SI KIDAL SANG PENOLONG

SI KIDAL SANG PENOLONG
Si kidal sang penolong eps 155


__ADS_3

Ketika matahari tepat berada di atas ubun-ubun kepala, Nandi lagi melaju dengan kendara'annya menuju jalan ketupat.


Karena Nandi mendapat kabar dari Pandi tentang Astuti yang datangnya siang dan seperti habis berantem karena bajunya yang kotor dan kusut, begitu menurut kabar yang Nandi terima dari Pandi.


Nandi melaju dengan kecepatan tidak terlalu kencang, karena teriknya cahaya matahari yang kian membakar ditambah debu-debu polusi jalanan membuat pandangan, merasa tidak nyaman.


Ketika itu Nandi terkejut dikala mendengar suara yang menjerit dari arah belakangnya, lalu Nandi menolehkan pandangannya ke belakang bersama dengan berhentinya laju kendara'an yang ia tunggangi.


Nampak terlihat oleh Nandi se orang wanita penjual goreng-gorengan lagi memunguti dagangannya yang berserakan di jalan, kemudian Nandi turun dari motornya dan memburu pada wanita tersebut.


"Ibuk kenapa?." Tanya Nandi.


Wanita itu pun langsung mengangkat mukanya ke atas dengan wajah melas dan berkata.


"Ini nak, pas ibuk mau nyebrang ada motor kencang lalu ibu kaget dan dagangan ibuk tumpah semua." Ujarnya.


"Maksudnya ibuk kesenggol oleh motor?." Tanya Nandi.


"Tidak nak, ibuk cuma kaget aja, dan dagangan ku kotor semua, nasib-nasib.'' Ujar si ibuk.


"Ya sudah tidak usah di pungutin lagi dagangannya, itu sudah kotor, nanti kasihan yang belinya, sudah kotor begitu.'' Ucap Nandi.


"Ya terus gimana nak, mana belum terjual sama sekali.'' Ujar si ibuk.


"Sekarang gini aja buk, itu dagangannya modal berapa semua?.'' Tanya Nandi.


"Semua sama minyak goreng, abis dua ratus ribuan kurang lebih nak.'' Ujar si ibuk.


Kemudian Nandi mengeluarkan dompetnya dari balik saku celananya bagian belakang, lalu diambilnya isi dari dalam dompet tersebut.


"Ini buk, saya kasih ibuk dua ratus lima puluh ribu, anggap aja ini sebagai ganti modal ibuk, yang hangus.'' Ujar Nandi sambil memberikan uang pada wanita paruh baya.


Roman wanita paruh baya itu spontan langsung kaget bercampur senang "Kenapa kamu ganti'in nak, kan ini tidak ada sangkut pautnya dengan kamu?.'' Tanya wanita itu.


"Tidak apa buk, saya iklas membantu ibuk, yang sudah susah payah bikin dagangan, sementara dagangan ibuk tidak terjual sama sekali, aggap saja saya yang sudah membeli gorengan ibuk, tapi ingat itu buang aja karena sudah kotor dan tidak layak lagi untuk di makan.'' Ujar Nandi.


Kemudian wanita paruh baya itu mengangkat tangan, dan menerima uang dari huluran tangannya Nandi.


''Terima kasih nak, sungguh mulia sekali hatimu, semoga apa yang telah kamu berikan pada ibuk, Allah menggantinya berlipat-lipat." Ujar wanita itu sambil membungkukan badannya, tanda ucapan terima kasihnya pada Nandi.


"Iya sama-sama buk, ya sudah kalau begitu saya tinggal dulu, dan ibuk hati-hati bila mau nyebrang lihat dulu pada ke dua arah, sekiranya jalan sudah kosong dari dua arah, barulah ibuk melakukan penyebrangan." Ujar Nandi.


"Iya nak siapa?." Tanya wanita paruh baya tersebut.


"Kenalkan nama saya Nandi buk." Jawab Nandi.


"Terima kasih nak Nandi." Ujar wanita itu:.


Nandi pun menjawab sambil melangkahkan kakinya menuju pada motornya yang lagi terparkir di pinggiran jalan.


Lalu Nandi menyalakan motornya dan langsung tarik gasnya, motor pun melaju menuju jalan ketupat.


Tidak lama kemudian Nandi suryaman telah sampai di tempat, lalu di parkir di samping motornya Astuti, kemudian Nandi berjalan ke arah Gito yang lagi sibuk dengan tiga anak buahnya.


"Assalam mu'alaikum." Sapa Nandi.


"Wa alaikum salam." Jawabnya serempak.


"Pak bos." Sapa Gito.


Kemudian ke tiga anak buahnya Gito pun langsung menyapa pada Nandi selaku bos besar di perusaha'an Pt Anggita surya mandiri.


"Ada miting ataukah gimana?." Tanya Gito.


"Ku kesini ada kabar dari Pandi mengenai Astuti." Ucap Nandi.


Gito serasa di ingetin tentang Astuti, yang datang siang, dengan pakaiannya yang kotor dan kusut, lalu Gito berkata.


"Iya betul, ku serasa di ingetin, buk Astuti datangnya siang dan pakaiannya kotor, saya yakin buk Astuti seperti abis berantem." Jelasnya Gito.


"Lalu kamu tanya gak, pas kedatangannya." Ujar Nandi.


"Iya, Pandi nanya sih, tapi buk Astuti cukup dengan menjawab, tidak apa-apa, ya pingin jelasnya mendingan tanya langsung pada buk Astuti." Jawab Gito.


"Ya sudah, saya kedalam dulu ya." Ujar Nandi.


Kemudian Nandi melangkahkan kakinya, untuk menemui Astuti di ruangan kerjanya.


Setibanya di dalam, nampak Nina yunita lagi pokus di meja kerja, lalu Nandi menyapanya.

__ADS_1


"Assalam mu'alaikum."


Ninapun menoleh kan pandangannya ke arah datangnya suara itu sambil menjawab salam.


"Wa alaikum salam, pak Nandi, di kira siapa." Jawab Nina.


"Buk Astutinya ada di dalam?." Tanya Nandi.


"Oh ada pak, apa perlu saya panggil.'' Ujar Nina.


"Biarin tidak usah, biar saya masuk menemuinya.'' Jawab Nandi.


Setelah itu Nandi mengayunkan tungkainya mendekati pada sebuah pintu masuk ke ruangan kerjanya Astuti.


Tok


Tok


Tok


"Assalam mualaikum."


Tidak lama lagi dari dalam terdengar menjawab.


"Wa alaikum salam, silahkan masuk.''


Lalu Nandi mendorong pintu tersebut bersama'an dengan langkah kakinya.


Astuti langsung terperanjat kaget ketika yang datang itu adalah abangnya Nandi suryaman pemilik perusaha'an Pt Anggita surya mandiri.


"Aa Nandi, ada apa aa, silahkan duduk?." Tanya Astuti.


Sebelum Nandi menjawab pertanya'an dari adiknya, terlebih dahulu Nandi menurunkan tubuhnya duduk di kursi.


Lalu Astuti meraih sebuah telpon, kemudian di hubungkan pada Nina yunita.


📞.Astuti ''Buk Nina, tolong suruh Ob untuk membawakan segelas kopi ke ruangan kerjaku.''


📞.Nina "Baik buk.''


Lalu telpon pun di tutupnya, tiga menit kemudian terdengar suara yang mengetuk pintu, dan Astuti pun mempersilahkan untuk masuk, ternyata yang datang itu, se orang Ob yang membawakan pesanan dari Astuti.


"Ya sudah simpan di meja, makasih ya mang.'' Ujar Astuti.


"Iya buk sama-sama."


"Di minum kopinya aa.'' Ujar Astuti.


Perlahan tangan kanan Nandi meraih pada sebuah gelas yang berisikan kopi hitam kental, lalu di seripitnya, sedikit-sedikit karena kopi masih panas terasa.


Lalu Nandi mulai berkata, bersama'an dengan mendaratnya segelas kopi di meja.


"Sekarang gua mau bertanya sebagai abangmu, bukan sebagai atasan." Ujar Nandi.


Sejenak Astuti tertegun dengan perkata'annya Nandi, apa yang hendak Nandi pertanyakan pada dirinya, lalu Astuti mulai berkata.


"Mau bertanya apakah gerangan abangku sayang." Ujar Astuti agak sedikit bergurau.


"Gua serius nih, tadi kamu kenapa datang nya siang, lalu pakaianmu pada kotor kenapa pula itu?.'' Nandi bertanya.


Astuti tersenyum tipis, baru ia paham akan kedatangannya Nandi.


"Ooh jadi aa Nandi sengaja datang kesini cuma mau menanyakan itu." Ujar Astuti.


"Iya dek, gua selaku abangmu pasti kuatir dengan kabar yang gua terima tadi, makanya gua langsung kesini.'' Ucap Nandi.


Lalu Astuti pun menceritakan kejadian tadi pagi sewaktu ia mau berangkat kerja, pas mau memasuki jalan delima yang tiba-tiba ada mobil Toyota portuner melaju dengan kencang dari arah belakangnya, lalu di kejarnya pengendara mobil itu sampai terjadi perkelahian yang durasinya cukup lumayan lama.


"Nah begitu aa ceritanya, dan lelaki itu bela dirinya lumayan hebat, sampai-sampai gue terkena pukulannya dia.'' Ujar Astuti.


"Ooh begitu, walaupun lo' punya kepandaian bela diri di atas rata, tapi gua selaku abangmu tetap aja kuatir, kan lo' cewe.'' Ujar Nandi.


"Terima kasih aa, aa Nandi memang abang gue yang sangat peduli pada saudara dan orang lain, makanya orang-orang menjuluki abang Si kidal sang penolong, gue bangga punya abang kaya aa, serasa gue dilindungi benar.'' Ujar Astuti.


"Ah lo' lebay.'' Ucap Nandi.


"Tuh kan! aa di puji kagak mau, aneh.'' Ujar Astuti.


"Gua gak butuh pujian, karena kalau orang sudah terlena dengan pujian orang, secara tidak langsung orang itu sudah mulai menunjukan kelemahannya.'' Ujar Nandi.

__ADS_1


"Ooh ya, widiih kata-kata aa seperti seorang pujangga aja.'' Ujar Astuti.


Lalu Nandi meraih lagi pada gelas kopi yang sudah mulai agak dingin.


Seruupuuuuuutt....


Suara seripitan kopi di gelas kaca, begitu nikmat terasa, lalu di nyalakannya sebatang roko dan di isapnya, dan asap putih terhempas keluar dari mulutnya Nandi.


"Nikmat benar kopi ini, apa selera gua lagi bagus gitu.'' Gerutu Nandi.


"Ya iya atuh aa, kalau lagi tidak bagus mana mungkin senikmat itu aa minum kopinya.'' Ujar Astuti.


"Ooh iya, gimana klien kita yang dari semarang, bagus gak pembayarannya?.'' Tanya Nandi.


"Bagus aa, selalu tepat waktu, walau terkadang agak lambat tapi gak pernah nunggak.'' Jawab Astuti.


"Baiklah kalau begitu, gua keluar dulu kurang etis ngopi di ruangan kerja." Ujar Nandi.


Setelah itu Nandi keluar dari ruangan kerjanya Astuti sambil membawa segelas kopi.


Setiba di depan ruangan kerjanya Nina Nandi bertanya pada Nina.


"Buk Nina, pak Pandi dimana?."


"Tadi di gudang lagi ngecek barang yang mau keluar hari ini." Jawab Nina.


Selepas itu, Nandi langsung keluar dari kantor, lalu berjalan menuju gudang, untuk menemui Pandi.


Setiba di depan gudang nampak Pandi lagi sibuk mencatat barang-barang yang akan di kirimkan besok hari, dan Nandi pun tidak berani mengganggu Pandi yang nampak sibuk bekerja.


Didalam keseriusannya dalam bekerja, Pandi seperti merasakan seperti ada orang yang memperhatikannya dengan intens, lalu Pandi menolehkan pandangan ke arah kanan, nampak terlihat sosok pria jangkung lagi duduk, Pandi kaget, ketika baru saja mengayunkan tungkai kaki kanannya, pria itu berkata.


"Tuntaskan dulu kerjamu, saya gak suka pada orang yang melalaikan pekerja'an.'' Ujar pria tersebut yang tak lain adalah Nandi.


Pandi membalasnya dengan senyuman, lalu ia kembali pokus pada pekerja'annya, yang tinggal sedikit lagi.


Setelah tujuh belas menit Nandi duduk di bangku besi, Pandi pun sudah selesai mengecek barang-barangnya, lalu ia berjalan menuju pada Nandi yang lagi duduk di bangku.


"Selamat siang menjelang sore pak bos, ada yang perlu saya bantu." Sapa Pandi.


"Tidak ada, kita bicara sekarang sebagai sahabat aja.'' Ujar Nandi.


"Ooh ko bisa, kan ku masih jam kerja pak bos.'' Jawab Pandi.


''Hanya tinggal satu jam lagi, terus kerja'anmu sudah beres semua?.'' Tanya Nandi.


"Sudah pak bos." Jawab Pandi.


''Ya sudah, sekarang kamu serahkan dulu berkas itu pada buk Nina, saya tunggu di tempat Gito.'' Ujar Nandi.


"Baik pak bos." Ujar Pandi sambil melangkah menuju keruangan kerjanya Nina yunita untuk menyerahkan berkas tersebut.


Sedangkan Nandi berjalan menuju pada bengkel tempat Gito bekerja.


Setibanya Nandi di bengkel, lalu duduk di kursi sambil menyenderkan tubuhnya dan berkata.


"To sini." Panggil Nandi pada Gito.


Gito pun langsung beranjak dari tempat kerjanya, untuk menenuhi panggilannya Nandi.


"Ada apa pak bos?." Tanya Gito.


"To bikinin kopi senja nih." Pinta Nandi..


Setelah itu Gito pun langsung menyuruh anak buahnya untuk pesan kopi pada kios penjual kopi yang tak jauh dari bengkel.


Kemudian anak buah Gito pun langsung beranjak dari tempat kerjanya, pergi ke kios penjual kopi.


Tidak lama kemudian ia telah kembali dengan membawa nampan yang berisikan enam gelas kopi yang masih panas.


********


Bersambung.


Salam sejahtra, sehat-sehat dan sukses selalu.


Terima kasih banyak atas dukungan dari kaka-kaka Author dan para reader, semoga selalu berkah dan rijki yang melimpah.


"Assalam mualaikum"

__ADS_1


__ADS_2