SI KIDAL SANG PENOLONG

SI KIDAL SANG PENOLONG
Si kidal sang penolong eps 161


__ADS_3

Kini sang surya telah memancarkan sinarnya yang begitu menyilaukan pandangan manusia.


Pak Dirman dan Nandi masih asik ngobrol di taman samping rumah.


Dari semenjak pak Dirman melihat kalung yang Nandi pakai buat mengobati luka Parman dan Rojak, Akhirnya rasa penasaran pak Dirman semakin kuat ingin mengetahuinya lebih jauh tentang kalung yang Nandi pakai.


Kenapa pak Dirman ingin mengetahui kalung tersebut apa mungkin pak Dirman sangat mengenal dengan kalung yang Nandi pakai, apa cuma hanya sebatas ingin tau saja.


"Oh iya Nandi, ada yang mau bapak pertanyakan sama kamu." Ujar pak Dirman.


"Mau nanya soal apa gitu pak." Jawab Nandi.


"Perihal kalung yang semalam, perasa'an bapak baru melihatnya." Ucap pak Dirman.


"Ooh itu." Ujar Nandi.


"Iya itu kalung yang lagi kamu pakai sekarang."


Ucap pak Dirman.


"Oh ini, ceritanya panjang pak." Jawab Nandi.


"Maksud kamu?." Tanya pak Dirman.


Kemudian Nandi menceritakan perihal waktu pertama di beri kalung oleh seorang nenek, waktu membantu se orang nenek mau nyebrang, dan akhirnya di beri hadiah sebuah kalung.


"Nah begitu pak cerita garis besarnya." Jelasnya Nandi.


"Apak nenek itu membawa tongkat, dan berpakaian hitam corak kembang, bertudung kain warna hitam urat emas, dengan postur tubuh tinggi tapi masih segar bugar?." Tanya pak Dirman.


Sejenak Nandi terdiam dan berpikir, kenapa bapaknya bisa tau dan semua ciri-cirinya sama persis seperti yang bapaknya sebutkan itu.


"Iya betul pak, ko bapak bisa tau padahal ku belum pernah bercerita pada siapapun?." Tanya Nandi.


"Ciri-ciri tersebut dulu waktu bapak masih kecil, pernah menjadi panutan orang-orang kampung si'iran yang sekarang berubah namanya menjadi gang si'iran, biarpun seorang perempuan tapi dia paling di takuti dan di segani di kampung si'iran karena kesaktiannya, bisa di bilang Jawara perempuan.'' Ujar pak Dirman.


"Lantas siapakah gerangan yang bapak maksud itu?." Tanya Nandi.


"Dia adalah nenek Jayanti, Nenekmu Nandi." Jelasnya Pak Dirman.


"Oh ya, apa mungkin itu nenek, kan nenek telah tiada pak." Sontak Nandi.


Kemudian pak Dirman meminta Nandi untuk melepaskan kalung yang di pakainya itu.

__ADS_1


"Coba bapak lihat kalung mu itu." Ucap Pak Dirman.


Lalu Nandi pun mencoba melepaskan kalungnya itu dan di berikan pada pak Dirman.


"Ini pak kalung yang di berikan nenek itu padaku." Jawab Nandi.


Kemudian pak Dirman memeriksa kalung itu dengan seksama lalu berkata.


"Iya benar, tidak salah lagi ini kalung kepunyaan ibu Jayanti nenekmu itu Nandi, semenjak kepergiannya menghadap ilahi kalung ini pun hilang, subhanallah akhirnya kamulah orangnya yang cocok Nandi, dari sekian banyak anaknya ternyata tidak ada yang terpilih untuk memegang kalung ini, hanya orang yang berbudi luhur yang bisa terwarisi kalung ini, ini pakai lagi jagalah dengan baik ." Ujar pak Dirman sambil memberikan lagi kalung itu.


Lalu Nandipun meraih kembali kalung itu dari huluran tangannya pak Dirman, lalu bergumam dalam hati.


"Pantesan kalau ada apa-apa, Allah selalu memberi petunjuk melalu bisikan yang bergeming di telingaku, dan suka menyebutku cucu." Gumam Nandi dalam hati.


"Ko bapak gak pernah cerita padaku atau Astuti tentang nenek, lalu di manakan nenek di kuburnya.


"Waktu itu bapak baru mau menginjak masa puber, Nenekmu meninggalkan bapak, makamnya dekat dengan kakekmu, di sebelah barat di dataran yang tinggi itu." Ujar pak Dirman.


Mendengar pak Dirman menunjukan tempat kakek dan neneknya di kuburkan di bukit itu, ia langsung tersontak kaget, karena bukit itu, tempat ia melatih jurus-jurus bela dirinya, dan Toglo pun pernah di ajarkan di situ, kini Nandi terasa kebuka tentang dirinya yang sangat menyukai tempat itu, ternyata nenek moyangnya ada di tempat itu.


"Ooh disitu, Ya sudah nanti hari Jum'at sepulang dari masjid ku akan jiarah ke situ, kenapa bapak gak pernah bercerita padaku sih pak." Ucap Nandi.


"Iya ma'ap Nandi karena sudah puluhan tahun silam Ayah Jamika dan ibu Jayanti meninggalkan anak-anaknya, jadi bapak gak sempat bercerita, dan mungkin waktu itu karena bapak selalu di sibukan dengan keliling jagat untuk kelangsungan hidup ibukmu, kamu dan Astuti." Jelasnya pak Dirman.


"Iya sih pak aku pun mengerti, .maapin anak-anak bapak ya, sering merepotkan bapak dan nyusahin bapk." Ujar Nandi.


"Iy benar pak, setelah ku berkeluarga dan punya anak, ku bisa merasakan, ternyata orang tua itu lebih mementingkan anaknya dari pada kita sendiri." Ucap Nandi.


••••••••••


Pukul 07:00


Pak Dirman pun pamit pulang ke rumah, sementara Nandi masuk kerumah untuk melakukan sarapan bersama anak istri.


Sementara di sebuah kedai nampak Gito dan mira baru datang dengan berboncengan dengan Mira lalu Mira turun dari jok belakang Gito, berjalan menuju pintu Rolling dor untuk membuka kunci.


Doroloook


Suara rollingdor yang terbuka, dan Mira langsung menata kursi-kursi dan meja yang di bantu oleh Gito, buat tempat duduk para pengunjung yang sebentar lagi akan berdatangan.


"Bentar yang aa, gue mau manasin dulu air buat orang-orang yang mau pada ngopi." Ujar Mira.


"Oke sayang." Jawab Gito.

__ADS_1


Setelah itu Mira langsung masuk ke ruangan khusus tempat ia bekerja.


Tidak lama kemudian Mira keluar dengan membawakan segelas kopi untuk Gito.


"Ini kopinya mas." Ucap Mira sambil menyimpan gelas kopi di meja di hadapan Gito.


"Terima kasih ya, emang lo' tuh paling jempolan dari dulu sampai sekarang, gak ada bedanya." Ujar Gito.


"Maksud lo'?." Tanya Mira.


"Ya, pada sahabat lo tetap perhatian, apalagi sama gua sebagai pacar lo'." Ujar Gito.


"Ya iya dong." Ucap Mira.


Setelah itu beberapa motor telah berdatangan memenuhi area parkiran, diantaranya Kamal, Hasan, Doni dan Toglo yang selalu membawa sepeda gunung.


"Assalam mu'alaikum." Sapanya yang baru datang.


Gito dan Mira pun langsung spontan menjawab.


"Wa alaikum salam."


"Widiih, yang lagi kasmaran nih, masih pagi juga sudah hpy." Ucap Hasan.


"Iya dong mau kapan lagi, mungpung gua belum berangkat kerja, iya gak mir." Ucap Gito sambil menatap Mira.


Mira tidak menjawab, ia hanya tersenyum tipis.


Lalu Kamal, Hasan, Doni dan Toglo meminta pada Mira untuk di bikinin kopi.


"Mir' bikinin kita kopi dong." Pinta Hasan.


"Oke siap." Jawab Mira, sembari melangkah masuk kedalam untuk bikinin empat gelas kopi hitam.


Kemudian Hasan, Kamal, Doni dan Toglo duduk di kursi dalam satu meja, sambil mengeluarkan rokonya masing-masing.


Tidak sampai menunggu lama lagi, Mira datang.


"Kopi siap meluncur." Ujar Mira, lalu satu persatu gelas kopi itu ditaro di meja.


"Silahkan di minum tuan-tuan yang ganteng-ganteng." Ujar Mira dengan gaya ketomboyannya.


"Oke tanks ya Mir." Pungkas Doni.

__ADS_1


"Oke sama-sama kak." Jawab Mira.


Setelah itu merekapun langsung menyeripit kopinya masing-masing, yang di sambung dengan hisapan-hisapan dari sebatang roko, asap kini mulai mengepul di ruang santai sebuah kedai.


__ADS_2