
Setelah motornya dinyalakan, nandi pamit, pada kamal, doni, hasan dan toglo.
Kini nandi sudah menaiki motornya, dan mulai menarik gasnya perlahan.
Tid tidid.
Suara klakson berbunyi, tanda nandi akan berangkat.
Kini motorpun sudah melaju meninggalkan toko dan bengkelnya, suara yang keluar dari selongsong kenalpot begitu nyaring terdengar, ditambah asap putih mengepul seiring dengan kecepatan lajunya motor yamaha rx king tersebut.
Nandi kini sudah memasuki jalan raya delima, motor terus melaju dengan kencengnya, dijalanan yang rata dengan aspal tebal, membuat pengendara menjadi terlena dan keasikan.
Nandi yang terus melaju, dengan liukan-liukan dalam menyalip dan menyalip kendara'an lainnya, sungguh sangat indah bila dilihat dari atas.
Begitu nandi sampai di play over jalan raya delima, nampak ada empat pria berwajah sangar ditepian jalan raya, lagi menghadang setiap pengemudi kendara'an kuhusus angkutan umum semua diberhentikannya.
Nandi lalu menurunkan laju kendara'annya, dan terus nandi mencari tau sebab dari ulah empat pria itu.
Sa'at itu ada kendara'an lain disampingnya nandi dan berhenti, nandi lalu bertanya untuk mencari tau permasalahannya.
''Ma'ap bang ada apa ini ya, ko semua angkutan umum diberhentikannya?.'' Tanya nandi.
''Entahlah, gue juga kagak ngerti.'' Jawabnya.
Terus yang di belakang nandi menyaut dari pertanya'annya nandi.
''Menurut impo yang gue dapat sih, katanya ada supir angkot yang memukuli sampai babak belur, mungkin temennya ke empat pria itu kali.'' Saut orang yang dibelakangnya nandi.
''Ooh begitu, kiarain ada apa gitu, ya sudah kita tancap aja, kan itu bukan urusan kita.'' Ucap nandi.
''Iya bang.'' jawabnya.
Nandipun terus melajukan lagi kendara'annya yang diikuti oleh kedua orang itu.
Begitulah bunga kehidupan dijalanan, banyak sekali konplik antar manusia, ataupun selalu saja ada permasalahan, karena kehidupan dijalanan itu, sangat panas kadang tidak ada rasa iba antar sesama, memeras dan menindas sesuka hati, itu selalu terjadi dikehidupan dijalanan.
Karena kemajuan jaman semakin pesat dan kehidupan pun terus meningkat, adat budaya warisan dari para leluhurpun hampir musnah, berganti dengan adat barat yang berbau medern.
Dicerita ini, sang pencipta telah menciptakan manusia yang ber'asal dari keluarga tidak mampu, dan telah dikaruniai sebuah kekuatan untuk memberantas ketidak adilan, dialah nandi suryaman yang bisa diartikan dalam bahasa san sekerta, anak mentari.
Meski perjalanan nandi sempat merasakan pahit manisnya kehidupan dijalanan, mungkin itu semua sudah guratan nasib dari perjalanan hidup nandi, agar bisa lebih tau karakter manusia, nah dari situlah nandi banyak mengetahui kehidupan yang sebenarnya.
Selepas nandi keluar dari hidup dijalanan, pak dirman selaku ayah kandung dari nandi menitipkan nandi pada abah haji mansur, untuk menimba ilmu agama.
.........................
Selepas itu nandipun sudah memasuki jalan raya ketupat, tempat dimana toko barunya nandi.
Disa'at nandi sudah mendekati dengan bengkelnya, dari kejauhan nandi melihat gadis yang sangat dicintainya lagi berjalan keluar dari tokonya, nandi terus menghentikan kendara'annya, dan terus memperhatian gadis tersebut yang tak lain adalah sindi.
Nandi terus lirik sana lirik sini, seperti ada yang lagi dicarinya, ketika itupula tepat dengan niatnya nandi dalam hatinya.
''hai dek, sini.'' Ucap nandi memanggil tukang dagang.
''Itu bunganya berapa'an?.'' Tanya nandi.
''Tergantung abang milihnya yang mana.'' Jawab anak tersebut yang ternyata tukang jualan bunga
''Kalau yang ini berapa?.'' Tanya nandi.
''Ooh yang ini tiga puluh ribu bang.'' Jawab anak tersebut.
''Nih abang beli satu, kembaliannya buat kamu aja, tapi tolong kasih sama wanita yang lagi beli bubur ayam itu.'' Ucap nandi.
''Yang mana bang?.'' Tanya anak itu.
''Itu tuh, yang pake baju warna kuning corak-corak, yang rambutnya agak ikal, namanya sindi, cepetan.'' Ucap nandi.
''Okee bang.'' Jawabnya singkat.
Sementara sindi yang lagi membeli bubur ayam, buat sarapannya, dalam keada'an ngantri karena pembeli cukup banyak.
Selepas itu sindi mendapat gilirannya.
''Bungkus dua ya bang.'' Ucap sindi.
''Iya mb.'' jawab tukang bubur.
Tukang bubur ayam itu, lalu menyiapkan dua bungkus bubur ayam buat pesanannya sindi, setelah semua beres sindipun lalu membayarnya.
Sindi langsung melangkahkan kakinya menuju ketempat kerjanya.
Tiba-tiba sindi dikagetkan dengan suara yang memanggilnya.
''Mb sindi.'' Ujarnya.
Sindipun terus menoleh kesamping, nampak seorang anak kira-kira berumur 13 tahun telah berdiri.
''Iya dek, ko ade bisa tau nama mb?.'' Tanya sindi.
''Iya ku dikasih tau.'' Jawab anak tersebut.
''Emangnya siapa yang sudah memberi tau ade.'' Sindi berkata.
''Seorang pria gagah dan tampan, menyuruh aku untuk memberikan bunga ini.'' Jawab anak itu.
''Pria yang ade maksud, namanya siapa?.'' Tanya sindi.
''Pria itu tidak memberi tau identitasnya.'' Ucap anak itu.
''Ma'ap ya dek, mb tidak sembarangan menerima pemberian yang belum jelas iden titasnya.'' Ujar sindi.
''Tapi ini sudah dibayarnya mb.'' Ujar anak itu.
''Ya sudah buat ade aja, pokonya mb tidak sembarangan terima bunga dari lelaki yang tidak mb cintai.'' Ucap sindi sambil melangkah pergi.
Sementara nandi yang menyaksikan dari jauh sambil bersembunyi dibalik ruko-ruko pinggir jalan.
Anak itu lalu membalikan badannya menuju pada nandi yang lagi mengawasi dari tempat yang tersembunyi.
__ADS_1
Setibanya ditempat nandi menunggu, anak itu lalu memberikannya lagi bunga tersebut pada nandi.
''Ini bang bunganya.'' Ujar anak itu.
''Ko dibawa lagi?.'' Tanya nandi.
''Wanita itu tidak mau menerima bunga ini.'' Jawab anak itu.
''Kenapa?.'' Tanya nandi.
''Katanya sih, tidak sembarangan menerima pemberian yang belum tau identitasnya, karena ia hanya mau menerima pemberian dari orang yang dicintainya, begitu katanya bang.'' Jawab anak itu.
''Ooh ya sudah, makasih ya.'' Ucap nandi.
''Sama-sama bang.'' Jawab anak tersebut sambil melajutkan lagi kelilingnya dari berjualan bunga.
''Berarti gua gak salah memilih wanita, sindi kau memang cantik luar dalam.'' Ucap nandi dalam hatinya.
Setelah itu nandi lalu melanjutkan lagi laju motornya, yang hanya tinggal beberpa meter saja, dengan bunga tersebut diselipkan dan dikat pada setang motor.
Tidak lama lagi nandi telah tiba didepan tokonya, lalu ia membuka helm dan jaket levisnya, terus berjalan kearah gito dan pandi yang lagi sibuk betulin motor para langganannya.
''Assalam mualaikum.'' Ucap nandi.
''Wa alaikum salam.'' Semua menjawab salam dari nandi.
''To, dari jam berapa lo' mulai kerja?.'' Tanya nandi.
''Ya elah sibos, ko bertanya begitu, ya seperti yang sudah diterapkan dalam aturan kerja disinilah.'' Jawab gito.
''Oooh gitu.'' Ucap nandi.
''Emang kenapa gitu?.'' Tanya gito.
''Gak, cuma itu badan lo' sudah belepotan penuh dengan oli begitu, seperti sudah bekerja seharian penuh.'' Jawab nandi.
''Ooh ini toh, itu tuh pandi oli bekas, tumpah menimpa badan gua, apes deh gua hari ini.'' Ucap gito.
Selepas itu nandipun masuk keruangan kerjanya.
Dengan membawa bunga yang dibeli tadi dijalan, bunga tersebut terus nandi simpan dipot, terus nandi duduk menyandarkan tubuhnya dikursi, sambil pandangan menatap keatas.
Disa'at itu pintu pun terbuka, bersama'an dengan munculnya seorang wanita, berambut agam ikal sedikit bergelombang, masuk dengan membawakan minuman kesuka'an bosnya.
''Pak ini minumnya.'' Ucap wanita tersebut yang tak lain adalah sindi.
''Iya sin makasih, taro aja duku tuh dekat pot bunga.'' Ucap nandi.
Sindipun lalu menaro segelas kopi diatas meja sampingnya pot bunga itu.
Sondi agak heran dengan bunga yang ada diruang kerja nandi, terus ia teringat kejadian 30 menit yang lalu, ada seorang anak memberikan bunga padanya.
''Ini bunga kayanya gak asing dimta gue, apa jangan-jangan, anak itu suruhannya aa nandi, tapi aa nandi kaya nyantai-nyantai aja, se olah-olah kagak tau menau.'' Gerutu sindi dalam hatinya.
Sindi dengan ragu-ragu ingin mempertanyakan bunga itu pada nandi.
''Kalau emang anak tadi itu suruhan aa nandi, waduuh gimana ya, nanti dikiranya gue gak mau lagi, waduh jadi tambah bingung nih gue.'' ucap sindi dalam hatinya.
Nandi tersenyum tipis, melihat tingkahnya sindi yang seperti lagi kebingungan.
''Sin lo' kenapa sih, gua perhati'in lo kaya kebingungan begitu?.'' Tanya nandi.
''Ooh tidak apa-apa ko, ya sudah saya keluar dulu ya.'' Ucap sindi.
''Oohnya udah, makasih ya sin kopinya.'' Ucap nandi.
''Iya pak sama-sama.'' Jawab sindi sambil menutup kembali pintunya.
Sesampainya diruangan kerja, sindi nampak masih dihantui oleh perasa'an rasa penasaran perihal bunga yang ada diruangnya nandi.
Duduk salah berdiripun salah mundar mandir kesana kemari, sampai-sampai astuti melotot dengan sikap sindi itu.
''Buseet dah lo' kenapa teh sindi, gue perhati'in dari tadi mundar mandir duduk salah berdiripun salah, ada apa sih lo'?.'' Tanya astuti.
Sindipun kaget, baru menyadari bahwa diruangan kerjanya itu, ia tidak sendirian, Sindipun lalu mengalihkan perhatiannya pada astuti.
''Ooh iya tut, bagaimana kalau kita minum jus, kayanya enak nih.'' Ucap sindi.
''Wah bener nih orang kayanya kesambet setan ling lung nih.'' Ujar astuti.
''Apa'an sih tut, gua kagak kenapa-napa ko.'' Ucap sindi.
''Teh sindi, gue ini manusia sama seperti lo, sepulangnya dari ruangan aa nandi, sikapmu jadi aneh tau.'' Ucap astuti kesel.
''Iiih ko marah sih tut.'' Ujar sindi.
''Habisnya, gue tanya malah mengalihkan pembicara'an.'' Ucap sindi.
''Oke-oke ma'apin gue ya, ya sudah gue ceritain sama lo.'' Ucap sindi.
Sindipun menceritakan, yang sudah dialaminya waktu ia membeli bubur ayam buat sarapan itu.
''Nah gitu ceritanya, dan yang membuat gue jadi bingung, bunga itu sekarang ada dirungan kerjanya aa nandi, dan gue mau nanya pada aa nandi tidak ada keberanian, tut.'' Ucap sindi.
''Oooh jadi gitu masalahnya, nanti coba gue cari tau.'' Ujar astuti.
''Entar dikiranya gue yang sudah cerita.'' Ucap sindi.
''Ya kagak lah, kan gue gak langsung bertanya pada sumbernya atuh.'' Ucap astuti.
Selepas itu, astuti dan sindi menunda obrolannya karena banyak konsumen pada datang, memenuhi toko itu.
Dari berbagai macam jenis suku cadang, ditoko nasi motor sangatlah komplit dari segala merek dan jenis suku cadang resing pun ada, bahkan sampai ke aksesoris semua kendara'an roda dua pun ada.
Makanya tidak heran bila dijalan ketupat ini pas ditoko nasi motor selalu dibanjiri oleh para pembeli, yang kebanyakan anak-anak muda, terutama yang hobi dengan motor roda dua.
Astuti lalu memasuki ruangannya nandi ada hal yang akan astuti tanyakan pada abangnya itu.
Setibanya didalam ruang kerja nandi.
''Aa ini laporan minggu ini, dan diminggu ini, yang sangat laris prodak thailand, dan stocknya sudah menipis.'' Ucap astuti.
__ADS_1
''Iya nanti siang mungkin datang, gua sudah pesen dari kemarin.'' Ucap nandi.
Terus astutipun melihat pada samping kiri meja kerjanya nandi.
''Widiiih, sejak kapan aa suka dengan bunga?.'' Tanya astuti.
''Dari dulu juga gua suka sama bunga, emangnya kenapa de, nanya begitu.'' Ujar nandi.
''Gak cuma nanya doang ko, soalnya gue baru kali ini lihat dimeja kerja aa ada pas bunga.'' Ujar astuti.
''Ooh itu, ya pingin aja atuh kali-kali, ya tadi kebetulan gua beli dijalan pas mau kesini.'' Ucap nandi.
''Pasti bunga ini diperuntukan buat seseorang.'' Ujar astuti.
''Ma'ap kali ini gua tidak akan memberi penjelasan pada lo'.'' Ucap nandi.
''Tuh kan aa nandi suka nyebelin deh, masa adikmu sendiri kagak boleh tau.'' Kata astuti.
''Sori, ini urusan intern.'' Jawab nandi.
''Ya sudah, tapi awas ya, bila nanti minta dibikinin kopi gue kagak bakalan mau.'' Ucap astuti sambil melangkah keluar dari ruangannya nandi.
''Ko bawa-bawa kopi segala sih, is oke no problem.'' Saut nandi.
Astuti lalu masuk lagi keruangan kerjanya.
''Gimana tut berhasil kagak?.'' Tanya sindi.
''Nihil, tapi ada sih titik terang, tadi aa nandi bilang sempet beli bunga pas mau kesini.'' Jawab astuti.
''Ooh gitu, ya sudah nanti gue yang cari tau sumbernya.'' Ucap sindi.
Setelah itu, telpon duduk dimeja kerja sindi berbunyi.
''Wah dari ruang bos nih, bentar ya gue angkat dulu.'' Ucap sindi.
Sindipun lalu mengangkat telpon nya.
.Sindi ''Iya pak ada yang perlu saya bantu.''
.Nandi ''Kamu keruangan saya sekarang.''
Sindipun lalu memenuhi panggilan bosnya yaitu nandi.
Setelah sindi berada didalam ruangannya nandi.
''Silahkan duduk.'' Ucap nandi.
''Baik pak.'' Jawab sindi.
''Sekarang obrolan kita bukan selaku bos dan bawahan.'' Ucap nandi.
''Terus saya harus gimana pak.'' Ucap sindi.
''Kan gua sudah bilang barusan, panggilnya jangan pak.'' Ucap nandi.
''Iya aa.'' Jawab sindi.
''Nah gitu dong, sin nanti malam gua diundang oleh pak suganda, rencananya gua mau ngajak lo' kira-kira ibumu ngijinin kagak.'' Ujar nandi.
''Kalau ibu sih selalu ngijinin asal jelas perginya kemana.'' Jawab sindi.
''Dan satu lagi yang akan gua sampaikan pada lo' sin, terima kasih ya lo' sudah pegang teguh hati gua dikalbumu.'' Ucap nandi.
Sindi seperti tidak mengerti arah pembicara'annya nandi.
''Maksud aa nandi?.'' Tanya sindi.
Nandi lalu berdiri dari tempat duduknya sambil mondar mandir mendekati bunga yang dipasang dipot tersebut.
''Lo' sudah yakin sama gua, begitupun gua, dan maukah kau menerima bunga ini bidadariku.'' Ucap nandi sambil merendahkan tubuh dengan setangkai bunga berada digengamannya.
Dengan hati yang berdebar-debar, sindi meraih bunga dari genggaman tangan kanan nandi.
Lalu nandi menarik tangannya dindi sambil diciumnya.
''Terima kasih aa, jadi anak kecil yang tadi itu suruhan aa?.'' Tanya sindi.
''Iya benar, dan kamu tidak mudah digoyahkan oleh badai sekalipun.'' Ucap nandi.
''Iiih aa nandi jahat, sudah bikin ku bingung, dan tidak pokus kerja.'' Ucap sindi.
''Tapi kamu suka kan?.'' Tanya nandi
Sindi cuma memanggutkan kepalanya, lalu nandi memegang kedua tangannya sindi, dengan tatapan saling mencurahkan rasa cinta, tanpa mereka sadari kini tubuh mereka saling berdekatan, karena terdorong oleh rasa cinta yang begitu dalam.
Sindi kini berada dalam rengkuhan tubuh yang gagah dengan postur tubuh yang jangkung dengan wajah tampan penuh pesona.
Selepas itu, nandi pun melepaskan pelukannya itu, dan sindi lalu meraih kembali bunganya yang tadi sempat ditunda.
''Terima kasih bunganya ya aa, insa allah ku akan selalu menjaganya.'' Ucap sindi.
''Iya sama-sama sin, kita jaga cinta ini jangan sampai ternodai, dan gua juga minta ma'ap kalau gua sudah berlaku kurang ajar, sudah berani memelukmu.'' Ucap nandi.
''Tidak apa-apa aa, gue juga seneng mendapat pelukan kasih sayang dari aa.'' Ujar Sindi.
Setelah itu sindi balik lagi keruangan kerjanya, dengan membawa bunga pemberian dari nandi. sebagai tanda cintanya pemuda gagah dan tampan yang sekaligus bosnya.
☆☆☆☆▪︎▪︎▪︎☆☆☆▪︎▪︎▪︎☆☆☆☆
Bersambung.
Penasaran dengan kelanjutannya, nantikan kisahnya di epidode selanjutnya.
Kalau suka cukup, like, comentar, favorit dan vote.
Terima kasih banyak saya ucapkan atas semua dukungannya, semoga sehat-sehat dan sukses selalu.
\=\=\=\=\=\=Selamat membaca\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1