
Kini adzab maghrib telah berkumandang dimana- mana, panggilan kepada umat muslim untuk menunaikan ibadah solat.
Seperti halnya Toglo dan Neneknya, biarpun hidup hanya pas-pasan, tapi Toglo tidak pernah ketinggalan untuk menunaikan ibadah yang lima waktu, dalam kondisi apapun.
Selepas melaksanakan solat maghrib, Toglo kemudian menyandarkan tubuhnya pada dinding bilik rumahnya, lalu tangan kanan meraih buku yang tergeletak di hadapannya, kemudiann dibukanya halaman sekian, Toglo hanya bisa sekolah sampai sekolah dasar saja, berhubung si nenek tidak cukup biaya untuk melanjutnya ke sekolah menengah pertama.
Maka dari itu, semenjak kerja di perusaha'annya Nandi, Toglo banyak belajar dari buku-buku yang di bacanya.
Walaupun Toglo hanya belajar dari buku, tapi Toglo tidak kalah pintarnya dengan orang-orang yang berpendidikan lebih tinggi darinya.
Pukul 20:00
Toglo sudah berpamitan pada neneknya, untuk lembur, yaitu jaga malam karena Nandi belum mengangkat karyawan untuk scurity.
Setelah pamit memohon doa restu pada neneknya Toglo langsung keluar dan memburu pada sepedanya yang menyender di luar rumah, lalu Toglo mendorongnya kemudian melompat menaiki sepeda itu sambil menggoesnya.
Kini sepeda meluncur dengan kencangnya menuju gang si'iran, di sepanjang jalan yang mau menuju gang si'iran banyak pemuda-pemuda tongkrongan yang tegur sapa pada Toglo, karena Toglo sudah dikenal di sepanjang gang sawah sampai gang si'iran.
Pemuda yang bertubuh gempal dengan otot-ototnya yang kekar karena Toglo selalu rutin berolah raga, apalagi setiap harinya selalu menggoes sepeda.
Tidak lama kemudian Toglo telah sampai di gang si'iran, nampak terlihat oleh Toglo Hasan dan Doni lagi duduk stamby di samping kedai kopi yang belum buka, lalu Toglo memarkirkan sepedanya di tempat yang biasa.
Kemudian Toglo menghampiri Hasan dan Doni.
''Assalam mualaikum.'' Sapa Toglo.
''Wa alaikum salam.'' Hasan dan Doni menjawab.
''Bang Nandi sudah berangkat bang Hasan?.'' Tanya Toglo.
''Sudah, barusan aja, paling selisih lima menit pas Nandi berangkat lo' datang.'' Saut Hasan.
''Bentar ya bang, gua mau buka dulu kedai.'' Ujar Toglo.
..........................
Sementara Nandi, Kamal, Pandi dan Gito melaju dengan kendara'annya, ke empat motor yamaha Rx king, begitu nyaring terdengar masuk gang keluar gang guna nencari keberada'annya Bondan.
Nandi terus mencari setiap teman dan kenalannya Bondan, tapi Nandi belum juga bisa mendapat kabar tentang keberada'annya Bondan.
Kemudian Nandi dan kawan-kawan singgah dulu di sebuah warung kopi yang biasa Nandi suka mampir kalau lagi jalan keluar.
''Assalam mualaikum, kang kumaha damang.'' Sapa Nandi pada tukang warung.
''Wa alaikum salam, bentar ini Nandi bukan?.'' Tanya tukang warung.
''Ternyata akang masih inget sama saya, iya kang saya Nandi.'' Saut Nandi.
''Masa allah, lo' kemana aja di, ko baru nongol, tapi kalau akang lihat-lihat penampilanmu kayanya lo' sudah jadi orang sukses di'.'' Ucap tukang warung.
''Ya alhamdulilah sih kang, berkat doa dari semuanya.'' Ujar Nandi.
''Ya syukur deh, semoga aja tambah sukses, ooh iya kalian mau pada ngopi kagak?.'' Tanya tukang warung.
''Amiin, makasih kang.'' Saut Nandi.
''Yo pasti dong, kopi itu teman setia kita.'' Pungkas Kamal.
__ADS_1
Kemudia tukang warung itu pun langsung bikinin empat gelas kopi buat Nandi dan kawan-kawan.
Selang beberapa menit mang Jaja(tukang warung) membawa nampan yang berisikan empat gelas kopi hitam.
''Ini kopinya, selamat menikmati, ayo di minum mungpung masih panas, diminum sedikit-sedikit langsung di sambung dengan hisapan roko, muanntap deh.'' Ucap mang Jaja.
''Wah bener nih, kang Jaja emang jempolan.'' Pungkas Gito.
''Ooh iya saya serasa di ingetin pas melihat kamu to.'' Ujar mang Jaja.
''Emang kenapa gitu kang Jaja?.'' Tanya Gito.
''Kamu masih ingat kan sama si mira, anak gang mawar.'' Saut mang Jaja.
''Si mira.. Ooh iya gua ingat, kenapa gitu mang?.'' Tanya Gito.
''Kemarin dia ada kesini, nanyai kamu to, mang Jaja mas Gito masih suka main kesini gak, nah Begitu si mira nanyain mamang.'' Jawab mang Jaja.
''Terus mang Jaja bilang apa?.'' Gito bertanya lagi.
''Saya bilang, Gito sudah lama gak pernah main kesini.'' Saut mang Jaja.
Nandi, Kamal dan Pandi, tersenyum gembira mendengar kabar dari mang Jaja bahwa si mira nayain kabar pada Gito.
''Wah kabar bagus tuh to, nanti kang Jaja mintain aja nomor handponnya.'' Celoteh Nandi.
Kamal dan Pandi pun langsung membenarkan pendapatnya Nandi.
''Betul itu mang, iya gak Pan.'' Ujar Kamal sambil menoleh pada Pandi.
Mang Jaja pun langsung manggut-manggut.
''Iya nanti kalau si mira ada kesini lagi, akan mamang mintain nomor handponnya.'' Ucap mang Jaja.
Setelah sekian lamanya Nandi dan kawan-kawan ngobrol bareng mang Jaja, mang Jaja merasa penasaran dengan kedatangan Nandi, setelah sekian lamanya Nandi bersama sahabatnya gak pernah main kesitu.
''Oh iya di' sebenarnya kalian ini mau pada kemana sih, sepertinya lagi ada yang kalian cari?.'' Tanya Mang Jaja.
''Ya pingin aja sih kang keluar malam, yang kebetulan kita lewat sini, jadi sekalian mampir, kangen sama kang Jaja.'' Ucap Nandi.
''Ooh begitu, kirain ada yang kalian cari, ya barang kali saya bisa membantu.
Nandi, Kamal, Pandi dan Gito saling pandang, sepertinya mang Jaja tau dengan tujuannya itu.
''Ya ada sih mang, memang kita lagi mencari sesuatu.'' Pungkas Pandi
''Kalau boleh saya tau, apa sih yang kalian cari?.'' Tanya mang Jaja.
Kemudian Nandi menceritakan kejadian dua hari yang lalu, waktu ada keributan di tempat kedai kopi, sehingga terjadi perkelahian yang luar biasa, dan akhirnya kelima orang itu bisa dilumpuhkannya, dan ke lima orang itu bayaran Bondan.
''Nah begitu kang Jaja cerita.'' Ucap Nandi.
''Ooh jadi kalian ini lagi mencari Bondan, kenapa tidak ngomong dari tadi sih.'' Saut mang Jaja.
''Emang mang Jaja tau keberada'annya Bondan?.'' Tanya Kamal.
''Sore tadi Bondan lewat sini, tapi tidak sendiri, dia bersama murdok, kojeck dan anak buahnya, melaju ke arah sana, kira-kira ada sepuluh motoran.'' Jelasnya mang Jaja.
__ADS_1
''Yang bener mang?.'' Tanya Nandi.
''Berarti dia ke arah mengkudu, kalau bersama si kojeck, itu orang gak ada kapoknya, harus di beri pelajaran tuh si kojeck.'' Pungkas Kamal.
''Di kalau menurut gua, Toglo harus di bawa, biar kojeck dihadapkan sama Toglo, itu bocah kan sangat sadis kalau lagi bertempur.'' Celoteh Gito.
''Ya sudah siapa yang mau ambil Toglo?.'' Tanya Nandi.
''Biar gua aja Di'.'' Ujar Gito.
''Iya bnr, lo' kan jago juga bawa motornya lima menit lo' harus sudah sampai sini.'' Ucap Nandi.
''Oke siapa takut.'' Ucap Gito sambil berdiri dan berjalan mendekati motor yamaha Rx king yang terparkir dibelakangnya.
Treng teng teng teng.
Motorpun sudah di nyalakannya, dan Gito pun langsung tarik gasnya, motorpun melaju dengan kencangnya meninggalkan Nandi dan kawan-kawan.
Tujuh menit kemudian Gito sudah kembali lagi dengan membawa Toglo duduk di jok belakang, Terus Gito dan Toglo turun dari motornya.
''Lebih dua menit dari yang di janjikan, masih wajar kan.'' Celoteh Gito.
Mang Jaja sampai bengong, pas Gito sudah kembali lagi.
''Buseet dah, Gito-Gito lo' tuh kesurupan apa sih, ko bawa motornya cepet amat, baru aja saya duduk lo' sudah kembali.'' Ucap mang Jaja.
''Mang Jaja belum tau ya, dulu di kelompok kita itu yang edan bawa motor Nandi sama Gito, makanya pas gito bilang mau ambil Toglo, Nandi lagsung angkat jempolnya.'' Pungkas Pandi.
''Gak kebayang, kalau jatuh pasti langsung koid dah.'' Ujar mang Jaja.
''Idiiih, ko mang Jaja ngomongnya gitu sih.'' Ucap Gito.
''Ya andai kata itu mah, mamang gak ngebayangin, tapi kalau melihat kalian ada di sini jadi teringat kaya dulu lagi, sayangnya Hasan gak ada bareng kalian.'' Ujar mang Jaja.
''Hasan lagi bagian Jaga mang.'' Celoteh Kamal.
''Ma'ap kang Jaja, kita gak bisa lama-lama lagi disini, karena urusan belum tuntas.'' Ucap Nandi.
''Iya tidak apa-apa, saya doain semoga urusannya cepet beres dan baik-baik aja.'' Saut mang Jaja.
Setelah itu, Nandi dan kawan-kawan langsung cabut dari warungnya mang Jaja.
Kini ke empat motor yamaha Rx king melaju dengan kencangnya mengarah pada jalan mengkudu raya.
Suara yang keluar dari selongsong kenalpot begitu nyaring terdengar, di iringi dengan keluarnya asap putih laksana kapal jet tempur meluncur begitu cepatnya.
Gito yang berada dibarisan paling depan, di ikuti oleh Pandi, Kamal dan Nandi mengawal dari belakang berboncengan dengan Toglo.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Bersambung.
Jangan lupa sertakan like, comentar, jadikan favorit bila suka, berilah vote serta hadiahnya.
Terima kasih atas dukungannya, semoga sehat-sehat dan sukses selalu.
''Assalam mualaikum''
__ADS_1