
Waktu pun tidak terasa, saking asiknya Nandi Kamal, Sindi dan Toglo ngobrol, sehingga para karyawan PT Anggita Surya Mandiri telah datang dan memenuhi halaman parkiran Distributor.
Toglo kini di tugaskan oleh Nandi untuk mencari tau siapa kiranya orang yang sudah mengirim penyakit pada waktu malam jum'at kemarin.
Toglo sudah melaju kan sepeda gunungnya menuju suatu kampung yang terpencil jauh dari pusat kota, konon katanya di kampung itu, masih banyak golongan para penduduk yang menganut kepercaya'an ilmu hitam, atau bisa di katakan kampung Rawan.
Kini Toglo mulai mendaki jalan dengan sepedanya, menuju salah satu rumah yang merupakan sesepuh di kampung Rawan.
Toglo terus menggoes sepedanya tanpak mengenal lelah di jalanan berbatu yang medannya sangat menanjak.
Tidak lama kemudian Toglo telah sampai di atas, di mana ada beberapa pemukiman para penduduk, yang rata-rata rumah panggung, dengan dindingnya terbuat dari bilik bambu dan ber'atapkan genteng keset, yang di cetaknya menggunakan cetakan manual.
Kemudian Toglo berhenti, sambil celingukan mencari orang untuk bertanya.
"Ko sepi ya kampungnya, pada siapa ku harus bertanya." Gerutu Toglo bermonolog.
Kehadiran Toglo di kampung Rawan, telah di perhatikan oleh dua bola mata, yang lagi mengintai di balik celah-celah bilik bambu.
Sementara Toglo bingung mau bertanya pada siapa sedangkan ia tidak bertemu orang sama sekali, lalu Toglo mencoba mendekati salah satu rumah yang agak dekat dengan keberadaan dirinya.
"Assalam mu'alaikum, Punten pak, buk numpang tanya." Sapa Toglo.
Sejenak Toglo menunggu jawaban barang kali ada orang di dalam rumah.
"Ko pada sepi ya, apa mungkin orang-orang di kampung ini pada pergi ke ladang, lalu gua harus kemana melangkah nih, bingung jadinya gua nih." Ujar Toglo bermonolog.
Ketika Toglo mau membalikan badannya untuk pergi, tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka.
Rekeettt..
Toglo lalu menolehlan pandangan ke arah pintu, nampak se orang lelaki berusia tanggung sepantaran sama wawan lagi berdiri dan bertanya pada Toglo.
"Kakak mau mencari siapa?." Tanya nya.
"Oh iya dek, ko kampung ini pada sepi, emang pada kemana warga di sini?." Tanya Toglo.
"Orang-orang di sini, kalau jam segini pada gak ada di rumah kak, semua sibuk bekerja di sawah." Ujarnya.
"Oh begitu ya, terus kalau rumahnya ki Parta di mana ya dek?." Tanya Toglo.
"Owh kakak mau ke rumahnya ki Parta, tuh di sebelah selatan, yang depannya ada pohon mahuni besar." Tunjuk anak itu.
"Oh yang itu, kira-kira ki Parta nya ada gak ya." Ujar Toglo.
"Kalau Ki Parta selalu ada di rumah kak, kan ia kesehariannya bikin gula merah, tuh anaknya baru pulang dari gunung abis ambil lahang." Ujarnya.
"Lahang itu apa sih dek?." Tanya Toglo.
"Lahang itu bahan cairan yang di ambil dari pohon aren atau kawung dan bakal gula merah itu." Jelasnya.
"Ooh gitu, ya sudah, makasih ya dek." Ujar Toglo.
__ADS_1
"Iya kak sama-sama." Jawabnya.
Setelah itu Toglo pun langsung menaiki lagi sepedanya, menuju rumahnya ki Parta yang tidak jauh lagi dari tempat Toglo berada.
Tiga menit kemudian.
Toglo telah sampai di rumahnya ki Parta, lalu Toglo turun dari sepedanya, dan berjalan mendekati balai-balai rumah yang terbuat dari Bambu.
"Assalam mu'alaikum, Punten.." Sapa Toglo.
Tidak lama kemudian terdengar suara dari dalam rumah menjawab.
"Manggaa." Jawabnya, bersama'an dengan terbukanya sebuah pintu, dan munculah seorang lelaki tua berjenggot putih dengan penutup kepala kain bercorak batik warna hitam, menatap pada Toglo dengan sangat intens.
"Mau mencari siapa nak?." Tanya pak Tua.
Sebelum menjawab Toglo menghulurkan tangannya memberi salam pada pak tua.
"Ma'ap ki, apa ini rumahnya ki Parta?." Tanya Toglo.
"Iya nak, dengan aki sendiri, kamu dari mana?." Tanya pak tua, yang ternyata ki Parta orang yang Toglo maksud.
"Aku datang dari Gang Si'iran, dan ini membawa surat untuk aki." Ujar Toglo.
Ki Parta pun langsung menerima sebuah amplop kecil dari huluran tangan Toglo.
"Surat dari siapa nak." Ujar ki Parta, sambil membuka amplop tersebut, yang berisikan sehelai kertas yang di lipat.
"Assalam mualaikum, Kang Parta saya mengutus seorang anak untuk bertamu kerumahmu, ada beberapa hal yang telah menimpa pada anak saya, nanti anak itu yang akan menceritakannya, salam buat semua di situ, hormat saya Dirman."
Setelah selesai membaca surat itu, Ki Parta pun langsung menyuruh Toglo untuk masuk, tanpak di suruh lagi Toglo langsung segera memasuki rumahnya ki Parta, setibanya di dalam ki Parta mengeluarkan teko yang berisikan air putih dan sebuah gelas, lalu di tuangnya isi dalam teko tersebut kedalm gelas.
"Ayo silahkan di minum nak." Tawar ki Parta.
"Iya ki terima kasih." Jawab Toglo sambil meraih gelas tersebut.
"Sekarang coba kamu ceritakan apa maksud tujuan Dirman menyuruhmu kesini?." Tanya Parta.
Kemudian Toglo pun menceritakan apa yang telah Di alami oleh Sindi waktu malam jum'at kemarin, dimana Sindi di serang oleh rasa nyeri secara tiba-tiba dan hampir kehilangan nyawanya.
"Nah begitulah ki menurut cerita dari Nandi, intinya Pak Nandi pingin tau siapa sebenarnya yang sudah berlaku begitu pada istrinya." Ujar Toglo.
Sejenak ki Parta terdiam sambil memejamkan matanya, mungkin lagi menerawang dan mencari asal mu asal pengiriman penyakit itu.
Lima menit kemudian ki Parta membuka matanya sambil menarik napas panjang, seperti habis melakukan perjalanan yang sangat jauh.
"Datangnya dari pesisir pantai selatan, namanya bah jamrong, ia di suruh oleh seseorang untuk menghabisi nyawa Nandi, berhubung jiwa dan batin Nandi kuat dan selalu di bentengi oleh amal-amal baik yang ia sering lakukan pada setiap orang kesusahan, jadi imbasnya kena pada istrinya, yang lagi dalam ke ada'an apes." Jelasnya ki Parta.
Toglo pun manggut-manggut tanda mengerti dengan penjelasan dari ki Parta.
"Lalu kiranya siapa orang yang sudah menyuruh bah Jamrong itu?." Tanya Toglo.
__ADS_1
"Sebentar ya aki mau bermeditasi dulu, kamu tunggu saja di sini." Ujar ki Parta sambil beranjak dari tempat duduknya lalu pergi melangkah masuk kedalam sebuah ruangan, mungkin itu ruangan khusus ki Parta untuk melakukan meditasi atau ritual ilmu gaib.
Toglo cuma menganggukan kepalanya, sambil bergumam. "Semoga saja dapat petunjuk." Batin Toglo.
Sambil menunggu kabar dari ki Parta Toglo mengeluarkan sebungkus Roko gudang garam filter dan di ambilnya satu batang, lalu sebuah korek gas di nyalakannya dan di bakarnya ujung roko tersebut.
Satu hembusan asap putih meluncur dari dalam mulutnya Toglo menari-nari di depan wajahnya, dan Asap roko tersebut seperti mengantarkan netra Toglo pada sebuah rak di mana banyak tesusun buku-buku yang sudah berumur puluhan tahun mungkin ratusan tahun.
Toglo pun beranjak dari tempat duduknya, lalu tungkai kakinya di langkahkan perlahan sebanyak empat langkah untuk sampai pada sebuah rak.
Netra Toglo memandang pada susunan buku-buku yang sudah lusuh dan dekil, ketika Toglo mau memegang pada sebuah buku/kitab yang sangat tebal, di bagian sampulnya bertuliskan aksara arab gundul, Toglo tersontak kaget merasa tangannya seperti ke semutan.
"Astagpirullah hal adzim, ma'ap ki, aku tidak bermaksud jahat, cuma pingin tau dan rasa penasaran pas melihat buku ini." Batin Toglo.
Ketika hati Toglo mengucapkan begitu, nampak pintu kamar tempat ki Parta mediasi terbuka, Toglo pun buru-buru kembali ke tempat duduknya semula, dengan pasang wajah malu dan merasa berdosa.
Ki Parta ke luar sambil tersenyum tipis menatap Toglo, seperti tau apa yang telah Toglo lakukan
"Kamu kenapa nak, sudah tenang aja, tidak usah merasa bersalah begitu." Ujar ki Parta.
Toglo tersontak kaget begitu ki Parta bicara begitu padanya, karena merasa bersalah Toglo berkata meminta ma'ap. "Ma'af ki tadi ku sudah berlaku lancang, aku cuma tertarik saja dan pingin lihat buku-buku yang tersusun di rak itu." Ujar Toglo.
"Hehee, tidak apa, dari sekian banyak orang yang berkunjung ke rumah aki, tidak seorang pun yang tertarik pada buku-buku itu, hari ini kamu adalah orang pertama yang mempunyai rasa penasaran pada kitab yang tersudin di rak itu, akhirnya tuhanpun mempertemukan orang yang cocok." Ujar Ki Parta.
"Maksud aki?." Tanya Toglo.
"Sudah tidak usah di bahas dulu, sekarang kamu pulang dulu dan bawa ini pada Dirman, dan yang ini buat anaknya yang bernama Nandi, tapi ingat kamu jangan mampir walaupun bertemu saudara atau sahabatmu sendiri di jalan." Jelas ki Parta.
"Lalu tentang siapa orang yang telah berlaku begitu pada pak Nandi siapa?." Tanya Toglo.
"Nanti juga kamu akan tau, pokonya kasihkan dua amplop ini, buat Dirman dan Nandi, dan jangan pernah kamu buka ya." Pepatah ki Parta.
"Baik ki kalau begitu, insa allah aku akan selalu menjaga amanat ini." Ujar Toglo.
"Dan ini ki ada titipan dari pak Nandi." Lanjut Toglo sambil memberikan kertas amplop warna coklat pada ki Parta.
"Apa ini maksudnya?." Tanya ki Parta, agak ke heranan.
"Ku gak tau ki, ku cuma melaksanakan amanat saja, dan pak Nandi bilang padaku, tolong kasih kan sedekah saya pada ki Parta dan para warga kampung Rawan ini, begitu amanatnya." Jelasnya Toglo.
"Subhanallah, warga kampung Rawan pasti akan merasa senang sekali."
Selepas itu Toglo pun berpamitan, pada ki Parta, berhubung membawa sesuatu, hasil dari mediasi ki parta, yang harus segera sampai di tangan Nandi dan pak Dirman.
"Ayo ki, ku pulang dulu ya, Assalam mu'alaikum." Pamit Toglo.
"Iya nak hati-hati, ingat pesan aki, Wa alaikum salam." Jawab ki Parta, sambil berdiri di depan pintu sambil menatap melepas kepergiannya Toglo yang sudah melajukan sepedanya menjauh dari rumahnya ki Parta.
*********
To be continued.
__ADS_1