
Setelah semua diperiksa untuk memberi kesaksiannya, pihak kepolisianpun sangat berterima kasih, dengan bantuan kerjasamanya anak-anak gang si'iran dalam memberantas kejahatan.
Kini mereka pun keluar dari kantor polisi, dengan membawa motor bi irah dan motornya doni.
Kelima pemuda gang si'iran kini telah mulai keluar dari area parkiran kantor polisi, melaju dengan cepatnya menuju gang si'iran.
...Singkat cerita......
Mereka pun kini telah sampai didepan rumahnya, setelah motor terparkir, mereka semua duduk dikursi teras depan rumahnya, sedangkan nandi masuk kedalam, nampak bi irah sudah tertidur pulas.
Bu sari sama pak dirman masih asik menonton televisi.
Bu sari terlihat manja, dengan paha pak dirman dijadikan bantal oleh busari, sedangkan pak dirman sendiri asik menonton acara ditelevisi.
''Astuti sudah tidur pak?.'' tanya nandi pada bapaknya.
''Belum, barusan baru masuk kamar, coba aja panggilin.'' Jawab pak dirman.
Baru saja di omongin, astuti langsung keluar dari kamarnya, untuk mengambilkan air minum.
''Belum tidur de?.'' Tanya nandi.
''Belum aa, pasti suruh bikinin kopi ya.'' Jawab astuti.
''Waduuh gimana ya kalau sudah ketauan begini, jadi malu abang.'' Ucap nandi.
''Ya sudah, gue bikinin berapa aa?.'' Tanya astuti.
''Lima gelas de.'' Jawab nandi.
Setelah itu astutipun langsung pergi kedapur, lalu mengambil lima buah gelas, satu persatu dituangkan bubuk kopi dengan campuran gula pasir dikit, terus dtuangkan air panas kedalam lima gelas tersebut dan diaduk-aduk hingga larut dan menyatu, sehingga terciptalah sebuah rasa dan aroma harum dan nikmat.
Kelima gelas yang sudah menjadi sebuah minuman itu, lalu dimasukan pada nampan dan astuti langsung mengantarkannya keluar, nampak empat pemuda gang si'iran lagi pada duduk sambil berlomba mengeluarkan asap dari mulutnya.
Begitu astuti datang membawakan kopi, kamal langsung replek menyambut.
''Waaah ini dia mantap, terima kasih ya tut, makin cantik aja nih.'' Sapa kamal.
''Mulai deh, ngegombal, gue boleh ikutan gak duduk disini.'' Ucap astuti ikut nimrung
''Ya tentu saja boleh atuh.'' Jawab gito.
''Eeh aa kamal dan aa hasan gimana ceritanya, ko wajah kalian berdua membiru begitu.'' Ucap astuti.
''Biasa lelaki tut, ceritanya panjang, untung aja ada nandi, terus gito dan pandi datang, kalau telat sedikit kelar deh hidup kita berdua, oleh orang-orang jahat itu.
''Sini gue kompresin pake air hangat.'' Ucap astuti.
baru aja astuti mau beranjak dari tempat duduknya, nandi datang dengan membawa air hangat dan sapu tangan.
Astuti lalu mengompres luka lebam pada wajah kamal, gito dan pandi melihat tingkahnya astuti pada kamal sempat menyimpan rasa curiga dan penasaran.
Setelah itu gantian giliran hasan yang dikompres, untuk melancarkan perendaran darah yang membeku diwajah mereka berdua.
''Gua gak nyangka, ternyata lo tut perhatian juga sama kamal dan hasan, awas lo nanti bininya hasan cemburu.'' Ucap pandi.
''Ya kagak lah, gue kan cuma menolong, lagian kan banyak orang disini.'' Saut astuti.
''Iya de tut, teh lina bininya hasan sangat posesif orangnya.'' Ucap nandi.
''Ya sudah atuh, maap ya aa hasan jangan salah sangka lo sama gue.'' Ucap astuti.
''Ya kagak lah, justru gua, berterima kasih pada lo tut, sudah mau ngobatin luka gua.'' Ucap hasan.
''Oke, sama-sama, gimana sekarang masih sakit gak?.'' Tanya astuti.
''Alhamdulilah sudah agak enakan, tanks ya tut.'' Ucap kamal.
Kamal merasa ada perasa'an aneh pada diri astuti, dari semenjak naik motor bareng ketempatnya abah haji mansur, dari situ astuti sering sekali memandanhi kamal kalau lagi kerja dengan intens sekali.
''Gua merasakan ada perasa'an cinta pada diri astuti, sebenarnya gua juga suka pada astuti dari dulu, apa mungkin astuti mulai menyukai gua, aah mungkin ini halusinasi gua aja.'' Ucap kamal dalam hatinya.
Apa yang sedang dipikirkan kamal, ternyata astutipun begitu.
''Apa mungkin gue mulai jatuh cinta pada kamal, masa iya sih.'' Gerutu astuti dalam hatinya.
Setelah selesai dikompres, astutipun minta pada kamal dan hasan untuk menceritakan kejadian bi irah sampai dibacok oleh penjahat itu.
Kamal terus menceritakan kejadian dari awal mulai pengejaran hingga doni jatuh bersama motornya karena ditendang oleh kawanan penjahat yang mengikutinya dari belakang, sampai pengejaran masuk hutan, sehingga terjadi pertarungan didalam hutan itu.
''Nah begitu ceritanya, untung abangmu datang terus gito dan pandi nyusul tepat saat gua dan hasan kehabisan tenaga nah disitulah gua dan hasan kena tonjokan berkali-kali.'' Ucap hasan.
''Hebat kalian emang pemberani.'' Ucap astuti.
''Siapa dulu dong bosnya.'' Ucap kamal sambil melirik kearah nandi.
''Ngapain lo pake ngelirik sama gua segala.'' Celoteh nandi.
__ADS_1
''Ya iyalah, karena kita-kita jadi begini, karena berkat lo juga, kita jadi punya kerja'an karena lo juga, kita jadi berani dalam menumpas kejahatan karena berkat bimbingan lo juga.'' Ucap hasan.
''Ya jelas bedalah, kalian itu emang pemberani tapi sembrono tau.'' Ucap nandi.
''Widiiiihh, sampai lupa nih kopi sudah menjadi jeli woy.'' Ucap gito.
''Ooh iya, lagian si lo tut, pake minta diceramahin kamal segala.'' Ucap pandi.
''Ko gue sih yang disalahin, ya salah lo lo semua, kenapa sampai terpengaruh sama obrolan kamal, ya aa ya.'' Ucap astuti sambil menoleh pada kamal.
''Yoo'ii, kamal gitu lok.'' Jawab kamal sambil menyisir-nyisir rambutnya pakai jari-jari tangan.
''Widdiiih, kamaludin, bergaye ala propesor.'' Pungkas hasan.
''Wai hasan bin maun, bukan propesor atuh, dokter kali.'' Ucap kamal.
''Iye sih, pas kalau dokter kamal, tapi waktu dibrojolin lo salah binnya, iya gak.'' Ucap nandi.
Hahahahaha.
Semua orang pun jadi tertawa terbahak-bahak ngeledekin kamal.
''Sue lo semua, enak ya kalian bisa tertawa, awas nanti gua balas.'' Ucap kamal.
''Sudah-sudah, kopinya minum tuh, nanti keburu membeku loh.'' Ucap astuti.
Selepas itu merekapun lalu menikmati kopinya, dan isapan-isapan roko membuat malam itu, makin asik, karena cuaca yang dingin semakin menambah nikmatnya waktu santai mereka.
Selepas itu sehabis mereka bersantai sambil minum kopi, akhirnya merekapun pergi ketempatnya doni, untuk mengetahui kondisi doni setelah terjatuh dari motornya.
Setibanya disebuah rumah yang cukup lumayan besar, dengan textur bangunan masih model klasik, dengan atap rumahnya yang tinggi, dan disetiap bingkai jendelanya masih bercorakan arsitek jaman kolonial, sudah dapat dipastikan usia rumah itu sudah ratusan tahun lamanya.
Nandi lalu mendekati sebuah pintu.
Tok tok tok.
''Assalam mualaikum.'' Sapa nandi sambil mengetuk pintu.
Setelah beberapa menit, terdengar dari dalam menjawab salamnya nandi.
''Wa alaikum salam, siapa diluar.'' jawab seorang wanita.
''Saya tante, nandi.'' Ucap nandi.
''Ooh nak nandi, sebentar ya tante ambil dulu kuncinya.'' Ucap wanita itu.
''Ma'ap tante bila kedatangan kita ini mengganggu istirahatnya tante.'' Ucap nandi.
''Ooh tidak apa-apa nak nandi, kebetulan tante juga belum tidur, ada apa ya, malam-malam begini datang kerumah tante?.'' Tanya wanita itu yang tak lain tante sarah ibunya doni.
''Kita mau menjenguk doni bagaimana keada'annya?.'' Tanya nandi.
''Ooh begitu, doni kayanya sudah tidur, ya sudah kalian masuk dulu, biar tante bangunin.'' Ucap tante sarah.
''Tidak usah kalau sudah tidur, kasihan.'' Ucap nandi.
''Tidak apa nak nandi, sekalian ada yang mau tante tanyakan sama nak nandi.'' Jawab tante sarah.
Setelah itu, nandi, kamal, hasan, pandi dan gito masuk dan duduk disopa ruangan tamu.
Sementara tante sarah menuju kamarnya doni, didorong pintu yang mau masuk kamar doni.
Rekeeettt.
Pintupun terbuka, nampak doni lagi tertidur dengan pulasnya.
''Don, dnii, bangun-bangun.'' Kata tante sarah sambil menggoyang-goyang tubuh doni.
Selang beberapa menit donipun membuka matanya perlahan.
''Ibu.. Ada apa sih bu?.'' Tanya doni.
''Diluar ada nak nandi, katanya mau lihat keada'anmu, emang ada masalah apa dengan kamu?.'' Tanya ibunya doni.
''Ooh iya, bentar ku cuci muka dulu.'' Jawab doni sambil menurunkan kakinya dari tempat tidur.
Lalu doni melangkah menuju wastapel yang ada dekat kamar mandi dalam kamarnya.
Selepas itu doni lalu berjalan menuju keruang tamu untuk menemui nandi, yang di'ikuti oleh tante sarah.
Setibanya diruang tamu, doni memberi salam pada nandi dan kawan-kawan.
''Sudah lama kalian menunggu?.'' Tanya doni.
''Belum sih, baru aja.'' Jawab nandi.
''Ooh iya, kalian mau minum apa, kopi, teh, es jeruk, atau air putih?.'' Tanya tante sarah.
__ADS_1
''Tidak usah tante, terima kasih.'' Ucap nandi.
''Mereka semua biasa kopi bu.'' Pungkas doni.
''Ooh tidak usah tante, kita habis ngopi ko, kalau boleh air putih aja tante.'' Ucap nandi.
''Ooh gitu, ya sudah sebentar ya, tante ambilin dulu.'' Ucap tante sarah sambil melangkahkan kakinya, menuju ruangan dapur untuk mengambil air putih.
''Don sori ya gua baru bisa jenguk lo sekarang, soalnya sepulang gua dari toko sama astuti, langsung gua menyusul kamal.'' Ucap nandi.
''Ya tidak masalah di, lagian gua juga gak kenap-napa ko, cuma luka ringan biasa.'' Ucap doni.
''Coba gua lihat luka lo.'' Kata nandi.
Donipun lalu memperlihatkan lukanya pada nandi, dibagian pangkal lengan, luka lecet kena gesekan dari sebuah benda keras.
''Oh itu, tapi itu juga harus diobatin, takutnya nanti inpeksi lo.'' Kata nandi.
''Iya tenang aja, kalian tidak usah khawatir sama gua, tadi suda pake alkohol dan minyak rem, sekarang sudah keringkan.'' Ucap doni.
''Gua lihat lo terpental jauh, sori gua dan hasan tidak cepat menangani lo dulu, soalnya gua takut kehilangan jejak.'' Pungkas kamal.
''Tidak apa mal, gua juga lebih paham, tapi kalau gua gak pake jaket, ya gak tau dah nasib tangan gua, mungkin akan terkupas kali dagingnya, masih alhamdulilah allah memberi perlindungan sama gua.'' Ucap doni.
''Terus jaket lo sobek kagak?.'' Tanya gito ikut bicara.
''Ya robek dikit doang sih, itu kan jaket kulit asli gua beli waktu dimalaysia.'' Ucap doni.
disa'at itu munculah tante sarah dengan membawakan air minum dan makanan cemilan.
''Ma'ap ya tante agak telat, ayo diminum nak nandi, pandi, gito, kamal, e'eeh ini hasan kan, gimana anakmu udah gede belum?.'' Bertanya tante sarah pada hasan.
''Udah gede sih tante, giginya baru tumbuh satu, hehee.'' Jawab hasan sambil tersenyum.
''Iih kamu mah ada-ada aja.'' Celoteh tante sarah.
''Ya begitulah tante, kalau hasan kadang jawabnya suka aneh-aneh.'' Ucap nandi.
Tante sarah hanya tersenyum manis, biarpun sudah berumur tapi masih kelihatan cantik, padat dan berisi, dengan senyumnya yang lesung pipit nampak terlihat kemanisannya memperindah pemandangan diwajahnya.
Malam pun tidak terasa semakin dingin, nandi dan kawan-kawan langsung pamitan untuk pulang kerumahnya.
•••••••••••
Ke'esokan harinya, disa'at matahari mulai bersinar menyinari bumi, sinarnya yang kuning ke'emasan, menghangatkan susana kota yang semalaman telah diliputi dengan cuaca yang dingin sekali.
Orang-orangpun sudah ramai lalu lalang dengan melakukan aktipitasnya masing-masing.
Sementara ditempatnya nandi, pak dirman dan bu sari lagi sibuk memasak didapur, dan astuti baru pulang dari pasar membeli sayuran, sedangkan nandi lagi menghangatkan tubuhnya dengan segelas kopi hitam panas lagi diseripitnya sedikit-sedikit.
Setelah itu dihispanya sebatang roko djarum super, yang sesekali asapnya dikeluarkannya melalui mulut dan hidung.
''Biasanya bi irah jam segini, sudah gorengan-gerengan, eeh sekarang masih ngorok.'' Gerutu nandi.
Nandi lalu melangkah keluar mengambil kaleng bekas minuman, lalu di ketuk-ketuk pake pentungan sebitan bambu yang sudah dibelah-belah.
''Tong tong tong, gorengan-gorengan...Tong tong tong, gorengan-gorengan.'' Begitu kelakuan nandi dipagi itu.
Astuti sama bu saripun sampai keluar, eeh sesudah itu bi irah langsung bangun lalu beranjak dari tempat tidurnya menuju kearah suara yang menjual gorengan.
''Hai jangan kau bawa gorengan saya.'' Teriak bi irah
Nandi langsung tertawa pas bi irah bangun, langsung keluar mencari orang yang yang menjual gorengan, astuti dan bu sari baru mengerti apa yang telah nandi lakukan, ia langsung cekakak cekikik melihat bi'irah berlari.
Bi irah lirik sana lirik sini, mencari yang menjual gorengan.
Seperti bi irah belum pulih sepunuhnya, sebagian ingatannya masih terbawa dialam bawah sadar, melihat itu nandi langsung mengetuk kembali kaleng itu.
''Tong tong tong gorengan-gorengan...Tong tong tong, gorengan gorengan.'' Teriak nandi.
Bi irah langsung melihat kepojokan teras depan rumah itu.
''Iiih jang nandi, bikin bibi kaget aja, sampai terbawa mimpi tempat jual gorengan bibi dibawa orang.'' Ucap bi irah.
''Hahahaa, lagian jam segini masih ngorok, bukannya bangun pagi, dan solat subuh.'' Ucap nandi.
''Iya bibi gak solat subuh, setelah di obatin sama kamu nandi, tidur jadi nyenyak, dan tanganpun tidak terasa sakit sedikitpun.'' Ucap bi irah.
''Ini bi, stnk dan kwitansinya tuh motornya saya masukin kebengkel, dan kuncinya ada dimotor.'' Ucap nandi sambil memberikan surat-surat motornya bi irah.
''Aduuuh terima kasih jang nandi, harus gimana bibi membayarnya, terus uang tebusan ke polisinya berapa duit.'' Kata bi irah.
''Udah bibi tidak usah memikirkan uang tebusan, yang penting motor bibi kembali dengan mulus.'' Ucap nandi.
''Terus gimana atuh, bibi membayarnya, kalau diperbolehkan bibi pingin memelukmu sebagai ucapan terima kasih bibi.'' ucap bi irah.
''Iiih jangan, bukan muhrim dilarang bersentuhan, kata bang haji juga haroom.'' Saut nandi.
__ADS_1