
Setelah ketiga pria tersebut terbangun, merekapun langsung membangun serangan lagi pada astuti, sekarang merela lebih waspada dan hati-hati sekali, karena tanpa di duga sebelumnya kalau astuti sangat pintar bela diri.
Sebruuuttt.
Ketiga pria itu menyerang astuti secara bersama'an dari tiga penjuru dalam gerakan yang berbeda-beda
Tapi astuti sangat pintar dan mengetahui akan hal itu, secepat kilat astuti melesit keatas sambil menendangkan kaki kanannya.
Buuk...
Deaass...
Kesialan kini menimpa pada pria yang bertubuh jangkung, karena sangat kerasnya tendangan astuti yang mengenai dagu pria itu, hingga pria itu hilang kendali dan kese'imbangannya akhirnya terjatuh.
Dan kedua temannya langsung menyerang astuti dari belakang, begitu astuti menginjakan kakinya di jalan, tangan kanan pria yang bertubuh tegap langsung menghimpit leher astuti.
Astuti mencoba berontak melepaskan tangan pria tersebut, tapi karena tenaganya terlalu kuat malah semakin kenceng, hingga astuti susah untuk bernapas, tapi astuti tidak kehilangan akalnya, kaki kanan diayunkan ke atas dengan sangat cepat dalam posisi lurus berdiri hingga mengenai mukanya pria bertubuh tegap itu.
Hiuuukk...Deaaasss..
Adaaww.
Pria itu merasa kaget dan langsung mundur dua langkah, karena patukan ujung sepatu astuti terasa sakit, sehingga akhirnya cengkraman tangannya itu lepas.
Terus astuti membalikan badannya dengan pasang kuda-kuda yang kuat, sambil memberi isarat tantangan pada ketiga pria itu.
''Ayo majulah kalian semua, jangan kau anggap semua wanita lemah, dasar lelaki bajingan.'' Ujar astuti.
Kini suasana dijalan sudah dipenuhi oleh kendara'an karena lajunya kendara'an menjadi terhalang oleh kendara'an lain yang pada berhenti menonton perkelahian tersebut.
Ketiga pria itu bukannya pergi dengan banyak orang yang melihatnya, tapi malah semakin beringas menyerang astuti, dan ketika ketiga pria itu melompat mau menerjang astuti, tiba-tiba ada dua kelebatan bayangan menghajar kedua pria yang berbadan tegap.
Buk buk deaasss..
Kedua pria itu langsung sempoyongan, karena tidak tau dari mana arahnya bayangan tersebut, nampak terlihat oleh ketiga pria itu ada dua pemuda lagi berdiri, yang satu bertubuh jangkung dengan rambut panjang di ikat sanggul, dan yang satu berbadan gempal dengan rambut dipirangin sedikit.
''Lo' datang tepat waktu.'' Sapa astuti pada kedua pemuda itu.
''Kenapa lo' tidak kabran kita, atau kamal.'' Ujar pemuda yang berambut panjang yang tak lain adalah pandi dan gito yang mau berangkat kerja searah dengan astuti.
''Tapi lo' tidak apa-apa tut?.'' Tanya gito.
''Gue tidak apa-apa, kalau cuma cecunguk begini gue masih bisa mengatasinya.'' Saut astuti.
Terus ketiga pria itu saling pandang degan sesama temannya, seperti nyalinya mulai ngedown.
''Gimana nih, menghadapi satu wanita aja kita hampir kewalahan, ditambah kedua pemuda itu, yang kelihatannya jago bela diri juga.'' Bisik pria yang betubuh tegap.
Gito dan pandi telah bersiap-siap begitu pula astuti yang sudah gatel tangannya pingin menghajar ketiga pria yang telah kurang ajar padanya itu.
''Wooii, kenapa kalian pada bengong, ayo hadapi kami, biar kita seimbang, masa melawan wanita saja harus main keroyokan.'' Teriak gito.
''Jangan sombong kalian, kita belum kalah.'' Jawab pria bertubuh jangkung itu.
''Ah kelama'an lo pada, heaa..'' Bentak gito langsung melesat menyerang pria yang bertubuh tegap.
Melihat gito langsung menyerang ketiga pria tersebut, pandi dan astuti pun langsung menyusul melakukan serangannya.
Kini perkelahian semakin sengit dan jalanan pun mulai padat merayap, karena ada beberapa kendara'an yang berhenti dan menonton perkelahian tersebut.
Astuti terus mengirimkan gempuran-gempurannya pada pria bertubuh jangkung, karena astuti merasa kesal dengan pria itu, karena dialah yang pertama berlaku kurang ajar padanya.
Kelebatan-lelebatan dari serangan astuti, semakin cepat dan bringas, dan pada akhirnya pria jangkung itu terdesak dan kewalahan menghadapi gempuran-gempuran astuti, sehingga buyarlah konsentrasi dari pria jangkung itu, bersama'an dengan meluncurnya pukulan keras dan cepat menghajar muka dari pria jangkung tersebut.
Hiuuukk..
Buuukk..
__ADS_1
Satu pukulan singgah dimuka pria jangkung itu, pandangan terasa berkunang-kunang dan sempoyongan, astuti melesit sambil menendangkan kaki kanannya ke ulu hati.
Duuuk.. Jebrood..
Aaauuuuwww..
Teriakan dari pria jangkung itu dan langsung tersungkur dipinggiran trotoar.
Begitupula pandi dan gito dengan sangat ganasnya menghujani pukulannya pada lawan-lawannya.
Duk duk duk duk.
Deas deas deaass.
kedua pria itu terpental kebelakang dan langsung tidak bisa mengontrol kese'imbangannya dan akhirnya terjatuh dengan bibir mencium aspal jalanan.
Kini ketiga pria tersebut tergeletak dipinggiran trotoar, pandi dan gito yang melihat banyak orang yang menonton segera memberi isarat untuk bubar.
''Wooii bubar bubar semua, ini bukanlah tontonan.'' Teriak pandi.
Dan para pengemudi kendara'anpun perlahan sudah mulai melajukan lagi kendara'annya masing-masing.
Lima menit kemudian, ketiga pria itu langsung terbangun sambil sempoyongan berjalan menuju mobilnya avansa warna putih.
''Masih mau dilanjut gak.'' Ujar gito.
''Ampun bang, kami menyerah, ujarnya sambil memegang mukanya masing-masing.
''Makanya, jaga sikap kalian, jangan se'enak jidat lo' aja pada wanita, lo masih untung gak gua bawa ke kantor polisi, karena lo sudah melakukan pelecehan.'' Ucap pandi.
''Iya bang ma'apin sikap kami, jangan bawa kami ke kantor polisi.'' Ujar sijangkung.
''Dasar lelaki payah, gue makin gedek aja melihat muke lo' semua, cepetan pergi sebelum emosi gue bangkit lagi.'' Ujar astuti.
Dan ketiga pria itu, langsung memburu pada mobilnya itu, karena ketakutan mukanya tambah bonyok, apalgi astuti masih nampak terlihat emosi.
''Hahahaha...Dasar lelaki payah, gayanya aja pertentang pertenteng, ternyata kalian cuma ayam sayur, hahahaha.'' Ujar astuti sambil tertawa terkekeh.
Gito dan pandipun ikut tertawa, karena lucu melihat ketiga pria tersebut.
''Hahahahahaha.'' Tawa gito dan pandi.
''Heh tut, lho ko bisa berhadapan sama play boy kampung gitu sih.'' Ujar gito.
''Gue juga tidak tau datangnya, tiba-tiba saja mobil dia memeped motor gue, dan gue hampir mau jatuh, dan gue juga marahlah.'' Saut astuti.
''Ooh begitu, ya sudah nanti kita bahas dibengkel aja, berhubung waktu sudah siang nih, nanti kita kena omel nandi lagi.'' Ujar pandi.
''Ya sudah kita cabut.'' Ucap astuti.
Setelah itu ketiga motor itu langsung dinyalakannya, dan langsung tancap gas, menuju jalan ketupat.
Kini ketiga motor itu melaju dengan kencangnya, karena waktu masuk kerja hanya tinggal beberapa menit lagi.
Tidak lama kemudian.
Tepat pukul 07:55 menit mereka telah tiba di depan bengkel, Terus astuti buru-buru turun dari motornya, untuk membuka kunci pintu toko dan bengkel yang masih tertutup.
Setelah semua pintu rolling terbuka, pandi dan gito lalu mengeluarkan peralatan bengkel dan bangku-bangku untuk disusun rapi.
Sedangkan astuti langsung duduk dikursi diruangan kerjanya.
Dan tidak lama kemudain munculah nandi bersama sindi turun dari mobilnya, terus berjalan sambil bergandengan masuk menuju ruang kerjanya, dengan kecipan lembut dikeningnya sindi, nandi memberi semangat pada sindi.
''Muuuaacchh, selamat bekerja istriku sayang.'' Satu kecupan mendarat dikening sindi.
''Terima kasih suamiku.'' Ujar sindi sambil memeluk tubuh nandi.
__ADS_1
Dan selepas itu sindi melangkah masuk keruang kerja bersama astuti, begitupun nandi memasuki ruangan kecil tempat ia bekerja, perlahan nandi menurunkan tubuhnya untuk duduk dikursi, terus tangannya meraih pada sebuah laptop dan di bukanya.
Setelah beberapa menit, nandi pun langsung menutup kembali laptopnya, terus ia keluar dari ruangan kerjanya dan memanggil sindi.
''Sayang tolong bawain air putih keruangan kerjaku.'' Ucap nandi.
''Iya aa.'' Jawab sindi, sambil beranjak dari tempat duduknya, untuk membawakan air putih buat nandi.
Sindi terus melangkah ke ruangan kerjanya nandi dengan membawa segelas air putih, Pas sindi mendorong pintu yang masuk keruang kerja nandi, sindi bengong dan kaget, karena yang meminta dibawain air itu tidak ada diruang kerjanya.
''Lho ko gak ada, sayang, aa, aa sayang dimana.'' Pangil sindi.
Terus air tersebut sindi taro diatas meja, dan sindi pun balik lagi ke ruangan kerjanya, sambil bertanya pada astuti.
''Tut, lihat aa nandi gak?.'' Tanya sindi.
''Ko nanya gue sih, bukan kah tadi minta dibawain air sama teh sindi.'' Ujar astuti.
''Iya, tapi pas gue masuk keruangan kerjanya, aa nandi tidak berada diruangan itu.'' Saut sindi.
''Mungkin keluar kali, coba tanya sama pandi dan gito.'' Ucap astuti.
Sindi pun terus beranjak dari ruang kerjanya dan keluar menuju bengkel dan bertanya pada pandi dan gito.
''Eeh pan, to kalian lihat aa nandi gak?.'' Sindi bertanya pada pandi dan gito.
''Kagak, gua gak lihat sibos.'' Jawab pandi sambil menoleh pada gito.
''Gak ko, gua juga gak lihat, bukan kah tadi didalam bersama buk bos.'' Pungkas gito.
''Iya pertama datang kan sama gue, terus gue masuk keruang kerja gue, kira sepuluh menitan aa nandi keluar, minta dibawa'in air putih keruang kerjanya, Setelah itu gue bawa'in, eeh pas gue buka pintu aa nandi tidak ada diruangannya.'' Ujar sindi merasa cemas.
''Terus kemana ya si bos.'' Ucap pandi sambil lihat lihat disekitar situ.
Kini kecemasan sindi semakin kuat menghantui dirinya, karena tidak seorangpun yang tau kepergiannya nandi dari ruangan kerjanya, kedua bola mata sindi kini sudah nampak berkaca-kaca, karena rasa cemas bercampur sedih, sehingga masuk kepikiran dan otak bekerja sehingga memicu cairan hangat keluar mengalir di kedua pipinya.
Disa'at sindi lagi bersedih, tiba-tiba gito meneriakan pada sindi.
''Buk bos bukankah itu pak bos.'' Teriak gito sambil menunjuka ke arah sebrang jalan sebelah sana.
Terus sindi menoleh kearah yang gito tunjukan, nampak terlihat oleh sindi, nandi lagi menolong seorang kake yang yang lagi kesusahan menaikin barang-barang rongsokan pada gerobaknya yang terjungkal terserempet sebuah mobil truk.
Sindi pun kini tersenyum sambil mengusap air matanya yang melintas dikedua pipinya.
Sementara nandi yang lagi sibuk membereskan barang-barang rongsokan si kakek, yang banyak berserakan dipinggiran jalan, sudah beres, semua barang pun dudah tertata lagi diatas gerobak.
''Sudah beres kek, kake tidak apa-apa?.'' Tanya nandi.
''Tidak nak, kake baik-baik aja, terima kasih ya sudah mau bantuin kakek.'' Jawab si kakek.
''Sama-sama kek, sudah kewajiban kita saling tolong sesama manusia, emang kake kemana pulangnya?.'' Nandi bertanya.
''Itu tuh dibelakangnya kantor kelurahan, sudah dekat ko, sekali lagi terimakasih banyak ya nak semoga allah swt membalas kebaikanmu.'' Ucap si kake sambil menarik lagi gerobaknya.
''Amiin kek, hati-hati ke.'' Ujar nandi.
Setelah sikakek dudah mulai menjauh, nandi pun mulai melangkahkan kakinya untuk menyebrang jalan.
Dan disa'at kendara'an mulai agak sepi nandi langsung menyebarang dengan memberi isarat tangannya dilambai-lambaikan keatas, dan kendara'anpun berhenti menghargai sang penyebrang jalan, dan nandipun memberikan acungan jempolnya pada kendara'an yang berhenti.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Bersambung.
Di episode selanjutnya, terima kasih atas dukungannya, semoga sehat-sehat dan sukses selalu.
Assalam mualaikum.
__ADS_1