
Handoko menggempur dari sisi kiri, di susul oleh Aldi dan Ricad dairi kanan Berkekebat cepat melepaskan setiap pukulan dan tendangannya, tapi Nandi juga bukan sembarang pemuda yang atah gemblengan, karena semenjak ia mondok di pondok haur koneng Nandi sudah di gembleng baik lahir maupun batinnya oleh Abah Haji Mansur ilmu silat cimande, di tambah waktu di sekolahnya ia banyak meraih juara bela diri karate dan tarung drajat.
Maka tak heran bila Handoko, Ricad dan Aldi cukup kesulitan untuk menembus pertahanan Nandi, apalagi Nandi di karunia pukulan tangan kirinya yang mematikan bawa'an dari sejak lahir.
Ketika Nandi di gempur dari tiga arah, Ia menurunkan tubuhnya dalam posisi setengah jongkok sambil memutar seperti sebuah gangsing. Tidak bisa di hindari lagi oleh Handoko, Ricad dan Aldi kaki Nandi menghantam kaki ke tiga ketua Jendra cobert.
Duk
Duk
Deeasss...
Handoko, Ricad dan Aldi harus menerima konsekuensinya kaki nya terasa sakit seperti di banting oleh benda keras, itu semua membuat posisi pertahanan mereka menjadi buyar, di sa'at itu pula Nandi berkelebat cepat memasukan sebuah elbonya ke tulang rahangnya Ricad
Jrooott
Auuughh
Suara yang keluar dari mulutnya Ricad terdorong tiga langkah kebelakang, terhuyung agak sempoyongan mengatur keseimbangannya agar supaya tidak sampai roboh.
Disisi lain, Aldi dan Handoko melompat sambil melancarkan pukulannya dengan cepat, dengan sigap Nandi salto tiga putaran menghindari serangan mereka.
Ploooss
Serangan Handoko dan Aldi menghantam ruang yang kosong. Karena saking kuatnya tenaga mereka ingin melumpuhkan Nandi, Handoko dan Aldipun hilang keseimbangan terbawa oleh tenaganya sendiri, di saa' itu pula Nandi melompat dalam jurus kuda terbang sembari mengimkan tendangan memutar.
Duk
Duk.
Tendangan kaki memutar Nandi mengenai punggung Handoko dan Aldi.
Auuugghh
Handoko dan Aldipun tidak bisa menahan bobot tendangan Nandi hingga mereka terjatuh tengkurap di atas tanah.
Ricad yang sedari tadi hampir jatuh akibat dari elbonya Nandi, ia tersontak ketika melihat Aldi dan Handoko jatuh, ia langsung mekesat menerjang Nandi, netra Nandi yang selalu memperhatikan setiap lawannya, begitu Ricat melesat menyerangnya, Nandi hanya menggeserkan tubuh ke kakan, dan tangan kirinya kini melesat menyambut kedatangan Ricad.
Tubuh Ricad yang lagi melesat di atas tanah tanpak ia sadari bahwa bahaya yang lebih besar melesat tepat mengenai wajahnya.
Hiuuuuukkk
Jroooott
__ADS_1
Auuugggghhh.....
Jerit kesakitan terdengar dari mulut Ricad bersama'an dengan terpental tubuhnya lima meter dan langsung jatuh hingga tidak berdaya lagi.
Handoko dan Aldi sontak kaget mendengar teriakannya Ricad, sambil beranjak bangun dan menoleh ke arah tubuh Ricad yang lagi terkapar di atas tanah, Aldi dan Handoko geram, lalu ia bangkit dengan cepat dan Handoko mencabut senjata api nya berlaras pendek, di arahkan pada Nandi, aksinya Handoko sempat terlihat oleh begitu handoko menarik pelatuk pistol Secepat kilat Toglo mekesat bagaikan angin menyambar tubuh Nandi.
Doorrr
Nandi dan Toglo sampai menjatuhkan tubuhnya di tanah, Nandi selamat dari sebuah timah panas berkat Toglo, dan Handoko tidak tinggal begitu saja ia pun langsung mrngarahkan lagi pistolnya, tapi tanpak Handoko dan Aldi ketahui sekelebatan batang kayu meluncur dengan cepat.
Weeessss
Cleeeekkkkkk.
Auuuuggghhh
Suara keluar dari mulutnya handoko sembari netranya mendelik ke atas ketika batang kayu sudah menancap di perutnya Handoko, lalu tubuh Handoko melayang jatuh ke tanah.
Semua netra menoleh ke arah datangnya batang kayu tersebut.
Nampak Astuti lagi berdiri dan mira yang sudah berhasil membebaskan Sindi dan Anggita dari ruangan penyekapan.
"Dek Tuti, dek Gita, istriku syukurlah kalian selamat." Sontak Nandi.
"Ayaaaaaahhh, hik hik hik." Teriak Anggita sambil terisak nangis dengan air matanya yang sudah membasahi ke dua pipinya begitu pula Sindi, nampak kedua kelopak matanya membengkak karena terlalu banyak mrngeluarkan air mata.
"Sayang kamu tidak apa-apa?." Tanya Nandi pada Anggita dan Sindi.
"Alhamdulilah sayang Allah Swt masih melindungi aku dan Anggita." Jawab Sindi sambil berderai air mata.
Nandi, Sindi dan Anggita kini saling berpelukan dengan bulir-bulir air hangat yang terus berjatuhan membasahi kedua bahunya Nandi.
"Terima kasih ya Allah, engkau masih melindungi hamba, anak dan istri hamba serta para sahabatku." Ujar Nandi sambil meneteskan air mata.
Kamal, Astuti, pandi, Gito, Mira, Hasan, Doni dan Toglo kini telah terbawa suasana, tidak terasa di bola matanya telah nampak berkaca-kaca, seperti langit mendung mau turun hujan.
Ketika para famili Gang Si'iran lagi pokus akan kesedihan yang menimpa keluarga Nandi.
Nampak Aldi dan Anggota Jendra cobert yang masih tersisa, perlahan mundur menjauhi tempat itu untuk kabur.
Aksi mereka sepintas terlihat oleh Toglo.
"Woii, jangan kabur lo'." Teriak Toglo sembari beranjak mau mengejar mereka, tapi langkahnya toglo mendadak terhenti ketika Nandi menegurnya.
__ADS_1
"Biarkan saja Glo tidak usah di kejar, yang terpenting bagi gua, anak dan istri gua selamat, gua sudah sangat bersyukur." Tegur Nandi mrnghentikan Toglo.
"Tapi pak Bos, kalau di biarkan mereka akan membangun kejahatan yang baru nantinya." ungkap Toglo.
"Untuk sekarang ini, biarkanlah mereka pergi, biarlah semesta yang menghujmkum mereka atas perbuatannya." Ujar Nandi.
"Baik pak Bos."
"Apakah di antara kalian ada yang bisa berenang?." Tanya Nandi.
"Gua Di', emang ada apa?." Ujar Doni balik bertanya.
"Tolong Don, ambilkan cooper bag, yang gua lempar ke bawah telaga." Pinta Nandi.
"Oke Di'." Ujar Doni sambil melangkah menuruni jalan setapak di perkebunan yang di ikuti oleh Pandi dan Toglo.
Setibanya di pinggiran telaga, mereka celingukan mencari keberada'an coper bag tersebut, lalu Pandi melihat ke tengah telaga, nampak ada benda yang mengapung di atas permukaan air.
"Itu Don, di tengah." Tunjuk Pandi.
Kemudian Doni pun langsung membuka jaket dan pakain kaos, serta celananya, tinggal celana pendek yang menempel di bagian anggota tubuh Doni.
Setelah itu Doni melompat terjun ke atas permuka'an air dan berenang ke tengah telaga.
Tidak lama kemudian Cooper bag telah di dapatkannya, doni pun berenang lagi menuju ke tepian telaga.
Pandi dan Toglo langsung mengambil coper bag tersebut sambil mengcengkram tangannya Doni untuk naik ke daratan.
"Waduh air telaga ini dinginnya minta ampun, gua harus copot ni ****** ***** gua." Cetus Doni.
"Waaw Nanti burungmu jadi begayut di dahan dong, hahaha." Ujar Pandi tertawa.
"Dari pada gua nanti masuk angin, gak apa-apa kan nanti pulang kerumah langsung berpelukan sama istri gua(Melinda)." Ujar Doni.
Toglo hanya tersenyum tipis mendengar guarauan Pandi dan Doni.
"Udah cepetan, kalian malah bahas begituan." Cetus Toglo.
"Hahahay dah, makanya cepetan lamar tuh Wulan biar lo ada yang ngurusin, iya gak Don." Tukas Pandi.
"Iya dong, punya istri itu enak lho Glo, ada teman tidur, teman mencurahkan masalah dan lain sebagainya." Ujar Doni.
"Ah abang ini, gua belum kepikiran kesitu, biar Wiwin sekolah dulu, kalau gua nikah siapa nanti yang akan membiayai sekolah Wiwin dan nenek." Ujar Toglo.
__ADS_1
"Gua salut sama lo' Glo, di jaman saiki sudah jarang pemuda seperti lo', kebanyakan hanya mementingkan keperluan dirinya saja, dan sama orang tuapun kurang begitu hormat." Tukas Doni.