tambah cuaca yang dingin menambah cita rasa semakin berasa banget." Celoteh Kamal.
"Ma'ap pak Kamal, bapak sehari berapa kali ngopi?." Asep suryadi bertanya.
"Ko kamu bertanya begitu sep?." Kamal balik bertanya.
"Gak pak, soalnya tadi belum lama juga, bapak ngopi di tempat kerjanya pak Hasan dan pak Doni." Jawab Asep.
"Ooh itu, kalau saya kapan maunya, kadang empat kali sehari kadang lebih, gak mesti juga, gimana mutnya aja." Ujar Kamal.
Lalu Hasan celingukan kesana kemari seperti ada yang ia cari, Toglo menatap datar pada Hasan dan berkata.
"Lagi cari siapa bang Hasan?." Tanya Toglo.
"Ini gua lagi lihatin pak Nandi, ko tumben ya biasanya suka kumpul ngopi bareng sama kita, tapi ko sekarang tidak kelihatan ya." Ujar Hasan.
"Mungkin dah pulang ke rumah kali." Pungkas Doni.
"Gimana sih lo', kalau pulang kan melintasi bengkel tempat kita kerja." Jawab Hasan.
Tak lama kemudian alarm masuk sesudah istirahat telah bersuara, dan para karyawan pun langsung bergegas pergi meninggalkan kedai, untuk kembali ke tempat kerjanya masing-masing.
*************
Bersambung
Jangan lupa ya sertakan like, comentar, jadikan favorit, berikan vote serta hadiahnya bila suka.
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya, salam sehat dan sukses selalu.
"Assalam mu'alaikum"