SI KIDAL SANG PENOLONG

SI KIDAL SANG PENOLONG
Si kidal sang penolong Eps 87


__ADS_3

Kebersama'an mereka dalam sebuah persahabatan


Selalu memancarkan sinar kebenaran.


Dan kini sudah dua dari kelima pemuda gang si'iran, yang pertama hasan yang lebih dulu meninggalkan masa lajangnya, yang kedua nandi yang sebentar lagi akan mengarungi bahtera rumah tangga, tapi walaupun begitu persahabatan mereka tetaplah kuat, apalagi nandi adalah bos dari ke empat sahabatnya itu.


Tiga minggu kemudian hari yang dinanti-nantikan oleh nandi dan sindi, dan kedua orang tuanya, baik dari pihak nandi maupun dari pihak sindi, kini telah tiba.


Persiapan yang lumayan meriah, dan ditempatnya sindi jalananpun untuk sementara ditutup, karena telah dipasang tenda buat para tamu undangan, pemasangan tenda semua sudah beres tiga hari sebelumnya, dan semua biaya sewa tenda dan yang lainnya itu semua nandi yang handle, karena nandi tau bahwa sindi adalah anak yatim, dari sejak masih kecil sindi telah ditinggalkan pergi oleh ayahandanya untuk selama-lamanya.



Ini adalah dekorasi didepan terasnya rumah sindi, yang sengaja dibuat sederhana, minimalis tapi sangat bagus bila dipandang.



Dan ini ruangan buat para tamu undangan, kelas satu yang penata'annya sangat rapi dan elegan.


Berbeda dengan ruangan yang khusus buat para pamili gang si'iran yang dibuat agak sederhana tapi sangat nyentrik.



Dan ini spesial buat para tamu, pamili gang si'iran yang sengaja dibikin disamping rumah.


••••••••


Sementara nandi, sebelum berangkat ia mengambil air wudhu dulu, untuk melaksanakan solat sunat duha.


Untuk meminta kelancaran dan dijauhkan dari segala mara bahaya.


Setelah selesai solat sunat duhanya, nandi lalu melihat pada jam yang melingkar dipergelangan tangan kirinya itu.


Pukul 07:30 menit.


Terus nandipun bersiap-siap, memberi tahu pandi selaku ketua untuk memimpin seluruh pamili gang si'iran, dan mencek ulang persiapan-persiapan yang harus dibawa.


Nina pun sudah stay disitu karena diminta oleh nandi dan astuti untuk datang lebih awal.


Sedangkan pak ardi juna pranata dan ibu yola yohana menyusul nanti agak siangan bersama para tamu undangan yang lain.


Setelah semua beres, nandi pun memberi isarat untuk segera berangkat.


''Sebelum kaki kita melangkah, kita berdoa dulu, untuk meminta perlindungan, keselamatan dan keberkahan, pada allah swt, berdoa mulai.'' Ucap nandi.


Semua pun merunduk membaca doa sebisa bisanya, untuk memohon pada allah swt, agar mulus rahayu berkah dan selamat.


Setelah pembaca'an doa selesai, nandi beserta yang lainnya mulai memasuki mobilnya masing-masing.


Mobil calon pengantin pria, di kendalikan oleh kamal, yang didampingi oleh astuti, sedangkan nandi duduk dijok belakang bersama pak dirman dan buk sari.


Sedang kan pandi memegang kendali mobilnya honda jaz miliknya nina, dan yang duduk di jok belakang hasan bersama lina istrinya, doni dan pacarnya, gito dan toglo.


Sedangkan para sesepuh gang si'iran dan ustad sudah nandi sediakan tiga unit mobil, dengan menyewa dari rental yang masih berlokasi di gang si'iran juga.


Dengan ucapan bismilah hirohman nirohiim, nandi menyuruh kamal agar mulai melajukan kendara'annya, kamalpun perlahan menginjak gasnya dan mobilpun berjalan perlahan-lahan, Yang di ikuti oleh pandi dan nina, sedangakan yang lainnya mengikutinya dibarisan paling bekakang.


Mobilpun kini melaju dengan kencangnya, menelusuri medan jalan yang rata dengan aspal yang tebal, membuat si pengemudi jadi terlena.


Tidak lama kemudian nandi telah tiba dijalan ketupat. tinggal beberapa meter saja, menuju belokan yang mengarah kerumah sindi.


Pas sampai dibelokan yang mau masuk kawasan gang, telah berdiri sepasang janur disudut kiri kananny jalan.


Pas kamal mau belok dengan membanting setir kekanan, Tiba-tiba telah datang rombongan yang ditugaskan untuk menyambut pengantin pria.

__ADS_1


Setelah itu, nandipun terpaksa harus turun dari dalam mobilnya.


Setelah nandi menginjakan kakinya dibumi, disambut dengan meriah, seorang wanitq membawa nanmpan yang berisi telah melingkar sebuah kalung dari bunga-bunga yang nampak masih segar.


Terus diambilnya sebuah kalung tersebut, dan dipake kan sama nandi.


Terus rombongan seni adat yang sudah ditugaskan untuk menyambut pengantin pria, telah mulai.


Sungguh meriah sekali suasana acara itu, kesenian degung telah terdengar, dengan di iringi oleh sair-sair pupuk sinom menyambut kedatangannya sang pangeran.


Nandi berjalan laksana seorang raja dengan di iringi oleh seluruh pamili dan handai tolan gang si'iran.


Astuti berdiri dibelakangnya sambil memegang payung yang telah dihias sedemikian rupa.


Raut wajah nandi nampak bercahaya, pertanda semesta telah menuliskan guratan takdir dan merestui nandi untuk melepas masa lajangnya, dengan seorang gadis pilihannya itu.


Setelah mendekati pintu gapura yang mau memasuki ketempat singgasana, nandipun disuruh berhenti, karena sang permaisuri akan segera datang menyambut sang pangeran, dengan ritual adat pernikahan didaerah itu.



Sang putri pun membasuh kedua kaki pangeran itu dengan air suci dan harum mewangi, karena telah dicampuri kembang tujuh rupa.


Selepas ritual adat pernikahan itu selesai, dan dilangsungkan dengan acara serah terima dari pihak pengantin pria, dan sambutan dari pihak penganti wanita, dan setelqh itu nandi dan sindi pun kini telah duduk berhadapan untuk melangsungkan akadnya.


Dengan pak penghulu dan beberapa saksi dan wali dari sindi.


Berhubung orang tuanya (ayahnya) sindi sudah tiada, dan sindi hanya mempunyai sodara dari ayahnya se orang perempuan yaitu bibinya.


Kini rendilah yang berhak atas walinya sindi yaitu abangnya sendiri.


Akad pun kini sudah dimulai, dengan ucapn bismilah hirohman nirohim, penghulu pun melemparkan beberapa pertanya'an dulu pada nandi, dan nadipun telah menjawabnya dengan singkat tapi padat.


Rendi sebagi walinya sindi kini telah berhadapan dengan nandi untuk segera melaksanakan akadnya.


Nandi dan sindi kini melakukan sembah sungkam pada kedua orang tuanya dan para sesepuh yang hadir.


Setelah semua beres, kini keduanya pun duduk bergandengan disebuah kursi gading gilang kancana.


Dan para tamu undanganpun kini sudah berdatangan keluar masuk, memberi restu pada kedua pengantin.


Disa'at itu pula munculah pak ardi juna pranata dan ibu yola yohana, yang di ikuti oleh abah haji mansur gurunya nandi beserta para relasi bisnisnya nandi dan teman-temannya nandi yang berada jauh diluar gang si'iran.


''Selamat ya nak nandi neng sindi, semoga kalian menjadi keluarga yang samawa.'' Ucap pak ardi dan ibu yola.


''Terima kasih banyak oom, tante.'' Jawab nandi dan sindi.


''Akhirnya, tercapai juga cita-citamu, selamat ya nandi, ingat pesan abah, jangan kau tanamkan dihatimu sebuah kesombongan, tetaplah menolong orang-orang yang membutuhkanmu, semoga kalian langgeng sampai akhir hayat.'' Ujar abah haji mansur memberi selamat.


''Amiin, terima kasih abah, semua pesan abah akan selalu nandi dan istriku ingat baik-baik.''


Begitu dan begitu tidak ada hentinya sampai para tamu undanganpun mulai jarang-jarang.


Pukul 16:15


Para tamupun sudah tidak ada lagi, dan acarapun sudah hampir selesai, sesuai jadwal yang tertulis di surat undangan, pukul 08:00 sd 16:00.


Rasa lelah mungkin nandi dan sindi rasakan, karena hampir seharian penuh nandi dan sindi berdiri menyambut para tamu yang memberi restu padanya.


Kini suasana menjadi sunyi, tinggal para sahabatnya nandi, kamal, pandi, hasan, gito, doni dan toglo, serta nina, astuti dan kedua orang tuanya nandi, yang masih setia menemani dan memberi suport dan selamat.


Nandi dan sindipun sudah ganti pakaiannya dengan pakaian sehari hari dirumah, terus nandi dan sindi keluar menemui adiknya dan para sahabatnya.


''Assalam mualaikum, lo' pada sudah pada makan belum.'' Sapa nandi.

__ADS_1


''Wa alaikum salam, udah dong kalau masalah perut mah gua selalu dijaga iya gak toglo.'' Ujar gito.


''Bagus kalau begitu.''


''Ah elo' to, yang diandelin isi perut melulu sih, makanya jodohmu masih jauh.'' Pungkas kamal.


''Heh kamaludin, jangan munapik lo' siapa sih orangnya yang membiarkan perutnya keroncongan.'' Saut gito sedikit agak tersinggung.


''Udah jangan perdebatkan masalah makanan, gua mau tanya kalian sudah pada ngopi belum?.'' Tanya nandi.


''Belum bos.'' Serempak menjawab bareng.


Nandi terus melirik pada sindi, meminta untuk di bikinin kopi buat para sahabatnya itu.


''Sayaang, maukah buatin kopi, buat mereka dan buat aku juga.'' Ucap nandi.


''Oke siap, demi suamiku apa yang gak.'' Jawab sindi.


''Yes, pasangan yang cocok, akurat, ciihuuuyyy.'' Pungkas hasan.


''Iya dong, ooh iya san istri lo kemana?.'' Tanya nandi.


''Ada bersama nyokap dan bokap lo' dari pas datang juga bantuin di ruangan catring.''


Disa'at mereka lagi asik, munculah rendi dan pak dirman.


''Wah lagi asik nih rupanya.'' Ujar rendi.


''Waah rendi, enggak juga sih biasa lagi duduk santai sambil menunggu penyemangat hidup.'' Jawab pandi, yang terus ditempel oleh nina yunita.


''Ooh iya gua lupa, kalian pingin ngopi kan, sebentar gua bikinin.'' Ujar rendi sambil mau balik arah, tapi langkahnya jadi terhenti karena nandi berkata.


''Gak usah bang, udah ko sindi lagi bikin.'' Ucap nandi.


''Ooh gitu, ya udah atuh.'' Ujar rendi.


Selang beberapa menit, sindi telah datang, dengan membawa nampan yang ber'isi tujuh gelas kopi hitam.


''Nah ini kopinya, ooh abang rendi, ku cuma bikin tujuh gelas, bentar ya aku bikinin lagi.'' Ucap sindi.


''Ya sudah gak apa, biar abang bikin sendiri.'' Saut rendi.


Mereka pun langsung menyeripit kopi hitam yang nampak masih mengepul, bahkan toglopun sekarang sudah mulai belajar ngopi, pertumbuhan toglo semakin pesat dari hari ke harinya badan toglo semakin tinggi dan besar, dan toglopun sudah mulai meroko walaupun masih jarang-jarang.


''Wah waah kopi buatan istrimu di, beda banget, nikmat merata dan tidak bikin asam pada diujung lidah.'' Ucap hasan.


''Belum tau dia.'' Ucap nandi sambil tersenyum pada istrinya.


''Kalian tuh ketinggalan jaman, apalagi kalau kalian sudah merasakan masakannya tante sumi, wah gak bisa terbayang dah pasti kalian setiap hari kesini.'' Ucap astuti.


''Masa iya tut, emang lo sudah pernah merasakan masakannya nyokapnya sindi?.'' Tanya kamal.


''Ya udah atuh aa, makanya gue bilang begitu.'' Saut astuti.


Sementara nina dan astuti di ajak oleh sindi untuk kebelakang rumah, sambil duduk dan minum-minum dibawah pohon mangga, yang terasa sejuk, sambil mendengarkan kicauan burung piara'annya rendi.


♣︎♣︎♣︎♣︎♣︎🌼🌼🌼♣︎♣︎♣︎♣︎♣︎


Bersambung.


Ikuti terus kelanjutannya di episode selanjutnya.


Terima kasih atas dukungannya, semoga sehat-sehat dan sukses selalu.

__ADS_1


__ADS_2