SI KIDAL SANG PENOLONG

SI KIDAL SANG PENOLONG
Sikidal sang penolong Eps 22


__ADS_3

Setelah motor Rendi rampung di kerjakan, Kamalpun langsung mendorong keluar motor tersebut dari ruang oprasionalnya, dan Nandi pun mempersilahkan Rendi untuk mencoba motornya, barang kali ada keluhan lainnya yang belum ketauan.


Rendipun berdiri dari tempat duduknya semula lalu ia melangkahkan kakinya mendekati motornya itu, dan mengayunkan kaki kanannya sambil diangkat melewati jok, setelah itu Rendi duduk dimotor, dan dinyalakanlah motor itu bersama'an dengan memijit tombol setater, dan motorpun mulai menyala.


Setelah itu gas ditarik bersama'an dengan masuknya gigi pertama, kini motorpun telah terkendali dan melaju.


Tidak lama kemudia motorpun telah balik lagi, nampak terlihat oleh Nandi, Kamal dan Hasan nampak suatu kepuasan diwajah Rendi dengan bibir sedikit tersenyum.


''Busset dah, itu anak kenapa, senyam-senyum sendiri.'' Ucap Kamal.


''Ah e'lo mal, itu tandanya dia puas dengan kinerja lo berdua.'' Ucap Nandi


Rendi pun lalu mematikan motornya itu, terus melangkah dan duduk dibangku, tidak lupa pula menoleh pada Kamal dan Hasan sambil memberikan kedua jempolnya.


''Terima kasih, kinerja kalian memang oke, sory ya gua tidak bisa lama-lama disini, Berapa semuanya Di.'' Ucap Rendi.


''Bayar oli sillnya aja sama Lakher, 70.000, Masalah kamal dan Hasan biar itu urusan gua.'' Ucap Nandi.


''Okee kalau begitu, gua cabut dulu atuh, kang Hasan, dan Mal gua cabut dulu ya.'' ucap Rendi.


''Okee Ren, Titi Dj ya.'' Jawab Kamal.


Setelah itu Rendi pun langsung tancap gas, maotor melaju menjauh dari hadapan Nadi, Kamal dan Hasan.


Nandi terus panggil adiknya Astuti, karena jamnya istirahat, waktunya Makan siang.


Astutipun segera keluar langsung menghampiri Nandi.


''Ada Aa?.'' Tanya Astuti.


''Beli'in nasi de.'' Jawab Nandi.


''Berapa bungkus Aa?.'' Tanya Astuti.


''Bapak dah pulang belum?.'' Nandi Balik bertanya.


''Belum atuh, bpk pulangnya kan suka sore.'' Jawab Astuti.


''Lima Bungkus de, Nasi padang aja ya, jangan Nasi warteg, tuh pake motor Hasan.'' Ucap Nandi.


''Okee.. Aa Hasan pinjem motornya dong.'' Ucap Astuti.


''Idiiiih pake aja sih, pake ngomong segala.'' Ucap Hasan.


''Kuncinya Mana, Aa Hasan?.'' Tanya Astuti.


''Gak dikunci ko, langsung aja selah.'' Jawab Hasan.


Setelah itu Astutipun menaiki motor Hasan dan melaju menuju rumah makan ala minang, untuk makan siangnya Para pekerja Nandi yaitu Kamal dan Hasan, berikut Busari dan Astuti.


Astuti telah tiba disebuah rumah makan Ala minang.


''Asalammualaikum Bang.'' Ucap Astuti.


''Wa alaikum salam, waah.. Astuti mau beli Nasi apa.'' Jawabnya.


''Ya iyalah Bang.'' Ucap Astuti.


''Dibungkus apa makan di sini?.'' Tanya pemilik rumah makan tersebut.


''Di bungkus lima ya Bang, yang empat pake Ayam bakar, terus yang satunya pake rendang.'' Jawab Astuti.


''Okee... siap, ditunggu ya.'' Ucap pemilik Rumah makan tersebut.


Tidak lama kemudian pesanan Astutipun sudah selesai, lima bungkus Nasi padang sudah dimasukin pada kantong plastik, terus diserahkan pada Astuti, dan Astutipun langsung melakukan pembayarannya, setelah itu Astuti langsung cabut keluar menuju pada motornya yang terparkir didepan.


Sebuah motor jadul era tahun tujuh puluhan kini Astuti naikin, dan langsung dihidupin lalu tancap gas bersama masuknya gigi pertama dan seterusnya motorpun melaju.


Theern therrrrn therrrrn......


Suara yang keluar dari motor Honda tujuh puluh yang telah dimodifikasi, dengan warna kombinasi merah, hitam ditambah garis-garis kuning, bila dilihat sungguh antik, dan harganya pun sudah melambung.


Astutipun kini sudah sampai di depan bengkelnya Nandi, dan mulai mematikan motornya antiknya Hasan, lalu turun dan membawa lima bungkus nasi padang, yang dikantongi dengan kantong plastik.


''Ini Aa nasinya.'' Ucap Astuti sambil memberikan Bungkusan plastik pada Nandi.


''Iya, ini buat ibu, dan kamu mana?.'' Tanya Nandi.


''Ini.... Sudah ku pisahin, sesuai seleraku.'' Jawab Astuti.


''Waah... Kamu pinter juga tut.'' Ucap Hasan.


''Iya dooong, Astuti gitu lo.....'' Jawab Astuti.


Setelah itu mereka pun langsung makan siang bersama, sementara Astuti makan dirumah bareng ibunya, Bu sari.


Bengkel Nandi yang makin hari makin membludak para pelanggan berdatangan, kabar dari mulut ke mulut, karena Kinerjanya yang sangat bagus dan rapi, intinya tidak mengecewakan para pelanggan.

__ADS_1


Dua tahun kemudian.


Nandi sudah membuka bengkel Cabangnya, tepatnya dekat lampu merah Jalan ketupat, jalan yang mau mengarah ke kampungnya Rendi.


Bengkel barunya kini mulai diresmikan dengan mengundang Service gratis, tentu saja kabar ini cepat melebar luas, hingga para pelanggan gratis pada berdatangan, Nandipun sudah mempersiapkan para tenaga ahlinya, Gito dan Pandi yang ditempatkan dibengkel barunya itu, Karena para pelanggan terus berdatangan, kamal dan Hasanpun ditarik untuk membantu Gito dan pandi.


Service gratis pun kini sudah ditutup, Nandi pun mengangkat Sindi sebagai Administrasi, yang mengurus segala keuangan, yang dibantu oleh Astuti yang mengklaim segala Barang-barang.


Betapa senangnya Sindi dan Astuti bisa bekerja sama dibengkelnya Nandi.


Ke uletan dan kepintaran Nandi di dunia otomotip dan elektronik, membuat dunia Bangga pada pemuda seusia Nandi, yang dibilang cukup Berhasil didalam berbisnis.


Sedangkan Pak Dirman pun, tidak dibolehkan lagi oleh Nandi untuk keliling jagat mencari barang bekas, Pak Dirman kini di beri modal oleh Nandi, Membuka lapak usaha, yaitu menerima barang-barang bekas dari para pemulung, dengan harga yang setandar.


Nama Nandi Suryaman dengan dijuluki bang kidal kini menjadi buah bibir pembicara'an dari orang keorang, dan dikalangan preman pun nama Bang kidal sudah tidak asing lagi, orangnya baik berbudi luhur, dan suka menolong siapa saja yang lagi dalam kesusahan, ditambah keberaniannya dan jago bela diri.


Tapi itulah kehidupan, seperti arus listrik yang selalu berlawanan antara positip dengan negatip.


Seperti yang lagi di obrolkan oleh Tiga orang lelaki yang sudah berumur antara empat puluh tahunan itu, yang lagi menjelek-jelekan Nandi.


''Wai, apa kalian tidak dengar, Bahwa si Nandi mempunyai cabang bengkel baru.'' Ucap Salah satu dari ketiga orang itu yang bernama sumarna.


''Iya taulah, malahan Nandi mengadakn Service gratis, sebagai pembukanya, apa lagi Pak Dirman sekarang tidak lagi keliling kampung mencari barang bekas.'' Jawab temannya yang bernama Dadang.


''Gua mah heran ya sama kalian berdua, bawa'annya tuh sirik aja, harusnya kalian tuh bersyukur, Bahwa digang si'iran ada pemuda yang hebat seperti Nandi, Coba kalau tidak ada Nandi dan kawanannya, gang kita tuh sudah di injak-injak sama si Jaweng Jawara yang suka meminta jatah pada setiap pedagang seperti kita.'' Ucap Priatna.


''Ya gue juga tau, yang saya heran ko usahanya melesat, masa jarak Enam tahun dia sudah bisa buka cabang, dan punya karyawan lagi, apa mungkin dia ada mantra-mantranya gitu supaya bisa menarik para pelanggan.'' Sumarna.


''Ini nih, pemikiran yang ortodok, Kalau gue lihat sih, Nandi pekerja keras, rajin, pintar dan ta'at beribadah lagi, yang pasti allah juga akan memberikan luang yang mudah.'' Ucap Priatna.


Begitulah obrolan orang-orang yang iri dengan keberhasilannya Nandi.


Ditempat lain.


Dibengkel barunya Nandi, pas dekat lampu merah jalan ketupat, Kalau kekiri mengarah pada jalan Delima dan kekanan mengarah pada jalan mengkudu.


Gito dan pandi Serta Sindi sudah stay ditempat, Pagi yang cerah, awal pertamanya Bengkel itu dibuka, Gito dan pandipun masih asik menikmati secangkir kopi hitam, yang dikuti oleh hisapan dari sebatang roko.


Jam didinding bengkel barunya itu, baru menunjukan pukul 6:40 menit, jadi masih sangat leluasa mereka duduk bersantai sambil ngopi.


Dan sindi pun, mulai merapikan dan menata barang-barang yang masih belum menentu posisinya.


Dibengkel barunya Nandi, terpasang plang yang terbuat dari plat seng, dengan Tulisan NASI MOTOR.


Entah apa Nandi memberi nama bengkel barunya itu begitu, Gito dan pandi pun belum tau arti dan kepanjangan dari Nasi motor tersebut.


Tidak lama kemuadian Astuti muncul dengan mengendari motor Honda GL 125 yang baru dibelinya oleh Nandi, dan langsung dimodifikasi dengan merubah bodinya agak beda dari setandarnya.


Nandi sengaja bikin kaya begitu, supaya Nantinya Astuti, bisa lebih dewasa didalam mengembangkan usaha yang dirintis dari nol.


Astuti turun dari motornya, Astuti yang gayanya agak tomboy tidak berubah sedikitpun, cuma sipat keras kepalanya, dan ke egoisannya sudah banyak berubah drastis.


''Assalam mualaikum.'' Ucap Astuti sambil membuka helmnya.


''Wa alaikum salam, widiiih eloo tut, dikira siapa, ape pangling gua melihatnya.'' Jawb Gito.


''Iya benar tut, laah ini motor siapa tut?.'' Tanya Pandi.


''Ya motor gue doong.'' Jawab Astuti.


''Perasa'an Gua baru lihat ini motor, emang kapan belinya.'' Ucap Pandi.


''Sebulan yang lalu, terus langsung dirubah Sama Aa Nandi, Cakep kan.'' Ucap Astuti.


''Bukan cakep-cakep lagi, kalau sudah begini harganya bisa sepuluh kali lipat dari harga pertama keluar.'' Ucap Gito.


Sindipun langsung keluar menyambut Astuti yang baru datang.


''Pagii.. Bos...'' Ucap Sindi.


''Haii.. Sin pagi juga, Biasa aja kali Sin jangan bilang gue Bos.'' Ucap Astuti.


''Ya ma'ap, kan elo Bos gue Tut.'' Ucap Sindi.


''Yang jadi Bos kita semua, ya Aa Nandi atuh bukan gue.'' Kata Astuti.


Astuti pun langsung masuk kedalam ruangan, dan melihat-lihat barang-barang yang brlum tertata di etalase.


Sedangkan Gito dan Pandi sudah ganti salin dengan pakain seragam kerjanya.


Di hari pertama pembuka'an bengkelnya, sudah ada pelanggan yang datang, Tiga pengendara motor berhenti didepan bengkel, lalu salah satunya turun dan menghampiri Gito.


''Ma'ap mas, apa disini Jualan juga spart part?.'' Tanya orang itu.


''Ooh iya mas, disini jual Segala macam Sparpart dari segala merk.'' Jawab Gito.


''Oooh, apa bisa langsung sama pasangnya?.'' Orang itu bertanya lagi.

__ADS_1


''Ya Tentu saja, kan Kita berdua yang bagian otomotipnya.'' Jawab Gito.


Setelah mendapat jawaban dari gito ketiga motor itu lalu memasuki ruangan Oprasional, Setelah ditanya keluhannya apa dan apa saja yang mau diganti.


Gito dan Pandi langsung mulai pembongkaran ketiga motor tersebut.


Gito dan Pandi sangat teliti sekali didalam mengerjakannya, karena Nandi yang sering ajarkan didalam hal otomotip harus sebagus mungkin supaya nantinya para pelanggan merasa puas dengan hasilnya, begitu pesan dari Nandi.


Tidak lama kemudian pengerja'an pun sudah selesai, Gito dan pandi mendorong motor tersebut keluar, lalu mencobanya untuk mengetahui takut ada yang kurang didalam pengerja'annya.


motorpun sudah di naiki dengan menghidupkan kunci kontaknya, dan motorpun mulai melaju, setelah semua serasa oke Gito dan Pandi pun putar balikan lagi motornya.


Kini kedua sudah tiba lagi didepan bengkel, terus turun dari motor tersebut.


''Sudah oke mas, tapi apabila masih ada keluhannya balik lagi aja, kami akan memperbaiki lagi secara gratis, terkecuali keluhan lain, maksudnya diluar yang tadi saya pasang.'' Ucap Pandi.


''Baik kang, soal pembayarannya.'' Ucap orang itu.


''Ooh itu, masalah pembayarannya, tuh sama Bu Sindi.'' Ucap Pandi.


Setelah itu, orang tersebut segera melakukan pembayarannya pada pada Sindi.


''Jadi berapa Bu semuanya?.'' Tanya orang itu.


''Sebentar ya mas, saya cek dulu, Service ganti oli, sama ganti Kampas rem belakang.'' Ucap Sindi sambel mengecek harga barang dan biaya oprasinalnya, setelah semua beres sindipun memberikan selebaran kertas struk pada otang itu.


''Ini mas, semuanya sudah tertulis disitu berikut biaya pengerja'annya.'' Ucap Sindi.


Setelah orang itu melihat, berapa besar biaya yang harus dibayar, orang itupun lalu mencabut dompetnya dari dalam tas untuk melakukan pembayarannya.


Begitupula yang lainnya. Setelah semua beres Ketiga orang itupun lalu meninggalkan bengkel Nasi motor.


Hari berlalu berganti hari minggu, bulan dan tahun, Tidak terasa bengkel barunya Nandi yang dopegang oleh Astuti sudah berjalan satu tahun lamanya.


Para pelangganpun sudah ramai mendatangi bengkel tersebut, karena hasil dari kinerjanya para mekanik bengkel yang sudah berpengalaman dan bagus tidak mengecewakan pelanggan.


Gito dan Pandi sangat sibuk, melayani para pelanggannya yang kian tambah banyak, Tapi mereka semua tidak pernah merasa lelah atau tergesa-gesa.


Karena bagi Gito dan Pandi sebisa mungkin harus bisa menjaga reputasinya sebaik mungkin.


Disa'at itu pula Sebuah motor yamaha Rx king datang dan berhenti didepan Bengkel Nasi motor,


Semua para pelanggan yang lagi pada duduk menunggu motornya kelar, semua pandangannya tertuju pada lelaki yang turun dari motor Yamaha Rx king tersebut.


Tubuh jangkung dengan dada yang bidang dan otot yang terlihat kekar, berjaket levis biru langit berjalan memasuki bengkelntersebut.


''Asalam mualaikum.'' Ucap Lelaki itu.


''Wa alaikum Salam.'' Jawab srmuanya.


''Widiiiih, Bos kita datang nih, pasti bawa sesuatu nih untuk kita, iya gak Pan.'' Ucap Gito.


''Yoo'ii.'' Jawab Pandi sambil mengutak ngatik motor.


''Bawa apa'an, gua kesini mau lihat kerja lo berdua, awas ya jangan sampai kalian mengecewakan para pelanggan.'' Ucap Nandi.


''Ya tidaklah di, coba aja tanya tuh pada kang Rudi salah satu langganan kita.'' Jawab Gito.


''Apa yang dibilang mas Gito itu benar Bos, Saya pribadi yang sudah sering kesini, merasa puas.'' Jawab salah satu pelanggan yang bernama Rudi.


''Is oke, Tut, Tolong pesen kopi sama rokonya, di kiosnya mang Kasdi, bilangin nanti abang yang bayar.'' Ucap Nandi memanggil adiknya Astuti.


''Okee, Aa....'' Jawab Astuti sambil keluar dari ruangannya menuju kiosnya mang kasdi.


Selepas itu mang Kasdipun datang dengan membawa kopi seteko ukuran dua liter sama Empat bungkus roko, Djarum super dan Djisamsoe.


''Ini kopinya Bos sama rokonya dan gelasnya dokantong plastik.'' Ucap Mang Kasdi.


''Okee.. Mang, berapa semua?.'' Tanya Nandi.


''Seratus lima ribu Bos.'' Jawab Mang kasdi.


''Ini Mang uangnya, Ooh iya mang, jangn bilang saya Bos aah, Saya merasa tidak nyaman dipanggil begitu.'' Ucap Nandi.


''walaah... Terus saya harus panggil apa atuh.'' Kata Mang Kasdi.


''Terserah mamang, asalkan jangan Bos aja.'' Ucap Nandi.


''Okelah kalau begitu.'' Jawab mang Kasdi.


Selepas itu Nandi mempersilahkan pada pelanggan yang masih menunggu untuk meminum kopi yang telah disediakannya, dan satu bungkus roko untuk rame-rame.


♤♤♤♤♤♤♤•••••••••♤♤♤♤♤♤♤


Bersambung.


Nantikan kelanjutan kisahnya di episode selanjutnya.

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya ya, dengan 👍like, comentar dan saran, ranting, favorit dan votenya juga ya.


Selamat membaca, dan Terima kadih atas dukungannya.


__ADS_2