SI KIDAL SANG PENOLONG

SI KIDAL SANG PENOLONG
Si kidal sang penolong eps 159


__ADS_3

Di akhir episode 158, Astuti berhasil melumpuhkan orang yang mau mengambil mobil pick up kepunya'an ayahnya, hanya dengan beberapa jurus saja.


Sementara pak Dirman yang mempunyai kepandaian bela diri silat clasik, begitu tajam dan liar pandangannya, dan begitu gesit dalam menghindar atau mengcaver pukulan dan tendangan lawannya.


Mungkin sebelumnya kedua pelaku itu, menganggap enteng pada pak Dirman dan Astuti, ternyata kenyata'annya mereka seperti mendobrak sebuah batu cadas yang sangat keras, seperti yang di alaminya sa'at menghadapi pak Dirman jawara sesepuh gang Si'iran.


Sebruuuttt..


Orang itu menyerang pak Dirman dengan gaya bela diri coboy, dengan tubuh yang sangat lentur pak dirman mengelak, sambil tangan kirinya menggunting pukulan lawan.


Duukk...


Guntingan pak Dirman membentur pergelangan tangan lawan.


Adaaawww..


Teriak kesakitan terdengar dari mulut orang itu sambil memegang pergelangan tangan kanannya oleh tangan kiri yang terasa sakit.


Tapi orang itu cukup punya nyali juga, ia tidak pantang menyerah lalu ia berusaha untuk menyerang lagi pak Dirman, dengan tendangan-tendangannya yang sudah tidak beraturan.


Bagi pak Dirman tentu sangat menguntungkan, karena serangan yang membabi buta, itu sebuah serangan yang tanpa tehnik, taktik dan siasat.


Begitu orang itu melakukan tendangan-tendangannya pak Diman hanya mengelak sedikit saja, dan orang itu terus menyerang, sehingga tanpak di sadari bahwa pak Dirman telah merubah jurusnya dengan ilmu karuhun.


Jurus maung lugay, kedua pukulan bertubi-tubi yang pak Dirman lancarkan telah mendobrak dada dan ulu hati orang itu, yang disusul dengan totokan guntaw, jari-jari pak Dirman bagain batangan besi yang keras melumpuhkan urat nadi orang itu.


Buk


Buk..


Deeeaaassss.....


Aauuuggghhhh....


Terdengar lagi jerit kesakitan dari orang itu besama'an dengn terpentalnya tubuh hingga beberapa meter.


Bruuukkkk..


Tubuh tinggi besar itu ambruk di tanah, wajah sangar kini tidak nampak lagi, yang ada hanya mata terpejam dengan raut muka yang nampak seperti tertidur pulas.


Pak Dirman dan Astuti lalu membangunkan kedua orang itu lalu di boyongnya menuju ke rumahnya, dan Astuti mencoba menghubungi Nandi sampai berkali-kali, tapi tidak di angkatnya juga, lalu Astuti mengirimkan sebuah chat di via Whatssap pada Nandi.


Sepuluh menit kemudian, ketika Pak Dirman lagi mengompres kedua orang itu, Nandi datang beserta anak istri.


"Ada apa sih pak, lalu siapa orang ini?." Tanya Nandi.


Kemudian Astuti menceritakan kejadiannya secara mendetil.


"Ooh begitu ceritanya, ko belum sadar juga kedua orang itu, kalian apakan?." Tanya Nandi.


"Yang nama berkelahi, ya pasti kena pukulan atuh aa, gimana sih aa Nandi." Ujar Astuti.


"Ya sudah, tolong dek ambilin air putih mentah se ember." Ucap Nandi.


Kemudian Astuti pun langsung pergi ke kamar mandi untuk membawakan air se ember, tidak lama kemudian Astuti telah kembali dengan membawakan apa yang Nandi minta.


"Ini aa, airnya." Ujar Astuti.


Nandi langsung membuka sebuah benda yang melingkar di lehernya, lalu di kepalnya oleh tangan Kanan sambil memejamkan matanya.


Setelah itu sebuah kalung yang bentuknya sangat jelek, di celupkannya ke dalam se ember air.


Setelah itu kalung pun di angkatnya, lalu air yang di ember tersebut di pake buat mengompres dan membasuh luka yang mereka alami.


Sepuluh menit kemudian kedua orang itu langsung siuman, perlahan mereka menggerakan jari-jari tangannya, lalu membuka matanya pelan-pelan, nampak terlihat oleh mereka banyak orang berdiri.


"Dimana aku." Sontak mereka kaget.


Lalu Astuti menurunkan tubuhnya dengan berjongkok dan berkata "Kalian masih ingat saya, kalian ada di rumah saya, dan kalian pinsan terus saya dan bapak saya membawa kalian kesini untuk di obati, dan kalau kami kejam, tadi juga sudah kami bawa ke kantor polisi." Ujar Astuti.


"Jangan, jangan bawa kami ke kantor polisi, dan kami minta ma'ap, atas kelakuan kami ." Ujarnya dengan melas.


"Lalu kenapa, kalian memecahkan kaca mobil pick up milik saya, kalian mau mencuri?." Tanya pak Dirman.


"Jujur aja, iya pak kami hilap dan gelap mata, karena terdesak oleh kebutuhan ekonomi." Jawabnya.


"Berarti kalian bukan sekali dua kali melakukan ini?." Tanya Nandi.


"Tidak pak, kami baru kali ini melakukannya, sumpah." Jawabnya sambil mengacungkan ke dua jarinya

__ADS_1


"Apakah bisa di percaya sumpahmu itu, atau karena kalian takut saya bawa ke pihak berwajib untuk di adili." Gertak Nandi.


"Betul pak saya gak bohong, saya melakukan ini karena terdesak biaya rumah sakit, istri saya lagi dirawat dengan biaya yang tidak sedikit." Ujarnya.


Setelah Nandi, Astuti dan pak Dirman mendengar pengakuan dari orang itu, mereka saling pandang seperti lagi menimbang-nimbang penjelasan dari orang itu, lalu Nandi berkata.


"Oke, kali ini kami mungkin percaya, tapi setelah kami ada buktinya." Ujar Nandi.


"Buat apa saya bohong pak, kalau bapak tidak percaya, malam ini juga saya siap untuk membuktikannya, istri saya di rawat di Rumah sakit harapan." Jelasnya.


"Ya sudah kalau begitu, lantas temenmu ini siapa?." Tanya Nandi.


Sebelum orang itu menjawab, temennya langsung berkata.


"Saya cuma di ajak oleh dia pak, untuk mengawasi kalau ada orang atau ronda." Jawabnya.


"Iya pak, apa yang dia bilang itu benar adanya begitu, saya ajak untuk mengawasi saja." Ujar orang itu membenarkan ucapan temannya.


"Oke kalau begitu, malam ini juga kita ke Rumah sakit harapan." Ujar Nandi.


"Baik pak." Ujar orang itu.


Lalu Nandi berkata sama Sindi dan Anggita.


"Sayang dan kamu dek gita jangan ikut, sementara kamu disini saja ditempat bapak, sebelum ku datang, biar aku dan dek Astuti aja yang berangkat." Pesan Nandi.


"Baik sayang." Ucap Sindi.


"Ayah hati-hati." Ucap Anggita.


"Iya sayang terima kasih ya, mmuuaachh." Ucap Nandi sambil menurunkan tubuhnya mencium pipi putrinya.


Setelah itu Nandi pergi kerumah untuk mengeluarkan mobilnya, lalu Astuti dan kedua orang itu berjalan mengikuti Nandi.


Tidak lama kemudian mobil pun sudah berada di luar pintu gerbang, lalu Astuti masuk dan duduk di depan di sampingnya Nandi, dan kedua orang itu duduk di jok bagian belakang, kemudian Nandi berbisik pada Astuti.


"Dek kamu sudah bawa duitnya." Bisik Nandi.


"Sudah Aa." Jawab Astuti.


"Ya sudah kalau begitu." Ujar Nandi sambil menyalakan mobil pajero new sport.


Malam pun nampak sepi, dan lalu lalang kendara'an nampak terlihat cuma satu dua, jadi Nandi bisa leluasa dalam melajukan kendara'annya supaya bisa lebih cepat sampai di Rumah sakit harapan.


Tidak lama kemudian Nandi sudah sampai di depan RSh, lalu Nandi melaju masuk ke area parkiran, menuju tempat yang kosong.


Setelah mobil terparkir, mereka pun langsung keluar dari dalam mobil tersebut, sebelum memasuki kedalam Rumah sakit Nandi bertanya pada orang itu.


"Oh iya kang saya belum tau namamu siapa?." Tanya Nandi.


"Nama saya Parman pak." Jawabnya.


"Lalu istrimu di rawat disini, sakit apa?." Tanya Nandi.


"Sakitnya lambung pak, sudah kronis, dan saya butuh biaya buat bayar rawat inap selama seminggu, dan kalau malam ini saya sudah bisa melunasi segala biaya administrasinya, besok sudah diperbolehkan pulang, begitu pak." Ujar Parman.


"Ooh begitu, lalu istrimu namanya siapa, dan di rawat di kamar no berapa?." Nandi bertanya lagi.


"Istri saya namanya Asih, dirawat di ruangan no 23." Jawab Parman.


"Ya sudah, sekarang kamu jalan aja duluan, saya mau beli roko dulu." Ujar Nandi.


Setelah itu Parman melangkah berjalan masuk ke dalam Rumah sakit tersebut.


Sementara Nandi berbincang-bincang dulu dengan Astuti sebelum mereka masuk.


"Nanti kamu tunggu aja di luar, dan abang mau memastikan apa benar Parman itu lagi kepepet biaya perawatan istrinya." Ujar Nandi.


"Oke aa." Jawab Astuti.


Kemudian setelah itu Nandi dan Astuti berjalan masuk menyusuri lorong coridor, sambil lihat-lihat nomor ruangan 23.


Setelah jauh berjalan Nandi pun menemukan ruangan rawat inap dengan nomor 23, lalu Nandi mendekati ruangan tersebut, ketika Nandi mau mengetuk pintu yang mau memasuki ruangan 23, tiba-tiba pintu terbuka bersama'an dengan keluarnya seorang wanita berpakaian seragam putih, dan bertanya?


"Ma'ap, bapak ini siapa, dan ada perlu apa ke ruangan pasen?." Tanya sang suster dengan ketatnya.


"Saya saudaranya buk Asih, mau jenguk sus." Jawab Nandi.


"Oh saudaranya buk Asih, silahkan di dalam juga ada suaminya, tapi cuma satu orang saja yang di perbolehkan, nanti giliran." Ujar Suster.

__ADS_1


"Iya terima kasih Sus." Ujar Nandi sambil melangkah masuk keruangan tersebut.


Setibanya di dalam lalu Parman menghampiri Nandi dan berkata.


"Inilah istri saya pak." Ucap Parman.


Nandi sangat tersentuh hatinya, ketika melihat kondisinya istri Parman, yang kurus kering, lalu Nandi duduk di kursi yang di sediakan oleh Parman.


"Assalam mualaikum buk." Sapa Nandi.


Dengan suara yang masih parau dan lemas, mungkin karena pengaruh dari obat dan inpusan menjawab salam Nandi.


"Wa alaikum salam, bapak ini siapa?." Tanya Asih.


"Saya temennya Parman, bagai mana keada'an ibuk sekarang sudah membaik?." Tanya Nandi.


"Ooh temennya kang Parman, Alhamdulilah pak sekarang ini keada'an saya sudah jauh lebih baik." Jawabnya.


"Syukur kalau begitu, nanti kalau ibuk sudah pulih, jangan lupa di jaga pola makannya ya, saya selaku temennya kang Parman, cuma bisa mendoakan ibuk, sehat-sehat selalu selamanya." Ujar Nandi.


"Amiiin terima kasih pak." Jawab Asih.


"Sama-sama buk, ini saya bawakan makanan untuk membantu memulihkan penyakit ibu." Ujar Nandi sambil beranjak dari tempat duduknya karena ada nada notipikasi sebuah pesan masuk di handponnya Nandi.


"Bentar ya kang ada pesan nih, ya sudah akang temenin lagi istrinya." Ujar Nandi.


Parman lalu duduk di kursi yang nandi dudukin tadi, sementara Nandi meraih handponnya di saku jaket bagian dalam, lalu di bukanya ternyata ada sebuah chat dari Astuti.


📱.Astuti "Gimana aa?."


Kemudian nandi membalas chatnya dari Astuti.


📱.Nandi "Benar dek, istrinya lagi di rawat dan kondisinyapun sangat mengkhawatirkan, nanti ku kirim potonya, sekarang kamu pergi ke tempat kasir dan bayar semua biaya perawatan atas nama buk Asih ruang rawat no 23."


📱.Astuti "Siap 86."


Setelah itu Nandipun langsung menutup handponnya.


Sedangkan Astuti langsung pergi menuju ke tempat kasir guna melaksanakan perintahnya Nandi, setibanya di tempat.


"Permisi Sus." Ujar Astuti.


"Iya buk ada apa?." Tanya Suster.


"Mau lihat biaya pengobatan dan perawatan, atas nama buk Asih berapa?." Tanya Astuti.


Kemudian susterpun mengecek daptar pasen atas nama Asih dan biaya yang harus di bayar.


"Buk Asih, yang di rawat di ruang no 23, yang menderita asam lambung sudah kronis, lalu ibuk sebagai apanya buk Asih?." Tanya Suster.


"Saya saudara sus." Jawab Astuti.


"Ooh begitu, inilah rinciannya dari mulai masuk Rumah sakit sampai hari ini." Ujar suster sambil memperlihatkan rincian biaya pengobatan dan perawatan.


Tidak menunggu lama lagi, Astuti langsung mengeluarkan uang dari dalam tasnya yang masih terikat rapi untuk membayar segala biaya pengobatan dan perawatan buk Asih, sebesar yang tertera di daptar rincian tersebut.


"Ini Sus, coba di hitung lagi takutnya ada yang kurang." Ujar Astuti.


Suster pun lalu meraih uang dari tangan Astuti yang masih terikat, lalu dihitung dengan mesin penghitung uang.


Setelah itu Suster pun berkata.


"Sudah pas semuanya, ooh iya atas nama sipa?." Tanya Suster.


"Ma'ap orang yang membayar biaya pebgobatan buk Asih, suruh merahasiakan identitasnya, tolong di jaga ya sus privasinya." Ujar Astuti.


"Siap buk, pihak Rumah sakit akan selalu merahasiakannya." Ujar Suster


Setelah itu Astuti pun pamit pada suster, lalu berjalan menyusuri lorong coridor menuju tempat di mana Nandi berada.


******


Bersambung


Terima kasih pada kaka author dan para reader, yang sudah memberikan dukungannya.


Selamat menunaikan ibadah puasa, semoga rijkinya melimpah, salam sehat dan sukses selalu.


"Assalam mu'alaikum"

__ADS_1


__ADS_2