
Bertepatan dengan matahari berada di atas ubun-ubun kepala, Nandi dan Gito telah sampai di daerah pesisir pantai selatan, kemudian Nandi mencari sebuah Masjid untuk melaksanakan solat dhuhur terlebih dahulu.
Setelah Masjid di temukannya, mereka pun langsung mengambil air wudhu sebagai sarat sahnya solat.
Selepas melaksanakan solat, mereka bertiga langsung bergegas memburu pada motornya, untuk mencari salah seorang Dukun yang bernama bah Jamrong, karena menurut bisikan yang terlintas di telinganya Nandi orang yang di carinya berada di sekitar situ.
Lalu Mereka berhenti di salah satu sebuah warung, untuk menyegarkan dulu pikirannya sehabis melakukan perjalanan yang lumayan sangat jauh.
"Assalam mu'alaikum, buk bikin kopi tiga." Sapa Nandi.
"Wa alaikum salam, kopi apa dek?." Tanya wanita pemilik warung.
"Kopi hitam aja Buk."
Si pemilik warung pun langsung menyediakan tiga gelas, lalu di tuang kopi hitam spesial mix ke dalam tiga gelas dan di seduh dengan air panas dari sebuah termos.
"Ini kopinya dek, sepertinya kalian ini bukan orang sini?." Ujar tukang warung sambil memberikan kopi satu-satu.
Nandi langsung mearih tiga gelas kopi itu, dan di berikan pada Gito dan Toglo.
"Iya benar Buk, kami bukan orang sini!." Jawab Nandi.
"Pantesan ibuk baru melihatnya, soalnya orang sini itu gak ada yang ganteng seperti kalian, apalagi kamu yang tinggi ini, idiiih ganteng banget." Ujar pemilik warung ke genitan.
Gito dan Toglo tertawa saling pandang ketika mendapat pujian dari pemilik warung.
"Waduuh Di' tukang warung mulai demen tuh sama lo'." Bisik Gito.
"Hahaah, kalau mendengar pujian kaya gini, serasa di ingatkan sama Bi Irah." Bisik Nandi.
Lalu Nandi menjawab perkata'an tukang warung.
"Ah ibuk bisa aja, manusia itu sama saja buk, ganteng maupun jelek, yang penting hatinya." Ujar Nandi.
"Iya sih, tapi sepertinya kalian bertiga ini orang baik-baik." Ujar pemilik warung.
"Ko ibuk bisa memastikan kalau kita ini orang baik-baik, emang di pandang dari segi apanya sih Buk?." Tanya Nandi.
"Ya di lihat dari raut wajah kalin, yang nampak bercahaya, seperti orang yang rajin beribadah." Jawabnya.
"Amiin, insa Allah Buk kami selalu menyempatkan waktu untuk beribadah." Ujar Nandi.
"Sebenarnya kalian itu tujuannya mau kemana?." Tanya pemilik warung.
"Ya kami main aja kesini, tapi memang ada sih yang kami tuju." Jawab Nandi.
"Owh begitu, lalu siapa yang kalian tuju disini, barang kali ibuk bisa membantu?." Tanya pemilik warung.
"Sebenarnya tujuan kami, ke tempat Bah Jamrong." Jawab Nandi.
"Owh, mau bikin penglaris apa?."
"Astagpirullah hal adzim, tidak lah buk kami punya urusan lain pada Bah jamrong." Jawab Nandi.
"Kamu hati-hati dia tuh dukun yang paling di segani di sekitar sini, malahan sekarang juga ada orang kaya, sepertinya seorang pengusaha, lagi di obatin." Ujarnya.
"Orang mana gitu buk?."
"Kalau melihat plat nomor kendara'annya sih, sama kaya nomor plat motor kalian, cuma dia bawa mobil bagus banget."
"Owh begitu, emang dimana sih rumahnya Buk?." Tanya Gito ikut bicara.
"Kalau rumahnya dekat sama rumah Ibuk, cuma kalau ada tamu di bawa ke tempat khusus, kalau dari sini lurus terus, nanti bila menemui pertiga'an ambil yang ke kiri, nah tidak jauh lagi dari situ ada sebuah rumah panggung berada di atas bukit." Jelasnya.
"Oh iya Buk, terima kasih ya atas impormasinya." Ujar Nandi.
__ADS_1
"Iya sama-sama."Ujarnya.
Setelah itu Nandi pun langsung membayar tiga gelas kopi tersebut, lalu mereka beranjak pergi menuju pada Tempatnya Bah Jamrong yang di tuduhkan oleh pemilik warung tersebut.
Kedua motor Yamaha RX king melaju di jalanan perkampungan.
....................
Sementara di tempat lain.
Di Bukit yang agak jauh dari pemukiman para penduduk, di sebuah rumah panggung se orang lelaki tua berjenggot, berambut panjang di ikat, dengan tatapan matanya yang tajam lagi duduk bersila di sebuah ruangan kecil sambil berkomat kamit dengan asap kemenyan yang terus mengepul di hadapannya.
Sepertinya orang tersebut lagi melakukan ritual, dengan mengundang para makhluk piara'annya.
Lalu setelah itu munculah bayangan hitam tinggi besar dan bertanduk berkata menyeramkan.
"Ada apa Jamrong memanggilku." Ujar sang makhluk itu.
"Saya sangat kewalahan untuk melaksanakan tugas yang di berikan oleh Handoko Tuanku, ternyata orang yang akan ku musnahkan itu sangat kuat, dan Jin yang ku suruh membunuh pemuda itu malah di hadang oleh dua pasangan satria." Keluh Bah Jamrong.
"Ingat Jamrong, pemuda itu Titisan dari Nyai Jayanti dan Jamika, keduanya pernah menundukan raja jin di wilayah selatan ini, yang di bantu oleh pasukan dari langit." Jelasnya makhluk tersebut.
"Tolong bantu saya Tuanku, sedangkan upah yang di berikan pada saya sangat besar sekali." Ujar Bah Jamrong.
"Huhahahaha, Dasar dukun cabul kau Jamrong, mata duitan, baik saya akan bantu kamu, untuk membunuh pemuda itu, asal ada saratnya." Tawar sang makhluk itu.
"Apa saratnya Tuanku?." Bertanya Bah Jamrong.
"Kamu harus sediakan darah perawan yang punya weton selasa kliwon, dan besok darah itu harus sudah tersedia di sini." Jawabnya.
"Bagaimana caranya Tuanku?." Jamrong krmbali bertanya.
"Kamu setubuhi gadis perawan itu, dan darahnya kamu bersihkan pakai kain putih, dan aku akan datang utuk meminumnya." Ujarnya.
"Sangat susah Tuanku mendapat gadis perawan di jamqn sekarang apalagi yang punya weton selasa kliwon."
DI sa'at bah Jamrong lagi melakukan mediasi dengan makhluk astral, terdengar suara keributan di tengah rumah, dan ada yang mrngetuk pintu sambil memanggil namanya.
"Hai Jamrong dukun cabul keluarlah kau." Begitu suara yang terdengar oleh Bah Jamrong.
Bah Jamrong sampai membulatkan kedua bola matanya yang menyala dan raja jin itupun langsung menghilang dari hadapan Bah Jamrong.
Sementara di ruangan tengah.
Tiga pemuda yang mendatangi rumahnya Bah Jamrong, lagi beradu argumen dengan salah seorang pasennya Bah Jamrong.
"Oh rupanya ini orang yang bermuka dua, yang mau membinasakan sahabat saya." Celetuk pemuda yang berambut pirang di warna'in.
Ternyata ke tiga pemuda itu adalah Nandi, Gito dan Toglo, awalnya mereka mengintip di luar dan motonya sengaja di parkir di tempat yang jauh dari rumahnya Bah Jamrong, tapi setelah mendengar obrolan pasennya Bah Jamrong di telepon yang menyebut Nama Nandi, yang akan di hancurkan nanti malam lewat kiriman yang lebih dahsyat, dari situ Nandi dan kedua sahabatnya tanpak permisi lagi langsung masuk ke dalam rumahnya Bah Jamrong dengan amarahnya yang sudah tidak bisa di bendung lagi.
"Lo' heran kan kenapa gua bisa tau lo' ada di sini." Ujar Nandi sambil menjambah kerah baju pasennya Bah Jamrong yang tak lain adalah Handoko.
"Apa-apa'an lo, jangan sembarangan menuduh, nanti gue jemblosin lo bertiga ke penjara." Ancam Handoko.
"Hahaha, silahkan saja kalau emang lo' punya nyali, sebelum lo' menjebloskan kami, terlebih dahulu gua akan habisin lo di sini, dan tubuhmu akan gua lempar ke pantai selatan sebagai persembahan buat nyi roro kidul." Gertak Nandi.
Gito dan Toglo tertawa lebar, melihat dan mendengar argumen dari Handoko.
"Hai laki pengecut, kami pun bukan orang bodoh yang gampang begitu saja tertipu oleh otak lo' yang dangkal." Ujar Toglo, yang lagi berdiri di depan pintu masuk ke ruangannya Bah Jamrong.
Handoko pun langsung berteriak memanggil Bah Jamrong. "Bah keluar, ada perusuh nih." Teriak Handoko yang tidak lanjut berkata karena Satu bogem dari gito telah menghentikan bicaranya.
Buuukk
"Diam kau bangsat." Maki Gito sambil meluncurkan bogemnya.
__ADS_1
Handoko yang lagi dalam cengkramannya Nandi langsung roboh seketika.
Blaaak
Tubuh Handoko langsung jatuh tersungkur di lantai papan kayu.
Sementara pintu yang mau ke ruangan Bah Jamrong masih tertutup rapat, dan Toglo yang sedari tadi mengetuk dan menunggu Jamrong keluar menjadi kesal dan akhirnya.
Bruuk
Braaaakkk.
Suara pintu yang jebol karena di tendang oleh Toglo, lalu masuk kedalam ruangan yang gelap tanpak penerangan sedikutpun hanya ada cahaya kecil yang masuk dari celah-celah dinding rumah yang kurang rapat, Toglo celingukan ke sana kemari mencari Bah Jamrong.
Sungguh aneh Bah Jamrong tidak ada di tempat, hanya kepulan asap kemenyan yang toglo temukan. "Lho ko gak ada, hebat ternyata Jamrong sangat sakti." Batin Toglo.
Lalu Toglo ke luar dan melaporkan pada Nandi dan Gito.
"Pak Bos dukun itu tidak ada di dalam." Ujar Toglo.
Baru saja Toglo selesai berkata, terdengar ada suara tertawa mengerikan dan menggema.
"Huhahahaha...Rupanya kalian mau mengantarkan nyawa kesini, bagus berarti tidak harus susah-susah saya melakukannya." Seru suara tak berwujud itu.
"Hai Dukun tengik jangan bersembunyi di balik ketiak, tunjukan batang hidungmu? kalau memang kamu sakti mandra guna ayo kita bertarung dengan aku Toglo." Tantang Toglo dengan gagah berani tak mengenal rasa takut.
Seketika itu ada hantaman pukulan berkekuatan tinggi yang mendarat pada tubuh Nandi, Gito dan Toglo.
Buk
Buk
Buk
Nandi, Gito dan Toglo sampai kaget dan bergerak mundur tiga langkah karena dorongan dari pukulan yang mengandung kekuatan.
"Kurang ajar, dasar pengecut, tunjukan wujudmu dukun cabul." Bentak Nandi.
Sementara Handoko yang sudah terbangun dari jatuhnya akibat pukulan gito, langsung semringah melihat tiga pemuda Gang Si'iran terkena pukulan tanpak wujud.
"Hahahaha, ayo Bah habisin mereka." Ujarnya tertawa mengejek.
Toglo mendengar makian Handoko langsung naik darah, seketika itu Toglo langsung bergerak cepat dengan pukulannya.
"Kurang ajar kau, mapuslah kau pengecut."
Duuuk
Deaasss.
Auuuggghhhh..
Suara yang keluar dari mulutnya Handoko begitu mendapat dua pukulan keras dari Toglo, yang sipat sadisnya mulai keluar. Tubuhnya Roboh menimpa lantai papan kayu dan tidak sadarkan diri.
"Hai Dukun tengik nampakan lah wujudmu pengecut." Tantang Toglo.
Selepas Toglo berkata, mendadak barang-barang yang ada di situ berterbangan meluncur ke arah Nandi, Gito dan Toglo.
Tiga pemuda Gang Si'iran tidak begitu kaget, mereka pun langsung menyongsongnya dengan sebuah tendangan.
Disa'at Nandi dan kedua sahabatnya yang sekaligus pekerjanya, lagi kesusahan karena lawannya bisa menghilangkan tubuhnya dari pandangan Nandi, ada bisikan lagi di telinga Nandi.
*******
Bersambung
__ADS_1
sertakan pula like, comentar, jadikan favorit bila suka, berikan vote serta hadiahnya.
Terima kasih atas dukungannya, salam sehat dan sukses selalu.