SI KIDAL SANG PENOLONG

SI KIDAL SANG PENOLONG
Si kidal sang penolong eps 113


__ADS_3

Pukul 12:00


Waktu istihat para buruh dari segala macam aktipitas, seperti halnya di gang si'iran, semua pekerja nandi sudah kèluar dari lokasi aktipitasnya menuju sebuah kedai kopi miliknya Nandi yang berlokasi diluar gerbang disampingnya bengkel yang dijagain oleh Toglo.


Toglo sangat sibuk melayani para karyawan, ada yang pesan kopi, mi instan dan lain sebagainya.


Suasana di gang si'iran kini menjadi ramai bila waktu jam istirahat telah tiba, semenjak Nandi membuka usahanya, dan keberhasilan usahanya Nandi banyak orang-orang yang kagum dengan kerja kerasnya Nandi, tapi ada pula yang iri dan dengki atas keberhasilan Nandi, seperti yang lagi kumpul di sebuah kios, enam orang lelaki yang lagi minum kopi lagi berbisik-bisik dengan sesama temannya.


''Hai bang, ada apa lo' kumpulin kita disini?.'' Tanya lelaki yang berbaju kotak-kotak.


''Gue sengaja undang kalian kesini, karena ada kerja'an yang bayarannya lumayan besar.'' Jawab lelaki yang pakai topi.


''Wah boleh juga tuh, kerja'an apa tuh bang Bondan?.''


''Coba lo' perhatikan tuh, si Nandi yang dulunya cuma bengkel ecek-ecek sekarang berubah 90derajat, menjadi sebuah perusaha'an yang besar, sedangkan gue buka bengkel dari dulu, dan sekarang pelanggan gue juga banyak yang pindah pada si nandi, tadinya gue gak panas, tapi semakin kesininya si Nandi semakin dibanjiri para pelanggan nya.'' Ujar Bondan.


''Ooh jadi ceritanya, abang panas gitu, emang pasilitas bengkelnya nandi gimana?.'' Tanya lelaki berambut gondrong.


''Iya gue panas, gue akui pasilitas bengkel nandi serba modern ada mesin bubutnya juga, dan mesin bending buat rangka bodi.'' Jelasnya Bondan.


''Abang-abang, ya jelaslah orang-orang akan pilih ke Nandi karena alatnya serba mesin, mungkin kinerjanya juga sangat bagus.'' Jawabnya.


''Terus kalian, mau uang kagak?.'' Tanya Bondan.


''Dijaman modern begini siapa sih yang tidak mau duit, lantas apa yang harus kita kerjakan.'' Ujar lelaki berbaju kotak-kotak yang bernama Gery.


''Gue pingin lo' pada bikin keributan di sebuah kedai itu, dan hajar semua kalau ada yang melawan.'' Ucap Bondan.


''Masalah bikin keributan, itu kerja'an kita, tapi mana imbalan yang abang janjikan itu, ingat tidak ada dp dp an, abang harus bayar kita lunas, berapa abang akan bayar kita.'' Celoteh Gery.


''Oke no problem, kalian gua bayar lima juta.'' Ujar Bondan.


Gery beserta teman-temannya hanya tertawa mendengar Bondan akan membayar sebesar lima juta rupiah.


''Hahahaha, abang ini bercanda apa lelucon, hari gini kita dibayar lima juta, sedangkan resikonya sangat besar bang.'' Ujar Gery sambil melirik pada ke empat temannya.


''Ya terus kalian mau dibayar berapa, cuma bikin keributan doang ko.'' Gerutu Bondan.


''Heh bang, kalau lagi sial, kita bisa berurusan dengan pihak polisi, apa abang mau gue libatin nantinya, lima belas juta abang bayar kita, sekarang juga gue bersama teman-teman gue akan beraksi.'' Bentak Gery.


''Oke-oke, ini gue ada duit dua belas juta, sisanya nanti bila kalian sudah berhasil, gimana.'' Ujar Bondan.


Sejenak Gery terdiam sembari melirik pada teman-temannya meminta jawaban.


''Gimana bro terima gak?.'' Tanya Gery.


''Ya sudah terima saja, kita lagi boke nih.'' Jawabnya.


Kemudian Gery pun menyanggupinya dengan satu sarat.


''Oke gue terima, tapi ingat abang harus cepat lunasi sisanya nanti.'' Pinta Gery.


''Tenang kawan, gue gak akan ingkar janji, nih dua belas juta lo' pegang.'' Ucap Bondan sambil memberikan satu ikat uang punjul dua juta.


Gery pun menerima uang sebesar dua belas juta dari tangan Bondan.


Setelah itu Gery membagi uang tersebut pada ke empat temannya.


Kemudian Gery bersama kawanannya langsung beranjak dari tempat duduknya, dan berjalan kearah kedai yang masih banyak dikunjungi oleh para karyawan.


Dengan gaya dan niat yang sudah tidak beres Gery dan kawan-kawan berjalan dengan gagah berani karena demi duit urusan pun menjadi mudah bagi Gery dan ke empat temannya.


Dengan hati yang sudah yakin akan niatnya itu pasti akan berjalan dengan mudah menurut Gery yang belum mengenal sepak terjangnya anak gang si'iran dijalanan itu dulu.


Apalgi kini sudah dilengkapi oleh toglo, pemuda baik hati tapi bisa berubah menjadi barbar bila sudah dicaci maki hatinya.


Kemudian Gery bersama kawanannya telah memasuki kedai kopi dengan gaya pertentang pertenteng dan bernada seperti seorang jawara sambil meminta dibikinin kopi.


''Hai pelayan, bikinin kopi hitam lima.'' Ucap Gery bernada sok jago.

__ADS_1


Kamal, hasan, doni dan yang lainnya tersontak kaget dengan nada bicaranya Gery.


Toglo yang melayani setiap pembeli kini buka mata atas perminta'annya Gery yang tidak punya sopan santun sedikitpun.


''Heh bang, kalau mau ngopi gak usah ngegas begitu, gua juga belum budek.'' Tegur Toglo agak emosi.


''Kan gue mau beli, terserah gue mau bernada bicara kaya apa, pembeli kan raja.'' Saut Gery.


''Iye gua tau, pembeli itu raja, tapi gua pedagang adalah raja dari segala raja.'' Ujar Toglo.


''Banyak omong lo', mau bikinin kagak, atau gue obrak-abrik kedai ini.'' Teriak Gery.


Toglo bukannya menuruti kemauannya Gery, Toglo lalu keluar dari dalam kedai, kemudian kamal, Doni dan Hasan yang lagi duduk manis dibangku langsung bangkit dari tempat duduknya.


''Ini orang waras, apa ketiban paya.'' Ujar Kamal sambil melangkah.


Toglo yang sudah terpancing amarahnya, kemudian mendekati pada Gery dan ke empat temannya.


''Lo' itu mabuk, apa habis jatuh dari tangga sih bang hingga otakmu menjadi tidak waras.'' Tegur Toglo sambil menunjuk mukanya Gery.


''Kurang ajar, suruh bikinin kopi, malah tunjuk-tunjukin gue lagi, rupanya lo' pingin gue hajar.'' Ujar Gery sambil beranjak dari tempat duduknya.


Toglo hanya tersenyum mengejek, melihat gaya Gery yang lucu dan kampungan.


''Hahaha, mau hajar gua, oke' asal ada lebihnya dari gua.'' Ucap toglo dengan tenang.


''Rupanya lo' pingin gue mampusin, dan gue acak-acak kedai lo' ini.'' Ujar Gery sambil melayangkan pukulannya pada Toglo, tapi mendadak berhenti ketika toglo berkata.


''Aet tenang bang, kalau abang pingin ribut, ayo diluar, ikutin gua.'' Ajak Toglo sambil berjalan keluar dari kedai.


Gery pun seperti tertantang, lalu Gery mengikuti Toglo keluar dari kedai.


Toglo telah berdiri dengan sorot mata yang tajam menusuk jantung Gery, seperti ingin mengetahui kekuatannya Gery sampai dimana tingkat kepandaian bela dirinya.


Dan ke empat kawanan Gery telah mengurung Toglo, tapi kamal, hasan dan doni dengan sikapnya yang tenang menghampiri mereka semua.


''Sipa kalian, jangan ikut campur urusan gue sama pelayan kedai ini.'' Bentak Gery.


''Wooww tikus got rupanya mulai unjuk gigi, hai kuya asal lo' tau kita ini para pamili gang si'iran, siapa saja yang sudah masuk ke sarang kami, jangan harap kalian bisa pulang dengan mulus.'' Pungkas Hasan.


Toglo yang seperti tidak sabar melihat gaya mereka, lalu toglo unjuk bicara.


''Jangan ngobrol melulu, maju kalian, akan ku kirim kalian semua ke UGD.'' Tantang Toglo.


Gery langsung menyerang Toglo dengan melancarkan pukulan dan tendangannya, Toglo hanya mengkaper serangan-serangan Gery seperti pingin tau dulu kekuatan bela dirinya lawan.


Kini perkelahian pun menjadi campuh, Kamal, Hasan dan Doni sudah turun dalam medan pertempuran, panasnya terik matahari di siang hari itu menjadi saksi perkelahian antara anak gang si'iran dengan komplotannya Gery.


Keringat pun sudah mengucur membasahi pakaian mereka, Toglo dengan agresipnya dalam mengelak serangan-serangan lawan, sehingga rasa lelah dirasakan oleh Gery ditambah basah kuyup pakaiannya oleh keringat yang terus mengocor dari tubuh Gery, serangan-serangan Gery tak satupun bisa menembus Toglo, malahan sebaliknya, kini Toglo melakukan serangan balasan pada Gery, bidikan-bidikan sebuah pukulan yang toglo luncurkan membuat Gery semakin terdesak.


Ketika Gery dalam keada'an lemah dalam pertahanannya, Toglo melesit dengan sangat cepat, sembari mengirimkan pukulannya.


Kini Gery harus merasakan kerasnya pukulan toglo, bersarang tepat dipelipisan Gery.


Duuk deeaass...


Aaauuuugghh...


Terdengar suara dari mulutnya Gery, dengan sedikit gontai.


Toglo tidak memberi luang lagi pada Gery untuk berontak, kemudian Toglo memutarkan tubuhnya, melesat bayangan parabol mendarat di mukanya Gery, satu tendengan kaki Toglo.


Buukk..


Begitu tubuh gery sudah miring mau jatuh, toglo dengan cepat menggeserkan kakinya selangkah kedepan.


Duuk duk deeaasss....


Pukulan tangan kiri, kemudian di susul dengan sabetan elbo.

__ADS_1


Blaaakk.


Pemuda yang tadi berlaga sok jago, kini tersungkur dan tidak berdaya lagi.


Sementara Nandi yang lagi istirahat, melepaskan lelahnya dengan tiduran dikamarnya, tiba-tiba dibangunin oleh Sindi.


''Aa, aa bangun.'' Ujar Sindi sambil menggoyang-goyangkan tubuh Nandi yang dalam keada'an tertidur.


Nandi pun mulai membuka matanya perlahan sembari mengerlingkan jidatnya.


''Ada apa sayang, ku lagi enak tidur, tuh baru aja setengah satu.'' Gerutu Nandi.


''Coba aa tengok keluar, ada suara keributan, seperti orang berantem.'' Ujar Sindi.


''Masa sih.'' Celoteh Nandi sambil mengangkat tubuhnya, kemudian langsung berdiri dan bergegas keluar kamar.


''Iya bener, siapa sih yang sudah bikin keributan, kaya suara toglo.''


Tidak mikir lagi Nandi langsung berlari keluar rumah, setibanya di depan kedai Nandi langsung membetak.


''Wooii ada apa ini, kenapa kalian pada ribut.'' Teriak Nandi pada Toglo.


Dengan tenang Toglo menjelaskan pada Nandi.


''Ma'ap bang Nandi, coba abang perhatikan siapa mereka.'' Ujar Toglo sambil menunjuk pada komplotan Gery yang lagi digempur habis-habisan oleh Kamal, Hasan dan Doni.


Melihat begitu Nandi langsung menggidir amarahnya.


''Wooii, hentikan.'' Teriak Nandi.


Begitu Nandi berteriak meminta untuk menghentikan perkelahian itu, berbarengan dengan tumbangnya ke empat komplotan Gery, di lalap abis oleh Kamal, Hasan dan Doni.


''Mampus kalian, cuma se ekor tikus got, berani berkoar disini.'' Ujar Kamal.


Sorak sorai dari karyawan yang menonton perkelahian itu, memecah suasana di siang hari.


''Kalian semua, kembali pada kerja'an kalian masing-masing, sebentar lagi jam masuk kerja.'' Ucap Nandi pada karyawan barunya itu.


''Baik pak.'' Serempak menjawab.


Kemudian Nandi mendekati pada ke empat orang, yang baru Nandi kenal itu.


''Siapa kalian, kenapa bikin keributan di tempat saya?.'' Tanya Nandi.


Ke empat orang itu, tidak berkata apa-apa, karena rasa sakit di mukanya masih terasa ngilu.


Nandi lalu mendekti pada lelaki yang berambut gondrong, kemudian tangan Nandi menjambah kerah jaket pemuda gondrong itu.


''Gua tadi bertanya sama lo', kenapa kalian bikin keributan disini.'' Ucap Nandi.


''Aaa aam mpun bang.'' Saut lelaki gondrong sambil mengangkat kedua tangannya.


''Makanya cepetan jawab, atau kalian akan ku bikin lebih parah lagi.'' Ujar Nandi menakut-nakuti.


''Kita dibawa kesini sama bang Gery.'' Ujar si gondrong sambil menunjuk pada Gery yang masih belum sadar.


''Ooh jadi itu pimpinan kalian.'' Ucap Nandi, sambil memanggil Kamal, Hasan dan Doni.


''Mal, San dan lo' Don kesini, ini orang jagain jangan sampai kabur.'' Ucap Nandi.


Selepas itu Nandi langsung memanggil Toglo untuk mengambil air se ember guna menyiram Gery yang masih belum sadarkan diri, karena di bom bardir pukulan oleh Toglo.


*****************


Bersambung.


Jangan lupa sertakan like, comentar, favorit, dan votenya, serta hadiah juga boleh.


Terima kasih atas dukungannya, salam sehat dan sukses selalu.

__ADS_1


__ADS_2