
Ketika Hasan dan Kamal lagi membicarakan satu unit motor model engkreg, yang baru selesai di kerjakannya, tiba-tiba muncul Jupri dengan mengendarai motor Yamaha Jupiter z, lalu Jupri berhenti dan turun dari motornya.
"Assalam mu'alaikum." Sapa Jupri sambil bersalaman pada Hasan dan Kamal.
"Wa alaikum salam." Jawabnya serempak.
"Wah bang jupri, tuh motornya dah kelar satu." Ucap Hasan.
Kemudian Jupri langsung mendekati motornya yang sudah selesai di modifikasi motor engkreg, dengan raut wajah berseri-seri sambil memegang-megang motornya.
"Kaya gak percaya aku, mantap unik dan antik, ternyata benar kata orang bengkel Nandi memang top, karyawannya multi pungsi, cakep deh." Gerutu Jupri.
"Bagai mana bang Jup, apa ada yang kurang gak?." Tanya Hasan.
"Mantap, saya sangat puas, jadi abis berapa tuh yang sudah kelar?." Tanya Jupri.
"Kalau masalah biaya, Nanti gua tanya dulu sama pak Bos." Jawab Hasan.
"Atuh ke kantor aja langsung, kan semua bisnis pak Nandi sudah di tangani oleh Sapitri sekertarisnya, terkecuali service, betulin keluhan-keluhan kendara'an dan beli suku cadang langsung pada Toglo." Pungkas Kamal.
"Ada yang lo' lupa kelewat." Ujar Hasan.
"Apa tuh?." Tanya Kamal.
"Dan yang beli kopi, makanan dan minuman lainnya, langsung bayar sama Mira." Jawa Hasan.
"Iya betul, pinter juga lo', Hasan bin maun." Ujar Kamal.
"Iya dong, kalau gak pinter, gak mungkin bisa membuat motor bang Jupri jadi antik begitu." Ujar Hasan.
"Aah so' lo', gua juga bisa." Ucap Kamal.
"Bukannya so' tapi kenyata'annya ko." Ujar Hasan.
"Iya iya, kalau gak di iyahin mana bisa kelar berdebat sama kamu, Hasan bin maun." Ujar Kamal.
Kemudian Jupri berkata.
"Jadi aku harus ke kantor nih?." Tanya Jupri.
"Iya abang ke kantor aja masuk ke ruangan sekertaris, pas abang masuk abang belok ke kiri nanti abang akan menemukan ruangan Buk Sapitri sekertarisnya Nandi." Ujar Kamal.
"Ya sudah makasih ya." Ujar Jupri.
Selepas itu Jupri langsung beranjak dari tempat duduknya, berjalan menuju kantor, untuk menemui Sapitri.
Setiba di depan kantor, Jupri lalu mengayunkan kakinya agak tinggi menaiki trapan anak tangga teras kantor.
Setelah berada di teras kantor, Jupri mendorong pintu masuk kedalam kantor lalu belok ke kiri sesuai dari petunjuknya Kamal.
Ketika Jupri berjalan kurang lebih dua meteran, nampak terlihat oleh Jupri ada tulisan Ruangan sekertaris, lalu Jupri mengetuk pintu.
Tok
Tok
Tok
"Permisi." Sapa Jupri.
Kemudian terdengar dari dalam menjawab.
"Silahkan masuk." Jawabnya.
Jupripun langsung masuk, lalu Sapitri langsung menyapanya sambil mempersilahkan duduk.
__ADS_1
"Pak Jupri silahkan duduk." Sapa Sapitri.
"Iya buk terima kasih." Jawab Jupri.
"Ada yang bisa saya bantu pak?." Tanya Sapitri.
"Begini buk, saya kan sebagai klien castamer di bengkel Yang Hasan dan Doni pegang, tadi saya sudah tanya pada Hasan katanya suruh ke sini." Ujar Jupri.
"Ooh itu, emangnya sudah kelar semua?." Tanya Sapitri.
"Belum, baru satu, berhubung besok ku di bon oleh pengusaha kayu buat ngangkutin kayu gelondongan, ya kalau bisa satu dulu kira-kira berapa buk biayanya?." Tanya Jupri.
"Sebentar ya, soalnya filenya ada pada pak Nandi, bapak tunggu dulu disini, saya akan ke ruangan pak Nandi dulu." Ujar Sapitri.
"Iya buk." Jawab Jupri.
Tidak lama kemudian Sapitri telah kembali dengan membawa file castamer bengkel.
Lalu Sapitri membuka file tersebut, setelah itu sapitri mencatat rincian yang sudah tertera di file tersebut, sambil pandangannya tetap pokus pada Computer.
Setelah itu keluarlah selembar kertas, lalu di berikannya pada Jupri.
"Ini pak Jupri rinciannya." Ujar sapitri sambil memberikan rincian biaya yang harus Jupri keluarkan.
"Wah lumayan gede juga, tapi tidak apa, saya sangat puas dengan hasilnya." Ujar Jupri.
"Ini buk, saya bayar yang sudah kelar dulu, soalnya yang satu kan belum selesai, lagi pula itu milik teman saya, yang sekalian merangkap atas namaku." Jelasnya Jupri sambil memberikan uang pada sapitri
"Iya pak Jupri tidak apa-apa." Jawab Sapitri.
Setelah uang berada di tangannya Sapitri, sapitri pun menghitung kembali uang tersebut secara manual.
"Gimana buk ada yang kurang gak?." Tanya Jupri.
"Pas pak Jupri, terima kasih." Ucap Sapitri.
"Wa alaikum salam." Jawab Sapitri.
Setelah itu Jupri keluar dari ruangan Sapitri, dan berjalan menuju pintu keluar dari dalam kantor tersebut, pas di depan teras Jupri berpapasan dengan Kamal dengan membawa map.
"Eeh bang Jupri, gimana sudah beres?." Tanya Kamal.
"Sudah Mal." Jawab Jupri.
"Syukur deh, ya sudah saya kedalam dulu ya." Ujar Kamal sambil melangkah masuk kedalam kantor.
Sedangkan Jupri langsung menuju pada bengkel, nampak Hasan dan Doni masih sibuk dengan kerja'annya.
••••••••••
Sementara di tempat lain.
Di gang sawah, nampak Wiwin dan nenek Jumi lagi duduk di luar sambil membereskan kayu bakar yang sudah kering buat nanti memasak untuk menyediakan makanan untuk ke dua kakanya sepulang dari kerja.
Nenek Jumi terus memperhatikan Wiwin, yang dengan rajinnya memilih kayu bakar yang kering yang langsung di bawa kedalam ruangan dapur.
"Nak sudah, kamu masih kecil jangan terlalu cape." Ujar nenek Jumi.
"Iya nek, tinggal sedikit lagi tanggung." Jawab Wiwin.
"Kamu itu persis kaya abangmu Toglo, bila kerja seperti tidak mengenal lelah." Ujar Nenek Jumi.
"Kata bang Wanda, selagi masih bisa melakukan pekerja'an, lakukanlah dengan tuntas dan jangan bermalas-malasan." Ujar Wiwin.
Nenek Jumi hanya menggelengkan kepala sambil bergumam dalam hati.
__ADS_1
"Nenek sangat kagum pada kalian para pekerja keras, semoga kelak kalian bisa menuai kebahagia'an dari kerja kerasmu sekarang." Gumamnya.
Selepas itu Wiwinpun sudah selesai membereskan kayu bakar, lalu Wiwin duduk di bangku bambu dekat nenek jumi, sambil meraih gelas, lalu di tuangnya air dari sebuah teko kedalam gelas tersebut, dan di teguknya untuk membasuh tenggorokannya yang kering.
"Wah seger nek, nenek mau minum." Ujar Wiwin.
"Iya cucuku terima kasih, nenek masih kenyang, tadi habis makan singkong rebus, nenek minum banyak ko." Ucap nenek Jumi.
"Nek?
"Apa cucuku."
"Bolehkah aku bertanya pada nenek?." Tanya Wiwin dengan polosnya.
"Ya boleh atuh, mau bertanya apa." Jawab nenek Jumi sambil tersenyum.
"Emang nenek tidak mempunyai anak sama sekali." Tanya Wiwin sambil memandang nenek Jumi dengan muka datar.
Kemudian nenek Jumi, menggerakan tangannya, dan mengelus-ngelus rambutnya Wiwin sambil berkata.
"Nenek cuma di karuniai seorang anak perempuan, dan sekarang putriku bertempat tinggal di daerah sebrang, karena ikut sama suaminya, dan sampai sekarang nenek tidak tau kabar beritanya gimana." Jelasnya Nenek Jumi.
"Ko bisa nek, emang tidak pernah pulang atau kangen gitu pada nenek." Ujar Wiwin.
"Ya biarin, mungkin karena jauh, yang penting bagi nenek, anak cucu nenek bisa bahagia, itu sudah membuat nenek senang." Ujar nenek Jumi.
"Kebangetan ya anak nenek, masa tidak ingat atau kangen gitu sama ibuknya sendiri."
"Biarlah cucuku, nenek sudah merasa bahagia berada dekat dengan kamu, Toglo dan Wawan."
"Iya nek, aku kak Wanda dan kak Wawan sangat sayang sama nenek." Ucap Wiwin sambil merangkul nenek Jumi.
Nenek Jumi pun membalas rangkulannya Wiwin, rasa bahagia kini terasa di hati nenek Jumi, hingga tidak terasa butiran-butiran air hangat keluar dari manik-manik bola matanya jatuh menetes di kulit tangannya yang nampak sudah mengkerut.
"Andai kan anaku seperti ini, apa salah dan dosaku ya tuhan, dari pertama kali ku melahirkan anaku,dan dirawatnya hingga ia sudah menemukan kebahagia'annya sekarang, ingin rasanya sebelum ajal menjemput, bertemu dengan anaku yang mungkin sa'at ini ia pun sudah menjadi seorang nenek, nak adakah rindu dihati untuk ibukmu, gimana ke ada'anmu ibuk kangen padamu, tapi harus kemana ibuk mencari, ya tuhan semoga anaku baik-baik aja di sana." Gumam nenek Jumi dalam hati.
Rasa kangen nenek Jumi pada anaknya yang entah bagai mana kabarnya, kini tercurahkan pada Wiwin, belaian tangan yang nampak tinggal kulit membungkus tulang, sambil membelai rambut Wiwin seolah-olah ia lagi berhadapan dengan anaknya, sehingga tanpak di sadari, tetesan air mata kini jatuh berderaian hingga membasahi rambut dan kulit kepalanya Wiwin, kemudian Wiwin membalikan mukanya ke atas, lalu kedua tangan Wiwin menempel pada kulit yang dudah keriput menghapus air mata nenek Jumi yang terus mengalir dari kedua bola matanya.
"Nenek jangan nangis ya, disini masih ada aku, kak Wawan dan kak Wanda, yang akan selalu menjaga nenek sampai kapan pun." Ujar Wiwin.
Hik hik hik, nenek Jumi kini semakin tambah sedih bercampur bahagia.
"Terima kasih ya Allah, engkau telah mengirimkan tiga anak padaku yang begitu tulus dan sayang padaku, bahagiakanlah ke tiga anak ini kelak, karena mereka anak-anak yang baik." Ujar nenek Jumi.
"Amiin ya Allah." Pungkas Wiwin.
Setelah itu Wiwin beranjak dari tempat duduknya lalu pergi ke dapur, kemudian Wiwin meraih gelas dan di isi dengan gula putih setengah sendok, dan di seduh dengan air panas dari sebuah termos lalu di celupin teh sari wangi, setelah itu di bawa keluar untuk di berikan sama nenek Jumi.
"Ini nek, minum dulu." Ujar Wiwin.
"Ko kamu bisa tau kalau nenek lagi sedih suka hilang, hanya dengan meminum air teh manis hangat." Ucap Nenek Jumi.
"Kak Wanda yang memberi tahu aku nek." Ujar Wiwin.
Kemudian Nenek Jumi meminum teh manis hangat yang Wiwin bikin.
Dan setelah itu Wiwin dan Nenek Jumi masuk ke dalam rumah.
***********
Bersambung.
Salam.sehat dan sukses selalu.
Terima kasih atas dukungan dari semuanya.
__ADS_1
"Assalam mu'alaikum"