SI KIDAL SANG PENOLONG

SI KIDAL SANG PENOLONG
Si kidal sang penolong eps 154


__ADS_3

Ketika lelaki itu lagi asiknya menikmati isapa-isapan dari sebatang roko, sambil melepaskan rasa lelahnya.


Mungkin dia tidak menyimpan rasa kecuriga'annya pada Astuti yang terus mengejar lewat samping gang kecil, sehingga lelaki itu di kejutkan oleh suara yang menegurnya dari arah belakang.


''Bang boleh pinjam apinya.'' Ujarnya.


Lelaki itu terperanjat sepontan ia mengambil sebuah korek gas miliknya.


''Oh boleh.'' Jawabnya sambil membalikan mukanya pada arah suara yang terngiang di telinganya.


Begitu pandangan beradu dengan seorang wanita yang lagi berdiri di belakangnya, lelaki itu sampai terperanjat, ketika ia mau menggerakan tubuhnya, tanpa terlihat olehnya, sekelebatan pukulan menggunting telah mendahuluinya.


Hiuuukk...


Deeaassss.....


Aauuugghhh...


Suara mengaduh se iring dengan tersungkur tubuh lelaki di hamparan rumput, dengan pasang muka merah penuh amarah, lelaki itu mengangkat tubuhnya dan berdiri, sorot mata yang liar, berkata.


''Kurang ajar kau.'' Ujarnya.


"Sekarang lo' mendingan nyerah, gue bawa ke kantor polisi, atau gue serahin ke masa biar hidupmu kelar.'' Ujar Astuti menakut nakuti.


''Sombong sekali kau, gue habisin lo' sekarang juga, heaaaa.." Lelaki itu langsung melompat menyerang Astuti.


Plooos..


Astuti memiringkan tubuhnya sedikit, dan pukulan lelaki itu makan angin.


Kini perkelahian pun terjadi saling serang dan saling terjang saling mengirimkan pukulan-pukulan mematikan.


Ternyata lelaki itu mempunyai tingkat kepandaian bela dirinya yang lumayan hebat, karena terlihat dalam mengelak serangan-serangan dari Astuti.


Tapi bagi Astuti pertarungan ini sangat menyenangkan, jadi bisa melatih semua otot-ototnya yang selama ini banyak di sibukan oleh pekerja'an.


Wanita tomboy asal gang Si'iran sangat agresip dan gesit sekali dalam mengelak maupun membuat serangan balasan, sehingga membuat lelaki itu seperti merasakan lelah dan cape dalam pisik maupun pikiran, menghadapi wanita tomboy yang tingkat bela dirinya sudah berada di atas rata-rata.


Ketika itu kelengahan dari lelaki itu, di manpa'atkan oleh Astuti, ketika pukulan tangan kiri Astuti bisa di caper oleh lawannya, dengan sangat cepat Astuti memasukan elbo tangan kanannya tepat mengenai tulang rahang lawan.


Buukk


Deaassss....


Aauugghh..terdengar suara kesakitan dari mulutnya lelaki itu, dengan pertahanannya mulai goyah, di situ Astuti tidak menyia-nyiakan kesempatan, Secepat kilat Astuti melepaskan tendangannya dengan jurus sengatan kala jengking.


Deaass...


Auuuuggghhh


Blaaakk...


Lelaki itu terjatuh menimpa tanah yang di penuhi oleh rumput-rumput liar.


Tapi ternyata lelaki itu mempunyai daya tahan yang cukup kuat, dengan cepat ia telah berdiri lagi dengan cara ber salto.


''Ayo serang lagi gue, apa masih ada pukulan yang lebih power.'' Ujarnya dengan Sombong.


Astuti hanya tersenyum sinis, dengan pandangan yang terus liar, menjaga dari hal yang akan terjadi dan yang tidak terduga sewaktu-waktu datang ingin mencelakainya.


"Ayo lo' yang maju duluan, masa cowo harus keok sama cewe sih, ah cemeen lo'." Ejek Astuti memancing amarahnya lawan.

__ADS_1


Dipanas-panasin begitu, lelaki itu langsung melompat menerjang Astuti dengan tendangannya yang cepat, bisa di rasakan oleh Astuti, bahwa tendangan lelaki itu sangatlah berbobot, dan cukup mematikan, kini Astuti melompat salto ke belakang untuk menghindari tendangan dari lelaki itu, dan lelaki itu terus menyerang Astuti dengan gencarnya.


Astuti terus mengajak bermain pada lelaki tersebut, memancing amarahnya supaya keluar semua.


Sebruut...


Lelaki itu melancarkan pukulannya dengan cepat, Astuti cuma menggeserkan lakinya ke kanan bersama'an dengan menggunting pukulan lawannya dari samping, tapi lelaki itu cukup cerdik juga, dengan cepat ia memutarkan badannya lalu pukulan jep meluncur tak terkontrol oleh Astuti.


Duuuukk..


Pukulan jep lelaki itu berhasil singgah di ulu hatinya Astuti.


Hingga Astuti terdorong tiga langkah kebelakang, lelaki itu merasa besar hati, kali ini lawannya akan berhasil dilumpuhkan, dengan cepat lelaki itu melesit mau menghantam Astuti yang lagi sempoyongan karena menahan napas yang terasa sesak, tapi Astutipun tidak mau bila harus kecolongan yang kedua kalinya, dengan replek Astuti menjatuh kan badannya dengan gerakan kucing menggelinding.


Ketika terjangan lelaki itu makan ruang kosong, Astuti memutarkan kaki dengan gerakan gangsing berputar.


Hiuuuukk


Jebroood..


Kaki Astuti menghantam kaki lelaki itu, tak bisa di hindari lagi keseimbangan lelaki itu langsung goyah, karena merasakan rasa dakit di tulang keringnya, di sa'at itu Astuti melesitkan tubuhnya ke atas sambil memasukan tungkai kaki pas mengenai dagu lawan.


Buuuuukkk...


Auuugghhh....


Suara kesakitan keluar dari mulut lelaki itu, ketika itu pula Astuti mengirimkan pukulannya dengan Jurus hujan silantang.


Buk


Buk


Buk


Kini tidak bisa di hindari lagi tubuh tinggi besar itu harus roboh dan tersungkur tidak bisa berdaya lagi, di hamparan rumput, dan darah segar keluar dari sudut bibirnya.


Astuti masih berdiri dengan gagah seperti menantang dunia, menunggu lawannya bereaksi kembali.


"Ayo bangun lo' cuma segitukah kemampuan bertarungmu.'' Ujar Astuti.


Tapi yang di tantang kini sudah tidak bisa lagi berbuat apa-apa.


Ketika itu pula terdengar oleh Astuti suara langkah kaki lagi berlari mendekati ke arahnya, dan akhirnya.


"Diam jangan bergerak."


Rupanya empat orang lelaki berseragam kepolisian sambil menodongkan becengnya pada Astuti dan lawannya yang masih terbaring.


Astitipun mengangkatkan kedua tangannya ke atas sambil berkata.


''Ma'ap pak saya cuma melumpuhkan orang ini, yang berusaha melarikan diri dari kejaran masa.'' Jelasnya Astuti.


"Anda siapa?." Tanya salah satu polisi itu.


Lalu Astuti menjelaskannya pada polisi tersebut.


"Saya pengguna jalan yang hampir menjadi korban tabrak lari orang itu." Ujar Astuti sambil menunjuk pada lelaki tersebut, yang lagi di bangunkan oleh ketiga rekan polisi itu.


Kemudian salah satu polisi itu melapor, kepada komandannya.


"Komandan, ternyata orang ini, yang lagi kita kejar yang membawa kabur mobil Toyota portuner, miliknya pak Badrudin.

__ADS_1


Kemudia Astuti memotongbpembicara'an mereka.


''Betul pak, orang itu membawa mobil Toyota portuner warna putih, dan melajunya sangat kencang, sehingga membuat resah para pengguna jalan lainnya.'' Ujar Astuti.


"Terima kasih mb, mb sudah membantu pihak kepolisian, orang itu yang berusaha membawa kabur mobil miliknya pak Badrudin, yang lagi di parkir.'' Ujar pak polisi.


"Ya sudah kalau begitu, saya harus buru-buru ke kantor, saya tinggal dulu pak.'' Ujar Astuti.


''Iya terima kasih atas bantuannya, nanti mb harus datang ke kantor polisi untuk memberi kesaksiannya, apakah mb bersedia.'' Ucap pak polisi.


''Oke pak, nanti di jam istirahat saya akan datang.'' Ujar Astuti.


"Baiklah kalau begitu.''


Setelah itu lelaki tersebut di boyong oleh ke tiga polisi di bawa pada mobilnya yang terparkir di pinggir jalan raya, yang jarak tempuhnya lumayan jauh dari pusat jalan raya.


Sementara Astuti memburu pada motornya yang masih terpakir di pinggir jalan raya delima.


Setibanya di tempat Astuti langsung menyalakan motornya, lalu di tarik gasnya, motor pun melaju dengan kencang memasuki jalan ketupat.


Tidak lama kemudian Astuti telah tiba di depan kantornya.


Gito dan Pandi sangat terkejut dengan kedatangannya Astuti dengan pakaiannya yang kotor dan acak-acakan, ditambah yang tidak biasanya datang lebih telat.


''Lha buk kenapa?.'' Tanya Pandi yang lagi memegang sebuah buku catatan.


"Tidak apa-apa, cuma di jalan ada kendala tadi.'' Jawab Astuti.


Lalu Gito yang lagi memberi arahan pada ke tiga anak buahnya, berjalan mendekati Pandi.


''Pan, kenapa tuh sama buk Astuti?.'' Tanya Gito.


"Entahlah, gua juga belum mengerti, tapi kayanya abis bertarung.'' Jawab Pandi.


"Iya sih kalau melihat dari pakaiannya yang kotor dan tidak teratur, sepertinya Astuti habis berkelahi.'' Ujar Gito.


"Iya namanya di jalanan pasti ada aja orang yang usil." Ujar Pandi.


"Kalau emang ada masalah kenapa tidak minta bantuan sama kita." Ucap Gito.


''Kaya gak tau aja sama Astuti, dia itu karakternya mirip sama Nandi, kalau masih bisa di atasi sendiri, dia gak akan ngerepotkan orang, Kamalpun pacarnya gak akan di kasih tau apa lagi kita.'' Ujqr Pandi.


''Iya sih, gua juga salut sama Astuti, biarpun seorang wanita tapi bela dirinya sangat luar biasa.'' Pungkas Gito.


"Ya sudah kita kembali lagi pada kerja'an kita.'' Ujar Pandi.


Setelah itu Pandi dan Gito kembali pada kerja'annya masing-masing.


Pandi yang lagi mencatat jumlah barang yang akan di kirimkan hari itu.


Sedangkan Gito kembali ke bengkel bersama tiga anak buahnya.


Sementara Astuti, setelah memasuki ruangan kerjanya, sempat mendapat beberapa pertanya'an dari Nina yunita, perihal dengan kondisi pakaiannya yang kusut dan kotor.


''Ibu kenapa? dan apa yang telah terjadi.'' Ujar Nina yunita.


''Gak apa-apa buk Nina, cuma tadi ada kendala dikit." Jawab Astuti.


"Saya tau, pasti ibuk abis berantem ya." Ujar Nina.


"Iya sih tadi di jalan, pas ku mau nyebrang mau masuk jalan Delima, ada sebuah mobil Toyoya purtuner melaju kencang, dan ku hampir saja jadi korban, terus saya kejar sampai dapat dan akhirnya terjadilah perkelahian, yang lumayan cukup lama.'' Ijar Astuti.

__ADS_1


"Tapi ibuk tidak apa-apa kan?." Tanya Nina.


"Alhamdulilah saya baik-baik aja." Jawab Astuti.


__ADS_2