
Nandi juga bersepakat dengan riyan, restu dan dodi, untuk tidak memperkeruh suasana.
Tidak ada lagi cara bagi Nandi, riyan, restu dan dodi, selain menyelesaikan masalah mereka dengan cara laki-laki.
Hendrik dan gito dibawa kebelakang bengkel, untuk memutuskan rasa dendamnya.
sebelum mereka bertanding, terlebih dulu nandi membikin surat perjanjian diatas materai, hendrik dan gitopun setuju dengan persyaratan itu.
Satu jam kemudian anak-anak pada ngumpul dibelakang bengkel dipekarangan yang kosong, bekas astuti berlatih.
Nandi menyediakan kostum untuk gito dan hendrik, agar bisa membedakan antara lawan dan lawan.
Terus peraturan pun dibikin seperti paithing dalam ring, dan ukuran arena pun diukur sama seperti arena di ring.
Tidak lama kemudian setelah semua persiapan dan perlengkapan sudah beres, gito dan hendrik dipersilahkan untuk masuk arena, dan pandi sebagai pemandu atau wasit takut ada kecurangan antara petarung dan petarung.
Sorak sorai dari kedua belah pihak ramai terdengar memberi semangat pada gito dan pandi.
Sementara bengkel ditutup dulu, dari depan jalan nampak sepi seperti tidak ada orang didalamnya.
Kini kedua lawanpun sudah saling berhadapan, untuk memulai pertarungan itu.
Pandi memberi peringatan pada kedua petarung itu.
''Kalian sudah siap, ingat dalam pertarungan ini tidak boleh curang, harus sportip, dan kalian tidak boleh keluar dalam arena yang sudah dikasih tanda, pertarungan bebas ala anak jalanan, tapi jangan memukul daerah terlarang, dan pundak daerah otak kecil, apa kalian sudah paham?.'' Tanya Pandi.
Kedua petarung hanya memanggutkan kepalanya tanda sudah paham.
Pandipun memberikan aba-aba kepada kedua petarung bahwa pertarungan akan segera dimulai.
Dalam hitungan detik, pertarunganpun sudah berlangsung.
Kedua lawan masih saling incar dan saling pandang sambil menggerakan tangannya dalam suatu pukulan-pukulan sebagai pancingan.
Hendrik yang sudah emosi dari sebelumnya, sangat bernapsu sekali, ingin membuat gito tidak berdaya.
Dan gito kali ini sangat berhati-hati sekali seperti yang telah diajarkan oleh nandi.
Menurut nandi dalam suatu pertarungan tidak cukup dengan pisik yang kuat dan keberanian saja, tapi harus tenang dan tidak menganggap enteng lawan.
Maka dari itu gito terapkan itu semua dalam pertarungan itu.
Sedangkan hendrik sangat berambisi untuk menghabisi gito, ia terus menyerang gito dengan pukulan jep silih berganti, gito terus menghindar dan menghindar sambil nemancing emosinya lawan.
Hendrik terus mendesak gito, tapi gito sangat lihai dalam berkelit.
Hiuuuuukkkk...
Pukulan hendrik meluncur menuju mukanya gito, hanya memiringkan tubuhnya sedikit gito terhindar dari ancaman hendrik.
Tapi hendrik tidak memberi celah sedikitpun pada gito, ia terus membabi buta dengan serangan-serangan yang tidak beraturan, gito yang dengan sangat tenang, disaat itu nampak ada celah buat gito untuk memasukan pukulannya.
Tinju gito melesat dari samping kirinya hendrik, tak bisa dihindari lagi tinju gito yang sangat kencang mendobrak pertahanan hendrik dan bersarang dipelipisan hendrik sebelah kiri.
Duuukkk...Deeaaasss.
Otomatis pertahanan hendrik jadi buyar hilang keseimbangan, disitulah gito langsung loncat dan memasukan pukulan tangan kirinya. yang terus didusul dengan elbo.
Buukk duuk deasss.
Tubuh hendrik tidak bisa dipertahankan lagi langsung seketika itu jatuh.
Blaaaaakkk.
Hendrik tersungkur, gito tidak memberi kesempatan sedikitpun ia lalu menghimpit tubuh hendrik, dan terus dihujani pukulan dengan bertubi-tubi.
Duk duk du deass.
Duj duk duk deassss deassss.
Disaat itu pandi langsung melompat menghalangi gito yang hendak menghajar lagi hendrik, dan ditiupnya periwit.
Hendrik masih tergeletak dilantai dan tidak berdaya lagi, teman-teman hendrik langsung memburu tubuh hendrik untuk diboyong dan dibawa keluar dari arena pertarungan tersebut.
Kini pertarungan itu, mutlak dimenangkan oleh gito.
Setengah jam kemudian hendrik sudah tersadarkan diri dari pinsannya.
Riyan terus memberikan air minum pada hendrik suapaya lebih tenang dan bisa mengakui kekalahannya itu.
Setelah terlihat agak tenang, riyan dan dodi langsung bertanya pada pda hendrik.
''Gimana drik apa lo masih ada kekuatan untuk
Melawan lagi.'' Ucap restu.
Untuk sementara henrik masi terdiamn dan tida menjawab, paertanyaa dari restu.
Hendrik duduk dengan kaki diselonjorin sambil menundukan kepalanya, seperti malu sama teman-temannya itu.
Seketika itu nandi datang menghampiri hendrik yang lagi di obatin luka lebam pada wajahnya.
Dan gito pun dengan ada rasa kasihan juga menghampiri hendrik.
''Gimana drik apa lo sekarang sudah terima kekalahan lo?.'' Tanya Nandi.
''Iya bang gue terima sekarang, dan gue sadar ternyata karyawan abang jago juga berkelahi, gue ngaku kalah.'' Jawab hendrik.
Dan gitopun lalu meminta maap pada hendrik atas, yang sudah bikin babak belur.
__ADS_1
''Gua minta ma'ap ya bro, sudah bikin lo kaya gini.'' Ucap gito.
Hendrikpun menerima perminta'an ma'ap dari gito.
Mereka terus saling rangkul, riyan,restu dan dodi beserta nandi sangat senang sekali melihat mereka sudah berdamai.
Satu demi satu permasalahan sudah bisa nandi bereskan.
Selepas itu mereka berkumpul bareng dan nandi menjamu mereka dengan makan-makan dan minum-minum.
Kini mereka sudah bersahabat dengan anak-anak gang si'iran.
Satu jam kemudian.
Merekapun pada bubar, dan kembali ketempatnya .
Tidak terasa hari sudah sore, nandipun langsung merapihkan tokonya untuk ditutup.
Selepas itu merekapun pulang, hanya nandi dan astuti yang tidak ikut bareng gito dan pandi.
Nandi dan astuti mau main dulu ketempatnya sindi, sekalian bersilaturahmi sama keluarganya sindi yang sudah lama tidak pernah main kerumah.
Sindipun sangat senang sekali, karena nandi mau berkunjung kerumahnya lagi, apalagi sindi semakin hari semakin rindu sama nandi.
Dari semenjak nandi menembak dirinya, sewaktu main ke tempat wisata talaga reumis, sindi sering sekali melamun dan membayangkan waktu romantis bareng nandi.
Setibanya didepan rumah sindi, nandi dan astuti lalu mematikan motornya.
Sindi terus masuk keteras depan rumahnya, sementara nandi dan astuti mengikutinya dari belakang
Tok tok.
''Assalam mualaikum, bu ibu.'' Ucap Sindi.
Setelah itu terdengar dari dalam menjawab salam sambil membuka pintu depan.
''Wa alaikum salam.'' Jawabnya.
Teruslah muncul wanita setengah baya, dan langsung menyambut nandi dan astuti.
''Bu gimana sehat.'' Ucap Nandi.
''Alhamdulilah sehat nak nandi .'' Jawab ibunya sindi.
Terus astuti mengulurkan tangannya pada ibunya sindi
''Selamat sore tante.'' Ucap Astuti.
''Eeeh nak tuti, sore juga, nak tuti abis ngantor lansung kemari?.'' Tanya ibunya sindi.
''Iya tante, kan bareng sama aa nandi.'' Ucap Astuti.
''Ooh, jadi nak nandi berangkat dari toko jalan ketupat juga.'' Ucap Ibunya sindi.
''Sin bawa minuman buat nak nandi dan nak astuti.'' Panggil ibunya.
''Iya bu, ini juga lagi bikin.'' Jawab sindi.
''Nak nandi ditinggal dulu, ibu masih banyak kerja'an, biasa kerja'an orang tua, kalau diam rasanya jenuh gtu gak ada kegiatan.'' ucap ibunya sindi.
Tidak lama kemudian sindi datang dengan membawa minuman, kopi dan teh manis hangat, beserta cemilannya goreng ranginang dan makan ringan lainnya.
''ini kopi buat aa nandi, dan ini teh manis hangat buat lo tut, ayo diminum, dan ini cemilan ciri khas parahiangan, ayo dicoba enak loh.'' Ucap sindi.
''Terima kasih sin, jadi ngerepotin nih.'' Ucap nandi.
''Ngerepotin apa'an, nggak ko.'' Jawab sindi.
Setelah itu mereka ngobrol, saling canda dan tawa, astuti terus pergi kebelakang menemui tante sumi ibunya sindi, karena memberi luang untuk abangnya, takut ada yang harus mereka berdua obrolkan, maklum anak muda yang lagi dilanda asmara, mungkin ingin mencurahkan rasa kangennya, makanya astuti memilih kebelakang menemui tante sumi.
Nandi lalu pindah duduknya dekat sama sindi, dan dipegangnya tangan sindi yang putih dengan jari jemari yang lentik, lalu nandi mencium tangan sindi.
Sindi merasa bahagia dengan sikap romantisnya nandi pada dirinya.
Kini jantung sindi mulai berdetak kencang, dua rasa bercampur jadi satu.
Ada perasa'an senang dan ada juga perasa'an takut.
Setelah tangan sindi diciumnya, lalu nandi memeluk tubuh sindi, rasa hangat dari rengkuhan seorang pria yang sangat dicintainya, sindi merasakan getaran asmaranya perlahan-lahan bangkit.
''Coba lo rasakan dan resapi sepertinya hati kita saling berkomunikasi, melalui jalan darah yang mengalir kejantung.'' Bisik nandi lirih ditelinga kiri sindi.
''Iya aa hati kita seperti saling mengisi.'' Ucap sindi.
''Dilima jarimu ada namaku, begitupula dilima jariku ada namamu, dihatiku terukir namamu, dan disetiap detak jantungku mengalir napasmu dan di isi otaku terlukis wajahmu.'' Ucap nandi berbisik sambil melepaskan pelukannya.
''Ternyata, aa pintar juga ya ngegombal.'' Jawab Sindi.
''Iiih siapa kali yang nggombal, ini ungkapan hati dari seorang laki-laki yang sedang dilanda cinta.'' Jawab Nandi.
''Iya makasih aa, atas semua yang telah aa berikan padaku.'' Ucap Sindi.
''Tumben lo ga bilang gue?.'' Tanya Nandi.
''Ya beda atuh aa, kita harus bisa menempatkan kata, kan kita sekarang lagi berdua, saling mengisi hati kita.'' Jawab Sindi.
''Oowww tambah pinter aja nih pacar gua.'' Ucap nandi sambil mencubit sindi.
''Aaawwww.. Sakit tau aa, iih aa kasar.'' Ucap Sindi.
__ADS_1
Bu sumi sampai kaget mendengar suara sindi, astuti hanya tersenyum dikit.
''Kenapa tante, kaya kaget begitu?.'' Tanya astuti.
''Ooh, tidak apa-apa nak tuti.'' Jawab nu suminar
''Pasti tante dengar suara sindi tadi kan?.'' Tanya Astuti.
''Iya siih, tante takut kenapa napa, takut mereka tidak bisa menahan godaan setan.'' Ucap bu suminar.
''Percayalah, aa nandi insa allah bisa menjaga imannya.'' Ucap Astuti.
''Kenapa kamu bisa seyakin itu, tidak kurang orang yang ahli agamapu banyak yang tergoda dengan kekuatan cinta, ditambah setan yang terus menggoda agar orang terjerumus dalam lembah nista.'' Saut bu suminar.
''Iya kita doain aja semoga cintanya mereka selalu suci sampai tali pernikahan nanti.'' Ucap astuti.
''Aamiiin.'' Jawab bu suminar.
Bu suminar terus masuk kedalam yang di ikuti oleh astuti karena suara penyeru bagi umat muslim telah diperdengarkan, nandipun langsung beranjak dari trmpat duduknya untuk mengambil air wudhu, sindipun juga begitu.
Setelah selesai wudhu nandi pergi kemusola yang dekat rumahnya sindi, untuk melaksanakan ibadah solat maghrib berjama'ah.
Tidak lama kemudian.
Nandi sudah pulang dari musolanya, ia terus duduk disopa sambil menyandarkan punggungnya, sambil memandang kelangit-langit rumah.
Terus astuti datang bersama sindi.
''Widiiih intens sekali tuh melamunnya.'' Celoteh Astuti.
''Sootoy lo ah, siapa juga yang melamun.'' Jawab Nandi.
''Terus ngapain tadi memandanng langit-langit rumah sampai segitunya.'' Ucap astuti.
''Ya pingin aja atuh.'' Jawab Nandi.
''Kalian ini, kaka dan adik selalu aja bertengkar, sekarang jangan bahas dulu itu, ayo kita keruang makan, tuh ibu sudah menyiapkan untuk menu makan malam kita.'' Ucap Sindi memotong pembicara'an.
''Uluuuhh, jangan ngerepotin sin, lagian kita tadi sudah makan dibengkel bareng teman-teman.'' Jawab Nandi.
''Iya sin, lagian perutku juga masih kenyang.'' Saut Astuti.
''Iya gue juga tau, tapi kasihan ibu loh, sudah susah-susah masak, masa kalian gak menghargai kebaikan nyokap gue.'' Ucap Sindi.
Bu sumi terdengar memanggil sindi, untik mengajak nandi dan astuti makan malam bersama.
''Sin, cepetan ajak nak nandi dan astuti makan bareng.'' Panggil bu suminar.
''Iya sebentar, tuh ayo aa, tut, nyicipi aja dulu, nanti juga kalian akan ketagihan dengan masakan nyokap gue.'' Ucap sindi.
Nandi dan astuti pun terpaksa memenuhi ajakan bu suminar untuk makan malam bersama.
Terus mereka menuju keruang makan, dan duduk dikursi yang telah dipersiapkan oleh bu suminar.
Bu suminar lalu memberikan sepiring nasi yang telah dicampuri dengan lauk pauk pada nandi dan astuti
Terus sindi dan ibunyapun mengambil nasi dan lauk pauknya.
''Ayo nak nandi, astuti, sengaja loh ibu buatkan menu kesuka'an sindi dan almarhum suami ibu, kalian belum mencobanya kan.'' Ucap bu suminar.
Di awali dengan membaca bismilah hirohman nirohim, mereka pun langsung menyantap makanannya.
Nandi dan astuti sejenak berhenti, dengan pasang mata dan wajah seperti lagi merasakan suatu makanan yang beda yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Sindi yang sempat memperhatikan nandi dan astuti seraya berkata.
''Kenapa aa, apa ada yang kurang enak dengan masakannya, apa gimana?.'' Sindi bertanya.
''Wawww mantap, gak nyangka pasakan ibu enak sekali sin.'' Ucap Nandi.
''Alhamdulilah.'' Saut bu suminar.
''Iya benar sin, masakan tante sungguh luar biasa, yang tadinya perut sudah kenyang, mendadak lapar lagi pas gue mencicipi masakan tante ini.'' Ucap Astuti.
''Siapa dulu dong, mamah gtu loooh.'' Jawab sindi.
''Wah nak nandi terlalu berlebihan menilai ibu, padahal masakan ibu tidak ada apa-apanya dengan save disebuah restoran mewah.'' Ucap bu suminar.
''Benar bu, masakan ibu tidak akan kalah oleh mereka, gimana kalau nanti kupromosikan, kalau ada acar-acara, pasti ibu akan terkenal dengan masakannya.'' Ucap Nandi.
''Jangan nak nandi, ibu kan sudah tua, apalagi bikin masakan dalam sebuah acara khusus, yang pastinya akan banyak menguras tenaga dan pikran.'' Jawab bu suminar.
''Ya ibu gak usah ikut ngerjain, cuma kasih resepnya aja, ooh iya apa ibu pernah belajar apa kursus begitu?.'' Tanya Nandi.
''Tidak nak nandi, ibu cuma belajar dari orang tuaku saja, yang kebetulan ibuku dulu sangat pintar memasak, dan ibu sangat tertarik untuk bisa belajar masak.'' Jawab bu suminar.
Setelah itu selesailah sudah makan malamnya, astuti dan nandi sangat senang dan betah dengan pasakan ibunya sindi.
Berhubung waktu terus bergulir, sampai tidak terasa, waktu sudah menunjukan pukul 20:30 menit.
Nandi dan astuti akhirnya pamit untuk pulang.
⭐⭐⭐⭐⭐⭐❤❤❤❤⭐⭐⭐⭐⭐⭐
Bersambung.
Nantikan kelanjutan kisahnya dalam epidode selanjutnya.
Tinggalkan jejaknya dengan like, comentar, favorit dan juga vote.
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya semoga sukses selalu.
Selamat membaca.