SI KIDAL SANG PENOLONG

SI KIDAL SANG PENOLONG
Si kaidal sang penolong eps 213


__ADS_3

Nenek Jumi selalu memberikan wejangan pada ke tiga anak angkatnya, supaya bisa hidup dalam ke rukunan dan damai.


Toglo dan kedua adiknya pun merasa nyaman mempunyai sosok nenek Jumi, yang sudah di anggap melebihi dari orang tuanya.


Ketiga anak yatim piatu itu, begitu sangat menghormati pada nenek Jumi, apalagi wawan dan Wiwin mengingat akan cerita nenek Jumi yang sudah merawat dan membesarkan Wanda abangnya dengan hasil jual barang rongsokan, yang tidak seberapa pendapatannya, cuma cukup untuk menyambung hidup saja.


Maka dari itu Wawan dan Wiwin pun begitu sangat menyayangi nenek Jumi, melebihi dari dirinya.


Pukul 21:00


Nenek Jumi nampak sudah memejamkan matanya, karena tidak terasa di pijitin oleh Wiwin, Kulit mata yang sudah mengkerut karena di makan usia Tertutup rapat, mengantarkan jiwanya ke alam mimpi yang indah.


Wiwin pun perlahan merebahkan tubuhnya di samping nenek Jumi, lalu secara perlahan netranya meredup dan akhirnya ter tutup rapat dalam tidurnya.


Begitu pula Wawan dan Toglo, sudah berbaring di kamarnya.


...............


Sementara di tempat lain.


Nandi dan Sindi yang masih belum tidur, menikmati malam yang dingin dengan saling bersentuhan untuk melengkapi dari segala ke kurangannya, dalam satu ikatan cinta.


Nandi yang dengan romantisnya mencumbui istrinya, ciuman-ciuman lembut di keduanya begitu bergairah mewarnai percintaan mereka.


Desah napas Sindi terdengar lirih ketika ciuman lembut Nandi mendarat di kedua gunung kembar lalu menjelajahi daerah-daerah sensitip.


Angin malam yang terasa dingin menyelimuti kedua insan yang sedang memadu kasih, dan menjadi saksi sepasang suami istri.


Selepas itu mereka pun tertidur dengan sangat pulas.


Ke esokan harinya.


Sebelum matahari muncul di upuk timur, suasana pagi yang masih terasa dingin, Nandi bersama istri duduk santai sambil menikmati segelas kopi dan teh tubruk untuk menghangatkan isi dalam perutnya, rambut panjang Sindi yang panjang bergelombang masih nampak basah karena habis keramas, terurai di kedua bahunya.


"Gita belum bangun sayang?." Tanya Nandi.


"Belum, biasanya jam enam Gita bangunnya." Jawab Sindi.


"Kalau jam enam belum bangun juga, bangunin aja, nanti kesiangan sekolahnya." Ujar Nandi.


"Iya sayang, Tk kan masuknya jam delapan."


"Kamu hati-hati dalam mengantar Gita, apalagi sekarang ini banyak orang yang mencoba mau menghancurkan hidup kita, Biar nanti pulangnya ku jemput ya." Ujar Nandi.


"Deket ini ko sayang, gak usah di jemput, nanti malah mengganggu kerjaanmu." Ujar Sindi.


"Bukan masalah dekatnya, tapi keselamatanmu dan Anggita, ku kuatir takutnya ada orang jahat yang memanpaatkan keada'an, untuk menghancurkan hidup kita." Ujar Nandi.

__ADS_1


Pukul 07:15 menit


Anggita yang sudah memakai seragam Taman kanak-kanak, dengan tas tergendong di punggungnya sudah siap untuk berangkat bersama ibuknya/Sindi.


Hari itu adalah hari pertama Anggita belajar sebagai murid Taman kanak-kanak Karya Bangsa yang bertempat tinggal masih di kawasan Gang Si'iran.


"Ayah ku berangkat dulu ya." Ucap Anggita sambil mencium punggung telapak tangannya Nandi.


"Iya sayang hati-hati dan belajar yang rajin ya, ingat jangan nakal." Ujar Nandi.


"Iya ayah." Jawab Anggita.


Setelah itu, Sindi pun berangkat bersama Anggita yang nampak bersemangat sekali ingin sekolah, Sementara Nandi memandang kepergian mereka dari balik gerbang.


"Ya Alla lindungilah anak istriku, dari orang-orang durjana." Batin Nandi.


Kemudian ia melangkah masuk ke dalam rumah, setibanya di dalam sembari duduk di kursi Nandi meraih handponnya yang tergeletak di atas meja, untuk melakukan panggilan pada nomor yang tertulis Toglo.


📞.Nandi "Halo Glo! kamu di mana?"


📞.Toglo "Iya pak bos, ku lagi ngopi di kedai, apa apa pak bos?"


📞.Nandi "Ma'ap Glo, nanti bila jam kerja dah masuk, kamu Stay di TK Karya Bangsa, saya merasa tidak enak hati, karena hari ini Anggita mulai sekolah."


📞.Toglo "Oke siap pak bos."


📞. Toglo "Jangan berkata seperti itu pak bos, :saya kan karyawan di sini apapun yang pak bos perintahkan pasti saya turuti, apalagi menyangkut masalah keselamatan buk bos dan dek Gita."


📞.Nandi "Terima kadih Glo."


Kemudian Nandi langsung menutup panggilannya, lalu ia masuk ke kamar untuk ganti salin dengan pakaian kaos tangan panjang yang di lapisi oleh jaket levis dan celana jens di lengkapi sepatu, mendorong motornya keluar dari rumah, lalu di nyalakan untuk di panasin terlebih dahulu. Setelah helm terpasang untuk menutupi kepalanya, Nandi pun lqngsung tancap gas.


Motor Yamaha Rx king kini melaju meninggalkan Gang Si'iran.


Preng


preeeeng.


Dengan suara yang khas membuat gendang telinga terasa pecah di iringi dengan hembusan asap putih yang keluar dari selongsong kenalpot, melaju dengan kencang menuju suatu tempat.


Setelah Nandi tiba di kawasan jalan industri, iapun menghentikan laju kendara'annya, lalu Nandi membuka helmnya dan di keluarkan sebuah pet warna hitam dengan netranya di tutup sebuah kaca mata warna gelap, duduk di atas jok motor sambil celingukan.


Ketika ada se orang pria berusia kira-kira dua puluh tahun lewat, Nandi langsung menyapa dan bertanya.


"Ma'ap mas numpang tanya?." Tanya Nandi.


Pria itu pun langsung berhenti. "Iya pak mau tanya apa?." Jawabnya balik bertanya.

__ADS_1


"Kalau Pt Adi putra yang mana sih mas?." Tanya Nandi.


"PT Adi Putra di belakang pak, dekat area pergudangan saya sendiri kerja di situ pak." Ujarnya.


"Ooh ya, lewatnya depan sini mas." Ujar Nandi.


"Iya betul pak, bapak sendiri mau ketemu siapa?." Bertanya.


"Pingin ketemu teman lama, namanya Handoko." Jawab Nandi.


"Oh pak Handoko , sudah dua hari ini dia sakit katanya."


"Sakit kenapa mas?." Tanya Nandi.


"Kurang tau pasti sih, tapi menurut kabar yang ku dengar dia sakitnya gak wajar, seperti kena santet." Jawabnya.


"Lho ko bisa."


"Ya bisa aja sih pak, apalagi dia se orang Ceo, tapi sombong dan belagu." Ujarnya.


"Kalau bileh saya tau, di rawat di Rumah Sakit mana ya mas?." Tanya Nandi.


"Pertamanya di bawa kerumah sakit, tapi tim medis mengatakan bahwa penyakit yang di deritanya bukanlah penyakit medis, dan sekarang katanya di bawa ke dukun, di pesisir pantai selatan." Jelasnya.


Setelah Nandi mendapat kabartentang orang yang ia lagi intainya itu, ia pun langsung bergegas pergi pulang ke Gang Si'iran.


Motor pun melaju dengan kencangnya menelusuri jalanan industri yang mengarah ke jalan Delima raya.


Tidak lama kemudian Nandi telah sampai di Gang Si'iran bertepatan dengan masuk nya para karyawan.


Nandi duduk sejenak di atas motornya, kemudian merogoh handpondnya di balik saku celana depan, untuk menghubungi Toglo dan Gito melalui chat di via whatssap.


📱.Nandi "Glo, sekarang kamu pulang saya tunggu di rumah.


Begitu pesan yang di kirim pada Toglo, lalu Nandi mengirim pesanjuga pada Gito yang tertulis sama seperti pesan yang di kirim pada toglo.


Sepuluh menit kemudian Toglo datang bersama sepeda gunungnya. Dan setelah itu Gito pun muncul, lalu Nandi membicarakan niatnya kenapa ia menyuruh Toglo dan Gito untuk menghadap.


Kali ini Nandi cukup membawa Gito dan Toglo, ke dua motor Yamaha Rx king cobra meluncur dengan cepat ke luar kota Bandung, dengan tujuan pesisir pantai selatan.


Kali ini Nandi memakai caranya sendiri, karena untuk membuktikan orang yang ia curugai ke jalur hukum tidak adanya bukti yang kuat, makanya itu ia pakai caranya sendiri untuk menghabisi musuh di dalam selimutnya.


Preeeeng


preeeeeeeng.


Suara yang keluar dari kedua kenalpot yamaha Rx king begitu nyaring terdengar, bersama dengan meluncurnya hembusan asap putih sambil menari-nari di terpa angin.

__ADS_1


Nandi dan Gito serta Toglo yang di bonceng, saling salip karena skil kedua Famili Gang Si'iran ini memang biangnya dalam menjalankan kendara'an roda dua, apalagi jalan yang mau mengarah ke pesisir pantai selatan banyak sekali tikungan-tikungan tajam di tambah medan jalan yang turun naik.


__ADS_2