
Waktupun kini tidak terasa, se iring dengan berputarnya roda kehidupan.
Tiga minggu kemudian, di gang Si'iran nampak sudah ramai tepatnya di rumahnya pak dirman tenda-tenda pun sudah terpasang rapi, untuk menyelenggarakan hari pernikahannya Astuti sri jayanti dengan Kamal lugina.
Sebelum acara resepsi pun para warga gang Si'iran sudah pada berdatangan menghadiri undangan dari pak Dirman.
••••••••
Sementara Kamal yang lagi kumpul sama saudaranya, mau mengadakan acara syukuran nanti malam sehabis maghrib.
Acara selametan melepas masa lajangnya, Kamal hanya seorang anak yatim, karena bapaknya telah tiada sewaktu kamal masih menginjak di bangku sekolah menengah pertama, bersama adik perempuannya yang bernama Linda lugina, kini cita-cita Kamal sudah terlaksana, karena ia sudah bertegad dulu, sebelum Linda lugina lulus sekolah menengah atas, kamal tidak akan berumah tangga, begitu tekad kamal pada ibuknya dan saudara-saudaranya, Kamalpun merasa bersyukur semenjak dirinya di angkat menjadi karyawan Nandi dari mulai bengkel hingga membuka distributor penyuplai barang, Kamal bisa membiayai adiknya hingga lulus, dan bisa membiayai hidup keluarganya.
Dan Kamal pun menceritakan atau mengupas kembali sejarah kejadian meninggalnya ayah kandungnya, pada saudara-saudaranya yang jauh, dan pada sahabatnya, yang setia menemani Kamal.
Kamal dan Linda adiknya, anak dari seorang lelaki gagah berani yang bernama Lugina, ia sebelum meninggal bekerja di sebuah perusaha'an orang asing sebagai pengawal pribadi bosnya.
Sekiranya Kamal masuk SMP dan Linda baru masuk kelas satu sekolah dasar, lugina meinggal karena di tembak oleh orang tak di kenal, di sa'at lagi mengawal bosnya, lugina di tembak ketika lagi mengemudi kendara'an pribadi bosnya, ketika itu ada mobil Toyota portuner menyalipnya dan sebuah timah panas melesat menembus kaca mobil dan tepat mengenai jantung sebelah kanannya Lugina, dan Mobil yang lagi Lugina kemudi langsung oleng ke kiri ke kanan, untung saja di kala itu bos nya Lugina langsung sigap dan langsung mengemudi mobilnya membawa Lugina ke Rumah sakit, tapi setibanya di rumah sakit tuhan berkehendak lain, nyawa Lugina tidak dapat tertolong lagi.
Dan bosnya Lugina malam itu, langsung menghubungi Kamelia istrinya Lugina, ketika kamelia menerima kabar dari bos suaminya, bahwa Lugina telah meninggal, betapa kagetnya kamelia se olah tidak percaya dengan kabar yang ia terima, karena sewaktu Lugina berangkat suaminya dalam ke ada'an segar bugar.
Malam itu Kamelia membawa ke dua anaknya yaitu Kamal dan Linda ke Rumah sakit, untuk memastikan apakah benar Lugina sudah pulang untuk selama-lamanya atau cuma kabar angin saja.
Setibanya di rumah sakit, begitu kamelia, dan kedua anaknya sudah berada di ruangan tempat Lugina berbaring kaku dengan seluruh tubuh sudah tidak bergerak lagi, kamelia menangis histeris lalu di ikuti oleh kedua anaknya, Kamal dan Linda.
Sa'at itu suasana di rumah sakit menjadi berduka, suara tangisan dari kamelia dan ke dua anaknya sampai memecahkan kesunyian malam.
Singkatnya Lugina telah di makamkan di pemakaman umum gang Si'iran, kala itu biaya pemakaman Lugina sampai acara selametan di tanggung oleh bosnya itu, dan memberi tunjangan bagi keluarga Lugina yang di tinggalkan, karena semasa hidupnya Lugina sudah bekerja dengan baik sebagai pengawal pribadinya.
Dari semenjak kejadian itu, selepas Kamal lulus dari SMP, Kamal terus melamun dan ingin mencari siapa orangnya yang sudah membunuh ayah kandungnya.
Dari situlah Kamal terjun ke dunia jalanan, mungkin bagi Kamal dengan masuknya ke dunia Jalanan Kamal akan dengan mudah mencari pembunuh ayahnya, kemudian Kamal bergabung dengan pemuda gang Si'iran, yaitu Nandi, Pandi, Hasan dan Gito.
Lima sekawan gang Si'iran waktu itu sangat di takuti oleh kelompok preman.
Setahun setelah pembunuhan Lugina, ke lima sekawan mencari pelaku pembunuh itu, nyaris kandas di tengah jalan, tapi berkat kecerdikannya Nandi, waktu itu Nandi berseteru dengan kelompok preman yang membaking perusaha'an ilegal, yang lagi di selidiki oleh aparat pemerintah.
Nah dari situ Nandi beserta para sahabatnya, menemukan titik terang pembunuh Lugina ayahnya Kamal.
__ADS_1
Di suatu hari Nandi beserta sahabatnya membuat strategi untuk bisa memancing para preman itu keluar, dan akhiranya siasat dan taktiknya Nandi berhasil.
Di awal pergantian tahun Nandi mengadakan pertemuan dengan kelompok preman dengan dalih bisnis, dengan tawaran yang sangat menguntungkan, akhirnya para preman itu telah masuk perangkap yang Nandi buat.
Setelah mereka saling bertemu dengan kelompok preman yang di pimpin oleh Gawing dedengkot preman yang sangat kejam dan bengis.
Kemudian Nandi menawarkan sebuah bisnis pada Gawing dengan bayaran yang Nandi janjikan sangat besar.
Singkatnya Gawing terpancing dengan tawarannya Nandi, untuk menyingkirkan orang terkuat di wilayah itu, tentunya Nandi dan para sahabatnya mengadakan pesta dulu, Gawing dan para anteknya di bikin mabuk oleh miras, setelah akal sehatnya mereka telah di perbudak oleh alkohol di situlah Nandi mulai melemparkan pertanya'annya.
Tentu saja bagi Gawing selaku pembunuh bayaran yang sudah lihai tanpa meninggalkan jejak, dan polisipun di buat keder oleh aksinya Gawing, tapi hanya dengan mudah, Nandi mengorek ke terangan dari Gawing, di sa'at akal sehatnya Gawing lagi di pengaruhi oleh alkohol, Gawing menyebutkan saipa orang yang telah dia habisinya.
Begitu Gawing menyebutkan daftar nama yang telah ia singkirkannya, ada sebuah nama yang di sebut Lugina, di situ Kamal hampir terpancing ingin menghabisinya, tapi Nandi sempat meredakan amarah Kamal supaya jangan terpancing.
Singkatnya cerita.
Mereka langsung meringkus para preman itu melalui adu kekuatan, Nandi dan kawan-kawan hanya dengan mudah melumpuhkan mereka, terutama Kamal yang menghajar Gawing sampai babak belur, dan setelah itu para aparat ke amananpun datang dan langsung meringkus komplotan preman yang dipmpin oleh Gawing, di bawa ke kantor polusi untuk di adili dan di mintai keterangannya.
Kamal merasa puas karena dendamnya sudah terselesaikan dengan mendekamnya Gawing di dalam sel tahanan.
"Nah hari ini bertepatan dengan terbebasnya Gawing, gua minta tolong sama kalian ya, agar selalu waspada." Ujar Kamal.
"Tenang aja Mal, masalah lo' masalah kita juga, iya gak kawan." Ucap Pandi sambil menoleh pada Gito dan Hasan.
"Yo'ii broo, kan kita juga terlibat dalam hal itu, ya sudah pasti ini juga sudah menjadi dari bagian masalah kita." Pungkas Hasan dan Gito.
Harin pun terus berlalu, se iring dengan berputarnya jarum jam yang menempel di dinding ruangan tengah, sudah menunjukan pukul 12:00.
Kamal dan ke tiga sahabatnya lalu pergi ke masjid untuk melaksanakan ibadah solat duhur berjama'ah.
Sepulangnya dari masjid mereka lalu duduk di kursi teras rumah, dengan di temani segelas kopi dan hembusan-hembusan asap putih dari hasil pembakaran sebatang roko.
Pandi, Hasan dan Gito yang terus menghibur dan memberi semangat pada Kamal, yang tinggal sehari lagi akan melepaskan masa lajangnya, dan menempuh kehidupan baru.
"Sekarang lo' harus banyak mandi kembang biar badanmu wangi tuh." Ujar Hasan.
"Betul itu, pokonya segala jenis kembang lo' campurin pada air biar tubuhmu harum mewangi." Pungkas Gito.
__ADS_1
"Termasuk bunga bangkai gitu, yang ada tubuh gua malah bau, sue lo' pada." Jawab Kamal.
"Hahahahaa, nanti yang ada Astuti gak mau di deketin sama lo'." Ujar Pandi.
"Dasar Hasan bin maun, sama si jasun tuh paling demen ya melihat gua menderita." Ujar Kamal.
"Bercanda kali Mal, masa kagak tau sama kita-kita, apalagi lo' Mal kalau sudah ngebuli sama gua, habis sampai ke dasarnya." Ujar Gito.
"Ma'ap gua juga bercanda kali, kita kan sahabat jadi kita harus saling melengkapi." Ujar Kamal.
"Berarti sahabat kita nih, tinggal Pandi sama lo' Gito santoso, cepetan jangan lama-lama nanti gebetan lo' di gaet orang baru nyaho lo'." Ujar Hasan.
"Kalau gua sih nyantai aja, lagian Nina masih pingin bekerja dulu, dan belum siap jadi ibu rumah tangga." Pungkas Pandi.
"Ya gua juga nyantai aja, lagian Mira kan sudah menjadi milik gua." Ujar Gito.
Kamal dan Hasan tersenyum sambil terus mengejek pada Gito.
"Heh. Gito santoso asal lo' tau ya, sebelum janur kuning melengkung, Mira masih belum menjadi milik lo', kalau gak cepet-cepet nanti keburu berubah pikiran." Ujar Hasan menakut-nakuti Gito.
"Wah lo' jangan kaya gitu dong sama sahabat, sama aja lo' ngedoain." Ujar Gito.
"Bukannya gua ngedoain, tapi kayanya sih gak, kelihatannya Mira emang suka sama lo' to." Ujar Hasan memberi semangat.
"Nah gitu dong, kalau sama sahabat, jangan bikin gua patah semangat." Ucap Gito.
Saking asiknya mereka ngobrol dengan gurauan-gurauan yang terkadang ada ngebulinya juga, sehingga waktu pun sudah menjelang ashar, dan suara adzanpun sudah berkumandang dimana-mana.
**********
Bersambung.
Terima kasih atas dukungan like, comentar, favorit dan juga vote serta hadiahnya.
Selamat hari raya idul fitri, mohon maap lahir dan batin, atas segala kekurangan dan kesalahan yang terasa maupun yang tidak terasa.
"Assalam mualaikum"
__ADS_1