
Tidak lama kemudian Astuti telah tiba di tempat ruang tunggu, lalu Astuti megrim kan sebuah chat pada Nandi.
📱.Astuti "Aa sudah beres."
Selang dua menit Nandi membalas chat dari Astuti.
📱.Nandi "Oke, abang mau pamit dulu pada Parman dan istrinya, tunggu aja dulu."
📱.Astuti "Oke siap."
Setelah itu Astuti langsung menutup kembali handponnya.
Sementara Nandi yang lagi berada di ruangan tempat di rawatnya buk Asih, segera pamit.
"Ma'ap ya kang saya tidak bisa lama-lama, karena anak dan istri saya menunggu di rumah, buk Asih ku balik dulu, semoga ibuk cepat sembuh dan sehat-sehat terus." Ucap Nandi sambil bersalaman pada Parman dan istrinya.
"Iya pak terima kasih ya sudah mau menjenguk saya." Ujar buk Asih.
"Sama-sama buk." Jawab Nandi.
Nandi langsung melangkah keluar, lalu Parman mengikutinya, setibanya di luar Parman berkata.
"Terima kasih pak, dan ma'apkan atas perbuatan saya, saya mohon jangan bawa saya ke pihak hukum ya pak, kalau saya di penjara siapa yang mau ngasih makan istri dan Anak saya, malahan sekarang juga saya masih bingung, dari mana saya melunasi biaya pengobatan istri saya." Ujar Parman bernada pelan takut terdengar oleh istrinya, yang nantinya akan membuat sakitnya bertambah parah.
"Sudah, akang tidak usah kuatir, saya juga masih punya hati dan gak tega, melihat istri akang yang lagi berbaring karena sakit yang di deritanya, tidak usah jadi beban pikiran akang, saya sekeluarga sudah mema'apkannya." Ucap Nandi.
Kemudian Parman menurun kan tubunya setengah bersujud pada Nandi dan Astuti.
"Terima kasih pak, mb, sungguh bapak dan mb sangat mulia hati, saya merasa bersalah banget kenapa saya harus melakukan hal begitu." Ujar Parman.
Kemudian Nandi memegang ke dua bahunya Parman dan berkata.
"Sudah kang Parman jangan begitu, berdirilah." Ujar Nandi.
Parman pun langsung berdiri, kemudian Astuti mendekati Parman.
"Sudah akang tidak usah merasa bersalah begitu, saya dan bapak juga minta ma'ap kalau sudah menghajar kang Parman, dan sayapun telah mema'apkan kang Parman, tapi ingat hal yang begitu jangan di ulangi lagi, coba kalau pada orang lain yang kejam, akang pasti sudah mendekam di balik jeruji besi." Ujar Astuti.
"Iya mb, saya nyesel, atas perbuatan saya, terima kasih banyak atas kebaikan kalian." Ujar Parman.
"Setelah itu. Nandi dan Astuti langsung pergi meninggalkan Parman, karena waktu yang sebentar lagi subuh.
Sedangkan Parman tetus memandang Nandi dan Astuti sampai menghilang di telan jarak yang semakin jauh.
Ketika itu pula munculah temannya Parman.
"Gimana kang urusannya sudah beres apa lanjut?." Tanya temannya Parman.
"Sudah beres jak, mereka ternyata berhati mulya, dan sudah mema'apkan kita." Ujar Parman.
"Ko kita sih kang, kan saya cuma di ajak akang dan tidak tau apa-apa." Ucap Rojak.
"Iya saya memang salah dan minta ma'ap, tapi kalau menurut hukum kepolisian kamu juga masih terlibat karena ada bersmaku sa'at kejadian itu, ya sudah tidak usah di bahas lagi, jadikanlah ini suatu pelajaran kususnya bagi saya pribadi." Ujar Parman.
"Iya kang, masih untung mereka sangat pema'ap, setelah melihat bukti bahwa istri akang lagi sakit, coba kalau pada orang yang kejam, mungkin malam ini kita sudah mendekam di sel tahanan, lalu bagaiman ke ada'an istri akang." Ucap Rojak.
"Alhamdulilah, istri saya sudah jauh lebih baik sekarang." Ujar Parman.
"Syukur kalau begitu, saya turut senang mendengarnya." Ucap Rojak.
Dan Setelah itu, Ketika Parman dan Rojak lagi ngobrol di luar, munculah dokter untuk memeriksa kondisinya Asih.
"Selamat pagi pak, Oh iya pak Parman saya mau mengecek ke ada'an istri bapak." Ujar dokter.
__ADS_1
"Pgagi juga Dok, oh iya silahkan." Jawab Parman.
Dokter pun lalu memasuki rungan tempat Asih di rawat yang di ikuti oleh Parman, sedangkan Rojak menunggu di luar.
"Pagi buk Asih, gimana keada'an ibuk sekarang?." Tanya Dokter.
"Alhamdulilah Dok, sekarang sudah membaik." Jawab Asih.
"Syukur kalau begitu, sebentar ya ku mau mengecek dulu ke ada'an ibuk." Ujar Dokter.
Kemudian dokter pun langsung mengecek kondisi kesehatannya Asih.
Setelah beberapa menit, Dokter pun berkata.
"Kesehatan ibuk sekarang sudah sangat baik, darahpun sudah normal, nanti pola makannya di jaga ya buk, jangan sampai telat, dan jangan dulu makan makanan bersantan, terus yang pedas-pedas dan yang asam-asam, dan hari ini ibuk sudah di perboleh kan pulang." Ujar Dokter.
"Iya Dok terima kasih." Jawap Parman.
"Sama-sama, ya sudah saya tinggal dulu." Ucap Dokter, sambil melangkah keluar.
Setelah dokter sudah keluar dari ruangan rawat Asih, Asih pun nampak gembira dan berkata pada Parman.
"Kang hari ini aku sudah bisa pulang." Ujar Asih dengan wajah penuh ceria.
"Iya buk." Jawab Parman agak sedikit mengeluh.
Asih yang tadinya terlihat ceria kini mendadak muram ketika melihat Parman(suaminya) yang seperti tidak bersemangat lalu Asih bertanya?
"Kenapa kang, ko akang kaya sedih begitu, bukannya kita ingin cepet pulang?."
"Bukannya akang gak senang mendengar kabar ini, tapi akang bingung dari mana kita mendapatkan uang untuk membayar semua biaya rumah sakit." Jawab Parman.
"Ya terus gimana atuh kang, kata akang semalam akang mau cari pinjaman."Ujar Asih.
Ketika Parman dan Asih seperti lagi bersedih, tiba-tiba muncul suster untuk merapikan ruangan tempat Asih di rawat.
"Selamat pagi bapak ibuk, hari ini ibuk sudah di perbolehkan pulang." Ujar Suster.
"Iya pagi sus, tapi saya kan belum melunasi biaya rumah sakit ini." Jawab Parman.
"Segala biaya pengobatan dan perawatan ibuk Asih sudah ada yang membayarnya." Ujar Suster.
Parman dan Asih bagaikan kejatuhan bulan, begitu mendengar kabar dari suster.
"Yang bener sus?." Tanya Parman.
"Iya pak, jadi hari ini ibuk dan bapak sudah di perbolehkan untuk pulang." Jawab Suster.
"Lalu siapa orang yang berbudi luhur itu?." Tanya Parman.
"Ma'ap pak, pihak rumah sakit di suruh merahasiakannya oleh orang yang membayar biaya ibuk Asih." Jawab Suster.
Parman dan Asih sangat gembira, walau ada rasa penasaran di hatinya tentang si dewa penolong, yang telah membayar segala biaya rumah sakit yang tidak sedikit.
•••••••
Singkat cerita Parman dan Asih sudah keluar dari dalam ruangan tempatnya di rawat, lalu berjalan menyusuri lorong coridor Rumah sakit harapan
Setiba di jalan raya, Parman dan Asih langsung naik angkutan umum yang mengarah ke alamat rumahnya.
Sementara di tempat lain. Nandi dan Astuti baru aja sampai di depan rumah bertepatan dengan suara adzan subuh berkumandang.
Nandi pun langsung masuk kerumahnya begitupun Astuti.
__ADS_1
Setibanya di dalam rumah Nandi langsung pergi ke kamar mandi, untuk membersihkan badannya, dan sekalian ambil air wudhu untuk melaksanakan ibadah solat subuh.
Dua puluh menit kemudian Nandi sudah keluar dari masjid bersama pak Dirman(Ayahnya).
"Pak kita ngobrol di rumah, sambil ngopi." Ajak Nandi.
"Iya Nandi, di luar aja samping taman kayanya enak sambil menikmati udara pagi." Jawab Pak Dirman.
"Baik pak." Ucap Nandi.
Setelah itu Nandi masuk kedalam menemui Sindi di ruangan dapur yang lagi memasak untuk mempersiapkan sarapan pagi.
"Sayang sibuk gak?." Tanya Nandi.
"Tidak juga, kenapa emang?." Tanya Sindi.
"Di luar kan ada bapak, kalau gak sibuk bisa gak bikinin kopi, sekalian buatku juga." Ujar Nandi.
"Oke sayang, apapun yang suami minta, pasti istrimu ini akan selalu memberikannya." Ucap Sindi.
"Widiiih, bisa aja istriku, ya sudah ku keluar dulu ya, mau membicarakan masalah semalam itu pada bapak." Ujar Nandi.
"Iya suamiku, ditunggu ya paling lima menit lagi." Ujar Sindi.
"Oke." Ucap Nandi, sembari mengayunkan tungkai kakinya keluar rumah.
Setelah Nandi berada di taman samping rumah, lalu Nandi duduk di bangku besi berhadapan dengan ayahnya.
Sesuai dengan yang Sindi janjikan lima menit setelah Nandi keluar dari rumah, Sindi datang membawa nampan yang berisikan dua gelas kopi panas, berikut makanan singkong goreng.
"Kopi datang, ini buat bapak dan ini buat aa Nandi, ayo pak di minum, nanti keburu dingin." Ucap Sindi sambil mendaratkan dua gelas kopi dan makanan singkong goreng.
"Iya nak terima kasih, gita masih tidur?." Tanya pak Dirman.
"Tadi pas pulang dari rumah bapak, gita masuk kamar dan langsung tidur." Jawab Sindi.
"Oh gitu."
Kemudian Sindi langsung kembali masuk rumah, karena masih belum beres memasak.
Dan pak Dirman pun langsung menanyakan perihal kejadian semalam, kelanjutannya bagaimana? pada Nandi.
"Bagaimana Nandi, apa benar orang itu istrinya lagi dirawat?." Tanya pak Dirman.
"Iya benar pak, Istrinya lagi di rawat menderita penyakit asam lambung yang sudah kronis, kalau tidak buru-buru mungkin akan beda lagi nama penyakitnya." Jawab Nandi.
"Maksud kamu, beda gimana?." Tanya Pak Dirman.
"Iya kalau di biarkan, nanti bisa liver pak, dan ku jadi tidak tega melihatnya, padahal malam itu kondisinya sudah mulai membaik." Jawab Nandi.
"Ooh berarti benar, dia gelap mata karena terdesak biaya rumah sakit, kasihan juga kalau begitu." Ucap pak Dirman, sambil meraih gelas kopi lalu di ikutin dengan singkong goreng.
Nandi pun menyeripit kopi di gelas kaca yang masih panas, karena kopi tersebut masih nampak mengepul.
Hembusan asap putih yang keluar dari mulut mereka bagaikan sebuah asap locomotip lagi meluncur di atas rel.
********
Betsambung.
Jangan lupa sertakan like, comentar, jadikan favorit bila suka, berikan vote serta hadiahnya.
Terima kasih atas dukungannya, salam sehat dan sukses selalu.
__ADS_1
"Assalam mu'alaikum"