
Ketika hari menjelang senja, Wanda dan kedua adiknya sudah keluar dari kampung jati, dan lagi berdiri dipinggiran trotoar jalan Pelangi, untuk mencegat sebuah angkutan umum yang menuju ke jalan Delima.
Sekitar lima belas menit, Wanda, Wawan dan Wiwin berdiri di bahu jalan menunggu sebuah benda besi yang meluncur mendekat ke arah mereka.
Dengan mengacungkan satu telunjuk, Sebuah mikrolet pun berhenti, Wanda dan kedua adiknyapun lalu naik dan masuk satu per satu kedalam, dan duduk di jok yang masih terlihat kosong.
''Jalan Delima ya bang, Km 90.'' Ujar Wanda.
''Baik dek.'' Jawabnya.
Kemudian Mikrolet warna hijau kuning, itu melajukan kendara'annya sambil memanggil-manggil penumpang di setiap pertiga'an jalan, kalau ada penumpang, mikroletpun berhenti, terkadang suka tem dulu di pertiga'an dan di tempat-tempat keramaian, untuk mencari penumpang.
Kemudian ada tiga orang penumpang laki-laki masuk dan duduk berhadapan dengan Toglo, dengan seluruh badan dibagian tangan di penuhi dengan gambar-gambar tato, Toglo memandang dengan terus memperhatikan gerak geriknya mereka, Ketika pandangan Toglo beradu dengan mereka, salah satu dari mereka yang mengenakan pakaian jaket levi's dan bertopi serta anting di sisi kiri kanan telinganya, berkata.
"Heh bang kenapa lo' pandangin kita kaya gitu.'' Ujar mereka.
''Sory bang, mungkin hanya kebetulan saja, pandangan kita, saling bertemu, ah gua biasa aja.'' Jawab Toglo.
''Ooh gtu ya.'' Ujarnya, sambil berbisik sesama temannya dan saling pandang seperti ada sesuatu yang lagi mereka rencanakan.
Toglo alias Wanda hanya tenang-tenang aja, tapi hatinya waspada, karena toglo mencium aroma yang tidak bersahabat di ke tiga pemuda bertato itu.
Lalu ketiga pemuda itu menyuruh pada sopir mikrolet itu untuk berhenti.
"Bang berhenti disini." Pintanya.
Lalu mikrolet pun berhenti, dan ke tiga pemuda itu langsung memberikan ongkosnya.
Setelah mikrolet berjalan lagi seorang ibu-ibu meminta pada sopir untuk berhenti, ketika ia mau mengambil dompetnya dari dalam tasnya, ibuk itu seperti kaget dan berteriak-teriak.
"Lha ko dompetku gak ada, aduuh gimana nih." Ujarnya.
"Mungkin keselip-selip kali buk, coba cari lagi." Pungkas Wanda ikut bicara.
''Tidak ko tadi ada di dalam tas.'' Ucap si Ibuk.
Lalu sopir mikrolet itu pun bicara.
"Ibuk kalau gak punya uang jangan naik angkot dong, mending jalan kaki aja.'' Ujar sopir angkot agak kesal.
''Beneran bang, tadi dompet aku ada di dalam tas ko, ngapain saya pake bohong bang, kalau saya gak punya uang gak mungkin saya belanja sebanyak ini bang.'' Ujar si ibuk sambil memperlihatkan belanja'annya pada sopir angkot.
"Aaah, alasan aja, saya sering menjumpai modus yang kaya gini.'' Ujar sopir.
Kemudian Toglo ikut bicara untuk meleraikan semua itu.
''Sudah bang, tidak usah berantem, berapa ongkos ibuk ini, biar saya yang bayar." Pungkas Toglo.
"Cuma lima ribu doang." Jawabnya.
Kemudian Toglo alias Wanda mengeluarkan dompetnya, lalu di ambilnya selembar uang se nilai lima ribu rupiah ''Ini bang ongkos si ibuk ini." Ujar Wanda.
"Dan saya yakin ke tiga pemuda itu, membuat saya jadi curiga." Ujar Wanda.
"Terima kasih nak kamu sudah mau menolong ibuk, terus gimana, didalam dompet itu ada surat-surat penting, kalau duit hilang tidak masalah buat ibuk.'' Ujar ibuk itu.
''Ya sudah ibu tunggu disini, dek kamu berani kan pulang sendiri?.'' Tanya Wanda pada kedua adiknya.
''Berani bang.'' Jawabnya.
''Ya sudah adek pulang duluan, abang mau mengejar ke tiga pemuda itu, bang sopir tolong turunin adik saya ini ya di jalan Delima Km 90.'' Ujar Wanda.
''Baik.'' Jawab sopir tersebut.
__ADS_1
Kemudian Wanda dan ibuk itu turun dari dalam mikrolet, sedangakan Wawan dan Wiwin pulang duluan.
''Hati-hati bang Wanda.'' Teriak Wawan dan Wiwin dengan suaranya terpecah karena mikrolet sudah melaju meninggalkannya.
''Iya adik-adiku terima kasih.'' Ujar Wanda.
Kemudian Wanda berlari ke arah ke tiga pemuda itu waktu turun dari angkot yang ia tumpangi.
Dengan sangat kencang Wanda berlari dan akhirnya Wanda pun telah tiba di tempat ketika tiga pemuda itu turun dari angkot, sambil tengok sana tengok sini Wanda mencari keberada'an ke tiga pemuda bertato itu.
''Kemana ya ke tiga orang itu, cepat juga menghilangnya padahal belum begitu lama selisihnya.'' Gerutu Wanda dalam hati.
Wanda terus berputar-putar mengelilingi sekitar tempat itu, ketika Wanda melihat kesebuah tempat sebuah ruko yang kosong nampak jelas terlihat oleh Wanda ada tiga orang pemuda lagi ketawa-ketawa riang sambil menggenggam sebuah benda tipis yang bentuknya seperti sebuah dompet.
''Hahaha.... Hari ini kita dapat rijki yang banyak, coba kalian lihat isi dalam dompet ini, sangatlah tebal, kemungkinan ibuk tadi, baru saja habis mencairkan dananya di sebuah bank.'' Ujarnya.
''Wooww, betul sekali, memang kalau sudah rijki kita takan kemana ya.'' Jawab temannya.
''Hahaha...''
Ketika mereka lagi tertawa riang sambil mengacung-ngacungkan sebuah dompet, tanpa sepengetahuan mereka, kelebatan bayang hitam dengan sangat cepatnya melesat dan menyambar yang lagi mereka genggam itu.
Wes
Wes
Wess....
Hanya dalam hitungan detik benda itu sudah hilang dari genggaman orang itu, mereka pun tersontak kaget sa'at sesuatu yang melesat dan menyambar sebuah dompet yang lagi di genggamannya.
Mereka langsung beranjak dari tempat duduknya ketika pandangan mereka tertuju pada sosok manusia yang berdiri gagah seperti menantang.
''Kurang ajar, rupanya kamu, kembalikan barang itu.'' Teriaknya.
''Ooh rupanya kamu mau jadi pahlawan kesiangan.'' Ujarnya.
''Asal kalian tau, perbuatan kalian sudah merugikan orang.'' Ujar Wanda.
''Apa perdulimu hah.''
Sambil melesat mereka langsung menyerang pada Wanda, karena ingin merebutnya kembali apa yang sudah mereka dapatkan.
Wanda langsung menyelipkan benda tersebut di balik ikat pinggangnya, karena wanda harus segera meladeni serangan ke tiga pemuda itu.
Kelebatan-kelebatan sebuah pukulan dan tendangan mengincar pada Wanda, tapi bagi Wanda tidak membuat diri jadi takut atau hilang nyali.
Dengan cepat Wanda mengelak dan melompat ke tempat yang lebih leluasa.
"Ayo semuanya, serang gua." Tantang Wanda.
"Kurang ajar, sombong sekali kau.''
Heeaaaa, dua pukulan dan satu tendangan melesat ingin melumpuhkan Wanda.
Wanda cukup gesit dan agresip, hanya memiringkan tubuhnya tiga puluh derajat, ketiga serangan pemuda itu makan ruang yang kosong, dari situ Wanda memasukan serangan balasan dengan cepat, dengan jurus hujan deras menyiram bumi.
Buk
Buk
Buk
Tiga pukulan Wanda tidak bisa di hindari lagi telah bersarang di tubuh ke tiga pemuda itu.
__ADS_1
Aaauuggghh...
Terdengar suara mengaduh dari ke tiga pemuda itu, belum saja mereka mengatur keseimbngannya, Toglo alias Wanda memutarkan tubuhnya, sebuah tendangan memutar dengan sangat cepatnya menghantam..
Deeaass
Deass
Deeasss..
Blak
Blak
Blak..
Ketiga pemuda itu langsung jatuh, karena tak kuat menahan dorongan tendangan dari Wanda yang sangat berbobot.
''Ayo bangun kalian semua.'' Ujar Toglo.
Perlahan ke tiga pemuda itu mengangkat tubuhnya, sambil memegang pipinya yang masih terasa sakit.
''Kurang ajar kau, gue habisin lo'.'' Ujarnya sambil mengambil sesuatu di balik bajunya.
Sebruuuttt....
Orang itu melayangkan sebuah stick bas bool mengarah pada kepala Toglo, hanya dengan sekali sentuhan tangan kiri Toglo menangkap pergelangan tangan kanan orang itu yang lagi memegang stick bas bool, lalu sebuah elbo dari Toglo langsung melesat dengan cepat menggedor tulang rahang.
Deeaaasssss.....
Auuugghhhhhhh.....
Keepruuaakk.
Suara meraung kesakitan dari orang itu bersama'an dengan jatuhnya stick bas bool menimpa lantai.
Kini tubuh pemuda itu melayang dan tersungkur tidak berdaya lagi.
''Ayo kalian masih penasaran, serang gua.'' Ujar Toglo menantang kedua orang temannya.
''Ampun bang gue ngaku kalah.'' Ujarnya.
''Gua peringatkan sekali lagi pada kalian, carilah kerja'an yang halal, berhentilah mencopet karena itu merugikan orang dan kalian sendiri akan rugi, coba kalau kalian ketangkap sama masa, bisa kelar hidup kalian, apa perlu nih gua panggil masa.'' Ujar Toglo menakut-nakuti.
Mendengar perkata'an dari Toglo kedua pemuda itu langsung melas-melas minta di kadihani, agar Toglo tidak memanggil masa.
''Ampun bang jangan, saya janji tidak akan mengulang lagi perbuatan begitu.'' Ujarnya.
''Oke kalau begitu, cepat pergi dari sini, sebelum masa pada berdatangan.'' Ucap Toglo.
Kemudian kedua pemuda itu langsung memboyong temannya yang masih tergeletak, dan di bawa pergi menjauh dari tempat itu.
Toglo tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya, lalu ia pun membalikan tubuhnya dan berjalan menuju pada ibuk yang lagi menunggu di tempat yang agak jauh dari situ.
*******
Bersambung.
Terima kasih banyak atas dukungannya, salam sehat dan sukses selalu.
Selamat menunaikan ibadah puasa, bagi kaum muslimin dan muslimat.
''Assalam mualaikum''
__ADS_1