
Banyaknya persaingan bisnis di dunia jaman modern ini, dan meningkatnya kebutuhan manusia di arus kehidupan yang semakin maju.
Di arus globalisasi kebutuhan pinansial pun meningkat se iring dengan kemajuannya jaman.
Hiruk pikuk kehidupan di kota kembang, semakin mewarnai kehidupan kota, banyaknya para pelancong yang datang dari dalam maupun luar negri dàlam mengembangkan bisnis dan ber investasi di dunia usaha perniaga'an, membuat kota itu kini menjadi susah untuk bernapas, di tambah pabrik-pabrik industri yang kian marak sampai kepeloksok.
Belum lagi para pengusaha properti yang membeli lahan-lahan para penduduk dengan harga yang lumayan tinggi, yang akhirnya warga pribumi banyak yang tersingkir sampai ke pinggiran kota, karena terdesaknya oleh kebutuhan per ekonomian sehingga mereka terpaksa menjual lahannya demi terpenuhi kebutuhan hidup.
Maka dari itu seorang pemuda dari gang Si'iran yang punya niat ingin merangkul orang-orang yang perekonomannya menengah kebawah, supaya mendapat penghasilan tetap.
Si kidal sang penolong julukannya atau Nandi suryaman, yang selalu memancarkan sinar bagi orang-orang yang membutuhkannya, yang tak luput dari empat sahabatnya, Hasan, Kamal, Pandi dan Gito yang selalu mendukung dalam suka maupun duka.
Pukul 12:00.
Waktunya para buruh harian maupun lepas untuk istirahat.
Kedai yang tadinya di sediakan untuk para pekerjanya Nandi, kini menjadi ramai dan banyak di kunjungi orang-orang.
Toglo alias Wanda sepertinya sibuk sekali, melayani para pembeli.
Nandi yang memperhatikan dari halaman teras kantor, menjadi tidak tega melihat Toglo(Wanda) yang kesana ke mari, lalu Nandi bergumam dalam hati.
''Kasihan tuh Toglo. kalau jagain kedai sendirian terus, kalau ku ambil Wawan, kasihan bapak sudah cocok dengannya, katanya Wawan juga rajin dan gesit.'' Gumam Nandi dalam.hati.
Ketika Nandi lagi berdiri di depan teras, sapitri keluar dengan menyapanya.
''Pak' pak Nandi.'' Sapa Sapitri.
Nandi langsung kaget begitu Sapitri menegurnya.
''Oo iya Pitri, ada apa?.'' Tanya Nandi.
''Tidak ada apa-apa, cuma ku lihat bapak seperti lagi melamun.'' Jawab Sapitri.
''Tidak ko, ku tidak melamun, tadi tuh ku lagi lihatin Toglo yang sibuk melayani pembeli sendirian.'' Ucap Nandi.
''Atuh gampang pak, bapak tinggal cari orang, buat melayani para pembeli, biar Toglo bisa agak rileks.'' Ujar Sapitri.
''Ya itu yang lagi ku pikirkan, tapi susah cari orang kaya Toglo, dia gesit pintar, dan penuh dedikasi, padahal sekolah dasarpun tidak tamat.'' Ujar Nandi.
''Ya masalah kerja itu tidak bisa ditentukan oleh ijazah pak, terkadang yang berpendidikan lebih tinggi suka lalai dalam bekerja, karena merasa diri lebih pintar, sedangkan orang kaya Toglo yang memilih bekerja demi menghasilkan uang pasti akan kebih bersemangat, tapi tergantung orangnya juga sih.'' Ujar Sapitri.
Selepas itu Nandi berjalan menuruni trapan tangga teras kantor menuju pulang ke rumah, sedangkan Sapitri berjalan memasuki ruangan di kedai lalu duduk di kursi, sambil memesan sesuatu pada Toglo/Wanda.
Sementata Nandi langsung ke rumah, karena sang istri yang lagi menunggu untuk makan siang bareng.
''Assalam mualaikum istriku sayang.'' Sapa Nandi sambil mendorong pintu, lalu kaki kanan melangkah masuk di susull oleh kaki kiri begitu seterusnya, hingga sang istri datang dari dapur menyambut deng mencium punggung tangan suaminya.
''Wa alaikum salam suamiku, mau makan dulu apa mau solat dulu?.'' Tanya Sindi.
Sambil membuka kancing lengan kemeja, Nandi berkata.
__ADS_1
''Sebentar ya, ku mau mandi dulu terus solat, setelah itu baru deh makan.'' Ucap Nandi.
''Siap pak bos.'' Ujar Sindi.
''Mulai deh, gak lucu ah.'' Sembari masuk ke kamar lalu di ambilnya sebuh handuk.
*******
Di lapaknya pak Dirman, Wawan dan Wiwin yang lagi duduk di bangku kayu, tiba-tiba ada sebuah motor berhenti dengan berpakaian seragam gojek, lalu berjalan menuju ke arah Wawan sambil menenteng bungkusan.
''Permisi, apa ini lapaknya pak Dirman?.'' Tanya gojek.
''Iya bang, ada apa gitu?.'' Tanya Wawan.
''Ini ada pesanan suruh dianter kesini pada Wawan dan Wiwin.'' Jawab sang gojek.
''Dari siapa bang?.'' Tanya Wawan.
''Di sini yang memesan namanya Toglo alias Wanda.
''Ooh iya, itu abang saya, dan saya Wawan dan ini adik saya Wiwin.'' Ucap Wawan.
Selepas itu sang gojek pun menyerahkan bungkusan itu pada Wawan dan Wiwin.
''Sebentar, saya poto dulu buat bukti kalau pesanan sudah di terima.'' Ucap sang gojek.
Selepas itu sang gojek pun pergi dengan menyalakan lagi motornya.
Sedangkan Wawan dan Wiwin membuka bungkusan itu, ternyata dua bungkus nasi ala masakan minang yang di pesan oleh toglo melalui aplikasi gojek.
''Berarti bang Wanda lagi sibuk dek, makasih ya allah aku telah dipertemukan sama kakaku yang baik dan perhatian.'' Ujar Wawan.
''Iya ka, biarpun bang Wanda lagi sibuk tapi ia masih menyempatkan perhatian untuk kita dengan memesankan nasi ini, terus nenek gimana ka?.'' Tanya Wiwin.
Tapi Wawan tidak sempat menjawab pertanya'annya dari Wiwin, karena ada yang lebih dulu menjawabnya.
''Tenang sayang, nenek sudah ku anterin.'' Ujarnya.
Wawan dan Wiwin terperanjat kaget lalu keduanya membalikan mukanya kebelakang ke arah suara itu.
''Bang Wan da.'' Ucapnya serempak.
''Iya ma'ap tadi abang suruh bang gojek kesini, karena abang mesti nganterin nasi buat nenek makan siang, di tambah tadi abang sibuk di kedai.'' Ucap Wanda.
''Iya bang tidak apa-apa.'' Ucap Wawan.
''Ya sudah cepetan di makan nasinya, nanti keburu dingin gak enak.'' Ucap Toglo(Wanda).
Kemudian Wawan dan Wiwin membuka bungkusan nasi tersebut.
Toglo atau Wanda hanya melihatnya dengan tersenyum tipis, merasa bahagia melihat adik-adik makan seperti enak sekali.
__ADS_1
Sementara Nandi selepas melaksanakan ibadah solat dhuhur, menghampiri Sindi dan Anggita yang lagi menunggu di sebuah meja makan, lalu Nandi duduk berdampingan dengan Sindi, sedangkan Anggita menghadap pada kedua orang tuanya.
Setelah itu makan siangpun berlangsung, Anggita yang biasanya suka minta di suapin oleh ibuknya kini ia makan sendiri, alasannya karena gita sudah gede.
''Wah rasanya masakan isttiku hari ini agak beda dari biasanya.'' Celoteh Nandi.
Sindi yang menrlan nasi, tiba-tiba keselek mendengar perlata'an suaminya.
''Maksud aa beda gimana?.'' Tanya Sindi.
''Iya beda, lebih enak dari biasanya, hehe.'' Nandi tersenyum tipus.
''Ku dah kaget, di kira gak enak.'' Ujar Sindi.
Anggita pun ikut nimrung, berpihak pada ibuknya.
''Tau tuh ayah, suka ngagetin aja ya mah, padahal masakan mamah paling enak sedunia, iya kan mah.'' Ucap Anggita.
''Iya dooong, mamah gitu lho.'' Pungkas Nandi.
''Ooh iya sampai lupa, Wawan dan Wiwin sudah makan belum ya.'' Ujar Anggita baru ingat pada teman baiknya itu.
''Iya abisin aja dulu makannya, nanti selepas makan baru kamu tanyain sayang.'' Ucap Sindi.
''Baik mah.'' Jawab Anggita singkat.
Setelah itu makan siang pun sudah selesai, Anggita yang selalu ingat pada Wawan dan Wiwin, lalu ia beranjak dari tempat duduknya untuk menemui mereka.
''Ayo dong mah, kita ke tempat lapaknya kakek.'' Ajak Anggita pada ibuknya.
''Iya sayang sebentar, piring bekas makanpun belum di beresin.'' Ucap Sindi.
''Nanti aja mah, kasihan bang Wawan dan teh Wiwin takut belum makan.'' Ujar Anggita.
Sindipun terpaksa mengalah demi anaknya, lalu keluar dari dalam rumah, bergegas menuju lapaknya pak Dirman.
Setelah tiba di lapaknya pak Dirman nampak terlihat Wawan lagi merebahkan tubuhnya di bangku kayu, dengan Wiwin tertidur di dada Wawan.
''Wah rupanya mereka lagi tertidur mah, berarti mereka sudah pada makan.'' Ucap Anggita.
''Ko kamu bisa memastikan begitu sayang?.'' Tanya Sindi pada Anggita.
''Soalnya tidur bang Wawan dan teh Wiwin nyenyak sekali.'' Jawab Anggita.
''Wah nalurimu cukup tajam juga sayang, kaya ayahmu.'' Ucap Sindi.
''Ya kan aku anak ayah Nandi.'' Ujar Anggita dengan lucu.
Berhubung Wawan dan Wiwin lagi tertidur sambil menunggu jam kerja yang masih lumayan lama.
Kemudian Sindi dan Anggita kembali ke rumahnya, tidak mau kalau harus mengganggu yang lagi beristirahat, begitu tutur Anggita pada ibuknya.
__ADS_1
***********
Bersambung