SI KIDAL SANG PENOLONG

SI KIDAL SANG PENOLONG
Sikidal sang penolong eps 174


__ADS_3

Setelah ke pergiannya ke empat orang yang tidak di kenal itu, Nandi, Pandi dan Gito melanjutkan lagi Rondanya dengan keliling gang Si'iran.


Mereka terus memukuli ķentongan sambil bercanda ria dan tertawa, se olah-olah kejadian tadi di gang Kulit tidak pernah terjadi, nampak terlihat di roman ke tiga pemuda Gang Si'iran asik-asik saja.


Kemudian setelah semua wilayah gang Si'iran terkelilingi, dan Suasanapun sudah mulai kondusip, Nandi, Pandi dan Gito kini kembali ke pos.


Setibanya di pos nampak Doni dan ketua Rt serta kepala ronda lagi asik duduk sambil ngobrol ngaler ngidul.


Lalu Gito merapatkan tubuhnya duduk di dekat Doni.


"Widiih Doni-Doni kaya orang tua aja sih lo' ngobrolnya." Celoteh Gito.


Kemudian Pandi berkata sambil mengambil sepotong singkong bakar yang terdampar di bale-bale pos.


"Ya baguslah anak muda itu harus banyak ber interaksi sama orang tua biar nambah wawasan dan pengalamannya." Pungkas Pandi.


"Ya iya dong, gua lagi berbagi pengalaman sama pak Rt dan pak Sardi." Jawab Doni.


"Oh iya, gimana Nandi apa suasananya kondusip?." Tanya kepala Ronda.


"Pokonya, amaaan pak." Jawab Nandi.


Lalu Gito ikut memotong pembicara'an.


"Tenang aja pak, selama ada bang Kidal gang Si'iran di jamin aman." Pungkas Gito.


"Apa sih lo' To, jangan bicara begitu, gua hanya manusia biasa layaknya orang-orang di sini." Ujar Nandi.


Pak Rt dan kepala Ronda tersenyum sambil mengacungkan jempolnya.


"Iya deh saya percaya, siapa sih yang tidak kenal sama Nandi." Ujar Kepala ronda.


"Waduh, pak Sardi ini sama saja seperti Gito, suka berlebihan." Pungkas Nandi.


"Bukannya berlebihan Nandi, tapi saya bicara karena sesuai pakta." Ujar Sardi.


"Betul tuh Nandi, apa yang di bilang Pak Sardi dan mungkin semua warga gang Si'iran khususnya, dan Orang-orang pada umumnya sudah mengenal siap kamu Nandi." Pungkas pak Rt.


Nandi tersenyum sedikit dengan muka agak di tekuk, lalu ia duduk di sampingnya Doni.


"Ya sudah tidak usah membahas tentang gua, mending sekarang kita lanjut ngopi apalagi ada singkong bakar nih." Ujar Nandi sembari meraih gelas yang berisikan kopi yang sudah dingin terasa, kemudian di keluarkannya sebatang roko Djarum super lalu di bakar ujung roko tersebut dengan sebuah korek gas.


Sepuuuuhhhh.


Hembusan asap putih tipis keluar dari mulutnya Nandi dan menari-nari di terpa angin malam, yang semakin lama semakin memudar lalu hilang terbawa jauh.


Pukul 03:40 menit, Nandi, Pandi dan Gito pun telah pulang kerumahnya masing-masing yang di ikuti oleh pak Rt dan pak kepala Ronda.


Suasana di pagi hari nampak terlihat orang-orang sudah mulai keluar rumahnya masing-masing, ada yang pergi ke pasar untuk membeli sayuran dan ada pula yang mempersipkan dagangannya untuk memulai lagi berjualan guna menyambung hidupnya.


Begitulah kehidupan dari hari ke hari berganti malam dan minggu terus melakukan aktipitasnya hanya untuk menghasilkan yang namanya uang.


Karena yang namanya uang adalah segalanya bagi kebutuhan hidup manusia, apalagi di jaman modern ini.


Di pertiga'an jalan gang Si'iran sangat ramai oleh ibuk-ibuk yang lagi asik memilih sayuran, sambil membicarakan yang gak pantas di bicarakan, biasa kalau ibuk-ibuk dimanapun mereka kumpul pasti aja membicarakan apa yang ia ketahui atau yang telah mereka jalaninya.


"Eh buk Mirna, ibuk tau gak kenapa ya pas pernikahannya As"tuti anak pak Dirman, ko tidak seramai waktu nikahnya Nandi." Ujar wanita paruh baya berambur ikal pendek sebahu.


Lalu buk Mirna tertawa tipis mendengar omongannya buk Kokom.


"Ya mungkin waktu pernikahannya Nandi, kan Nandi yang ngeluarin semua biayanya." Jawab Mirna.

__ADS_1


"Tapi seharusnya pas nikahnya Astuti lebih megah dari abangnya, lagian sih Nandi ko mau ya dapat orang miskin udah yatim, ibuknya juga cuma tukang masak panggilan itupun kalau ada." Ujar Kokom sambil menyar-menyor bibirnya.


" Emangnya buk Kokom tau, kan neng Sindi jauh di jalan ketupat." Ujar Mirna.


"Ya tau atuh kan sodara saya dekat sama rumahnya ibuk Sindi, nama buk Suminar." Jawab Kokom.


"Oh Ya sudah buk Kokom gak usah ngomongin orang, gak baik nanti ada cicak putih denger lho." Saut buk Mirna.


"Saya kan bukan ngomongin, tapi cerita aja ko." Ujar Kokom.


Buk Mirna nampak diam tidak meladeni lagi obrolannya buk kokom, Buk Mirna sepertinya tidak suka dengan ucapannya buk kokom yang selalu aja ngomongin orang, lalu Mirna bergumam dalam hati.


"Kokom-Kokom, bisanya cuma ngomongin orang, padahal kehidupannya juga cuma pas-pasan, gak malu apa kan Kamal masih saudaranya, ko bisa ya ngomongin neng sindi, padahal Kamal sendiri sama anak yatim." Gumamnya Mirna dalam hati.


Kemudian Buk Mirna pamit sama buk Kokom, karena sebentar lagi akan segera adzan subuh.


"Punya saya berapa semuanya mang?." Tanya buk Mirna pada tujang sayur.


"Punya ibuk lima puluh ribu." Jawab tukang sayur.


Lalu buk Mirna mengeluarkan uang satu lembar sebesar lima puluh ribu.


"Ini Mang."


"Iya terima kasih buk."


Buk Mirna lalu meraih kantong plastik yang ber'isikan belanja'an sayuran dan lauk, untuk menyiapkan sarapan buat keluarganya.


"Buk Kokom saya duluan ya." Ujar buk Mirna.


"Iya buk Mirna, ko buru-buru amat, padahal obrolan kita belum selesai lho." Jawab Kokom.


Buk Mirna pun tidak menghiraukan ucapn Kokom, ia hanya pamit dengan sapa'an Assalam mualaikum saja.


Sementara di tempat lain, tepatnya di rumahnya pak Dirman, nampak Kamal dan Astuti sudah terbangun dari tidurnya, lalu Kamal melangkah keluar dari kamar menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya.


Selepas sehabis mandi bertepatan dengan berkumandangnya adzan subuh, kamal langsung pergi ke Masjid, sedangkan Astuti langsung ke kamar mandi.


"Sayang ku ke Masjid dulu ya." Ujar Kamal.


"Iya suamiku." Jawab Astuti sembari melangkahkan kakinya ke kamar mandi.


Dengan berpakaian sarung dan baju koko Kamal melangkah keluar rumah menuju ke Masjid untuk melaksanakan ibadah solat subuh berjama'ah, setelah Kamal sampai di halaman rumah, pak Dirman berjalan di belakangnya.


"Nak Kamal." Panggil pak Dirman.


Kemudian Kamal berhenti sambil membalikan badannya ke arah suara yang memanggil dirinya.


"Bapak, ada apa?." Tanya Kamal.


"Nandi kemana ko belum kelihatan." Jawab Pak Dirman.


"Mungkin ke tid'uran kali pak, kan abis jadwal Ronda semalam." Ujar Kamal.


"Oo iya ya, Bapak sampai lupa, besok kan hari libur, lalu kamu ngeronda juga?." Tanya pak Dirman.


"Aku ngerondanya di kamar pak, hehee." Jawab Kamal cengengesan, gak ada malu-malunya sama mertua.


Pak Dirman pun hanya tertawa tipis sambil berkata.


"Bisa aja kamu, ya sudah buruan keburu ketinggalan berjama'ah." Ujar Pak Dirman.

__ADS_1


"Iya pak." Saut Kamal, sambil mempersilahkan pada sang mertua untuk berjalan di depan.


Kemudian Pak Dirman dan Kamal bergegas masuk ke dalam Masjid, karena suara Qomat sudah terdengar pertanda solat subuh berjama'ah akan segera di mulai.


Singkat cerita.


Sepulangnya dari Masjid Kamal langsung duduk diteras rumah dengan segelas kopi terdampar di meja telah di sediakannya oleh sang istri.


Perlahan Kamal menggerakan tangannya meraih gelas yang berisikan kopi, lalu di seripitnya perlahan-lahan.


Suara seripitan kopi terdengar begitu nikmat bila di rasakan, lalu kamal mengeluarkan sebatang roko gudang garam Filter dari bungkusnya, kemudian di nyalakan nya sebuah korek gas dan di bakarnya ujung roko tersebut lalu di hisapnya.


Hembusan asap putih telah keluar dari mulutnya Kamal menari-nari bagaikan gumpalan awan yang tertiup angin.


"Alhamdulilah hari ini gua masih di beri kenikmatan."


Ketika itu Astuti pun datang menghampiri Kamal, lalu duduk berdampingan.


"Wualah suamiku nikmat benar tuh merokonya." Ujar Astuti.


"Iya sayang, hari ini ku di beri kenikmatan yang luar biasa sekali, dari mulai minum kopi sampai merokopun terasa banget nikmatnya hidup ini." Jawab Kamal.


"Ya harus bersyukur dong." Ujar Astuti.


"Ya ku lebih dari bersyukur sekarang, kopi ada yang bikinin, mau makan ada yang masakin, tidur juga ada yang nemenin hehee." Ujar Kamal.


"Tuh kan, ngomongnya mulai deh ngaco, kalau emang sudah adat susah ya." Ujar Astuti.


"Iya sayang ma'ap, bercanda atuh masa gak boleh bercanda sama istri sendiri." Ucap Kamal.


"Ya bercandanya ya biasa aja sih, ku gak suka kalau sudah bicara jorok, meskipun itu anatara suami dan istri." Ujar Astuti.


Kamal langsung terdiam, sambil matanya menatap datar wajah sang istri, lalu tertawa tipis sembari menghisap roko.


"Heuheuy deuh, iiih atut ah, nanti gua malah di kasih jurus andalan dah, kelar deh hidup gua." Gerutu Kamal.


Astuti pun yang tadinya agak sedikit kesal dengan kata-kata kamal yang selalu rada-rada jorok, kini berubah jadi tertawa riang.


"Hahahahahaha....


Kamal pun kaget tiba-tiba Astuti malah mentertawakan dirinya.


"Buseet dah, ini istriku kenapa? ko jadi berubah drastis begini." Ujar Kamal.


"Haha, aku beruntung di kasih suami, biarpun agak slenge'an tapi bisa menghibur hati." Ujar Astuti.


"Aih-aih emang aku ketoprak humor apa?."


"Suamiku, bukan sekedar ketoprak, tapi kaya cendol dawet, kenyal-kenyal tapi tapi enak rasanya." Ujar Astuti.


"Hahahahahahahahaha..." Kamal pun ikut tertawa terbahak.


Tertawanya Kamal dan Astuti, sampai membuat Buk Sari dan pak Dirman kaget, lalu pak Dirman dan buk sari saling pandang seperti lagi mempertanyakan tentang Kamal dan Astuti.


************


Bersambung.


Ikuti terus ya ceritanya.


Jangan lupa sertakan like, comentar, jadikan favorit bila suka, berikan vote serta hadiahnya.

__ADS_1


Terima kasih atas dukungannya, salam sejahtra, sehat-sehat dan sukses selalu.


"Assalam mu'alaikum"


__ADS_2