SI KIDAL SANG PENOLONG

SI KIDAL SANG PENOLONG
Si kidal sang penolong eps 205


__ADS_3

Malam yang terasa sepi mencekam, Nandi bersama para pamili Gang Si'iran lagi anti sipasi dari bahaya yang mengancam.


Di sa'at Nandi dan para sahabatnya lagi kumpul, samar-samar nampak terlihat di terangi cahaya lampu jalan, Toglo datang dengan sepedanya meluncur mendekati Nandi dan kawan-kawan.


"Lha, itu Toglo baru datang." Cetus Gito sambil menunjuk ke arah Toglo.


"Iya betul, panjang umur." Ujar Nandi.


Setibanya di depan para famili Gang Si'iran Toglo langsung turun dari sepedanya, dan berjalan menghampirinya.


"Assalam mu'alaikum." Sapa Toglo.


"Wa alaikum salam." Jawabnya serempak.


"Wah rupanya sudah pada kumpul, ma'ap pak bos telat, soalnya ku harus menyediakan dulu makanan untuk nenek." Ujar Toglo.


"Wah anak hebat, lo' masak sendiri glo?." Tanya Hasan.


"Tidak bang, ku tadi beli sayur dan lauk nya doang, nanti kan Wawan dan Wiwin yang masak." Jawab Toglo.


"Di jaman sekarang, susah menemukan anak kaya lo' glo, yang sangat peduli pada keluarga, semoga kamu, nenek Jumi dan adik-adikmu mendapat berkah, dan selalu di limpahkan rijkinya." Cetus Nandi.


"Aamiin." Jawabnya serempak.


"Terima kasih pak bos dan semuanya, Alhamdulilah ku di pertemukan dengan orang-orang yang baik." Ujar Toglo.


Ketika mereka lagi asik ngobrol sambil minum kopi, tiba-tiba terdengar ke gaduhan di ujung Gang Si'iran, bersama'an dengan dua orang pemuda berlari ke arah Nandi, dengan napas ngos-ngosan turun naik.


"Waduuh celaka bang Nandi." Ujarnya sambil mengatur napasnya.


"Apanya yang celaka, Bicara yang benar?." Kamal bertanya.


Nandi lalu beranjak dari tempat duduknya, lalu meraih gelas dan di isinya air putih, setelah itu di berikannya gelas tersebut sambil berkata.


"Sebelum kamu berkata, alangkah baiknya nih minum dulu, biar jantungmu agak sedikit tenang." Ujar Nandi.


Kemudian salah satu pemuda itu meraih gelas yang berisikan air putih dari huluran tangannya Nandi, dan diminumnya perlahan sampai air di dalam gelas itu habis.


"Nah sekarang coba kalian cerita, apa yang telah terjadi di depan?." Nandi bertanya.


Dengan menarik napasnya perlahan salah satu pemuda itu berkata. "Di depan ada pengacau bikin keributan, bahkan mereka sampai menjarah makanan dari pedagang yang biasa mangkal di malam hari, sempat terjadi perkelahian dengan para pedagang itu, tapi bela diri mereka pada hebat." Jelasnya.


"Terus sekarang masih ada?." TanyaNandi.


"Mereka datang dan pergi seperti siluman, tidak ketauan kapan datangnya dan kapan perginya." Ujarnya.


"Ini sebuah siasat untuk mengelabui kita, taktik mereka ternyata masih dangkal, Pan, Kang Hasan dan kamu Mal, stay di di pertiga'an jalan Gang Si'iran, sedangkan Toglo dan Gito cari tau dari mana sumber kerusuhan ini, dengan menyamar sebagai tukang dagang." Ujar Nandi.


"Tunggu dulu pak bos, kalau boleh ku pingin tanya pada si abang ini." Cetus Toglo me motong pembicara'an.


"Mau tanya soal apa, silahkan glo." Ujar Nandi.


"Kepada abang berdua, apa ada identitas khusus yang mereka kenakan dari para perusuh itu?." Tanya Toglo.


Sejenak kedua pemuda itu termenung seperti lagi mengingat, lalu setelah tiga menit merenung, salah satu temannya berkata.


"Oh iya bang Saya ingat, ada salah seorang dari mereka, yang memakai pakaian serba hitam bergambar burung gagak, itu yang saya lihat dalam sepintas." Jelasnya.


Kemudian Nandi bertanya pada Toglo.


"Bagaiman Glo apa ada petunjuk?." Tanya Nandi.


"Tidak salah lagi pak Bos, saya pernah berduel dengan ke dua lelaki di gang Asam sewaktu nganterin Wulan, dan cirinya sama seperti yang abang ini katakan tadi, ada lambang burung gagak." Jawab Toglo.


"Berarti, itu orang yang sama, dan sepertinya mereka datang dari sebuah perguruan, coba Don, lo' lihat di interrnet siapa tau kita dapat impo, perguruan dengan lambang burung gagak." Cetus Nandi.


"Iya betul biasanya di jaman saiki, sebuah perkumpulan suka mengunggah akun pribadinya di internet, atau di media sosial." Celetuk Gito.


Kemudian Nandi menyuruh pada Kamal untuk mengambil Laptop miliknya Astuti.


Baru saja Kamal mau beranjak pergi, tiba-tiba Astuti muncul, memanggil suaminya.


"Aa ada apa sih ko gue perhati'in kaya serius amat?." Tanya Astuti pada Kamal.


"Ini sayang, di depan ada perusuh, tuh Jefri dan Parman yang membawa kabar." Jawab Kamal.

__ADS_1


"Benar kah itu bang Jefri, bang Parman?." Astuti bertanya.


"Iya betul bos." Jawabnya.


"Siapa orangnya?." Tanya Astuti.


"Pertanya'anmu simpan dulu, sekarang abang pinjem dulu Laptop mu, nanti kamu akan tau jawaban dari pertanya'anmu itu." Ujar Nandi.


"Waduuh gue jadi bingug dah, okelah kalau begitu." Saut Astuti, sembari membalikan badannya kembali ke rumah untuk mengambil apa yang Nandi pinta.


Tidak lama kemudian Astuti pun datang dengan membawa sebuah Laptop.


"Ini Aa." Ujar Astuti.


Lalu Nandi menyuruh pada Doni untuk segera membuka Laptop guna menncari tau tentang apa yang telah di perbincangkan sebelumnya.


Setelah Laptop di nyalakannya, lalu Doni pun menghubungkan ke sebuah jaringan internet dan mulai pada titik pencarian di aplikasi website atau situs web.


"Nah nah, ini ada impo." Ujar Doni.


"Coba cari terus Don." Ujar Kamal.


Semua mata tertuju pada layar Laptop, saking penasarannya dengan para perusuh yang berpakaian dengan lambang burung gagak itu, kemudian semua mata yang lagi pokus pada layar Laptop, menjadi semringah ketika pencariannya menemui titik terang.


"Nah ini ada juga sebuah perguruan bela diri Black Crow." Ujar Doni.


"Black Crow yang artinya kan Gagak hitam, coba buka Don." Perintah Nandi.


"Wah tidak bisa di, situsnya terkunci, rupanya mereka tidak ingin di ketahui oleh public, mungkin hanya orang-orang Black Crow saja yang bisa membukanya, dan yang tau Password nya." Jelas Doni.


"Ternyata mereka pintar juga ya." Cetus Pandi.


"Kalau begitu, sekarang jalankan saja misi yang tadi gua buat, tapi ingat kalian jangan berpakaian yang bisa di baca oleh mereka, gua yakin besok malam mereka pasti akan menjalankan lagi aksinya." Ujar Nandi.


"Bagaimana kalau nanti malam mereka datang lagi." Ujar Hasan.


"Mereka bukan orang bodoh, kalau nanti malam mereka datang lagi mengacau, setidaknya mereka berpikir dua kali, karena warga Gang Si'iran pun sudah banyak stmby di depan itu pasti, dan ini sebuah gertakan sambal doang, supaya kita panik." Ujar Nandi.


"Apa kata pak bos benar juga, kalu emang mereka itu gantle pasti akan datang kesini tanpak melibatkan orang lain, atau mengirim surat untuk bertemu di suatu tempat, dari kejadian ini saya sudah bisa memastikan seberapa hebatkah perkumpulan mereka." Celetuk Toglo.


"Widiiih glo, ternyata lo seorang pemuda yang cerdas, gua salut sama lo'." Cetus Gito.


"Ah kalian suka berlebihan, gua bukan hebat tapi gua berpikir pakai logika aja, cuma orang pengecut yang berani berkoar apalagi sampai melibatkan orang-orang tidak berdosa." Ujar Toglo.


Nandi hanya tersenyum tipis, ternyata dari ke lima sahabatnya itu, hanya Toglo yang berwawasannya luas, yang tadinya hanya seorang bocah pemulung cucu angkatnya nenek Jumi, yang keberaniannya tidak bisa di ragukan lagi, yang telah mewarisi semua ilmu dari si Kidal.


Terkadang semua orang pernah berpikir tentang Toglo, yang kepandaiannya hampir sama persis dengan si kidal, cuma bedanya Toglo mempunyai watak kejam dan bengis bila hatinya telah tersakiti, kalau si kidal mempunyai jiwa penolong dan tidak tega'an pada lawannya yang sudah lemah.


Banyak orang beranggapan Toglo adalah titisan dari si kidal, yang sama-sama mempunyai ke kuatan pukulan, kalau Toglo mempunyai pukulan di tangan Kanan dengan kekuatan Tinju Bumi, sedangkan si kidal kekuatan Tapak Jalak, pukulan tangan kiri nya yang me matikan.


Apakah mungkin antara si Kidal dengan Toglo masih ada garis keturunan dari nenek moyangnya, dari situ para famili Gang si'iran masih tanda tanya antara Toglo dan si Kidal, yang terkadang idenya si kidal sama dengan idenya Toglo.


Toglo pemuda yang sedikit bicara tapi banyak bekerja, dari semenjak Nandi mengangkat Toglo jadi karyawannya di toko sparepart, bisnis Nandi semakin berkembang pesat.


Kini malam pun semakin bergeser, tidak terasa Jarum jam yang menempel di dinding kedai kopi sudah menunjukan pukul 23:00.


Nandi dan para famili Gang si'iran dan semua warga Gang Si'iran yang stay di depan pertiga'an, dengan siap siaga, takut ada lagi perusuh datang dalam jumlah besar, jadwal rondapun kini di perketat.


....................


Ke esokan harinya, Bertepatan dengan tanggal merah, di mana para karyawan semua pada libur, Para famili Gang si'iran mulai melancarkan misinya guna mengintai orang-orang yang telah membuat kerusuhan di Gang Si'iran.


Kamal, Pandi dan Hasan menyamar sebagi penjual kopi keliling.


Sedangkan Toglo dan Gito bernampilan lusuh dan dekil sebagai pemulung barang-barang rongsokan.


Berjalan keliling keluar komplek masuk komplek, begitu dan begitu seterusnya, sedangkan Doni dan Nandi memantau para familinya dari Laptop melalui aplikasi Jps yang sudah di seting melalui nomor handpond nya masing.


Setelah berjam-jam Toglo dan Gito keliling mencari barang rongsokan, akhirnya Toglo dan Gito menemui titik terang, ketika Mereka lagi duduk di samping sebuah warung kopi, dengan sebuah capir yang terbuat dari bahan tikar menutupi kepalanya, Satu unit sepeda motor berhenti di dekatnya, Toglo lalu melirik dengan kedua sudut matanya, namapk jelas terlihat di netranya Toglo, sebuah tulisan di baju yang ia pakainya, Black Crow, Toglo berkedip pada Gito yang duduk agak berjauhan, memberi isyarat bahwa pepesan ada di depan matanya.


Gito pun mengerti akan isyarat dari Toglo, lalu ia beranjak dari tempat duduknya berjalan melewati orang yang lagi duduk di sepeda motor, yang lagi asik dengan Handpond nya dalam sebuah panggilan suara.


Dengan berpura-pura memunguti barang bekas, sambil memasang pendengarannya, Gito menangkap pembicara'an orang itu.


Setelah Gito menangkap satu impo yang sangat penting, lalu ia bergegas pergi, dengan melirik balas pada Toglo yang lagi duduk bersandar, dengan topi capir di tekuk agak turun menutupi sebagian wajahnya.

__ADS_1


Satu isyarat Gito, membuat Toglo mengangkat tubuhnya perlahan, lalu dilangkahkan tungkai kakinya menjauh dari orang itu.


Setelah Gito dan Toglo berada di tempat yang agak sepi, baru Gito berbisik pada Toglo.


"Tadi gua dengar obrolan orang itu di telepon, ia menyebutkan dirinya bernama Burnaman." Bisik Gito.


"terus apalagi yang abang dengar?." Tanya Toglo.


"Dua puluh tiga, delapan enam, itu yang gua dengar." Bisik Gito.


"Benar duga'an pak Bos, tidak meleset, sekarang abang kirim chat pada pak bos." Bisik Toglo.


"Oke siap."


GIto pun tanpak mikir lagi langsung mengirim chat pada Nandi, sedangkan Toglo masih tetap mengawasi orang itu dari tempat yang jauh.


..........


Sementara Nandi dan Doni yang terus memantau para sahabtnya, tiba-tiba dikagetkan oleh suara nada notifikasi.


"Bentar Don kayanya ada chat masuk di whatssap gua." Ujar Nandi, sambil merogoh handpond nya di balik saku jaket bagian dalam.


📱.Gito "Di, impo, di jalan biawak, incaran di depan mata."


📱.Nandi "Ikuti cari tau markasnya."


📱.Gito "Oke."


..........


Setelah itu Toglo dan Gito kembali pada penyamarannya, dengan netranya yang tidak lepas terus mengawasi.


Sementara yang lagi di awasinya tidak sadar bahwa dirinya sudah masuk dan berada di agenda memori Toglo.


Perlahan pengendara motor yang bernama Burnaman itu, mulai melajukan lagi motornya, Toglo dan Gito terus mengikutinya, sampai akhirnya mereka ke tinggalan jauh, karena yang di ikutinya melaju dengan kencang.


Mereka kini mulai di bingungkan harus kemana jalan yang akan mereka tempuh, karena ada pertiga'an jalan yang temuinya.


"Waduh kemana arah yang harus kita tempuh glo." Ujar Gito bingung.


Toglo pun terdiam sejenak, sambil mengetuk-ngetuk jari teunjuknya di pelipisan sebelah kanan, kemudian muncul ide cemerlangnya ketika ada seorang lelaki sengah baya berjalan kaki di depannya.


"Waduuh pak ma'ap, kita kebingungan nih." Sapa Toglo.


"Bingung kenapa nak?." Bertanya.


"Ini arah ada dua, tadi perasa'an kita tidak melewati jalan ini, ini arah kemana aja pak?." Toglo balik bertanya.


"Yang jelas kalian jangan masuk ke kanan, mendingan yang lurus aja, apa lagi pemulung seperti kalian." Ujarnya.


"Ya emang kalau ke kanan, kenapa pak? apa ada larangan bagi pemulung seperti kami memasukinya." Cetus Toglo.


"Bukan begitu, ke kanan masuknya Gang Buaya, mendingan kalian lurus tembusnya pasar, nah di ditu banyak barang bekas pasti." Jelasnya.


"Emang Gng Buaya, banyak buayanya ya pak." Ujar Toglo sedikit lucu.


Lelaki paruh baya sedikit tertawa, dengan nada bicaranya Toglo.


"Eeh bukan begitu, tapi di gang Buaya banyak orang-orang jahat "Black Crow", warga sinipun tidak ada yang berani masuk ke situ." Ujarnya.


"Oh begitu ya pak, kalau begitu terima kasih atas impormasinya."Ujar Toglo.


"Sama-sama nak."


Setelah itu Toglo dan Gito, mengalihkan perhatian lelaki paruh baya itu supaya tidak curiga, dengan berjalan lurus.


Setelah mereka berjalan jauh dan mau memasuki pasar, gito pun langsung meluncurkan chatnya pada Nandi.


Kini impo dan catatan Black crow sudah ada pada para famili Gang Si'iran.


Apakah yang akan Nandi dan kawan-kawan lakukan terhadap Black crow.


********


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2