
Setelah hari mulai senja Kamal, Hasan, Pandi dan Gito, langsung bersiap-siap beres-beres pasang tikar untuk acara selametan ba'da maghrib.
Tidak lama kemudian waktu mghrib pun telah tiba dan suara adzanpun sudah terdengar, kemudian Kamal dan ke tiga sahabatnya langsung pergi ke masjid untuk melaksanakan ibadah solat maghrib berjama'ah.
Selepas itu para tamu undanganpun sudah pada berdatangan untuk memenuhi undangan dari keluarga buk kamelia, dengan di pimpin se orang ustad untuk kelangsungan acara selametan tersebut.
Lalu acara pun segera di laksanakan dengan di pandu oleh pamannya Kamal adik dari Lugina.
"Assalam mualaikum warohmatullahi wabarokatuh." Ucapan salam pembuka'an.
Kemudian para tamu yang hadir menjawab.
"Wa alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh."
"Kepada para tamu yang hadir, saya selaku keluarga yang sekaligus mewakili dari keluarga almarhum Lugina, ijinkan saya untuk menyampaikan sepatah dua patah kata, terima kasih pada bapak-bapak yang sudah meluangkan waktu untuk hadir memenuhi undangan dari keluarga Kami dalam acara selametan, kami meminta pada segenap yang hadir untuk membantu mendorong doa atas niat baiknya Kamal lugina untuk menempuh kehidupan yang baru, guna mempersingkat waktu saya persilahkan pada bapak ustad untuk memimpin tawasulnya, silahkan pak ustad." Ujar pamannya Kamal.
Setelah itu ustad pun langsung memimpin tawasulan untuk kelangsungan acara selametan tersebut.
Tiga puluh menit kemudian acara tawasulan telah selesai, dan segenap para tamu yang hadir langsung menyantap hidangan yang telah di sediakan oleh pihak sohibul makosid.
............
Sementara di tempat lain.
Tepatnya di gang Si'iran di rumahnya pak Dirman lagi sibuk dengan segala kegiatan khususnya di ruangan tempat masak.
Doni, Toglo dan Wawan lagi duduk santai setelah selesai beres-beres menata pirin-piring yang terbuat dari rotan di tempat prasmanan.
"Kira-kira bang Doni kapan tuh mau nyusul?." Tanya Toglo.
"Nyusul apa maksud lo'?." Doni balik bertanya.
"Ya nikah atuh." Jawab Toglo.
"Ooh itu, kalau gua sih belum kepikiran kesitu glo." Ujar Doni.
Ketika mereka lagi asik berbincang munculah Nandi.
"Widiih lagi asik rupanya, mana kopinya?." Tanya Nandi.
"Waah pak bos, iya nih baru aja kita selesai, jadi belum sempat bikinin kopi." Ujar Doni.
Kemudian Nandi meminta pada Wawan untuk bikinin kopi.
"Ooh iya Wan, kamu bisa bikin gak?." Tanya Nandi.
"Bisa pak, bentar ya." Jawab Wawan.
Wawan lalu pergi untuk bikinin kopi untuk Nandi, Doni dan Toglo.
Tidak lama kemudian Wawan telah kembali dengan membawa nampan berisikan tiga gelas kopi hitam, untuk Nandi, Doni dan Toglo.
"Ini kopinya pak." Ujar Wawan sambil menaro kopi di atas meja.
"Oh iya, terima kasih ya Wan." Ucap Nandi.
"Iya pak sama-sama." Jawab Wawan.
"Lho kamu gak ngopi Wan?." Tanya Nandi.
"Tidak pak, Wawan kan masih kecil, kalau kopi kan pasangannya sama roko pak." Jawab Wawan.
"Ya nggak juga sih, banyak yang doyan kopi tapi tidak meroko." Ujar Nandi.
"Tidak pak, nanti kalau Wawan udah dewasa gak tau." Ujar Wawan.
__ADS_1
"Ooh ya sudah, sekarang kamu pokus aja dulu buat masa depan kamu Wan." Ujar Nandi memberi nasehat pada Wawan.
"Iya pak." Jawab Wawan.
Toglo hanya tersenyum merasa senang, dengan nasehat yang Nandi berikan pada Wawan, kemudian toglo berkata.
"Tuh dengerin pepatah dari pak bos." Pungkas Toglo.
"Iya bang aku juga paham dan sangat beruntung sekali berada di dekat orang-orang yang menyayangiku." Ujar Wawan.
Setelah sekian lamanya mereka ngobrol, sehingga tidak terasa malam pun terus bergeser dan jarum jam pun sudah menunjukan pukul 22:30 menit, dan para tamu undanganpun sudah tidak ada lagi yang datang.
Nandi, Doni dan Toglo masih asik duduk santai sambil terus menghembuskan asap-asap putih keluar dari mulutnya, dari hisapan sebatang roko, sedangkan Wawan langsung beres-beres bekas para tamu undangan makan.
............
Ke esokan harinya tepat pada pukul 06:00, langit nampak cerah, semilir udarapun terasa sejuk di rasakan, seperti yang lagi di rasakan oleh Astuti dan Kamal, yang tinggal beberapa jam saja mereka akan segera melaksanakan tujuan mulya nya itu.
Astuti lagi mempersiapkan diri untuk di dandanin
Tubuh tinggi yang padat berisi dengan kulit putih nampak cantik sekali, kemudian Astuti meraih ponselnya lalu di bukanya apl whatssap dan di ketiknya sebuah chat.
📱.Astuti "Aa lagi ngapain?."
Astuti lalu menunggu chat balasan, sambil bergumam dalam hati, nampak di wajahnya penuh rasa kesal.
"Ko lama amat sih balasnya, masa iya jam segini dia belum bangun."
Tidak lama setelah Astuti merasakan ke jengkelannya itu, terdengar nada notifikasi, pertanda ada sebuah chat yang masuk.
📱.Kamal "Maap sayang telat balasnya, tadi ku lagi bantuin mamah mempersiapkan bawa'an dan bikin sarapan dulu."
Setelah Astuti membaca chat dari Kamal, yang tadinya sudah nampak kesal, kini sudah nampak berseri-seri lagi.
📱.Astuti "Ooh ya sudah atuh, ingat aa acaranya jam 08:00 akan srgera di mulai."
📱.Astuti "Ya sudah aa, jangan gerogi ya."
📱.Kamal "Ya enggak atuh, cuma ada sedikit degdegan aja, ya sudah, ku mau menghangatkan perut dulu, biar nantinya tidak gerogi."
Kemudian Astuti pun langsung mentup kembali ponselnya.
Sedangakn para sahabatnya Nandi yang tak lain, Pandi, Hasan beserta istrnya, dan Gito serta Mira sudah sampai di tempatnya Kamal, untuk menjaga segala kemungkinan terjadi yang tidak di harapkannya, karena pas di hari pernikahannya Kamal, terbebasnya Gawing dedengkot preman yang telah membunuh Lugina.
Kemudian Kamal menyuruh Linda untuk bikinin kopi untuk mereka yang baru datang.
Linda pun langsung kedapur untuk memenuhi perminta'an abangnya, bikinin kopi buat mereka.
Tiga gelas kopi dan dua gelas teh mani
Tiga gelas kopi dan dua gelas teh hangat telah Linda buat, lalu di tata di atas nampan, kemudian Linda meluncur ke luar menuju pada para sahabatnya Kamal yang lagi duduk di luar.
"Ini kopinya dan ini teh hangat manis buat teh Lina dan ...." Ujar Linda tidak di terusin, karena Mira langsung memperkenalkan dirinya pada Linda.
"Aku Mira." Ujar Mira.
"Ooh iya ini buat teh Mira, pacarnya bang Gito ya." Ucap Linda.
Gito tersenyum dikit lalu menjawab.
"Iya Lin ini pacar abang." Ujar Gito.
"Waah pasangan yang serasi, moga langgeng ya." Ucap Linda.
"Amiin, makasih Lin." Jawab Mira.
__ADS_1
"Oke sama-sama, aku tinggal dulu ya." Ujar Mira.
"Oke siiip."
Setelah itu mereka pun langsung menyeripit kopi dan teh hangat manis sebagai penghangat perut di suasana pagi yang masih terasa sejuk.
"Mantap banget nih kopi." Ujar Hasan.
"Jadi bikin bersemangat nih, setelah minum kopi di pagi hari, serasa hidup tidak punya beban." Pungkas Gito.
"Iya dong, kopi bikin hati yang tegang menjadi tenang." Ujar Pandi.
"Cocok tuh, hutang hilang rejeki datang." Ujar Hasan.
Lina dan Mira sepontan berkata.
"Ya iya atuh kalau rejeki datang pastilah hutangpun hilang." Uar Lina sama Mira serempak.
"Buset dah kaya paduan suara aja bisa kompakan gitu." Ujar Hasan.
"Iya dong cewe gtu lhoo."
"Emang cowo gak bisa kompakan gtu?." Tanya Hasan.
"Kagak lah, cowo suka pingin menang sendiri." Pungkas Mira.
"Gua kagak tuh, malahan gua suka mengalah selalu di bawah, dan bini gua di atas." Ujar Hasan.
"Idiiih jorok lo' san." Ujar Mira.
"Jorok apa'an sih lo' Mir, lo' sendiri yang berpikirnya ngeres." Jawab Hasan.
"Tadi lo' bang bilang begitu." Ujar Mira.
"Hahaha, ini nih pemikirannya yang terlalu sempit, gua kalau tidur suka ngalah di ubin, dan bini Gua di atas sama junior gua, ngerti gak lo', berarti elo' yang pikirannya jorok, apa jangan-jangan lo' sudah kepingin cepet nikah ya." Ujar Hasan sambil tersenyum mengejek Mira.
"Apa'an sih bang Hasan, ko jadi gue yang di pojokin." Ujar Mira.
Kemudian Pandi mengalihkan perdebatan Hasan dan Mira.
"Sudah kalian jangan berdebat terus, mending kita nikmati nih kopi keburu dingin tau." Ujar Pandi.
Begitulah mereka selalu ceria di manapun berada, kalau sudah kumpul saling melengkapi satu sama lainnya.
Pukul 07:00, pihak pengantin pria sudah bersiap-siap untuk berangkat, dengan berjalan kaki karena jarak tempuh antara rumahnya buk Kamelia dan rumahnya pak Dirman tidak terlalu jauh, di iringi oleh puluhan orang-orang yang mengantar dari pihak keluarga maupun dari tetangga-tetangganya Buk Kamelia.
Ketika rombongan pihak pengantin pria telah tiba di depan pertiga'an jalan gang Si'iran, di sambut dengan meriah dari pihak pengantin wanita, dengan tarian dan tradisi adat budaya sunda.
Mamang lengser sebagai tokoh penyambutan pengantin pria sambil menari-nari dengan di iringi oleh seni tepak gendang dan kawih pupuk sinom dan asmarandana.
Begitu meriahnya acara penyambutan tersebut, dan orang-orang yang menonton pun sampai memenuhi jalan gang Si'iran.
Setelah itu kedua pengantin pun sudah saling berhadapan untuk melakukan serah terima berupa simbolis dan lain sebagainya.
Singkat cerita.
Kedua pengantin kini sudah duduk berhadapan dengan penghulu untuk melakukan ijab kobul dan beberapa saksi dari pihak pengantin pria maupun dari pihak pengantin wanita sebagai kelangsungan sahnya sebuah pernikahan.
*******
Bersambung.
Jangan lupa sertakan like, comentar, jadikan favorit bila suka, berikan vote serta hadiahnya.
Terima kasih atas dukungannya, salam sehat dan sukses selalu.
__ADS_1
"Assalam mu'alaikum"