
Kini kedua lelaki itu terbaring dan tidak berdaya lagi lalu Pria jangkung itu menggeledah isi dari kantong celana dari kedua lelaki itu, dan di dapatnya dua buah handpon dan uang yang masih lumayan jumlahnya.
Lalu pria tersebut berjalan mendekati Kaila dan Rina yang tertegun memandang pria tersebut.
"Ooh sungguh tampannya pria itu." Gumam Kaila dalam hatinya, sambil melotot terkesima, kemudian Kaila dan Rina terperanjat kaget di sa'at pria itu menghampirinya.
"Ini kepunya'an kalian, lain kali hati-hati bila keluar malam, karena kejahatan datang karena ada kesempatan." Ujar pria tersebut sambil menyerahkan dua buah handpon dan uang.
"Terima kasih bang." Ujar Kaila.
Dan pria itu berkata sambil membalikan badannya dan berjalan menuju pada sebuah kendara'an yang terparkir dipinggir jalan, sebuah mobil mitsubishi pajero new sport warna putih.
"Sama-sama."
Belum sempat kaila berbicara panjang lebar dengan pria tersebut, karena pria itu sudah memasuki kendara'annya, lalu Rina berbisik pada Kaila.
"Sepertinya gue pernah melihat pemuda itu, tapi di mana ya." Ujar Rina seperti mengingat-ngingat.
"Yang bener lo' pernah ketemu dengannya, gue sih gak jelas banget, cuma yang gue lihat pria itu berwajah tampan, dengan postur tubuh tinggi." Jawab Kaila.
Kemuduan Rina terperanjat seperti sudah ingat dan berkata.
"Ooh iya, pria itu pernah ku lihat di acara ulang tahunnya Nina, yang bersama Astuti si gadis miskin itu." Ujar Rina.
"Oh yaa, apa mungkin dia abangnya Astuti seorang pengusaha itu." Pungkas Kaila.
"Bisa jadi begitu, hebat ya mobilnya pun sudah tergolong mewah, pajero new sport, yang harga hampir setengah miliaran." Ujar Rina.
"Ya sudah kita cabut, sebelum kedua lelaki brengsek itu siuman." Ujar Kaila sambil melangkah menuju pada mobilnya, yang di ikuti oleh Rina.
****
Sementara pria jangkung yang sudah melaju jauh bersama anak istrinya, yang habis dari tempat mertuanya, lalu se orang gadis kecil bertanya?
''Siapa mereka itu ayah?.''
"Sepertinya teman bibi Astuti, ayah pernah melihat dulu di acara ulang tahunnya Nina yunita." Jawab pria tersebut yang tak lain adalah Nandi.
"Ooh gitu, ayah hebat buk, hanya dengan sekejap bisa melumpuhkan dua penjahat itu." Ujar si kecil yang tak lain adalah Anggita eka putri.
"Ayah kan cuma menegakan kebenaran, jadi tuhanpun selalu melindungi hambanya, yang berjuang di jalan yang benar." Jelasnya Sindi.
Setelah itu mobil pajero new sport melaju di jalan Delima, yang sudah mendekati pertiga'an lalu Nandi membelokan setirnya ke kiri memasuki kawasan jalan gang Si'iran.
Tidak lama kemudian Nandi sudah sampai di depan rumahnya, lalu Sindi keluar untuk membuka kunci gerbang.
Seroloooookk...
Suara pintu gerbang terbuka dan di dorong oleh Sindi, lalu Mobilpun melaju masuk, dan Sindi mendorong lagi gerbangnya agar tertutup rapat.
Kemudian Nandi dan Anggita keluar dari dalam mobil, dan berjalan menaiki teras rumah.
Ceklek
Ceklek
Suara kunci pintu sudah di bukanya oleh Sindi, lalu Nandi dan Anggita melangkah masuk, dan Sindi menutup kembali pintu tersebut kemudian di kunci lagi.
Nandi duduk di kursi, sementara Anggita pergi ke kamar bersama Sindi, karena Anggita sudah mengantuk.
Tiga puluh menit kemudian Anggitapun sudah tertidur dengan pulasnya, lalu sindi keluar dari dalam kamar dan menghampiri Nandi Yang lagi duduk bersandar di sopa ruangan tengah.
"Sayang tolong bikinin kopi dong." Perintah Nandi.
"Baik suamiku sayang, tunggu ya." Jawab Sindi sambil melangkah pergi ke ruangan dapur, lalu Sindi menyalakan sebuah kompor untuk membuat air panas.
Setelah tiga menit air pun sudah mendidih, lalu kompor di mati'in dan air panas itupun di tuangkannya ke dalam gelas yang sudah berisikan kopi bubuk dan pemanis gula, lalu sindi mengaduk-ngaduknya hingga kopi dan gula menyatu sehingga terciptalah sebuah cita rasa yang nikmat.
Setelah itu Sindi membawanya ke hadapan Nandi.
"Mangga di leueut kopi na akang." Ujar Sindi sambil mendaratkan segelas kopi di meja.
"Aduuh, hatur nuhun geulis, ni karaos harum na kopi teh." Ujar Nandi.
Lalu tangan kanan Nandi meraih gelas kopi tersebut, dan di angkat perlahan mendekati pada kedua bibir.
Seruupuuuuttt....
Satu seripitan kopi di gelas kaca begitu nikmat terasa, kemudian Nandi mengeluarkan sebungkus roko, dan di ambil satu batang, lalu di kempitnya di bibir bersama'an dengan menyalanya sebuah api dari sebuah korek gas.
Ssepppuuuhhhhh....
Hembusan asap putih telah di keluarkannya dari mulutnya Nandi.
Sindi hanya memandangi sang suami yang begitu nikmat ketika satu seripitan kopi yang di sambung dengan hisapan dari sebatang roko.
"Raut wajahmu tak berubah di sa'at nyantai dan pusing sama saja." Ucap Sindi.
"Maksudmu berubah apanya sayang?." Tanya Nandi.
__ADS_1
"Ya gantengnya atuh." Jawab Sindi.
"Wah wuaah, istriku ini ada-ada saja, Ooh iya sayang coba nyalakan Televisi." Ujar Nandi.
Lalu Sindi mengambil sebuah remot untuk menyalakan Televisi, ketika Televisi menyala pas acara seputar kriminal.
"Seputar kriminal, Pukul 22:45 menit, dijalan ketupat tepatnya pas dijalanan yang sepi, dekat Pt Adi jaya abadi telah terjadi perampokan, dua orang wanita yang menjadi korban, tapi di sa'at yang tepat munculah seorang pemuda misterius memberikan pertolongan dan sempat terjadi perkelahian yang akhir ke dua perampok itu bisa dilumpuhkannya, nampak jelas di sebuah camera cctv miliknya perusa'an Pt Adi jaya abadi, yang terpasang di pinggir jalan, pihak kepolisian sudah berhasil menangkap ke dua pelaku itu, tapi sosok pemuda misterius yang memberi pertolongan tidak nampak jelas terlihat wajahnya, dan pihak dari kepolisian pun masih tanda tanya siapakah sang dewa penolong itu.
Sekian impormasi dari kami, dan selamat malam." Begitu tayangan acara Televisi di seputar kriminal.
Nandi dan Sindi sampai terperanjat kaget begitu mendengar dan melihat langsung dirinya yang terlibat perkelahian dalam melumpuhkan dua pelaku tindak kejahatan itu.
"Itu kan suamiku, wah keren." Ujar Sindi.
"Ternyata polisi langsung sigap, syukur dah kalau pelakunya sudah ke tangkap." Pungkas Nandi.
"Wah siapa saja yang menonton acara ini, pasti akan membicarakannya besok pagi." Tutur Sindi.
"Tapi untungnya wajahku tidak terlihat jelas di camera cctv itu." Ujar Nandi.
"Atuh biarin aa, kan orang-orang akan tau nantinya pada aa." Ujar Sindi.
"Ku tidak mau itu terjadi, cukup Allah aja yang tau, berbuat baik itu tidak mesti harus diperlihatkan pada orang." Ucap Nandi.
"Suamiku memang jempolan, tidak sombong, tampan, baik hati dan berbudi luhur." Ujar Sindi.
"Mulai deh, kalau memuji itu suka berlebihan, itu semua karena sudah kehendaknya Allah subhanahu wata'ala." Ucap Nandi.
Sindi tersenyum manja, lalu menggeser duduknya merapat dengan Nandi dan di senderkannya tubuh seksinya itu.
"Waduuh istriku sudah mulai deh ngajak perang." Ujar Nandi sambil tersenyum sedikit.
"Iya dong, mungpung Gita sudah tertidur." Ujar Sindi sambil mendelikan matanya ke atas menatap wajah sang suami yang tampan bukan pulasan, tapi bawa'an alam semesta.
Malam pun semakin larut, yang kebetulan waktu itu lagi datangnya musim dingin, Nandi pun langsung memadamkan rokonya ke sebuah asbak, lalu di rengkuhnya tubuh Sindi kini kehangatan pun tercipta di keduanya.
jantungpun mulai berdetak kencang, me mompa darah untuk mengalir ke seluruh organ tubuh.
Belaian-belaian lembut di keduanya telah menjadi satu dalam rasa percinta'an yang begitu romantis.
Angin malam yang dingin telah masuk ke celah celah pentilasi udara yang banyak terpasang di setiap atas kusen, seperti memberi jalan pada sepasang suami istri itu untuk melakukan kewajibanya.
•••••••••
Singkat cerita.
Malam yang terus berlalu, Nandi dan Sindipun nampak sudah tertidur dengan pulasnya karena kecapaian habis bertempur.
Di rumajnya pak Dirman, tepatnya di sebuah kamar depan, nampak Astuti belum tertidur, setelah menonton acara televisi sekitar kriminal, dan setelah chatan sama Kamal dan Nina yunita, ia masih terus berpikir siapakah pria jangkung itu.
"Siapa ya yang sudah menolong ke dua gadis sombong itu, di camera cctv sangat jelas bahwa kedua wanita itu si Kaila dan si Rina, tapi pemuda misterius tidak nampak jelas wajahnya, apa mungkin bang Nandi, masa iya tadi sore kan ada tidak keluar rumah." Gumam Astuti dalam hati.
Ketika Astuti lagi mau merebahkan badannya di atas tempat tidur.
Kelebat
Kelebaaatt.
Seperti ada bayangan yang tersorot oleh cahaya lampu jalan, lalu Astuti mengintipnya dan membuat celah sedikit di kaca jendela dengan membuka kain gorden, kini pandangan Astuti terpasang dengan liar memandang ke sana kemari, untuk mengetahui dari sebuah bayangan yang berkelebat itu.
"Gue lihat gak ada apa-apa, tapi tadi jelas sekali seperti ada gerakan bayangan cepat sekali."Gumam Astuti dalam hati.
Astuti terus mengintainya di balik kaca jendela, tapi Astuti tidak menemukan hal yang mencurigakan.
Lalu Astuti keluar dari dalam kamarnya, dan berjalan menuju pintu kamar pak Dirman dan buk Sari.
Tok
Tok
Tok
"Pak, pak, buk, buka pintunya."Panggil Astuti bernada pelan.
Dan Astuti terus mengetuk pintu kamar orang tuanya, hingga akhirnya pintupun terbuka, bersama'an dengan munculnya buk Sari dengan paras muka dan rambut yang acak-acakan.
"Kamu Tuti, ada apa?." Tanya buk Sari.
"Tadi aku melihat ada kelebatan bayang , tapi setelah ku intai lewat kaca jendela tidak ada apa-apa, tapi perasa'an tuti jadi gak enak begini, coba bangunin bapak, buk." Ujar Astuti.
Kemudian buk Sari kembali masuk untuk membangunkan suaminya.
"Pak pak pak, bangun." Ujar buk sari membangunkan suaminya sambil menggoyang-goyangkan tubuh pak Dìrman.
Setelah itu pak Dirman membuka matanya perlahan dan berkata.
"Ada apa buk,?." Tanya pak Dirman.
"Itu ada Astuti di luar." Jawab buk Sari.
__ADS_1
"Emang kenapa dengan anak kita buk?." Tanya pak Dirman.
"Katanya Astuti melihat ada kelebatan bayangan yang mencurigakan, ayo bangun dulu." Ucap buk Sari.
Kemudian pak Dirmanpun mengankat tubuhnya, lalu menginjakan kakinya di lantai ubin geranit, dan berjalan keluar menemui Astuti.
"Ada apa Tut?." Pak Dirman bertanya.
"Ada dua kelebatan bayangan melintas, tapi ku intai dari jendela gak ada, takutnya ada orang yang mau berniat jahat." Ujar Astuti.
"Sebentar bapak ambil senter dulu." Ujar pak Dirman
Setelah itu pak Dirman mengambil sebuah senter di lemari kamarnya.
Ketika pak Dirman dan Astuti mau berjalan keluar rumah tiba-tiba terdengar suara yang nyaring seperti sebuah kaca yang pecah.
Preeekkk...
Astuti dan pak Dirman langsung terperanjat kaget, dan ketika itu mereka pun langsung buru-buru keluar menuju pada arah suara itu.
Setibanya di luar Astuti dan pak dirman langsung berteriak, karena melihat dua sosok bayangan di garasi belakang tempat mobil pick up nya terparkir.
"Waoii siapa itu." Bentak Astuti.
Kedua bayangan itupun kaget, dengan cepat ia melompat melewati pagar besi.
"Jangan lari kau." Ujar Astuti langsung mengejar, dengan secepat kilat Astuti melesit melewati ke atas pagar besi.
Dan pak Dirman pun mengikutinya, biarpun tubuhnya sudah di makan usia, tapi gerakannya masih tetap lincah dan enteng sekali.
Dan kedua orang yang mau melakukan aksi kejahatan, mau mengambil mobil pick up nya milik pak Dirman, lari sekencang-kencangnya.
Pak Dirman dan Astuti terus mengejarnya lebih cepat.
Lalu kedua orang itu memasuki sebuah gang kecil, di situ pak Dirman dan Astuti menurunkan speednya sambil tertawa.
"Hahaha, makan tuh jalan buntu, mau lari kemana kalian, Ujar Astuti dengan Santainya.
Kemudian Kedua orang itu begitu mentok dengan sebuah tembok yang cukup tinggi dan susah untuk di lompati, mereka seperti kebingungan.
"Waduuh jalan buntu, gimana nih." Ujarnya
"Ya terpaksa kita harus pasang badan untuk membela diri kita." Ujar temannya.
Lalu Astuti dan pak Dirman datang dengan santainya "Mau lari kemana kalian, pasti kalian bedua mau mencuri mobil saya." Ujar pak Dirman.
Kedua orang itu tidak berkata sedikitpun, mereka langsung menyerang Astuti dan pak Dirman.
Sebruuuttt..
Dua buah pukulan meluncur pada Astuti dan pak Dirman.
Astuti dan pak Dirman cuma memiringkan tubuhnya tiga puluh derajat,
Ploooss..
Dua pukulan makan ruang kosong, secepat itu ke dua orang itu membalikan badannya dengan membuat serangan bertubi-tubi.
Astuti dan pak Dirman hanya mengkapernya, sambil memberikan serangan balasan yang sangat cepat dan agresip, sehingga membuat ke dua orang itu sangat ke lelahan.
"Heaaaa, mampus kau bajingan, Teriak Astuti melancarkan serangan baliknya, secepat kilat tubuh Astuti melesat dengan pukulan bertubi-tubi, sekali dua kali serangan Astuti bisa di cavernya, tapi karena kepandaiannya Astuti sudah berada di atas rata-rata, akhirnya sebuah elbo Astuti makan tulang rahang, yang di susul oleh gedoran lutut Astuti masuk ke ulu hati orang itu.
Buk
Buk
Heeeuuuu..
Orang itu langsung menekuk tubuhnya, karena sesak di pernapasannya yang terasa mencekik, sambil sempoyongan mau jatuh, Astuti tidak menyia nyiakan kesempatan itu, secepat kilat Astuti memutarkan tubuhnya, dan sebuah tendanga para *** melesit dengan kencang.
Hiuuuukkk....
Deeaaasss.....
Aaauuuggghh...
Bruuukk
Tidak bisa di pertahankan lagi tubuh orang itu langsung terjatuh hingga tidak ingat lagi apa-apa.
Astuti perlahan mendekatinya, tapi tetap waspada, takut sebuah jebakan.
********
Bersambung.
Jangan lupa sertakan pula like, comentar, jadikan favorit bila suka, berikan vote serta hadiahnya.
Terima kasih atas dukungannya, salam sejahtra, sehat-sehat dan sukses selalu.
__ADS_1
"Assalam mu'alaikum"