
Disa'at senja hari tiba, bertepatan dengan datangnya nandi ditempat kediamannya, hanya duduk sebentar.
Setelah itu nandipun berangkat lagi untuk mengantarkan sindi pulang kerumahnya, sindi tidak membawa motornya, tapi ia ikut boncengan dengan nandi, karena itu semua nandi yang minta, biar motor sindi besok dibawa oleh astuti.
Kini nandipun sudah mengendalikan motornya lagi meninggalkan gang si'iran, nandi terus melaju dijalan raya yang masih ramai dipadati oleh berbagai macam kendara'an.
Nandipun terus ngebut karena takut waktu maghrib keburu habis, biarpun sindi berteriak-teriak meminta untuk menurunin lajunya kendara'an yang nandi kendalikan.
''Lo' pegangan aja yang kenceng, soalnya takut gak keburu waktu maghrib.'' Ucap nandi.
Sindipun memegang erat pinggangnya nandi sambil merem karena takut nandi bawa motornya sangat kencang sekali.
Tidak lama kemudian nandipun telah sampai didepannya rumah sindi.
''Sekarang buka mata lo' sin.'' Pinta nandi.
Sindipun perlahan-lahan membuka matanya lalu melihat-lihat disekelingnya.
''Gila, sudah samapai aa, gue aja kalau ketempat aa bisa satu jam perjalanan, ini cuma setengah jam juga masih kurang.'' Ucap sindi, sambil melihat jam yang melingkar ditangan kirinya.
Setelah itu, maka terdengarlah suara adzan, nandipun langsung bergegas menuju kemusola yang tak jauh dari rumahnya sindi.
Sesampainya dimusola nandi lalu pegi ketempat wudhu, untuk mensucikan badannya dari hadas kecil.
Selepas itu nandi masuk kedalam musola tersebut, dan berdiri disap paling belakang, melaksanakan solat maghrib berjama'ah.
Lima menit krmudian solat berjama'ah pun sudah selesai, nandi langsung keluar dari musola itu menuju kerumahnya sindi.
Begitu sampai didalam rumahnya sindi, nampak segelas kopi yang masih panas telah terdampar dimeja.
Itu semua bu suminar yang telah menyediakan kopi tersebut.
''Uluuuh, perhatian banget nih calon mertua, tau aja selera gua.'' Gerutu nandi dalam hatinya, sambil meraih gelas yang berisikan kopi tersebut.
Dengan perlahan nandi menyeripit kopi tersebut, dan diambilnya sebungkus roko dari saku jaketnya, terus diambil satu batang, lalu dibakarnya ujung roko tersebut sambil dihisapnya.
Sepuuuuuhhhh....
Asap putih keluar dari mulutnya nandi, lalu ditegug lagi segelas kopi.
''Mantap kopi buatan mertua memang tiada duanya, sebuah cita rasa alami dari biji kopi pilihan, pkonya keren dah, bu sumi memang is the best.'' Ucap nandi.
Seketika itu sindi keluar dengan berpakaian buat sehari-hari dirumah. tubuh **** dan gemulai sungguh sangat menggoda, berjalan lenga lenggo terus duduk dikursi berhadap-hadapan dengan nandi.
''Rendi belum pulang sin?.'' Tanya nandi.
''Belum, aa rendi kebetulan lagi sip dua, pulang nanti jam 10 han.'' Jawab sindi.
''Ooh gitu toh.'' Ucap nandi.
Setelah itu nandi dan sindi ngobrol berdua diruang tamu saling canda dan tawa, dan lama-lama obrolan mereka mengarah pada romantis-romantisan.
Sindi merebah kepalanya didada nandi, nandi pun memberi belaian lembut pada sindi, yang sesekali ciuman nandi mendarat dikeningnya sindi, alangkah bahagianya sindi, sindipun terus memeluk erat tubuh nandi yang kekar dengan dadanya yang bidang.
Belaian lembut nandi membuat gadis lugu itu semakin terpancing asmaranya, sindipun lalu menciumi kedua pipinya nandi.
''Kakang aku pasrah mau kau apakan juga.'' Ucap sindi memancing.
''Tidak sayang, kita kan belum muhrim, janganlah sampai terbawa jauh, hubungan ini, dan lo harus kuat untuk menjaga kesucianmu.'' Ucap nandi.
Begitu nandi bilang begitu, sindipun baru sadar, bahwa hubungannya masih dalam masa pacaran, belum ada ikatan yang kuat untuk melakukan sesuatu.
''Ya allah kuatkanlah diriku untuk menjaga imanku jangan sampai terjatuh kejurang nista.'' Gerutu nandi dalam hatinya.
Sementara bu suminar yang lagi sibuk didapur, langsung memanggil mereka berdua.
''Sindi, nak nandi ayo kita makan, telah ibu siapkan nih.'' Panggil bu suminar.
Sindi lalu mengajak nandi untuk makan malam bareng ibunya.
''Ayo, kebetulan gua juga sudah lapar nih.'' Balas nandi.
Sindi dan nandi lalu beranjak dari tempat duduknya menuju keruang makan, nampak beraneka macam menu makan malam yang telah ibu suminar sajikan.
''Ayo nak nandi, kita makan malam disini saja, tentu sudah kangen kan pasakan ibu.'' Ucap bu suminar sambil tersenyum.
''Waah benar sekali tuh, pasti enak nih, dari aromanya juga sudah bikin lapar, apalagi dimakannya.'' Jawab nandi
Setelah itu, nandi, sindi dan bu suminar melaksanakan makan malam bersama, nandi begitu lahapnya dalam menyantap makanannya, sudah dua kali nandi nambah, sindi dan bu suminar tersenyum dan saling pandang melihat nandi yang seperti lagi kelaparan.
''Wah benar-benar pasakan ibu ini luar biasa sekali, makanannya sih sederhana tapi rasanya sangat berkelas sekali.'' Celoteh nandi.
''Ayo nambah lagi nak nandi.'' Ujar bu suminar.
__ADS_1
'Iya bu makasih, tapi sayang perutku sudah gak kuat untuk menampung makanannya.'' Jawab Nandi.
''Ya sudah jangan dipaksa, kalau sudah kenyang, nanti bisa jadi muntah lagi.'' Saut bu sumi.
Setelah selesai makan malamnya bersama keluarga bu sumi, nandi lalu duduk dikursi, sambil menghabiskan sebatang roko, selepas itu nandipun pamit untuk pulang.
Busumi dan sindi mengantarkan nandi sampai depan teras rumahnya.
''Aa hati-hati.'' Ucap sindi.
''Iya nak nandi hati-hati dijalannya, jaga krsehatan.'' Ucap bu suminar.
''Iya bu, sindi makasih, assalam mualaikum.'' Kata nandi.
''Wa alaikum salam..'' Jawab bu suminar dan sindi.
Setelah itu nandipun langsung tarik gasnya, dan motorpun melaju meninggalkan bu suminar dan sindi yang lagi menatap kepergiannya nandi, sampai akhirnya nandipun menghilang dari pandangannya bu suminar dan sindi, karena ditelan jarak yang semakin menjauh.
Setelah nandi sudah tidak nampak lagi dalam pandangan mereka, bu suminar dan sindipun lalu masuk kedalam rumah, dan duduk dikursi diruangan keluarga.
''Sindi, ibu mau tanya?.'' Ucap bu sumi.
''Mau tanya apa bu, katakanlah.'' Jawab sindi.
''Kira-kira nak nadi kapan mau ngelamar kamu, ibu jadi khawatir sama hubungan kalian, kesini-sininya malah lebih dekat gitu, takut kalian gak tahan dengan goda'an setan.'' Kata bu sumi.
''Ibu jangan kuatir, insa allah aku dan aa nandi bisa jaga kesucian cinta kita bu, dan masalah aa nandi mau ngelamar, mungkin belum kepikran, soalnya aa nandi pingin memajukan dulu usahanya.'' Saut sindi.
''Ya ibu lihat usahanya sudah mapan, dan bengkel yang didepan jalan raya, sangat ramai, dan tokonya pun komplit dan gede lagi.'' Ucap bu sumi.
''Iya sih bu kalau menurut kita, buat makan mah gak akan kekurangan, tapi beda lagi menurut aa nandi.'' Saut sindi.
''Ya kalau dipikr kesitu, ya ada bnernya juga mungkin nak nandi punya maksud lain, yang lebih baik lagi.'' U ap bu suminar.
begitulah obrolan antara anak dan orang tua.
Sementara yang dibicarakannya, masih terus melaju dengan motornya.
Nandi masih terus melaju menyusuri jalan raya ketupat, dengan asap putih yang keluar dari kenalpot terus mengiringi lajunya kendara'an tersebut.
Setelah itu nandipun telah tiba dibatas antara jalan ketupat dan jalan delima, gas masih tetap kenceng dtariknya.
Begitu nandi melalui jalan yang menikung tiba-tiba ada sebuah motor dari arah yang berlawanan menyalip, sungguh kagetnya nandi dengan repleknya nandi menggoyangkan bodi motornya kekiri sambil disetanding kini motor nandi berpindah masuk ketrotoar, terus nandi menekan pedal remnya.
Suara rek cakram dari motor nandi, nandi lalu menarik napasnya.
''Buseet dah, itu orang bego apa sudah gila menyalip dijalan tikungan, bisa-bisa itu orang mampus digebukin masa, kan gua sudah menyalakan lampu jarak jauh, sinting kali tuh orang.'' Gerutu nandi.
Disa'at itu pula ada beberapa anak muda yang lagi nongkrong menghampiri nandi.
''Bang tidak apa-apa?.'' Tanya salah satu anak muda yang berbaju merah.
''Alhamdulilah, gua tidak apa-apa.'' Jawab nandi.
''Wah abang sangat lihai bawa motornya disa'at lagi kepepet juga abang masih bisa menghindar dengan sangat keren, coba kalau kita-kita sudah tamat riwayat kita, iya gak teman.'' kata pemuda itu sambil menoleh pada temannya yang lain.
''Iya betul bang, gue melihat sendiri, gimana abang dengan replek setandingkan motor abang tanpa cacat ataupun jatuh.'' Pungkasnya.
''Ya mungkin hanya kebetulan aja bang, allah masih melindungi gua.'' Jawab nandi
''Tapi kalau melihat motornya sih, kayanya gue hapal banget sama ini motor.'' Ucapnya.
''Motor kan banyak bang bukan satu doang.'' Saut nandi sambil membuka helmnya.
Begitu nandi membuka helm penutup kepalanya, anak-anak tongkrongan itu sampai terperanjat pas melihat wajahnya nandi.
''Bang kidal... Abang bang kidal kan anak gang si'iran?.'' Tanya pemuda itu.
''Iya benar, ko kalian bisa kenal sama gua.'' Ucap nandi.
''Siapa sih yang gak kenal sama bang kidal sidewa penolong, pantesan aja bawa motornya keren banget.'' Ujar pemuda itu.
''Wah kalian ini, suka berlebihan kalau menilai orang, saya cuma manusia biasa sama seperti kalian.'' Celoteh nandi.
''Bukannya berlebihan bang, tapi paktalah yang berbicara.'' Ucapnya.
''Ya sudah sekarang gimana kalau kita ngobrol sambil ngopi.'' Ucap nandi.
''Wah ide bagus nih, ayo bang tuh diwarung kopi bang tohir, kita duduk santai dulu.'' Kata anak muda itu.
Nandi dan beberapa anak tongkrongan langsung menuju pada warung kopinya bang tohir, dan dipesannya enam kopi hitam untuk melengkapi obrolannya mereka.
''Ini kopinya, wah seumur-umur baru kali ini, warung abang disinggahi bang kidal.'' Celoteh bang tohir.
__ADS_1
''Iya bang, soalnya gua selalu sibuk dibengkel, apalagi sekarang ini, gua menyuplai barang buat dikrim ke daerah-daerah luar kota ini.'' Jawab nandi.
''Wah hebat lo' bang, ternyata bisnismu semakin maju pesat.'' Kata bang tohir.
''Ya baru tahap permula'an ko, tapi alhamdulilah lumayan sih.'' Kata nandi.
Setelah itu nandi dan anak-ank tongkrongan itu, langsung menyeripit kopinya masing-masing, yang terus disambung dengan hisapan roko.
''Ternyata bang kidal asiik ya temen-temen, baik lagi.'' Ujarnya.
''Ya kita kan harus banyak berbuat baik pada sesama.'' Ucap nandi.
''Iya bang kita, sudah tau sepak terjangnya abang dari mulai hidup dijalanan, sampai bisa sukses seperti sekarang ini.'' ujar bang tohir.
''Iya bang tohir, kalau gua ingat ke masa itu rasanya gua orang yang paling banyak berdosa, makanya setelah gua lepas dari dunia jalanan, gua beritikad ingin banyak menolong orang.'' Ucap nandi.
''Jadi bang tohir sama bang kidal sudah saling kenal toh.'' Saut salah satu dari mereka.
''Iya, siapa yang gak kenal sama sepak terjangnya bang kidal, dulu bang kidal sangat kejam dalam membantai musuh-musuhnya, ya karena hidup dijalanan itu ya seperti itu.'' Ujar bang tohir.
setelah itu malam pun tidak tersa terus bergeser, nandipun pamit pada bang tohir dan anak-anak tongkrongan itu unyuk segera pulang kerumah.
''Btw gua pamit dulu ya, pesan saya buatlah hidup kalian menjadi lebih baik, karena hidup dijalanan itu penuh dengan resiko dan.masalah yang tak kunjung hentinya, assalam mualaikum.'' Ucap nandi.
''Wa alaikum salam, hati-hati bang, oh iya makasih sudah berbagi pengalamannya, sukses selalu bang kidal.'' Jawab semua yang ada disitu.
''Oke, terima kasih.'' Ucap nandi sambil menghidupkan kembali motornya.
Setelah itu nandi melakukan lagi perjalanannya yang hanya tinggal beberapa kilo saja, motor terus melaju menyusuri jalan delima.
Nandi yang terus melaju dengan sepeda motor, ketika sudah mulai memasuki play over jalan delima ada sebuah mobil honda jaz warna hitam mendekati maotornya nandi, sambil klakson berbunyi beberpa kali.
Tid tidid.
Nandi terus menoleh kearah mobil tersebut, dan sipengandara mobil itu pun membuka kaca depannya sambil memanggil.
''Haiii... Aa nandi.'' Panggil seorang cewe dari pengendara mobil honda jaz tersebut.
Nandipun langsung berhenti.
''Haii nina, habis dari mana lo'?.'' Tanya nandi.
''Gue sengaja mau kerumah mau ketemu sama astuti.'' Kata nina.
''Sudah malam begini, ya sudah lo' jalan duluan biar gua ngikutin dari belakang.'' Ucap nandi.
''Baik aa.'' Jawab nina sambil mengendalikan lagi setirnya, dan mobilpun kini melaju menuju gang si'iran.
Tidak lama kemudian nina dan nandi sudah tiba didepan rumahnya nandi, dan mobilpun langsung terparkir masuk garasi, yang kebetulan kosong, karena mobilnya pak dirman diparkir dilapak samping rumah.
Nandi lalu turun dari motornya, dan ninapun membuka pintu depan mobilnya itu.
''Ayo nin kita masuk.'' Ajak nandi.
Setelah itu munculah astuti, yang sebelumnya sudah nina hubungi.
''Hai nin, kenapa tidak dari siang aja lo' kesininya, gue ngeri lihat lo jalan sendiri dimalam begini.'' Sapa astuti.
''Ooh rupanya kalian sudah kontekan sebelumnya .'' Ujar nandi.
''Iya aa nandi, kalau belum kontekan sebelumnya mana berani gue datang kesini dimalam begini.'' Jawab nina.
''Emang ada apa sih ko kalian kaya lagi ada penting begitu?.'' Tanya nandi.
''Ya dibilang penting, ya kagak juga, dibilang nggak, yan penting juga sih.'' Jawab nina.
''Wah bingiung juga ya kalau jawabannya begitu.'' Ucap nandi.
Setelah itu nina dan astuti memasuki kamar astuti.
Sedangkan nandi duduk sendiri dikursi teras depan rumahnya.
''Ko tidak ada rasa ngantuk sedikitpun, dari pada bengong mending gua bikin kopi.'' ucap nandi.
Nandi langsung masuk rumah, dengan tujuan keruangan dapur untuk membuat secangkir kopi, terus nandi mengambil sebuah gelas dirak, dan dituangkan dua sendok bubuk kopi pemberian mang udin, terus ditambahin satu sendok gula aren yang sudah dihaluskan, setelah itu diseduhnya pake air panas dari termos.
\=\=\=\=\=\=\=¤¤¤¤¤¤¤¤¤\=\=\=\=\=\=\=\=
Bersambung.
Dalam episode selanjutnya, ikuti terus kelanjutannya, jangan lupa, like, comentar, favorit, ranting dan votenya.
Terima kasih atas dukungannya dari semua, salam sehat dan sukses selalu.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=Selamat membaca\=\=\=\=\=\=\=\=