
Betapa bahagianya bi'irah sudah ditolong oleh nandi dan para anak buahnya.
Karena nandi sudah sangat dikenal dikalangan masyarakat kecil selalu menolong, orang-orang yang membutuhkan pertolongannya.
Kini bi irah sudah sudah pulang kembali kerumahnya.
Dan motor satu-satunya buat melariskan dagangannya kalau disore hari, bi irah selalu keliling jual sayuran pakai motor tersebut, dipagi harinya selalu jual gorengan, karena dengan modal motor setoran wanita janda beranak satu itu bisa mencukupi kebutuhannya, dan untuk biaya anaknya yang masih kuliah disebuah uni persitas dikota itu.
Sementara nandi yang lagi duduk bareng sama, kamal, hasan dan doni, sambil menunggu para langganannya datang, seperti biasa ke'empat pemuda itu tidak pernah lepas dari minuman warisan para leluhur, yaitu kopi hitam, bagi mereka kopi adalah penyemangat hidup mereka.
Dan dengan kopi urusan yang rumit bisa jadi gampang.
''Waah nikmatnya hidup ini, minum kopi bareng, dalam menyelesaikan sesuatu kitapun selalu bareng, sungguh indah ya arti dari persahabatan.'' Ucap kamal.
''Ya itulah kebahagia'an hidup, dan bahagia itu sederhana, disa'at kita selalu bersama, banyak momen-momen yang tak mudah untuk dilupakan disepanjang hidup kita.'' Pungkas nandi.
''Betul sekali bro, contoh gua, selama gua kerja diluar negri, duit selalu ada didompet, mau apa aja tinggal beli, tapi gua selalu ada yang kurang, yaitu sahabat, disini di tanah kelahiran gua sendiri, gua baru mengerti arti hidup yang sesungguhnya, buat gua sahabat adalah segalanya.'' Ucap doni.
''Iya betul itu, jujur aja don, sebelumnya gua sempat menilai lo tidak sepadan dengan kita-kita tapi ternyata penilaian gua je lo salah, ma'apin gua ya.'' Ucap kamal.
''Loh ko bisa lo menilai gua begitu, gua tau sekarang, iya gua akui pertama gua sangat canggung dan susah untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru gua kenal, karena selama gua dimalaysia sungguh jauh berbeda.'' Ucap doni.
''Bedanya gimana don?.'' Tanya kamal.
''Disana orangnya cuek, lebih mengutamakn diri sendiri ketimbang orang lain, ya bukan egois juga sih, dalam arti kata, sia-sia, aing-aing, atau elo lo gue-gue begitu istilahnya.'' Saut doni.
''Kalau begitu gak punya kawan atuh.'' Kata nandi.
''Ya kawan sih ada, cuma sebatas kenal biasa aja.'' Jawab doni.
''Ya kalau di negri kita, orang kaya gitu, gak masuklah, peradaban kita kan sangat kental dengan budaya-budaya warisan dari para leluhur, kalau istilah bahas sundanya, kudu sarenek saigel.'' Ucap nandi.
Obrolan mereka sempat bubar, karena sudah pada datangnya yang belanja, dan para langganan service, dan yang betulin keluhan-keluhan lain.
Kini tinggal nandi duduk sendiri dibangku, sambil mengeluarkan handponnya dari saku celana, terus nandi buka aplikasi whatssap.
Dipagi itu nandi chatingan dengan sang kekasihnya, dari mulai nanya kabar sampai akhirnya menuju chat-chat yang romantis, kadang nandi senuum-senyum sendiri, dan saling upload poto dengan gaya-gaya romantis.
Saking asiknya dan terbawanya oleh perasaan hati yang begitu dalam, sampai-sampai nandi tidak menyadarinya kalau tingkah itu banyak yang memperhatikannya, selain para pelanggan, disisi lain astuti memperhatikannya dari depan teras saat lagi memanaskan motornya sebelum berangkat ke toko.
''Waaah sebentar lagi tuh abang masuk rsj, heran gue, aa nandi yang gue kenal sebelumnya selalu asik dan ulet dalam pekerja'an gak ada waktu yang terbuang, tapi semenjak kenal dengan teh sindi kadang sikapnya selalu aneh, ternyata cinta itu bisa membuat orang lupa segalanya.'' Ucap Astuti.
Terus astuti, iseng-isengan memotret nandi, terus apa yang akan astuti lakukan.
''Hahaa, kena sekarang, rasain lo aa, gue kerjain tuh, dan gue akan kirim ke teh sindi.'' Ucap astuti sambil mengupload poto nandi yang lagi senyum-senyum dan kadang nyengir-nyengir sambil bergaya sendiri.
''Nah sudah terkirim, waaah sudah centang biru, berarti sudah dibacanya oleh teh sindi, sekarang gua harus cepat-cepat berangkat, takut kena marah nantinya, pastinya teh sindi akan bilang kalau gue sudah memotret secara diam-diam.'' Ucap astuti sambil memasukan handponnya pada tas.
Terus astuti menaiki motornya setelah helmnya sudah terpasang dikepala, dan tarik gasnya perlahan, sambil memijit klakson.
Tid tidid
''Aa gue berangkat dulu.'' Teriak astuti, sambil melajukan sepeda motornya.
''Iya de hati-hati dijalan.'' Jawab nandi.
Lima menit setelah keberangkatannya astuti, sindi mengirim chat dengan membagikan chatingannya astuti pada nandi.
''Ini aa, chat dari astuti gue sengaja dibagikan sama aa.'' Begitu bunyi chat dari sindi yang ada gambar poto nandi yang lagi nyengir.
Nandipun lalu membuka chat dari sindi, setelah dilhat dan dibacanya.
''Siaall, ternyata astuti sudah ngerjain gua, haha jadi pingin ketawa juga gua, berarti pas dia berangkat itu sudah dikimin pada sindi, gua gak sadar ternyata ada yang memperhatikan gua.'' Gerutu nandi.
Terus nandi juga melirik pada kamal, hasan dan doni, ternyata mereka masih sibuk dengan pekerja'annya,
Dan nandipun menoleh pada yang lagi duduk dibangku, sepert lagi bisik-bisik dan tersenyum tipis sambil memandang kearah nandi.
''Apa iya mereka tau tingkah gua tadi, ya sudah bodo amat, emang gua pikirin.'' Gerutu nandi.
Selepas itu nandipun langsung masuk kerumahnya, dan langsung menuju keruangan makan, nampak terlihat oleh nandi, makanan dimeja makan sudah siap santap, ia pun.langsung mengambil piring terus di'isi nasi dan lauk pauknya, ia pun langsung menikmati sarapannya dipagi itu.
Selepas sehabis makan, nandi mengeluarkan motornya lalu dipanasin, sambil di elap-elapin dibagiann bodinya unyuk membersihkan debu-debu yang menempel.
Setelah itu nandi masuk lagi kedalam rumahnya, jarak dua menit nandi sudah keluar lagi dengan pakaian rapi, sambil menenteng jaketnya dibahu kiri, terus jaketpun dipake, dan helm terpasang dikepala sebagai pelindung dan perlengkapan berkendara roda dua.
Setelah itu nandi langsung menaiki motornya dan ditarik pula gasnya pelan-pelan.
Dan motorpun mulai bergerak maju meninggalkan bengkel dan rumahnya.
Kini motor semakin jauh dan akhirnya sang motor rx king itu sudah berada dimedan jalan yang lebar serta licin dengan aspal yang tebal, dan banyaknya kendara'an yang lalu lalang didua jalur, itulah jalan raya delima.
Kepergian nandi banyak yang menjadi tanda tanya, khususnya para pekerjanya, kamal hasan dan gito.
__ADS_1
''Laah tumben nandi pergi gak bilang dulu.'' Ucap kamal.
''Ya mungkin buru-buru kali mal.'' Pungkas doni.
''Gua tau nandi, sejak dari masih kecil gua bersahabat, sesibuk apapun dia, tidak pernah tuh lepas dari bahasa pamit.'' Jawab kamal.
''Iya gua juga heran, nandi kalau mau pergi suka bilang dulu, atau selalu ada pesan, ini ko gak ada sama sekali.'' Kata hasan ikut nimrung.
''Noh hasan yang lebih dulu kenal dengan karakter nandi.'' Ucap kamal.
Sementara yang lagi dibicarakannya, masih terus melaju dijalan raya, kini motor itu belok memasuki sebuah gang.
Setiba disebuah rumah minimalis sederhana tapi cukup nyentrik, telah berdiri seorang gadis, memakai baju suiter warna ungu dengan rambut agak ikal sedikit bergelombang, nampak tersenyum lesung pipit, dengan celana jeans warna hitam, telah berdiri didepan teras rumah.
Begitu nandi datang, ia lalu berjalan keluar menuju halaman rumahnya.
''Ayo kita cabut sin, soalnya gua banyak sekali kerja'an dan hari ini lo gak usah masuk kerja dulu.'' Ucap nandi.
Ternyata gadis itu adalah sindi, yang sudah janjian sebelumnya di whatssap dengan nandi.
Sindipun lalu mendekati motornya nandi.
''Emang mau lama, kenapa gue tidak boleh masik kerja, nanti gaji gue dipotong lagi.'' Jawab sindi.
''Takutnya agak lama, tenang aja sih, takut amat gajian lo berkurang, sudah pamit belum sama nyokap lo?.'' Tanya nandi.
''Sudah dari tadi jug gue sudah ijin sama ibu mau pergi dulu.'' Jawab sindi.
''Ya sudah ayo naik.'' Ucap nandi.
Sindipun langsung menaiki motor nandi, dan nandipun langsung tancap gasnya, kini motorpun telah melaju, sindi berpegangan pada nandi begitu sudah memasuki jalan raya.
Tubuh yang seksi padat berisi, nampak indah bila dipandang dari belakang dengan pantat yang lebar dan kecil pas dibagian pinggang laksana sebuah alat musik biola.
Sindi dengan eratnya memeluk nandi dari belakang, sedangakan yang dipeluknya tetap pokus pada jalan yang sedang dilaluinya.
Tidak lama kemudian nandi telah tiba disebuah toko butik yang menjual beraneka ragan pakaina wanita dan pria.
Sindi kaget begitu nandi nengajak masuk kedalam.
''Aa mau ngapain kita kesini?.'' Tanya sindi.
''Ya mau beli bajulah buatmu.'' Jwab nandi.
''Emangnya ditoko butik cuma pakain pengantin doang yang dijual, yang tentu tidak sindi sayaaang.'' Ucap nandi sambil mencubit pipi sindi
''Aaawww sakit tau, aa nandi kasar, nanti muka gue jadi lebam.'' Ucap sindi.
''Bodoo.'' Jawab nandi sambil memcolek pipi sindi.
''Tuh kan mulai deh awas yah, nati gue balas.'' Ucap sindi.
Nandi dan sindi terus masuk kedalam.toko tersebut dan memilih milih pakaian yang cocok untuk sindi.
''Aa disini pakain mahal-mahal tau, noh lihat harganya juga ada yang sampai lima juta.'' Ucap sindi.
''Udah sih lo diam aja.'' Jawab nandi.
Disa'at nandi dan sindi kagi memilih-milih pakaian yang cocok untuk tubuh dindi, seorang pelayan toko datang menghampiri nandi.
''Mau pilih gaun pengantin apa yang lainnya?.'' Tanya seirang pelayan.
''Ini saya mau cari pakain buat ke undangan, kira-kira yang cocok dan bagus buat pacar saya, tapi harganya tidak terlalu mahal.'' Ucap nandi.
''Ooh gitu, ya sudah ikut saya.'' Ucap pelayan.
Nandi dan sindi lalu mengikuti pelayan itu, keruangan yang lainnya.
''Nanh ini pakain khusus buat kepesta atau seacam undangan lainnya, ibu boleh pilih warna yang cocok yang mana, atau boleh saya bantu memilihkannya.'' Ucap pelayan itu.
''Iya mb coba mb pilih warna yang cocok dengan kulit pacar saya ini.'' Ucap nandi.
Pelayan pun langsung memilih pakain yang cocok dengan postur tubuh dan kulit sindi.
''Nah ini bu pakaian yang cocok dengan bentuk tubub dan warna kulit ibu.'' Ucap pelayan sambil memberikan pakaian itu pada sindi.
Lalu nandi dan sindi melihat-lihat pakain itu dengan sangat teliti.
''Gua rasa ini cocok dengan lo sin, warnanya bagus tidak terlalu mencolok.'' Ucap nandi.
''Iya aa bagus banget, boleh dicoba gak mb?.'' Tanya sindi.
''Ooh tentu saja boleh, tuh disitu.'' ucap pelayan sambil menunjuk ke arah ruang salin.
__ADS_1
''Bentar ya aa gue mau coba dulu.'' Ucap sindi.
''Gua boleh ikut gak.'' Ucap nandi.
''Husss gak boleh tau, belum waktunya.'' Jawab sindi.
Pelayan itu hanya tersenyum, melihat nandi dan pacarnya, yang terlihat romantis.
''Pacar abang cantik banget anggun lagi wajahnya, ditambah lesung pipitnya itu.'' Ucap pelayan pada nandi.
''Ya iyalah, terus kalau gua menurut mb gimana?.'' Tanya nandi pada pelayan.
''Wah serasi banget, abang juga tampan dengan postur tinggi dan kekar, pasti banyak wanita yang tergila-gila pada abang.'' Jawab pelayan.
''Bisa aja sih mb ini, kecantikan dan ketampanan cuma titipan mb, nandi kalau sudah berkalang tanah abis dimakan belatung.'' Ucap nandi.
Setelah itu sindipun telah keluar dari ruangan salinnya, dengan membawa pakaian yang coba itu.
''Gimana, bagus gak?.'' Tanya nandi.
''Bagus banget aa, gue suka sekali.'' Jawab sindi.
''Ya sudah, kira-kira astuti sama gak ukuran badannya sama lo.'' Kata nandi.
''Astuti orangnya tinggi aa, mungkin kalau pinggang sih seukuran sama gue, soalnya gue pernah pinjam celana astuti pas muat dipinggang gue.'' Ucap sindi.
''Oke kalau brgitu, tunggi astuti 170 cm, kalau warna dominannay sih sama dengan gua.'' Ucap nandi.
''Tapi gue rasa astuti juga suka dengan corak yang ini.'' Ucap sindi.
''Ya masa sama warnanya, nanti kesannya gimana, ooh iya mb kira-kira yang cocok dengan cewe yang ini yang kaya gimana.'' Ucap nandi sambil memperlihatkan poto astuti dihandponnya.
''Wah gila ni abang, ini pacar abang juga.'' Kata pelayan.
''Buset dah, bukan, ini adik gua.''bUcap nandi.
''Ooh kirain, tapi menurut saya pake yang model ini juga keren, apalgi kelihatannya adik abang ini tinggi.'' Kata pelayan.
''Masa harus serupa warnanya sih mb.'' Ucap nandi.
''Ooh kalau begitu, sebentar saya ambilin kayanya ada sisa stok tinggal satu lagi.'' Ucap pelayan sambil mengambilkan pakaian yang nandi pesan buat astuti.
''Nah ini, sepertinya pas banget sama adik abang.'' Kata pelayan.
''Gile, bagus banget, ya sudah, saya beli dua, tolong dikemas ya.'' Ucap nandi.
''ooh ya udah, silahkan abang lakukan pembayaran dulu, di kasir satu.'' Ucap pelayan.
Nandi dan sindi lalu menuju kekasir buat pembayarannya.
Setelah semua dibayarnya, yang lumayan sangat mahal bagi cewe se kelas sindi.
Rasa seneng kini bergejolak dihati sindi, karena sudah diperhatikan oleh sang kekasihnya.
Kini keduanya sudah keluar dari toko butik tersebut menuju motornya yang lagi diparkir dihalaman toko.
Nandi langsung menghidupkan motornya, dan sindi duduk dijok belakangnya nandi, motorpun mulai melaju keluar dari area parkiran.
''Aa makasih banyak sayang.'' Ucap sindi sambil memeluk erat nandi dari belakang.
''Sama-sama sin.'' Jawab nandi.
''Ooh iya, itu pakaian mahal banget buat gue, dan yang belanja kesitu dari tadi gue lihat pada pake mobil mewah.'' Ujar sindi.
''Iya gua juga tau, itu butik langganannya orang-orang kaya, tenang aja sin, kan gua bosnya elo' ya alhamdulilah gua lagi ada duit.'' Ucap nandi.
''Iya sih aa, gue juga tau, dan sebenarnya aa juga bisa beli mobil mewah, tapi gue salut sama lo aa, aa nandi gak terlalu banyak tingkah, gak seperti orang-orang baru maju usaha dikit aja sudah gunta ganti mobil.'' Ujar sindi.
''Kalau gue sin lebih suka bawa motor ketimbang mobil, ĺebih praktis dan simple, kan lo' juga tau sendiri, kota ini biangnya macet sekarang.'' Ucap nandi.
Nandi dan dindi sangat asik ngobrol sambil melajukan kendara'annya, terkadang mereka saling canda dan tawa
\=\=≈\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Bersambung.
Ikuti terus kelanjutan kia
sahnya di episode selanjutnya, cukup dengan like, comentar, saran, ranting, favori dan vote.
Terima kasih atas dukunganny, semoga sehat-sehat dan selalu sukses.
Selamat membaca
__ADS_1