
Setelah semua beres ki Parta memberikan satu buah kitab padaToglo untuk di pelajari isi dan maknanya, untuk bekal di kehidupannya nanti kelak.
Pukul 19:00
Toglo pamit pada ki Parta dan seluruh pengisi rumah tersebut.
"Ku pamit pulang dulu ki, kang kosim, kang Dadang." Ujar Toglo sambil mengulurkan tangannya memberi salam.
"Iya nak, hati-hati ingat pesan aki, pakailah apa yang telah kamu dapatkan di sini dijalan yang benar." Pesan ki Parta.
"Iya ki, ku akan selalu ingat pesan Aki Guru." Ujar Toglo.
Lalu kosim dan Dadang pun langsung menyambut salam dari Toglo.
"Kamu hati-hati Glo, kapan-kapan main ke sini, mau seminggu sekali, sebulan sekali atau setahun sekali juga tidak apa, yang penting kamu jangan sampai lupa pada kami dan seluruh penduduk kampung Rawan ini." Cetus kosim.
"Iya Glo, jangan mentang-mentang sudah mendapat ilmu dari sini, jadi lupa deh sama kita-kita." Ujar Dadang ikut bicara.
"Insa Allah kang kosim, kang Dadang dan semua warga sini ku akan menyempatkan waktu untuk selalu berkunjung kesini." Jelasnya Toglo.
"Ooh iya Glo kamu kan bawa sepeda, bisa gak jalannya, kan ini malam gelap sekali, soalnya di sepanjang jalan kampung Rawan belum ada penerangan lampu jalan." Ujar Kosim.
"Insa Allah ku bisa kang." Jawab Toglo.
"Oh ya sudah atuh kalau begitu, hati-hati aja jalannya." Ujar Kosim.
"Iya makasih, mari Ki, kang. Assalam mu'alaikum." Pamit Toglo.
Ki Parta, Kosim, Dadang dan dua pekerja ki Parta yang lainnya menjawab dengan serempak.
"Wa alaikum salam."
Selepas itu Toglo pun langsung menaiki sepedanya dan di goes melaju meninggalkan Ki Parta dan yang lainnya.
Jalanan yang menurun dan berbatu, di tambah belum ada penerangan listrik di sepanjang jalan Kampung Rawan, dengan sangat hati-hati Toglo melajukan sepedanya, karena cuma ada remang-remang cahaya dari langit yang cerah, itupun bila Toglo memasuki jalan yang sisi kiri kanannya membentang sawah dan ladang para petani.
Toglo terus menggoes sepedanya tanpak lelah, karena harus segera sampai di Gang Sawah, di pikirannya teringat sama nenek Jumi dan kedua adiknya takut kenapa-napa.
Tidak lama kemudian Toglo telah sampai di Gang Sawah, hanya tinggal beberapa meter lagi ia akan segera sampai di rumah.
Selang beberapa menit ia pun telah sampai di depan rumahnya, ber tepatan dengan pukul 19:45 menit.
Lalu Toglo turun dari sepedanya, dan berjalan mendekari pintu, di ketuknya sambil mengucapkan salam.
Tok
Tok
Tok
"Assalam mu'alaikum." Sapa Toglo berdiri menatap pintu menunggu benda tersebut terbuka.
Tidak lama kemudian pintu mulai terbuka perlahan, bersama'an dengan munculnya se orang pemuda berusia enam belas tahunan.
"Abang." Sapa Wawan.
__ADS_1
"Iya dek, belum pada tidur?." Tanya Toglo.
"Belum bang, lagi bantuin Wiwin belajar." Jawab Wawan.
"Bagus itu, sebagai kakak harus bisa menuntun adiknya belajar." Ujar Toglo.
"Oh iya Bang, emang abang tadi kemana ko gak ada di tempat kerja?." Tanya Wawan.
"Abang tadi ijin gak masuk kerja, ada keperluan, ini abang baru pulang dari pagi." Jawab Toglo.
"Keperluan apa sih Bang?." Wawan lanjut bertanya.
"Ada deh."
"Ooh gitu, jadi adikmu ini tidak boleh tau gitu kegiatan abangnya di luar kerja'an." Cetus Wawan.
Toglo tersenyum tipis, ketika Wawan berkata ingin tau apa yang ia lakukan seharian tadi.
"Ya tentu boleh, nanti abang cerita'in, sekarang abang mau ganti dulu salin." Ujar Toglo sambil melangkah masuk kedalam kamarnya.
Ketika itu pula nenek Jumi yang lagi menemani Wiwin belajar agak ke heranan dengan sikap Toglo yang biasanya langsung memberi salam dan menyapa.
Baru saja nenek Jumi berpikiran begitu, Toglo datang menghampiri dan langsungmenyalaminya.
"Nek, nenek sudah makan." Sapa Toglo sambil mencium punggung telapak tangan nenek Jumi.
"Sudah nak, kata Wawan kamu gak masuk kerja, emang kamu kemana seharian tadi?." Tanya nenek Jumi.
Kemudian Toglo menurunkan tubuhnya duduk di kursi, lalu Wawan pun datang dan duduk di sampingnya Toglo.
"Begini nek tadi ku ijin pada pak Nandi untuk tidak masuk kerja karena ada perlu yang tidak bisa di tunda." Jelas Toglo.
"Bukan masalah kerja'an nek." Ujar Toglo.
"Lalu masalah apa gitu?."
"Tadi ku ke kampung Rawan."
"Apa...? Ke kampung Rawan." Ujar nenek Jumi agak sedikit ke heranan.
"Iya nek, ko sepertinya nenek kaget mendengar kampung Rawan itu?." Toglo balik bertanya.
"Oh tidak apa-apa? nak." Ujar nenek Jumi seperti merahasiakan sesuatu.
"Nenek jangan bohong, aku merasa seperti ada sesuatu pas nenek mendengar kampung Rawan itu." Ujar Toglo panasaran.
Sejenak nenek Jumi terdiam, seperti lagi menimbang-nimbang apa yang ingin ia jelaskan pada ke tiga anak angkatnya itu.
"Ayo dong nek cerita pada kita ini, apa nenek pernah tinggal di kampung itu?." Tanya Toglo.
"Baiklah kalau begitu, Kampung Rawan adalah tempat nenek dulu mencari sesuap nasi, karena di tempat itu nenek selalu banyak mengahasilkan uang dari barang-barang rongsokan yang nenek dapatkan, karena sungai Rawan adalah sungai yang tembusannya ke kota, dan banyak sekali barang-barang yang hanyut ketika musim hujan sudah tiba. Intinya di sungai Rawan itu tepatnya di sebuah curug, yang ada Goanya di balik air terjun, dan waktu itu ketika tiga hari sesudah banjir besar terjadi, curug itu airnya mendadak kecil sekali, nah singkatnya di situlah nak nenek menemukan kamu, makanya nenek menamakanmu Toglo, setelah nenek tanya nama kamu siapa, kamu tidak menjawab dan tidak ingat apa-apa, dan Toglo artinya terlantar dalam goa lodong, yaitu curug Rawan." Begitu nenek Jumi me jelaskan pada Toglo dan kedua adik kandungnya.
Toglo tersontak kaget, sambil membelalakan kedua bola matanya, ternyata waktu dirinya bersemedi di goa itu, sebelumnya ia pernah terlantar dalam goa tersebut.
Tidak terasa bulir-bulir air bening telah berjatuhan membasahi kedua belah pipinya, sungguh sangat mengharukan mendengar cerita dari nenek Jumi tentang nasibnya yang hanyut terbawa banjir bandang waktu itu.
__ADS_1
"hik hik hik." Tangisan sedu sedan kini terdengar dari mulut Toglo.
Nenek Jumi, Wawan dan Wiwin kaget ketika selepas nenek Jumi bercerita kenapa Toglo langsung menangis tak ubahnya seperti anak kecil.
"Kenapa kamu nangis nak?." Tanya nenek Jumi.
Lalu Wawan dan Wiwin pun saling pandang, serasa belum mengerti dengan tangisan abangnya itu.
"Abang kenapa? Ko nangis?." Tanya Wiwin sambil memeluk Toglo.
Perlahan Toglo mengusap air matanya dengan kedua telapak tangannya, dan berkata dengan tersendat-sendat.
"Abang menangis karena sedih, dek, Nek, ternyata goa dimana nenek menemukan aku, seharian tadi abang pernah duduk bersila di situ sampai matahari tenggelam." Jelasnya Toglo.
Nenek Jumi menarik napas panjang lalu berkata.
"Subhanallah." Ujar nenek Jumi sambil mengusap mukanya.
"Itulah perjalanan hidup, tak satupun orang tau perjalanan kita ke depannya, nenek pun tidak menyangka bahwa tempat itu akan terinjak kembali olehmu nak." Lanjut nenek Jumi.
Wawan dan Wiwin pun baru mengerti, lalu secara bersama'an Toglo, wawan dan Wiwin pun langsung memeluk Nenek Jumi.
Karena nenek Jumi adalah malaikat penyelamat bagi ke tiga kakak beradik itu.
"Terima kasih ya nek, sungguh jasa nenek sangat berharga sekali bagi kami." Ujarnya.
"Iya nak sama-sama, nenek juga sangat berterima kasih pada kalian, kalian dengan sabar dudah merawat nenek, yang banyak sekali menyusahkan kalian." Ujar nenek Jumi.
"Itu tidak seberapa nek, bila di bandingkan dengan Jasa nenek yang sudah merawat aku hingga tumbuh dewasa seperti sekarang ini, hik hik hik." Ucap Toglo sedu sedan.
"Ya sudah hentikan tangisannya, lelaki jangan cengeng, kamu adalah pemuda yang kuat dan tahan banting, nenek yakin suatu sa'at nanti hidupmu akan jauh lebih baik." Ujar nenek Jumi.
"Amiiiin..Nek." Serempak menjawab.
Selepas itu, mereka pun beranjak dari hadapan nenek Jumi, hanya Wiwin yang tetap berada di samping nenek Jumi, karena Wiwin suka menemani tidurnya.
Sedangkan Toglo dan Wawan masuk kedalam kamar. Setiba di dalam Kamar Toglo tidak langsung tidur melainkan membuka kitab pemberian dari ki Parta.
Wawan menggeserkan badannya mendekati abangnya, dengan rasa penasaran Wawan bertanya?
"Itu buku apa Bang?." Tanya Wawan.
"Ini kitab, dari kakek Guru untuk di baca dan di pelajari isinya." Jawab Toglo.
"Kitab apa sih bang?." Wawan lanjut bertanya.
"Abang juga belum paham dek, makanya abang akan mencoba membacanya, kamu ngerti dengan akasara arab gundul." Ujar Toglo sambil menatap datar wajah Wawan.
Wawan menjawab dengan menaikan kedua pundaknya dan berkata.
"Gak tau, kalau ngaji sih aku bisa karena waktu kecil suka diajarin sama ibuk dan bapak." Jawab Wawan.
"Ya sudah nanti abang ajarin cara membaca aksara arab gundul." Ujar Toglo.
Kitab yang sudah berusia puluhan tahun, mungkin ratusan, nampak terlihat dari jilidnya yang sudah lusuh dan dekil.
__ADS_1
Begitu Toglo mau membuka jilidnya seperti ada kekuatan lain yang mendorong jilid kitab tersebut mendadak terbuka sendiri.
Di jilid pertama, Toglo membaca ada banyak ilmu tentang pengobatan dan tentang sebuah perjalanan hidup manusia dari semenjak dilhirkan ke dunia hingga kembali pada sang pencipta.