
Setelah mereka merasa puas dengan poto-poto bareng sambil menikmati panorama alam yang begitu indah akhirnya mereka pun kembali balik ke warungnya mang Udin.
Setibanya di lesehan mang udin, mereka pun langsung di sediakan hidangan nasi liwet dengan ikan bakar dan ayam bakar serta lalapan mentah.
Tidak menunggu lama lagi mereka semua langsung makan nasi liwet.
Nasi liwet mang Udin memang terkenal sangat enak, makanya tak heran bila warung mang udin selalu di penuhi oleh para pengunjung, untung saja di hari itu Nandi beserta rombongan datang lebih awal, jadi bisa mendapat tempat yang leluasa.
Seperti Melinda dan Lina yang baru pertama kalinya merasakan nasi liwetnya mang Udin, seperti belum makan seharian.
''Wah baru kali ini, ku merasakan nasi liwet yang enak begini, apalagi sambal dan lalapannya berasa banget.'' Ucap Melinda.
''Iya betul Mel' ku juga baru kali ini makan nasi liwet se enak ini.'' Saut Lina.
''Seminggu kamu makan di sini, bisa-bisa obesitas.'' Pungkas Hasan pada istrinya.
''Biarin kan enak aa jadi empuk.'' Ujar Lina.
Nandi beserta yang lainnya hampir ke selek mendengar celotehan Lina dan suaminya/Hasan.
''Iya Lin' abisin terus, sayang masih banyak noh.'' Ujar Kamal.
''Pasti dong, kapan lagi kita makan enak, ooh iya nanti kapan-kapan kalau kesini lagi, ajak-ajak aku ya.'' Ucap Lina.
Hasan seperti merasa malu melihat istrinya yang seperti kelaparan.
''Buset dah kamu seperti kelaparan, malu-maluin suamimu aja, nanti orang pikir kamu gak pernah di kasih makan enak sama gua.'' Celoteh Hasan.
''Emang iya, aa gak pernah bawa ku ke tempat seperti ini, makanya kali-kali ajak dong istri dan anakmu jalan-jalan.'' Ujar Lina.
''Lha kan sekarang gua ajak.'' Ujar Hasan.
''Walah walah, ko kalian malah jadi berantem sih, bukannya menikmati liburan ini, karena nantinya belum tentu kita bisa ke sini lagi.'' Pungkas Nandi memotong pembicara'an.
''Tau nih si aa, istri makan banyak juga di omong.'' Ujar Lina.
''Ya sudah tidak usah di bahas lagi, sekarang bagi kita para cowo, berhubung makanan sudah habis,, mang Udin kopii..'' Teriak Kamal.
Mang udin pun segera beranjak dari tempat ia memasak memenuhi panggilannya dari Kamal.
''Iya bang, berapa?.'' Tanya mang Udin.
''Enam mang.'' Jawab Kamal.
''Oke.'' Saut mang Udin langsung krmbali lagi ke belakang untuk bikinin kopi yang Kamal pesan.
Sepuluh menit kemudian, enam gelas kopi sudah mendarat di nampan dan siap untuk di luncurkan ke hadapan Nandi dan para sahabatnya.
Kemudian istrinya mang Udin mengantarkan kopi tersebut dan di simpan di tengah-tengah mereka.
''Widiih mantap nih, ayo semuanya diminum kopinya, kali ini gua yang bayar.'' Ucap Kamal banyak gaya.
''Buset dah, serasa disambar petir nih gua, mendengar Kamaludin traktir kita-kita.'' Ujar Hasan.
''Aah dasar lo' Hasan bin maun, emangnya elo' pingin gratisan mulu, asal lo' tau, tabungan gua masih banyak kalau cuma buat bayar kopi enam gelas.'' Ucap Kamal.
__ADS_1
''Hahahaa,, gua juga bawa atuh duit segitu mah.'' Celoteh Gito.
''Aah elo' paling roko juga minta.'' Saut Kamal.
''Sembarangan aja lo', kalau dulu ia sebelum gua punya kerja'an tetap.'' Ujar Gito sambil mengeluarkan sebungkus roko dari dalam saku jaketnya.
Dan setelah itu khususnya para cowo menikmati kopinya masing-masing, para wanita pun tidak mau kalah, Astuti langsung memesan minuman yang segar-segar, karena waktu sudah menjelang siang yang sebentar lagi waktu duhur akan segera tiba.
Astuti dan Kamal keluar dari dalam warung mencari tempat untuk duduk berdua, begitu pula Pandi, Nina, Doni dan Melinda, melakukan hal yang sama.
Kamal dan Astuti duduk di sebuah bangku yang terbuat dari papan kayu jati dengan di payungi oleh daun daun rimbun dari sebuah pohon mahuni, kemudian Astuti mulai mengutarakan pembicara'annya.
''Aa bagaimana keputusan dari ibuk dan saudar-saudaramu?.'' Tanya Astuti.
Kemudian Kamal menjawab pertanya'an Astuti secara dimple tapi dapat di mengerti.
''Kata emak gua, untuk menentukan harinya, nanti mau kompromi dulu sama kedua orang tuamu, bagaimana baiknya, kan harus ada ke sepakatan dari kedua belah pihak.'' Jawab Kamal.
''Ya iya sih, biasanya para orang tua punya itung-itungan, hari baik untuk melaksanakan sebuah acara.'' Ucap Astuti.
''Ya Makanya itu, emak gua gak bisa nentuin sendirian.'' Saut Kamal.
Kini sikap tomboinya Astuti tiba-tiba hilang, ketika benih-benih cinta di hati astuti mulai mekar dengan seorang pemuda pilihannya itu.
Sorot mata astuti yang tadinya tajam, kini berubah sahdu ketika Kamal membelai rambutnya, dan sesekali sebuah ciuman mendarat di keningnya.
Gadis yang tadinya slenge'an, jauh dari kata cinta kini hatinya telah di bukakan oleh pemuda bertubuh gempal, mungkin bagi Astuti kamal adalah cinta pertamanya dan mungkin juga yang terakhir.
Sementara di warungnya mang udin tinggal Nandi dan Hasan beserta keluarga, di tambah Gito yang lagi asik dengan handponya.
''Ya mungkin mencari tempat yang tenang, supaya bebas mengungkapkan isi hatinya.'' Celoteh Gito.
''Ya makanya lo' cepetan nyari, nanti malah keduluan sama toglo lho.'' Ujar Nandi.
''Ya kagaklah, masa gua mau keduluan sama Toglo, ooh iya di' menurutmu gimana dengan Mira.'' Ucap Gito meminta solusi pada Nandi.
''Ooh Mira anak gang mawar itu bukan?.'' Tanya Nandi.
''Iya itu, kira-kira bagus gak kalau di jadikan istri.'' Ujar Gito.
''Ya mana gua tau.'' Saut Nandi singkat.
''Ya elah, kan lo' bisa mengira-ngira, atu menebak dari perangainya gimana.'' Ucap Gito.
''Emangnya si Mira nya mau sama lo'?.'' Tanya Nandi.
''Ya gak tau sih, cuman tadi dia nelpon pake handponnya mang jaja, dan meminta nomor gua untuk di save.'' Jelasnya Gito.
''Ooh begono toh, kalau menurut gua, orangnya sih baik, dan rupanya juga lumayan cantik, ya pingin lebih jelasnya coba aja lo' deketin nanti kan lo' tau sikap dan sipatnya gimana.'' Jawab Nandi.
Ketika itu di sa'at Nandi, Gito dan Hasan lagi asik ngobrol, tiba-tiba mereka di kejutkan dengan suara orang-orang yang ramai berbondong-bondong dan berlarian ke tepian telaga, lalu Nandi bertanya sama mang Udin.
''Ada apa mang Udin, ko orang-orang pada berlarian ke tepian telaga?.'' Tanya Nandi.
''Gak tau tuh, mamang juga belum paham, sebentar mamang tanyain pada warung sebelah siapa tau dapat jawaban.'' Jawab mang udin, sambil beranjak pergi dari ruangan memasaknya.
__ADS_1
Tidak lama kemudian mang Udin telah kembali dan memberi kabar pada Nandi.
''Itu Bang ada orang di lilit ular sanca, di bawah pohon beringin, katanya sih pasangan dua sejoli yang lagi nongkrong, tiba-tiba se'ekor ular melorot dari atas pohon beringin dan langsung melilitnya.'' Jelasnya mang Udin.
''Terus sekarang gimana keada'annya?.'' Tanya Nandi.
''Katanya sih lagi ditolong, tapi gak tau selamat apa nggaknya.'' Jawab mang Udin.
Naluri ingin menolong pada diri Nandi langsung bangkit, dan seketika itu Nandi mengajak Gito dan Hasan untuk segera memberi pertolongannya.
''San, to, ayo kita tolong, sayang tunggu di sini ya jaga Anggita, whatssap pada Astuti suruh kembali ke warung.'' Ujar Nandi.
''Itu terlalu bahaya sayang, jangan nekad.'' Ujar sindi sangat khawatir pada suaminya.
''Insa allah, sayang, aku kan baik-baik aja.'' Ucap Nandi sambil melangkah keluar.
Sedangkan sindi melongo tidak bisa berbuat apa-apa, lalu Sindi mengirimkan chat pada Astuti untuk kembali ke warung sesuai dengan apa yang Nandi perintahkan.
Sementara Nandi, Gito dan Hasan berlari ke arah bawah tepian telaga, dan setelah Nandi, Gito dan Hasan tiba di tkp, Nandi masuk diantara kerumunan orang-orang yang di susul oleh Gito dan Hasan.
Nampak terlihat seorang lelaki masih perjaka lagi meronta-ronta dengan mata melotot ingin lepas dari lilitan ular tersebut.
''Mas kamu jangan banyak bergerak, semakin mas bergerak semakin kuat pula ular itu meremukan tulang belulangmu.'' Teriak Nandi
Kemudian Nandi berkata pada Hasan dan Gito untuk mengatur stra tegi guna melepaskan pemuda itu dari lilitan ular tersebut.
Ular sebesar paha orang dewasa dengan panjang kira-kira tiga meteran lebih melilit dengan kuat.
Nandi, Gito dan Hasan dengan sangat hati-hati sekali mendekati ular tersebut mau memberikan pertolongan, di sa'at itu pula terlintas lagi suara di telinga Nandi suara yang sama yang sering muncul memberi petunjuk.
''Nandi cucuku, usaplah kalung yang melingkar di lehermu, niscaya tenagamu akan lebih kuat sepuluh kali lipat dari ular itu, dan cengkram lah leher ular itu dua jengkal dari kepalanya.'' Begitu suara yang terlintas di telinga Nandi.
Nandi pun tidak banyak berpikir lagi, lalu ia melakukan apa yang telah di perintahkan oleh suara tersebut.
Setelah itu Nandi melesat bergerak cepat kearah ular tersebut, lalu kedua tangan Nandi seperti ada yang menariknya untuk mencengkram leher ular sanca tersebut.
Sungguh aneh tapi nyata, setelah tangan Nandi mencengkram bagian leher ular itu, sang ular seperti menjerit kesakitan dengan matanya melotot, kemudian perlahan-lahan ekor ular yang mengunci kaki pemuda itu lemas dan memudar dari lingkaran lilitannya, dan Nandi menyerukan pada Gito dan Hasan untuk segera mengambil tubuh pemuda itu.
Gito dan Hasan langsung mengambil tubuh pemuda itu yang sudah nampak lemas dan tidak berdaya.
Sedangakan Nandi yang masih mencengkram leher ular Sanca itu dan sang ular itu pun nampak lemas seperti tidak ada tenaga, lalu Nandi yang di bantu oleh beberpa orang yang ada di situ, memboyong ular tersebut untuk dipindahkan ketempat yang agak jauh dari tempat itu.
''Nah disini tempatmu, ma'apkan saya ya sanca, kamu tidak boleh memakan manusia, karena semesta telah menyediakan makanan yang layak untukmu.'' Gerutu Nandi.
Dan sang ular pun seperti mengerti dengan ucapannya Nandi, kemudian ular itu, merayap perlahan-lahan memasuki semak-semak belukar.
Dan setelah itu Nandi bersama tiga orang yang membantunya telah kembali ke tempat waktu pertama kali ia menolong pemuda yang di lilit ular.
Dan Nandi menjadi pujian dari orang-orang yang hadir disitu, karena keberanian dan kepintarannya berhasil menyelamatkan satu nyawa manusia.
************
Bersambung.
Terima kasih para reader dan kaka author, yang sudah memberikan dukungannya, semoga sehat-sehat dan sukses selalu.
__ADS_1
''Assalam mualaikum''