
Disa'at Wanda lagi ribut beradu argumen dengan Sukandar, tiba-tiba muncul ketua rukun tetangga(Rt) datang karena mendapat laporan dari sebagian warganya, yang sempat mengintai Wanda, Wawan dan Wiwin, Tiga jam yang lalu.
''Assalam mualaikum.'' Sapa pak Rt.
''Wa alaikum salam.'' Jawab wanda dan kedua adiknya itu.
''Ma'ap pak sukandar, buk Warni, kalau saya datang kesini, karena saya mendapat laporan dari seorang warga, bahwa di rumah bapak seperti ada keributan, ada apa ini, dan kamu siapa?.'' Tanya Rt.
''Saya Wanda pak rt, anak dari mendiang pak Danu dan buk Wati, saya kesini mau mengambil hak kami, sedangkan tanpa sepengetahuan kami, paman sudah berani bikin pondasi bangunan di tanah peninggalan orang tua kami, dan paman malah marah, pakai alasan bahwa orang tua saya punya hutang, bekas minjam uang, kalau benar ayah dan ibuk punya hutang setidaknya sebelum beliau meninggal pasti menyampaikan pesan pada Wawan, dan saya tanya mana rinciannya kalau benar orang tua kami pernah punya hutang.'' Jelasnya Wanda.
''Iya pak Rt, bapak juga tau bagaimana karakter orang tua kami sewaktu hidupnya, dia gak pernah punya hutang piutang pada siapapun biarpun itu sama saudaranya sendiri.'' Ujar Wawan.
''Iya saya sangat mengenal orang tua kalian, pak Sukandar buk Warni, sebelumnya saya minta ma'ap bukannya saya ikut campur tapi saya selaku ketua rukun tetangga, berkewajibkan meluruskan dari sebuah masalah ini, kalau memang benar apa yang di bilang Wanda, mana rincian hutang piutangnya supaya lebih jelas.'' Ujar pak Rt.
''Saya lupa mencatatnya pak Rt, karena dia sering pinjam pada saya, dan saya menyimpannya di kepala.'' Ujarnya mencla mencle.
''Tidak bisa begitu pak, kita pun kalau belanja, itu pasti ada strok pembayaran barang yang kita beli, apalagi ini masalah hutang, jangan anggap sepele pak, kalau sama hukum kepolisian bapak bisa terjerat pasal penipuan.'' Ujar pak Rt.
''Ko pak Rt pake bawa-bawa polisi segala, ini masalah keluarga, pak Rt jangan ikut campur.'' Ujar Sukandar seperti ke takutan.
Pak Rt cuma menggelengkan kepala, dengan sikap dan pola pikir sukandar yang tidak bisa di mengerti.
Kemudian Wanda yang sudah gemetaran menahan amarahnya, berkata dengan bijak.
''Ya sudah kalau memang paman tetap keukeuh pada pendirian Paman, sebelumnya saya minta ma'ap, terpaksa saya akan membawa masalah ini pada hukum yang berlaku.'' Ujar Wanda.
Warni mendengar Wanda akan membawa perkara itu pada hukum, langsung menangis sambil berkata pada suaminya.
''Sudah pak, hentikan semua ini, Wanda, Wawan dan Wiwin adalah ponakanku, kenapa bapak bersikap begitu pada mereka yang sudah yatim piatu, yang seharus kita sayangi.'' Ucap Warni sambil ter'isak-isak.
''Ko ibuk malah membela ponakan ketimbang anaknya sendiri.'' Tegur Sukandar.
''Aku bukan membela pak, tapi menegakan keadilan yang semestinya sudah menjadi haknya, kenapa bapak pingin memiliki apa yang bukan hak kita.'' Ujar Warni.
Wanda dan pak Rt saling berbisik seperti ada yang mereka bisikan.
__ADS_1
''Pak Rt menurut bapak gimana, berilah penjelasan pada kami yang bodoh ini.'' Bisik Wanda.
''Kalau di lihat dari cara pamanmu itu, jelas sekali pamanmu salah, di mintai barang bukti, setidaknya harus ada kwitansi buat bukti pinjamannya berapa, tapi jawabanya sungguh tidak relepan, saya juga puyeng menghadapi dia itu, sok pintar tapi sangat bodoh.'' Bisik pak Rt.
Diam-diam Wanda/Toglo, mengirim sebuah chat di aplikasi whatssap meminta bantuan pada Nandi, untuk memecahkan masalah di keluarganya yang ruwet.
Nandi pun membalas untuk meminta duduk perkaranya bagaiman, Setelah Wanda menjelaskannya dengan secara singkat tapi padat, baru Nandi membalas ''oke siap meluncur.''
******
Tiga puluh menit kemudian, ada dua motor datang, yang satu seperti sebuah motor yang suka dipakai patroli oleh polisi, dan yang satunya sebuah motor jadul honda gl 125, yang di modifikasi tracker drag, mereka yang tak lain adalah Nandi yang memakai motornya Astuti dan Seorang anggota polisi yang sengaja Nandi bawa untuk meluruskan masalahnya Toglo dan keluarganya.
Kemudian Nandi dan seorang polisi masuk kehalaman pekarangan rumahnya Sukandar.
Setelah motornya Nandi dan polisi itu terparkir, mereka turun dari kendara'annya, dan berjalan menuju pada teras rumah di mana Toglo, dan kedua adiknya, serta dua orang pemilik rumah masih beradu argumen.
Sukandar yang tetap keukeuh ingin memiliki harta Miliknya ibu Wati bin sutarman, yang semestinya sekarang jatuh pada Wanda dan kedua adiknya, dengan sangat terpaksa wanda meminta bantuan Nandi dan pihak berwajib, supaya tidak ada keributan nantinya.
Sedangkan Sukandar melihat seorang yang berpakaian polisi dan satunya lagi pemuda betubuh tinggi dan berisi, seperti ketakutan, nampak di kedua bibirnya pucat menggigil, sangat ketauan banget menurut ilmu psikolog, orang salah dan orang tidak bersalah bisa ketauan dari segala segi pandang, bersikap gerogi bila di tanya, dan masih bayak lagi lainya.
Kemudian Toglo alias Wanda menyambutnya, dan langsung memperkenalkan Nandi pada bibi dan pamannya.
Setelah itu Nandi mempertanyakan duduk perkaranya, dan pak Rt menjelaskannya dengan cukup di mengerti.
Kemudian Polisi yang bersama Nandi yang tak lain adalah pak Supriyadi menjelaskannya pada Sukandar bahwa apa yang telah di lakukan pak sukandar itu tidak cukup bukti yang menguatkan.
''Begini pak sukandar, kalau emang bapak benar-benar suka memberikan pinjaman berupa uang pada orang tuanya Wanda, setidaknya harus ada bukti tertulis di atas materai, berhubung bukti tidak ada sama sekali, bpak Sukandar terkena pasal penipuan pada nak Wanda, dan hukuman penjara.'' Jelasnya pak Supriyadi.
Sukandar langsung bertekuk lutut pada pak supriyadi.
''Ampun pak Polisi jangan penjarakan saya.'' Ujar Sukandar.
''Pak sukandar, bebas tidaknya anda dengan jeratan hukum itu, semua ada di tangan nya nak Wanda.'' Ucap pak Supriyadi.
Kemudia Nandi dan pak Rt bertanya pada Wanda.
__ADS_1
''Sekarang gimana keputusan Wanda?.'' Tanya Nandi.
Wanda/Toglo tidak buru-buru menjawab, Ia masih kepikiran dengan akal buruknya Sukandar, yang ingin menguasai harta peninggalan orang tuanya.
''Wan Wanda... Kenapa kamu diam nak?.'' Tanya Warni.
''Iya bi! sebenarnya, ku masih belum bisa terima, dengan apa yang paman lakukan pada kami.'' Ujar Wanda.
Mendengar perkata'an dari Wanda begitu, Sukandar gemetaran dan sangat takut dirinya di jebloskan ke dalam sel tahanan.
''Ampunkan semua kesalahan dan kehilapan paman Wanda, paman sekarang mengaku salah dan hilap.'' Ujarnya.
"Sekarang paman bisa berkata begitu, setelah hukum menjelaskan, dan mungkin paman berpikir bahwa kami cuma orang bodoh yang gampang di bohongin, biarpun ku cuma berpendidikan sekolah dasar itupun tidak sampai tamat, tapi ku tau aturan hukum yang benar.'' Ucap Wanda.
Perkata'an wanda sangat di mengerti oleh pak Rt, Nandi dan pak Supriyadi, dan semua berpihak dan membenarkan pada Wanda.
Warni bibi adiknya dari buk Wati ibundanya Wanda, Wawan dan Wiwin, menangis meminta pada Wanda supaya tidak membawa suaminya pada sel tahanan.
Lalu Wawan dan Wiwin merasa iba dan tidak tega melihat bibinya menangis, kemudian mereka merangkul sang kaka dan membujuk agar kakanya memberi ampunan pada paman Sukandar.
''Udah bang, abang jangan berkeras hati, tuntaskanlah perkara ini dengan secara kekeluarga'an, abang boleh menganggap paman Sukandar orang lain, tapi coba abang tengok pada bibi kita yang menangis, apa abang tidak kasihan, yang terpenting Paman sudah mengakui kehilapannya.'' Ujar Wawan.
''Iya bang wanda.'' Pungkas Wiwin.
''Sungguh kalian, adik-adiku yang berhati mulya, tapi di jaman sekarang ini orang seperti kalian banyak sekali di bodohin dan di manpaatin oleh orang-orang seperti paman Sukandar, dan karena ini, perminta'an dari adik-adiku yang sangat ku cintai, aku ma'apkan atas prilaku paman pada kami.'' Ujar Toglo.
"Terima kasih Wanda, terima kasih.'' Ujar Sukandar.
''Iya sama-sama Paman, tapi apabila Paman mengulang kembali begitu pada kami, mohon ma'ap, tak ada ampun lagi bagi kami.'' Jelasnya Wanda.
Nandi dan Pak Supriyadi serta pak Rt merasa lega atas kema'apan yang Wanda berikan pada Sukandar, lalu pak Rt mencatat perjanjian dan perminta'an ma'ap sukandar pada ketiga bersaudara itu di atas kertas putih bermaterai.
.............
Pukul 15:30 menit.
__ADS_1
Setelah urusan Toglo dan Sukandar selesai.
Nandi dan pak Supriyadi pamit pulang karena masih ada urusan penting yang belum sempat terselesaikan.