
Lima hari setelah di rawat, dan lukanya pun sudah mengering. Jaroni pun sudah di perbolehkan untuk pulang, di tambah Nandi membantu mengobatinya dengan membasuh luka Jaroni dengan air rendaman kalungnya itu yang di titipkan pada Toglo. Toglo dengan setianya menemani sampai ia kembali ke hadapan kedua orang tuanya.
Jaroni sangat berhutang nyawa sama Nandi dan Toglo, lagi-lagi Toglo yang menjadi penyelamat ke dua kalinya.
Dulu sewaktu masih kecil ketika menjadi pemulung barang bekas, di kala dirinya di kejar anjing gila di sebuah perumahan, Toglo pula yangs menyelamatkan dirinya, dengan menghantam kepala anjing tersebut dengan dahan kayu asam.
"Gua, harus bilang gimana lagi sama lo' Glo." Ujar Jaroni.
"Sebagai teman, lo' jangan punya pikiran begitu, yang penting lo' bisa selamat dari maut, dan lo' harus berterima kasih pada pak Nandi, karena berkat beliau lah semua biaya perawatanmu di bayarnya." Ujar Toglo.
Mendengar penjelasan dari Toglo, Jaroni merasa senang dan sedih. Senangnya ia merasa terselamatkan dari maut, dan sedihnya ia tidak bisa berbuat banyak untuk membalas kebaikan orang yang sudah menolongnya, hanya doa yang tercetus dari mulutnya Jaroni.
"Semoga aja kebaikan pak Nandi dan lo' Glo di balas oleh yang Kuasa lebih dari itu." Cetus Jaroni.
"Amiin, saya tidak mengharap balasan Jar, bagi saya bisa menolong kamu saja, itu sudah membuat hati gua merasa lega." Ujar Toglo.
Ketika mereka sudah berada di pinggiran jalan raya, nampak sebuah mikrolet warna hijau lagi melaju, dan Toglo pun langsung mengulangkan tangannya, lalu Mikrolet itu pun berhenti, Toglo dan Jaroni masuk dan duduk di kursi yang masih kosong penumpang.
Mikrolet itu pun langsung melaju di jalan raya yang di penuhi oleh berbagai macam dan jenis kendara'an.
Toglo dan Jaroni duduk di bagian belakang, karena sesaknya penumpang yang berdesakan, Toglo berkata pada para penumpang yang lainnya.
"Ma'ap ya mas, mb, jangan terlalu meped teman saya ini baru habis di rawat di Rumah sakit, karena banyak nya luka di sekujur tubuh dan jaitannya belum benar-benar pulih." Ujar Toglo memohon maklum.
Dan para penupang itu pun mengerti karena melihat ada banyak kain perbal yang melilit di tangan dan bagian dada yang nampak terlihat karena tidak tertutup oleh baju bagian atas.
"Temanmu itu kenapa Bang?." Tanya salah satu penumpang yang lagi duduk berhadapan dengan Toglo.
"Teman saya ini korban pembacokan orang-orang yang tidak bertanggung jawab." Ujar Toglo.
"Masa Allah, semoga cepat sembuh ya." Ujarnya.
"Amiin makasih mas, dan semua terima kasih." Ujar Toglo.
Setelah itu Toglo pun menyuruh pada sopir angkot untuk berhenti, karena sudah tiba di pertiga'an jalan yang mau memasuki kawasan Gang Si'iran.
"Di depan berhenti ya Bang." Ucap Toglo.
"Oke."
Kemudian angkot yang di tumpangi oleh Toglo dan Jaroni berhenti, Toglo dan Jaroni langsung turun lalu Toglo memberikan ongkosnya pada supir sepuluh ribu.
"Ini bang berdua." Ujar Toglo.
Sang sopir angkot lalu menerima uang sepuluh ribu rupiah dari hulurannya tangan Toglo.
Toglo dan Jaroni berjalan kaki menuju tempatnya Nandi, kenapa Toglo tidak mengantarkan Jaroni langsung ke tempat orang tuanya, karena atas perminta'annya Jaroni yang ingin mengucapkan rasa terima kasihnya pada Nandi, yang sudah menolong dan melunasi segala biaya Rumah sakit.
Tidak lama kemudian mereka telah sampai di depan rumahnya Nandi. Hari itu bertepatan dengan hari sabtu pukul 12:30 menit di mana para karyawan sudah pada keluar untuk pulang, karena di hari sabtu kerjanya cuma empat jam/setengah hari.
Diantara kerumunan para karyawan yang keluar, salah seorang gadis cantik imut mengendarai motor Honda scopi melaju mendekati pada Toglo, lalu menyapa.
"Haii Wan, apa kabar? kemana aja sih sampai seminggu tidak masuk kerja?." Tanya salah se orang gadis tersebut yang tak lain adalah Wulan.
"Alhamdulilah kabar baik, Ada keperluan yang tidak bisa di tunda malahan gua sering menghubungimu, tapi handpond mu melbok terus." Saut Toglo.
"Iya wan handpond gue ruksak." Saut Wulan.
"Ruksak kenapa?." Tanya Toglo.
"Gak tau tiba-tiba ngebleng, dan langsung mati begitu saja." Ujar Wulan.
Lalu Wiwin menoleh pada Jaroni, yang tangannya di penuh dengan lilitan kain perbal.
"Ini siapa wan? dan kenapa dengan dia?." Tanya Wulan.
"Habis kecelaka'an, kenalin ini teman gua waktu kecil, sekarang gua bertemu lagi dalam keada'an begini." Ujar Toglo
Jaroni pun lalu membungkukan badannya, pertanda memperkenalkan dirinya, berhubung kedua tangannya masih belum bisa untuk di gerakan sepenuhnya.
__ADS_1
"Saya Jaroni, temannya Toglo." Ujarnya.
"Saya Wulan sahabatnya Bang Wanda." Saut Wulan.
Jaroni mengerutkan keningnya ketika Wulan menyebut nama Wanda, lalu Jaroni melemparkan pertanya'an pada Wulan.
"Siapa tuh Wanda?." Tanya Jaroni.
Wulan tersenyum tipis, sepertinya Jaroni belum tau nama Toglo yang sebenarnya.
"Wanda dan Toglo itu adalah dua nama dalam satu orang, katanya Bang Jaroni teman sama Wanda ko gak tau nama Toglo yang sebenarnya." Jelasnya Wulan.
"Ooh jadi nama lo' itu Wanda, gua baru tau, karena yang gua tau itu cuma Toglo." Ujar Jaroni sambil menatap wajah Toglo.
"Ya sudah, apa artinya sebuah nama, kalau gua mau di panggil apa pun gua gak masalah, asal jangan di panggil binatang aja." Ujar Toglo.
Selagi mereka asik ngobrol, tiba-tiba di kagetkan oleh suara.
"Hhmmm."
Toglo, Jaroni dan Wulan secara bersama'an menoleh ke arah pusat suara terdebut.
"Waah pak Bos, di kira siapa." Ujar Toglo.
"Wah waah, asik benar nih, sepasang romeo dan juliet, rupanya kalian pada kangen ya, karena beberapa hari tidak jumpa." Cetus Nandi.
"Wah pak Bos bisa aja." Ujar Toglo.
"Emang sudah di perbolehkan untuk pulang?." Tanya Nandi pada Jaroni.
"Sudah Pak, kata Dokter aku boleh pulang, karena lukanya sudah mengering, sambil di bantu sama obat kampung kata Dokter." Jawab Jaroni.
"Ya sudah kita ngobrolnya di dalam taman saja biar enak sambil duduk dan minum kopi." Ajak Nandi.
Lalu Wulan pamit pada Toglo dan Nandi serta Jaroni.
"Ku permisi dulu pak, Wan dan Bang Jaroni semoga lekas sembuh." Ujar Wulan.
"Bapak bisa aja, lain waktu, soalnya kerjaan dibrumah numpuk." Ujar Wulan.
"Iya kamu hati-hati di jalan." Ujar Toglo.
Setelah itu Wulan langsung melajukan lagi kendara'annya, sedangakan Nandi, Toglo dan Jaroni berjalan memasuki halaman rumah, dan duduk di bangku besi di bawah pohon mangga sambil di temani oleh suara gemericik air yang mengalir di kolam taman rumahnya Nandi, kemudian Nandi memanggil istrinya untuk di bawain air minum.
"Sekarang gua pingin tau bagaimana ceritanya sampai kamu mengalami ke celaka'an begitu?." Tanya Nandi.
Sambil menarik napas panjang lalu di hembuskannya perlahan.
"Begini pak Bos, Glo' malam kira-kira jam dua dini hari ku pulang dari rumah teman tadinya saya mau lewat Gang Si'iran tapi saya berpikir lagi terlalu kejauhan terus saya balik lagi melewati antara perbatasan Gang Si'iran sebelah barat yang tembusnya ke Gang Sawah dan Gang Dukuh, tiba-tiba ada beberapa kendara'an roda dua melintas dan berhenti, empat orang turun dan menghampiri saya, meminta duit sambil mengeluarkan pisau belati, dan saya bilang gak ada duit, saya pun jalan kaki, mereka tetap kekeh memaksa saya, singkatnya saya melakukan perlawanan pada mereka, karena mereka banyakan dan membawa senjata, akhirnya saya roboh setelah terkena sabetan dan tusukan belati di perut saya, nah dari situ saya sudah tidak ingat apa-apa lagi." Begitu Jaroni bercerita kronologi penganiaya'an terhadap dirinya.
"Kira-kira kamu ingat gak, mereka dari kubu mana, atau ada yang kamu kenal dari jenis pakaian dan yang lainnya?." Tanya Toglo.
"Mereka memang ada sebagian yang memakai jaket rompi, tapi saya tidak memperhatikan nama yang tertulis di jaket tersebut, tapi yang jelas saya lihat mereka mengenakan kalung tengkorak." Ujar Jaroni memberi keterangan.
Nandi dan Toglo saling pandang lalu berkata.
"Apa mungkin Tengkorak hitam, kan Johan dedengkot nya waktu itu sudah di tangkapnya." Cetus Nandi.
"Ya bisa saja pak Bos, anak buahnya kan masih banyak berkeliaran, mungkin mereka mau menuntut balas atau memancing kita, dengan cara bikin ulah kriminal di kawasan Gang Si'iran." Cetus Toglo.
"Bisa jadi begitu, nanti kita perketat perjaga'an dari mulai pertigaan sampai ke arah jalan ketupat." Ujar Nandi.
Setelah itu Nandi meminta pada Jaroni untuk tinggal dulu di rumahnya, biar luka-lukanya benar-benar pulih.
Dengan bantuan pengobatan tradisional yang Toglo baca di kitab buhun, kini Jaroni sudah terasa segar lukanya pun sudah sembilan puluh persen membaik.
Mendengar kisah yang Toglo ceritakan tentang perekonomian Jaroni, Nandi pun bersedia menolong Jaroni dengan mengangkatnya sebagai pekerja di bagian OB, jaroni pun sangat senang hati merasa di tolong dari keterpurukan per ekonomian.
Kini hari telah Senja, para famili Gang Si'iran sudah berkumpul untuk memperketat perjaga'an di setiap Gang, Sedangkan Toglo, Gito dan Pandi, meluncur dengan motor yamaha Rx king untuk mencari para pelaku yang sudah bertindak diluar batas kemanusia'an.
__ADS_1
Gito dan Pandi mengikuti apa kata Toglo, Karena kecerdikan dan mempunyai insting yang tajam, siapa sebenarnya pelaku pembacokan pada Jaroni. Dan Toglo tau kemana dan pada siapa? yang harus ia datangi.
Setiba nya di sebuah bangunan tua, yang sudah tidak aktip di gunakan, Toglo memberi kode isyarat pada Gito dan Pandi untuk berhenti.
"Lo' yakin ini tempat mereka?." Tanya Gito.
"Kalau menurut impo dari korban, ya disinilah tempat markasnya anak buah Johan/ketua dari tengkorak hitam, yang masih banyak berkeliaran, ia akan menjalankan aksinya pada malam hari, maka dari itu sebelum mereka membuat onar dan bertambah korban yang lain, sekaranglah kita habisi mereka." Ujar Toglo.
"Waduuh, kita kan cuma bertiga Glo." Cetus Pandi.
"Pak bos, Kamal dan Kang Hasan lagi Otw kesini, sedangkan Doni dan Asep Jaga di Gang Si'iran bersama warga." Tutur Toglo.
"Tapi sepertinya sepi Glo, kaya gak ada orang di dalam." Ujar Gito.
"Iya betul kalau siang sampai jam segini mereka tidak nampak kelihatan, ayo kita masuk." Ajak Toglo.
Mereka pun mulai melangkahkan tungkai kakinya untuk memasuki gedung tua yang nampak serem dan gelap, dengan sangat hati-hati sekali Ke tiga pemuda itu masuk dan menyelinap kedalam gedung tua yang sangat luas.
Mereka terus berjalan menyusuri setiap ruangan tapi belum juga bisa menemukan para begundal itu di mana.
Ketika mereka memasuki sebuah ruangan besar seperti Aula, nampak terlihat banyak kendara'an roda dua yang terparkir dengan rapi, dan banyak berjejer botol-botol kosong dari berbagai bentuk, lalu Toglo mengambil salah satu botol yang besar, kemudian di ayunkan tangan Toglo, dengan sangat cepat botol itu melesat.
Preelkkk
Pecahan beling beserakan dari botol yang menghantam dinding.
Setelah itu terdengar suara gaduh dari manusia yang seperti kaget dan suara langkah sepatu yang berlarian mendekati ke arah Toglo, Gito dan Pandi.
Kini nampak banyak orang bermunculan menuruni sebuah tangga memutar menuju ketempat di mana toglo, Gito dan Pandi berada.
"Bangsat suara apa tuh." Sungutnya berkata.
"Tadi jelas terdengar Bang seperti suara pecahan kaca." Ujarnya sambil menurini sebuah tangga.
Setibanya mereka di bawah, nampak banyak pecahan botol berserakan, sambil celingukan kesana kemari mencari tau dari penyebab pecahnya sebuah botol.
"Kurang ajar sepertinya, ada yang mau mengantarkan nyawanya ke sini, ayo semua kita cari siapa orang yang sudah bosan hidup itu." Serunya.
Ketika mereka berlarian, terdengar lagi suara pecahan kaca dari ruangan lain.
"Noh Bang ada lagi suara kaca pecah." Ujarnya.
"Iya dari sebelah sana, kita berpencar." Ujarnya mulai panik dengan suara pecahan kaca yang misterius bagi mereka.
Mereka pun terus berpencar membagi kelompok, untuk mencari pelaku yang sudah sangat lancang bikin gaduh.
Sampai beberapa kali suara pecahan kaca itu terdengar dengan berpindah-pindah tempat, begitu dan begitu seterusnya, sampai akhirnya mereka semua kena mental.
Rupanya aksi Toglo sangat hebat, dan mental mereka mulai kena, ketika mereka berpencar di situlah Toglo, Gito dan Pandi melakukan aksinya, satu persatu dari orang penghuni gedung tua itu di bikin tidak berdaya.
Ketika mereka memasuki ruangan yang mengarah pada bagian belakang, mereka tersontak kaget begitu melihat para kawanannya sudah banyak tergeletak pinsan.
"Bedebah, Wooii keluarlah, manusia atau siluman nampakanlah wujudmu pengecut." Teriaknya mulai panik.
Dengan gaya pertentang pertenteng, sambil berlaga sana sini, dengan pasang muka garang.
Mereka pun tersontak kaget di sa'at jiwanya mulai menurun terdengar suara pintu yang di tutup secara sangat kencang.
Gebluuuugg.
Mereka terperanjat lalu berlari dan memburu ke arah suara tersebut.
Di setiap pintu yang memasuki setiap ruangan mereka menemukan satu orang kawanannya pinsan, begitu dan begitu, hingga yang tersisa tinggal delapan orang.
********
Bersambung.
Nantikan kelanjutannya di eps selanjutnya, mohon maaf bila agak telah update.
__ADS_1
Jangan lupa sertakan like, comentar, jadikan favorit, berikan Rantingā lima, berikan vote nya serta hadiahnya bila suka.
Terima kasih atas dukungannya, salah sehat sejahtera dan sukses selalu.