SI KIDAL SANG PENOLONG

SI KIDAL SANG PENOLONG
Si kidal sang penolong eps 170


__ADS_3

Gito dan Pandi terus melajukan kendara'annya di jalan raya, suara yang keluar dari selongsong knalpot begitu menggema.


Jalanan yang basah, selepas hujan tidak menjadikan penghalang bagi Gito yang terus melajukan kendara'annya dengan ke cepatan maximal.


Selagi Gito terus melajukan motornya dengan kencang, sehingga membuat beberapa kelompok pemuda yang darahnya masih panas menjadi terpancing ingin mengejarnya.


Enam orang pemuda bergerombol melajukan kendara'annya dengan kencang mengejar Gito yang terus melesat bagaikan anak panah yang lepas dari busurnya.


Dengan suara kenalpot bobokan begitu nyaring terdengar.


Gito belum menyadari bahwa dirinya lagi di kejar oleh ke enam pemuda, Pandi yang di bonceng seperti merasakan ada gelagat yang kurang bersahabat, kemudian Pandi menoleh ke arah belakang nampak terlihat ada beberapa pemuda dengan suara kenalpot bobokan yang sangat menusuk telinga lalu Pandi berkata pada Gito.


"Heh To, coba lo' lihat di sepion ada apa di belakang kita." Ujar Pandi.


Perlahan Gito pun menoleh pada sepion kiri kanan, Gito langsung tersontak ada banyak motor yang lagi mengejarnya.


"Buseet mereka mau ngapain mengejar kita." Ujar Gito.


"Mungkin mereka merasa terpancing oleh laju motor yang kau kemudi To." Pungkas Pandi


"Iya juga kali ya, padahal gua bawa motor tidak kenceng-kenceng amat, oke gua ladenin apakah mereka mampu mengejar gua." Ucap Gito, sembari menarik gasnya.


Kini motor yang Gito kendalikan melaju dengan sangat kencang, salip kiri salip kanan begitu indahnya, dan ke enam pemuda itupun terus mengejarnya dengan kemampuan dan skill yang mereka miliki, tapi masih belum mampu menandingi skillnya Gito.


Karena di gang Si'iran hanya Nandi dan Gito yang skill berlari dalam mengendalikan kendara'an khusus roda dua dijalanan yang sangat memukau.


Satu kendara'an di kejar oleh enam kendara'an tapi Tak satupun yang bisa menandingi lajunya kendara'an yang Gito kemudikan, malahan mereka semakin jauh tertinggal, tapi Gito terus tarik gasnya pool.


"Sepertinya mereka semakin jauh tertinggal To'."Ujar Pandi.


Gito pun lalu menoleh ke arah sepion.


"Hahaha, mereka cemen semua gak ada nyali, beraninya berkoar doang, nyatanya nol." Ujar Gito.


"Tapi kedengarannya mereka masih terus mengejar kita To'." Ujar Pandi.


"Ya sudah biarin aja apa maunya mereka." Ujar Gito.


Kini Gito dan Pandi sudah melaju memasuki jalan Delima raya, kini Gito pun menurunkan speed lajunya kendara'an yang ia kemudi.


Sepuluh menit kemudian suara nyaring dari ke enam kendara'an terdengar semakin mendekat, tapi Gito dan Pandi nampak tenang se olah dia tidak tau, ia melajukan motornya dengan santai, tapi mata Gito dan Pandi tidak lepas terus mengintai dari balik spion.


Tidak lama kemudian ke enam pemuda itu sudah berada dekat di belakang Gito dan Pandi, tapi roman dari anak gang Si'iran itu tidak nampak seperti tegang atau takut sedikitpun, malahan asik ke tawa-tawa.


Sementara ke enam pemuda itu langsung mengurung Gito dengan menyalip dan memblokir lajunya kendara'an Gito, Gito pun terpaksa menghentikan kendara'an nya sambil bertanya pada mereka.


"Heh ada apa ini, ko kalian tiba-tiba menghalangi jalan?." Tanya Gito.


Kemudian salah satu dari ke enam pemuda itu turun dari motor sambil menyerukan pada Gito dan Pandi untuk turun.


"Heh turun kalian berdua." Ujar salah satu dari mereka sambil menunjuk pada Gito dan Pandi.


Dengan santainya Gito dan Pandi turun dari motornya.


"Emang ada apa sih bang, perasa'an gua tidak punya masalah pada kalian semua?." Tanya Pandi.


Dengan gaya yang pertentang pertenteng sambil bertulak pinggang salah satu pimpinan dari mereka berkata sambil meludah.

__ADS_1


"Cuuiih, jangan berlaga tidak tau lo' tadi lo' sudah melintas di kawasan wilayah gue, dengan tidak sopannya kau." Ujarnya.


Gito dan Pandi saling pandang sambil tersenyum mengejek.


"Hahaha, asal lo' lo' tau ya jalanan ini milik umum bro, perasa'an gua biasa-biasa aja bawa motor gak ugal-ugalan dan tidak merugikan orang lain, ya andai kalian merasa tersinggung ya kami minta ma'ap." Pungkas Gito.


"Hah, enak benar kau minta ma'ap, setelah kalian terkepung begini, kalian takut sama kita, hahahaha." Ujarnya sambil tertawa yang di ikuti oleh kelima kawanannya.


"Apa lo' bilang takut, hahaha tidak ada dalam kamus gua harus takut sama tikus seperti kalian." Ejek Pandi sambil tertawa mengejek.


"Kurang ajar lo', kawan rupanya ada yang so' jago nih." Ujarnya.


Lalu ke lima temannya itu menyerukan.


"Ya sudah bang kita hajar kedua orang ini, jangan di ajak ngobrol terus." Jawabnya.


Pandi dan Gito pun bersiap-siap pasang badan.


"Oke, lo' jual gua beli, ayo maju kalian semua, biar gua bikin ayam geprek." Gertak Gito.


Tidak bisa di hindari lagi, ke enam orang itu langsung menyerang Gito dan Pandi secara bersama'an.


Kini pertempuran pun terjadi dua melawan enam orang, dan pertempuran di bagi dua, Gito melawan tiga, begitu pula Pandi melawan tiga.


Gito dan Pandi begitu agresip dan lincah dalam menghadapi lawannya, dengan pasang mata yang liar dan gerakan-gerakan yang cepat untuk menghindari pukulan yang datang dari depan, belakang, dan samping.


Kelebatan pukulan dan tendangan dari tiga arah terus menggempur Gito dan Pandi.


Tapi tak satupun pukulan ataupun tendangan dari mereka yang bisa menyentuh tubuh Gito dan Pandi.


Duk


Duk


Duk...


Blak


Blak


Blak


Ketiga tubuh tersungkur di pinggiran trotoar jalan, dan kaki Pandi telah menapak lagi di atas troar dengan sangat entengnya.


"Cuma segitukah kemampuan kalian." Ejek Pandi.


Ketiga pemuda itu langsung mengangkat tubuhnya perlahan sambil meringis merasakan sakit diwajahnya.


"Kurang ajar, jangan dulu bersenang hati kau, kali ini kamu akan kita habisi." Serunya sambil melompat menerjang Pandi secara bersama'an.


Tapi Pandi tetap tenang dan waspada akan bahaya yang mengancamnya, ketika itu pula pandi langsung salto kebelakang beberapa putaran untuk membawa lawannya ke tempat yang leluasa.


Sementara Gito dengan gayanya yang agresip dan mulutnya yang tidak bisa berhenti berkicau, seperti sang petarung legendaris bruce lee, yang terus memancing amarah lawan keluar.


Hea


Hee

__ADS_1


wacau


Duk


Duk


Deas.


Pukulan bertubi-tubi Gito mendarat di ke tiga lawannya.


Sejenak ke tiga lawan Gito terdiam merasakan rasa sakit di bagian tubuhnya msing-masing, melihat begitu sangat menguntungkan bagi Gito, secepat kilat Gito melompat ke atas motar yang ber jejer lalu menolakan kakinya pada tank motor sebagai tolakan untuk menambah bobot tendangannya.


Heaaaa.


Duk


Deeaassss...


Tendangan kilat dari Gito meluncur sangat cepat pada salah satu lawannya yang lagi sempoyongan.


Auuugghh..


Wuueeerrr....Blaaakk.


Teriakan orang itu bersama'an dengan terpental tubuhnya hingga beberapa meter dan langsung nyungseb tidak sadarkan diri.


Melihat salah satu temannya sudah Ko, kedua lawannya Gito melesat menerjang Gito dengan sebuah pisau berada di genggaman tangan kanannya.


Hiuuuuk....


Kelebatan sabetan pisau melesat mau merobek mukanya Gito.


Gito menggeserkan kaki kanannya kesamping lalu tang kiri Gito dengan cepat menangkap pergrlangan tangan kanan lawannya, dan di sa'at itu pula satu elbo tangan kanan Gito mrluncur menggedor tulang rahang lawan.


Deeaasss..


Auugh.......


Teriak kesakitan dari lawannya Gito bersama'an dengan hilannya keseimbangan pertahanannya, ketika itu pula Gito Memasukan pukulan bertubi-tubi ke dada dan ulu hati lawan, tidak bisa menahan lagi, karena banyak pukulan Gito menghujani badan di tambah sesaknya pernapasan sehingga orang itu harus menerima kekalahannya dan akhirnya orang itu jatuh tersungkur.


Melihat kedua temannya sudah tidak berdaya lagi, lawan Gito yang tinggal satu orang, nampak terlihat di raut wajahnya dengan kedua bibirnya bergetar seperti hilang keberaniannya.


Gito sangat paham akan lawannya yang mulai don, lalu Gito membuat sebuah gertakan pada lawannya, dengan tatapan yang tajam, secepat kilat Gito melompat ingin menghabisi lawannya.


Kini Pemuda itu bergetar hilang keberaniannya ketika melihat tubuh Gito melesat ingin menghabisinya, karena tak ada lagi yang harus ia tunjukan, akhirnya pemuda itu langsung menjatuhkan tubuhnya dalam posisi bersujud sambil melas mohon ampunan dari Gito.


"Aa aa ampun bang, saya nyerah." Ujarnya dengan nada genetaran.


Padahal Gito cuma menyerangan baut gertakan, dan kali itu pula ketika tubuh Gito mendarat, ia langsung menarik pukulannya, sambil tersenyum tipis, menyaksikan seorang pemuda yang awalnya berwajah garang, kini tak ubah seperti sebuah kapas yang tersiram air hujan lembek dan mengkerut.


Bersambung.


🙏🙏 mohon maap bila banyak kekurangannya, dan terima kasih banyak atas dukungannya.


Salam sejahtra, sehat-sehat dan sukses selalu.


"Assalam mu'alaikum"

__ADS_1


__ADS_2