
Kojeck dan ketiga anak buahnya tanpa mikir panjang lagi langsung menyerang, Nandi, Kamal dan Gito.
Kini sausana diadalm rukobyang kosong itu menjadi gaduh dengan suara-suara perkelahian.
Kamal dan Gito yang mrmpunyai ilmu bela diri ala anka jalanan yang dikombinasikan dengan ilmu silat, begitu agresip karena kedua temananya Nandi itu terkenal gampang naik darah dan bengis sekali, makanya Tak heran waktu mendengar Nandi punya masalah mereka selalu terdepan dan sangat pemberani, walau sedikit agak jail dan usil, tapi mereka hatinya baik.
Nandi menghadapi dua orang yaitu kojeck dan Gompal.
Nandi digempur oleh kedua preman, pukulan-pukulannya meluncur mengarah pada kepala dan perut Nandi, tapi Nandi bukan pemuda yang atah pengalaman dalam hal pertarungan, cukup dengan menutup pukulan dari kojeck yang mengarah pada kepala, dan menggunting pukulannya gompal yang mengarah perut.
Buk duk.
Kedua pukulan itu berhasil digagalkan, tapi kojeck dan gompal terus membabi buta menyerang Nandi, Tendangan dan sabetan terus diluncurkannya, tapi tak satupun pukulan dan tendangan kedua preman itu bisa menyentuh tubuh Nandi.
Malahan sebaliknya, Nandi yang mulai melakukan serangannya, pukulan yang keras dan berbobot yang diluncurkan Nandi, mendarat menghantam hidungnya kojeck.
Hiuuuukkk... Duuuuk.
''Aaaauuuuwwww.. Kojeck meraung kesakitan sambil memegang hidungnya yang berdarah, mengalir membasahi mulutnya.
Kini amarahnya semakin memuncak pas melihat cairan hangat berwarna merah yang keluar dari hidung, dengan cepat kojeck mengambil botol kosong bekas minumannya itu.
Preeeekk.
Suara botol di pecahkan, kini botol terpotong separo, dengan sangat geramnya ia melompat bermaksud hendak menusuk Nandi dengan potongan botol tersebut, Tapi Nandi sangat waspada, dengan cepat ia memutarkan badannya dengan kaki kanan menghajar tangan dikojeck yang lagi memegang potongan botol itu.
Preeek pralaaaakkkk.
Botol itu terlepas dari genggamannya sikojeck, Nandi tidak memberikan luang lagi pada sikojeck, Tanpa terlihat oleh pandangannya sikojeck tangan kiri Nandi yang membahayakan itu meluncur dengan cepatnya menghantam pelipisan sikojeck.
Hiuuukk... buk duukks.
Kojeck tidak bisa lagi menahan keseimbangannya, dipandangan matanya seperti banyak kunang-kunang, lalu seketika itu sikojeck terjatuh dan tidak sadarkan diri.
AAAAAUUUUUWWW
Blaaaaakk.
...Sikojeck roboh menimpa keramik lantai di ruko tersebut....
Gompal yang melihat kojeck sudah ka'o, ia mencabut pisau belati hendak ditusukan pada punggung Nandi dari belakang, tapi Nandi juga sudah memptediksi hal itu dia tetap memasang instingnya, begitu pisau belati sudah dekat Nandi menggeser tubuhnya kesamping dua langkah sambil membalikan badannya, dan tangan kanannya Nandi menggunting tangan gompal yang lagi pegang pisau belati tersebut, terus dengan cepat Nandi memasukan elbonya dengan tangan kiri.
Hiuuukk jekuuuk duuuk.
Elbonya Nandi mendarat didagunya gompal.
Gompal langsung sempoyongan, sambil lepasnya pisau belati dari genggamannya menimpa keramik.
Kreeaaang.
Suara pisau yang jatuh, melihat gompal yang lagi sempoyongan menjaga keseimbangan tubuhnya, Nandi tidak memberi luang lagi padanya, dengan cepat Nandi melesat memasukan pukulan tangan kirinya.
Hiuuuukkk.. Duk....
Pukulan maut Nandi tidak bisa dihindari lagi, mendarat dengan keras dipelipisannya Gompal, gompal terpental toga meter sambil meraung kesakitan.
''Aaaaauuuuuwwww...
Suara gompal yang kesakitan bersama'an dengan robohnya tubuh tinggi besar itu, hingga tidak sadarkan diri.
Sementara Gito dan Kamal yang masih berlangsung dalam perkelahiannya, nampak terlihat cukup agresip gerakannya yang lincah, membuat kedua preman itu hilang nyalinya, apalagi pas melihat sepintas pandangannya, kojeck dan Gompal telah cundang.
Sikapnya Kedua preman tersebut, pastinya membuat Gito dan Kamal sangat mudah untuk menjatuhkannya.
Pada sa'at itu pula pukulan Goto dan Kamal bersarang di muka kedua preman tersebut.
Hiuuuukkk... Duk duk duk.
Sungguh tidak bisa ditahan lagi kedua preman itu jatuh menimpa keramik.
''Ayo bangun kau, jangan cuma bisa memalak orang lemah saja, mana nyalimu.'' Bentak Gito.
Kedua preman itu tidak berkata sedikitpun, ia cuma memegang pipinya yang kesakitan sambil saling pandang dengan temannya.
''Oooh rupanya kalian mau kabur ya, jangan harap kalian bisa lolos dari hukum.'' Saut Kamal.
Barau saja Kamal berkata begitu, kedua preman itupun langsung bangun hendak menyelamtkan dirinya, untuk keluar dari dalam ruko tersebut.
Kedua preman itu langdung lari, tapi begitu sampai didepan pintu yang mau keluar, nampak para pedagang telah menghadangnya dengan membawa pentungan dari kayu.
''Ayo kita habisin para bajingan ini.'' Teriaknya para pedagang.
''Ayo..ayo..ayoo, kita hajar rame-rame.'' Begitu suara yang terdengar dari luar ruko.
Kedua preman yang tadinya bengis dan kejam, kini tidak berdaya lagi, dengan pasang muka yang sangat melas, memohon ampunan pada orang-orang yang berdiri sambil memegang pentungan-pentungan kayu.
''Ampuun.. Ampun, maapkan kami.'' Ucap kedua preman itu.
Tapi para pedagang itu, sudah sangat marah sekali, dan tidak bisa dihindari lagi pentungan kayu melayang menghujani kedua preman itu
__ADS_1
Bak..Buk..Bak..Buk.
Keduanpreman itu meringis kesakitan sambil kedua tangannya menutupi kepalanya.
Nandi mendengar ada banyak masa diluar, ia segera berlari menuju keluar.
Kamal dan Gito lalu mengikutinya dari belakang
Nampak terlihat oleh Nandi kedua preman itu meraung-raung kesakitan, Nandipun langsung masuk ketengah-tengah kerumunan masa.
''Tahaaaaan..Tahaaan semua, kalian jangan main hakim sendiri, karena negara kita ini, negara hukum.'' Teriak Nandi.
''Tapi mereka sudah banyak merugikan kami para pedagang, anak muda.'' Balas salah satu dari masa tersebut.
''Iya saya paham apa yang bapak-bapak rasakan, tapi apabila orang ini mati, apa mau kalin menanggung resikonya, biarlah pihak yang berwajib yang menangninya.'' Ucap Nandi.
Tidak lama kemudian munculah wanita dengan mengendarai motor honda Gl 100 yang telah dimodipikasi berjaket kulit warna hitam dengan gayanya yang tomboy, dan di ikuti oleh mobil bertuliskan police.
Alarm mobil yang terus berbunyi, berhenti didepan para kerumunan masa.
Ternyata wanita tersebut Astuti adiknya Nandi, yang mendapat impormasi dari pandi, bahwa kepergiannya Nandi untuk menyatroni para preman-preman itu.
''Mundur semua, kalian jangan main hakim sendiri.'' Ucap salah seorang anggota yang berpakaian seragam polisi tersebut.
''Bubar...Bubaaaarrr.'' Ucap Nandi.
Para pedagangpun pada bubar, dan kembali ketempat jualannya masing-masing, kini tinggal Nandi, Gito, Kamal dan Astuti yang baru datang dengan polisi.
''Ini orang yang lagi kami selidiki, terima kasih Nandi, lagi-lagi kamu selalu membantu kami.'' Ucap pak polisi pada Nandi.
''Sama-sama pak, ini sudah menjadi kewajiban kita, melindungi masyarakat lemah yang tertindas, Kami turun tangan karena mereka sudah lewat batas, memalak para pedagang, yang cuma berpenghasilan tidak seberapa.'' Ucap Nandi.
Setelah itu gito dan Kamal, memboyong kojeck dan gompal keluar untuk dimasukin kedalam mobil polisi, yang dikawal oleh empat orang petugas kepolisian.
Setelah itu ke'empat preman itupun telah diamankan, dan dibawa oleh petugas kepolisian, Nandi dan gito pun disuruh ikut ke kantor polisi untuk dimintai keterangan, tentang kojck dan ketiga anak buahnya.
Sebelum Nandi dan dua sahabatnya itu pergi, para pedagang menyambut Nandi, Kamal dan Gito.
Rasa terima kasih para pedagang kepada ketiga pemuda gang si'iran itu, membuat jalanan menjadi macet karena semua para pedagang disitu mendatangi keruko yang kosong tersebut.
''Hidupp.. Nandi..
''Hidup kamal dan Gito.'' begitu suara yang terdengar dari banyaknya orang-orang disitu.
Nandi, Kamal dan gito pun langsung tancap gas untuk memenuhi panggilan dari kepolisian.
Tidak lama kemudian Nandi, kamal dan Gito telah sampai dikantor kepolisian yang kebetulan tidak terlalu jauh.
Nandi dan kedua sahabatnya itu, telah dimintai keterangan tentang kejahatan Kojeck dan ketiga anak buahnya, yang selalu meresahkan para pedagang.
Nandi pun memberikan keterangan apa adanya, tanpa kurang tanpa lebih, Nandi dan sahabatnya bergerak karena memenuhi para pedagang, dan demi kemanusia'an juga Nandi menolong para pedagang yang selalu ada pungli dari kojeck dengan alasan buat keamanan.
''Nah begitu pak keterangan yang saya terima dari masrakat, khusus dari pedagang kaki lima, yang punya untung tidak seberapa.'' Ucap Nandi.
''Sebelumnya pihak kepolisian berterima kasih banyak atas bantuan kalian, tapi kenapa tidak ada laporan sebelumnya?.'' Tanya komandan polisi itu
''Kita juga minta maap, apabila pergerakan kita ini sudah mendahului pihak berwajib, dan kami juga sudah bertanya sebelumnya kepada mereka semua, dan mereka bilang takut oleh ancamannya kojeck, lalu kita bergerak setelah mendapat laporan dari mereka.'' Ucap Nandi menjelaskan.
''Ooh begitu, Kalian memang sangat membantu pihak berwajib, Saya selaku komandan dipolsek ini Sudah kenal betul dengan Nandi dan ini Kamal kan.'' Ucap Pak plisi.
''Betul pak, saya Kamal.'' Ucap Kamal sambil mengacungkan tangannya.
Komandan polisi hanya tersenyum, sambil melirik pada Gito.
''Terus kalau ini rasanya bapak baru kenal nih.'' Ucap pak polidi sambil menijuk pada Gito.
''Oooh iya pak, ini Gito santoso, made in jasun.'' Kamal crpat menjawab.
Gito langsung menepuk pundak Kamal, karena merasa dibili oleh Kamal.
''Biasa aja kali Kamaludin bin Padudan.'' Ucap Gito.
Nandi tersenyum dan memberi isarat pada pak polisi tersebut.
''Hehee, kalian ini lucu juga ya, dan saya gak paham apa itu jasun dan padudan?.'' Tanya pak polisi.
''Jasun itu Jawa Sunda pak.'' Kamal cepat menjawab.
''Terus padudan apa?.'' Tanya pak polisi.
''Ternyata bapk suka humor juga, Padudan itu, putra ujang dadan pak.'' Jawa Gito.
''Iiih sue lo to, buka-buka kartu gua lagi.'' Celoteh Kamal.
''Elo kan yang duluan.'' Jawab gito.
Nandi terus memotong prmbicara'an untuk menghentikan perdebatan antara Kamal dan Gito.
''Pak, apa masih ada yang perlu dipertanyakan pad kita?.'' Tanya Nandi.
__ADS_1
''Tidak Nandi, sudah cukup.'' Jawab pak.polisi.
''Kalau begitu kita pamit dulu pak, karena masih banyak kerja'an yang belum rampung.'' Ucap Nandi.
''Iya iya, terima kasih sebelumnya atas kerjasama kalian bertiga, kalau ada apa-apa jangan segan-segan hubungi pihak berwajib.'' Balas pak polisi.
''Oke pak, sama-sama.'' Ucap Nandi.
Setelah itu, Nandi, Kamal dan Gito undur diri dan bergegas keluar dari ruangan tersebut menuju pada kendara'annya yang lagi diparkir dihalaman depan kantor kapolsek itu.
Selepas itu mereka telah mengendarai motornya masing-masing, motorpun mulai melaju keluar dari area parkiran, berjalan ber'iringan, dan Nandi berada paling depan yang di'ikuti Kamal dan Gito.
Kini ketiga motor itu sudah melaju dijlan raya, medan jalan yang rata dengan aspal yang tebal membuat ketiga pemuda itu semakin kencang menarik gasnya.
Tidak lama kemudian mereka sudah sampai di bengkel jalan ketupat, dibengkel barunya Nandi.
Nampak terlihat oleh Nandi, Pandi lagi sibuk sendirian mengerjakan pekerja'annya.
''Aasalam mualaikum.'' Nandi mengucapkan salam.
''Wa alaikum salam.'' Jawab Pandi.
Disaat yang bersama'an, Sindipun keluar menghampiri Nandi, Kamal dan Gito.
''Aa pasti cape ya habis bertempur, mau minum apa?.'' Tanya Sindi.
''Oooh iya Sin, pesenin es kelapa muda ya.'' Jawab Nandi.
''Berapa Aa?.'' Sindi bertanya.
''Semua aja yang ada disini, yang lima utuhan, akang-akang mau es kelapa gak?.'' Tanya Nandi pada para pelanggannya.
''Waduuuh bang jadi ngerepotin nih, ya mau atuh dikasih mah.'' Jawab salah satu dari para pelanggan yang lagi menunggu motornya selesai dikerjakan.
''Oke, ya udah hitung aja berapa orang yang ada disini Sin.'' Ucap Nandi.
Disa'at itu pula munculah Astuti, dengan mengendarai motor Honda Gl 125 yang sudah direkayasa sedemikian rupa.
''Waah Astuti gak kehitung, lagian telat siih.'' Ucap Kamal.
''Emang ada apa'an siih?.'' Tanya Astuti, sambil melangkah turun dari motornya.
''itu tuh Sindi lagi pesen es kelapa muda.'' Jawab Pandi ikut bicara.
''Oooh itu, atuh gampang nanti gue pesen sendiri aja, iya kan Aa Nandi.'' Ucap Astuti sambil melihat pada abangnya.
''Iye iye.'' Jawab Nandi singkat.
Setengah jam kemudian tukang es kelapa membawa pesenan Nandi, dengan lima bungkus es yang dikemas dalam plastik dan lima lagi kelapa muda yang masih utuh, hanya dikupas saja dibagian kepalanya.
Dan Astuti yang tidak terhitung dalam pesanan tadi, ia lalu meminta satu lagi.
''Bang satu lagi ya, tapi kelapa ijo bang.'' Ucap Astuti.
''Iya neng, tapi kelapa ijo harganya lain lagi.'' Jawab tukang es kelapa.
''Ya elaah abang, gue juga tau bang, gue kan minta kelapa ijo, kenapa abang jawab harganya segala sih.'' Ucap Astuti rada ngegas.
''Iya neng, maap ya.'' Ucap Tukang es kelapa.
''De tut, jangan begitu dong, gak usah ngegas juga kali.'' Ucap Nandi memotong pembicara'an.
''Iya Aa ma'ap, habisnya kesel deh, jwabnya malah yang lain-lain, dikira gue gak punya duit apa.'' Ucap Astuti.
Disa'at mereka lagi asik berkumpul sambil meminum es kelapa muda, tiba-tiba handponnya Astuti berdering dalam sebuah saku jaketnya.
Astuti lalu mengambil handponnya lalu nampak terlihat ada sebuah panghilan di whatssap.
''Wah Nina, mau ngapain dia ngebel gue.'' Ucap Astuti sambil mengangkat handponya.
''Halooo nin.'' Ucap Astuti.
Nina. ''Wah waah yang lagi asik minum es kelapa, sampai lupa gak nawarin sahabatmu.'' Jawabnya
Astuti. ''Looh ko lo tau, emang posisi lo lagi dimana.'' Astuti berkata sambil tengok sana tengok sini.
Nina. ''Ada deeeh...'' Menjawab.
Astuti. ''Widiiih... Ceritanya kita main petak kumpet nih.'' Kata Astuti.
Setelah itu munculah sebuah mobil Honda zaz warna hitam, berhenti didepan bengkelnya Nandi.
Sedangkan Astuti sudah bisa menduganya, bahwa yang menyetir mobil tersebut pastilah Nina, sahabatnya waktu masih duduk dibangku sekolah menengah atas.
♤♤♤♤♤♤♤♤▪︎▪︎▪︎▪︎♤♤♤♤♤♤♤♤
Bersambung.......
Untuk mengetahui lanjutan kisahnya, nantikan di episode selanjutnya.
__ADS_1
Selamat membaca.
Dan terima kasih atas dukungannya, semoga sukses selalu.