
Kedua orang yang terus mengintai ke pulangannya para famili Gang Si'iran dalam sebuah kendara'an roda empat yang ia tumpanginya melaju dengan perlahan di sela-sela kendara'an lainnya.
Ketika para famili Gang Si'iran sudah berbelok ke kiri memasuki kawasan Gang Si'iran kedua orang itu pun menghentikan lajunya kendara'an.
"Ooh jadi ini yang di namakan Gang Si'iran itu." Gerutu sang pengemudi kendara'an itu.
"Perasa'an ku pernah mampir di gang ini, tapi lupa kapan ya." Ujar temannya itu.
"Benar kamu pernah masuk kawasan Gang ini, saya merasakan suatu aura yang hebat di Gang ini, seperti dulunya tempat para Jawara di sini." Ujar lelaki separu baya.
"Ma'ap saya sebenarnya masih penasaran dengan maksud kamu mengikuti Nandi dan kawan-kawan, ada apa sih di balik ini semua?." Tanya temannya itu.
"Saya penasaran dengan Nandi, katanya sih pemuda itu ilmu bela diri sangat hebat, kita tantang Nandi untuk berduel di atas ring." Ujar nya.
"Kamu sendiri yang menjadi lawannya Nandi?." Bertanya.
"Bukan tapi anak buah pilihan saya." Jawabnya.
Lalu ketika mereka lagi asik mengintai Nandi dari kejauhan, tiba-tiba ada seorang pengendara mobil yang ingin berbelok ke arah Gang Si'iran membunyikan klakson.
Tid tid tidid.
Kedua orang itu tetap saja nyantai tidak memperdulikan ada beberapa kendara'an yang berbaris di belakang ingin masuk ke arah jalan Gang Si'iran.
Karena merasa tidak di hiraukan dengan ramainya suara klakson tersebut, lalu salah satu pengendara mobil itu keluar dan berjalan menuju pada kendara'an yang paling depan, setibanya di dekat mobil orang itupun mengetuk kaca pintu depan mobil yang lagi di tumpangi dua orang itu.
Tok
Tok
Tok
"Pak pak ma'ap buka kacanya." Pinta orang yang di luar mobil.
Kemudian sang pengemudi itupun membuka kaca mobil itu. "Ada apa mas?." Tanya nya.
"Bpak gak dengar dan gak lihat di belakang banyak mobil ngantri mau masuk jalan ini, kalau mau berhenti dinpinggir dong, ini kan jalan kecil di pertiga'an lagi." Ujarnya
"Ooh iya maap mas, saya tidak melihat ada banyak mobil di belakang, maap ya." Jawabnya sambil menyalakan mobilnya lalu melaju perlahan memeped ke pinggiran.
"Oke kali ini saya ma'apkan, tapi lain kali bapak jangan mengulangi lagi, ini bisa memicu keributan pak." Ujarnya sambil melangkahkan kakinya berbalik arah pada kendara'annya.
Lalu setelah itu para kendara'an yang lagi ngantri sudah melajukan lagi kendara'annya memasuki kawasan jalan Gang Si'iran.
Sementara si pengemudi mobil itu menggerutu sendiri. "Sial saya kena omel lagi, kalau bukan lagi mengintai Nandi akan saya habisi tuh orang." Gerutunya.
"Ya salah kamu sendiri, orang sudah ngantri mau jalan, kamu malah diam di tengah lagi." Ujar temannya memberi peringatan.
"Ko saya yang di salahin." Cetusnya gak terima.
"Ya jelaslah kamu yang salah ko, masih aja membela diri." Ujar temannya.
"Sudah-sudah nanti malah kita yang ribut." Ujarnya.
Temanya tertawa tipis sambil menepuk jidat.
"Hehe, siapa kali yang ngajak ribut, kan anda sendiri yang terlalu menuruti egomu, tanpak memikirkan perasaan orang lain, oke ya sudah." Jawab temannya itu.
Kemudian si pengendara mobil itu pun langsung membelokan setirnya ke kanan untuk memasuki jalur kiri berbalik dan kembali pulang ke tempat perkumpulannya.
Siapakah kedua lelaki paruh baya itu, kenapa sampai membututi Nandi dan para famili Gang Si'iran, lalu rencana apa yang akan mereka lakukan untuk menjatuhkan Nandi.
Singkat cerita kedua lelaki itu telah sampai di sebuah tempat, dengan tulisan yang membentang di atas gerbang gapura "BLACK CROW"
Sesampainya di dalam gerbang kedua lelaki itu keluar dari dalam mobilnya, dan puluhan lelaki menyambut dengan memberi hormat padanya.
"Hormat kami Guru." Serempak memberi sapa'an.
"Iya terima kasih, lanjutkan latihan kalian." Jawabnya.
Lalu kedua lelaki itu memasuki sebuah ruangan yang tidak terlalu luas, dan menurunkan tubuhnya duduk di sebuah sopa bersandar dengan melentagkan kedua tangannya di atas sandaran sopa. "Mar bikin kopi dong, aku suntuk nih." Perintah lelaki itu yang bernama Burnaman.
"Kali-kali kamulah bikinin kopi buat aku, masa aku terus sih, di sini kita kan sama-sama sebagai guru dari Black Crow." Balas lelaki yang bernama Damar.
"Mar Damar, kalau ku gak butuh sama kamu, gak akan ku mengalah, okelah kalau begitu, perhitugan amat sih kamu." Ujar Burnaman sambil bergegas pergi.
__ADS_1
Damar tersenyum sambil menyunggingkan bibirnya. "Rasain lho, emang enak di perintah terus, setelah saya pikir-pikir semakin lama Burnaman semakin berani memerintahku se enak hatinya, emangnya saya budaknya apa." Gerutu Damar.
Selepas itu, Burnaman datang dengan membawa dua gelas kopi lalu di darat kan di atas meja.
"Ini kopinya Mar, sekali ini aja saya bikini kopi buatmu." Ujar Burnaman.
"Oke terima kasih, jadi dari mulai sekarang kita bikin kopi sendiri-sendiri, supaya di antara kita tidak ada yang merasa di perbudak." Ucap Damar.
"Is oke, no problem." Jawabnya.
Damar tersenyum tipis sambil mengacungkan jempol tangan kanannya.
"Nah ini baru namanya kawan." Ujar Damar.
Burnaman hanya terdiam, lalu tangannya meraih segelas kopi yang nampak masih mengepul.
••••••••••
Sementara di tempat lain.
Nandi dan para famili Gang Si'iran sudah tiba di tempat, dengan kumpul bareng di kedai kopi yang tadi sempat di handle sama Asep, berhubung Mira di ajak sama Astuti untuk menemaninya dalam perjalanan menuju Markas Tengkorak hitam.
Asep pun langsung pamit lagi untuk kembali ke bengkel.
"Kalau begitu ku balik ke bengkel lagi, lagi banyak pengunjung, kasihan Gio sama Peri." Ujar Asep.
"Iya sep, makasih ya." Cetus Mira.
"Iya mb Mir sama-sama." Jawab Asep.
Selepas itu mereka pun langsung asik bersantai dengan di temani kopi hitam kental manis ala kedainya Nandi.
Toglo duduk di pojok kedai, sambil asik dengan handpon barunya yang di dapat dari perlombaan waktu di pantai itu.
Ketika Toglo lagi asik dengan handpon barunya, terdengar celetukan dari para famili Gang Si'iran.
"Woi Glo sini dong kumpul sama kita-kita, mentang-mentang punya handpon baru." Ujar Kamal.
Toglo hanya tersenyum tipis, dengan menolehkan pandangannya, ke arah suara yang memanggil dirinya. "Bentar bang lagi asik nih." Jawab Toglo.
"Bingung kenapa sih bang." Ujar Toglo.
"Ya bingung aja, hidupmu itu selalu aja mujur, pakai ilmu apa sih." Ujar Hasan.
"Abang pingin tau, coba abang tanya pada guru ku." Jawab Toglo sambil menunjukan jempol tangan kanannya ke arah Nandi.
Hasan hanya terdiam sambil mengernyitkan keningnya, sedangkan Nandi hanya tersenyum tipis mendengar obrolannya Hasan dan Toglo.
Pukul 12:00
Para karyawan, PT Anggita Surya Mandiri, telah keluar dari ruangan kerjanya masig-masing karena sudah jamnya istirahat, Toglo yang sedari tadi menunggu waktu istirahat kini terasa lega hatinya, rasa rindunya pada sang puja'an hati, membuat Toglo ingin selalu bersama setelah semua perasa'an hatinya terjawab oleh Wulan, bahwa antara Toglo dan Wulan mempunyai perasa'an yang sama.
Toglo mengagumi wulan, karena Wulan sosok wanita baik, dan tidak banyak tingkah bergaya apa adanya, cantik alami bukan polesan.
Begitu pula Wulan, sangat menyukai Toglo, karena bagi Wulan Toglo merupakan lelaki baik hati, tangguh, punya dedikasi tinggi pemberani dalam segala hal, walau terkadang mempunyai sipat bengis dan kejam, itu semua karena kalau hatinya sudah di sakiti.
Bertepatan dengan itu Wulan pun langsung memasuki ruangan kedai, seperti sudah di atur oleh semesta, Wulan memandang ke arah pojok kedai, dan yang di pandangnya menoleh ke arahnya, benturan tatapan netra terjadi hingga di antara mereka seperti saling memancarkan cahaya pelangi dan adanya ke kuatan kutub magnet yang membuat mereka saling tarik menarik.
Toglo beranjak dari tempat duduknya sambil meleparkan perkata'annya.
"Haii, Wulan." Sapa Toglo.
Wulanpun berjalan menuju ke arah Toglo.
"Haii Wanda, ku dari pagi nunggu kamu, kamu kemana aja sih?." Tanya Wulan.
"Tadi ada acara sama pak bos, nanti ku cerita'in." Jawab Toglo.
"Ooh iya, kamu mau minum apa." Lanjut Toglo memberi tawaran.
"Ku pingin capucino." Jawab Wulan.
Lalu Toglo memanggil Mira. "Teh Mira Capucino plus susu satu." Pesan Toglo.
"Oke Wan, dingin apa biasa." Jawab Mira.
__ADS_1
"Dingin." Pungkas Wulan.
Tidak lama kemudian pesanan sudah datang, dan Mira langsung mendaratkannya di atas meja.
"Ayo silahkan di minum." Ujar Mira.
"Iya Mb terima kasih." Ujar Wulan.
Selepas itu Toglo dan Wulan asik duduk berdua di pojok kedai, ngobrol ngaler ngidul, saling canda tawa, kadang saling cubit gemes.
Sedangkan yang lainnya, seperti Kamal, Hasan, Gito, Pandi dan Doni telah pulang ke rumah, karena Nandi memerintahkannya untuk beristirahat dulu dari rasa lelah sehabis pertarungan dengan para kawanan Tengkorak Hitam.
Lepas dari coba'an yang menimpa Nandi dan para Famili Gang Si'iran, kini muncul kembali dari sebuah perguruan beraliran hitam.
Black Crow, nama perkumpulan bela diri beraliran hitam, yang suka memanpaatkan kepandaiannya demi kepentingan pribadi, seperti menjadi jasa penagih utang untuk para rentenir, kalau ada yang telat bayar mereka langsung main pukul se enak hatinya, alasannya supaya yang punya utang pada jera dan bisa bayar dengan lancar.
Dan menjadi tukang parkir di setiap pertiga'an jalan, dengan upah di bandrol secara paksa, kendaraan apa saja mereka hentikan.
Singkat cerita.
Sore itu sekitar pukul 16:30 menit, Toglo yang lagi membonceng Wulan dengan sepedanya, betapa asiknya mereka saling tawa ceria, Toglo yang terus menggoes sepedanya tanpak lelah demi sang puja'an hati.
Ketika Toglo mau memasuki pertiga'an jalan Gang Asem, tiba-tiba goesan toglo di hentikan oleh dua lelaki berbadan tegap, Toglo pun berhenti dan bertanya pada ke dua orang itu.
"Ada sih bang?." Tanya Toglo
"Sori nih, sekarang kalau mau memasuki gang ini kalian harus bayar." Jawabnya.
"Sejak kapan ada aturan di sini, kalau pun ada, atas dasar apa, dan untuk apa uang tersebut di gunakan?." Tanya Toglo.
"Ya untuk kepentingan orang-orang di sini." Jawabnya.
"Mana proposalnya dan gua pingin tau siapa yang mengesahkan aturan ini, dan uangnya buat pembangunan apa?." Tanya Toglo mendesak.
"Wah rese nih orang, pakai tanya ini itu segala, hajaaarr." Teriaknya.
Toglo pun melompat dari atas sepeda, sedangkan Wulan berlari menjauh menyelinap ke balik pohon asam, menyaksikan perkelahian antara Wanda dan kedua orang yang tidak di kenalinya.
Kedua lelaki itu merasa bahwa orang yang lagi ia hadapi nya tak ubah hanya se orang bocah kemarin sore paling hanya dalam tiga jurus saja akan kelar.
Tapi kenyata'annya jauh dari apa yang mereka bayangkan, ternyata pemuda yang mengendarai sepeda gunung itu sungguh sangat luar biasa, gesit, agresip dan sadis.
Cabikan jurus cakaran gagak hitam yang ia andalkan bisa di patahkannya dengan mudah oleh Wanda alias Toglo.
Sekelebatan pukulan dan cakaran mengincar Toglo dari dua arah, Toglo sangat paham kemana arah pukulan dan cakaran itu sebenarnya, dengan cepat merubah gerakannya dengan jurus pohon tumbang, setibanya di tanah Toglo memutarkan tubuhnya kaki dan tangan melesat dalam jurus sengatan dan capitan kala jengking.
Buk
Buk
Kaki dan tangan Toglo membentur tulang kering ke dua lelaki itu dalam bobot yang sangat keras.
Adawww.
kedua lelaki itu mundur dengan berjingkrak-jingkrak merasakan sakit yang tak terhingga di tulang keringnya.
Pemuda kejam kalau sudah terbakar api amarahnya, seketika itu langsung melesit ke udara kaki kanan di tendangkan pada lelaki berbaju hitam, dan Pukulan tangan kanannya meluncur ke salah satu temannya dalam jurus kuda terbang.
Deass
Deass..
Keduanya langsung terhuyung sempoyongan sambil menahan keseimbangannya, Toglo tidak pernah merasa kasihan pada orang yang sudah menjadi lawannya, secepat kilat ia menolakan kakinya ke bumi untuk melompat menerjang lelaki yang berpakaian kaos warna hitam, sebuah kepalan bogem berukuran besar meluncur dengan gerakan jurus tinju bumi.
Hiuuuukkk
Jroooootttt
Lelaki itu tidak bersuara lagi hanya terlihat semburan warna merah yang keluar dari hidungnya, kini tubuhnya langsung terpental dan jatuh terkapar di pinggiran jalan.
Sementara salah satu temannya yang sudah bisa menetral kan kembali keadaan pisiknya, langsung tersontak membulatkan kedua bola matanya, se akan tidak percaya akan kejadian yang menimpa temannya itu.
***********
Bersambung.
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya, salam sehat sejahtera dan dukses selalu.