SI KIDAL SANG PENOLONG

SI KIDAL SANG PENOLONG
Si kidal sang penolong eps 216


__ADS_3

Setelah semua terasa selesai, dan Bah Jamrong sudah tumbang masih dalam keada'an tidak sadarkan diri.


Kemuduan Nandi, Gito dan Toglo membawa Handoko di masukin ke dalam mobilnya masih dalam posisi terikat, untuk di serahkan pada yang berwajib atas tindakannya yang ingin melenyapkan nyawa Nandi melalui jalan halus.


Nandi membawa mobilnya Handoko sedangkan motor Nandi di bawa sama Toglo, walaupun masih terasa kaku dalam menjalankannya, tapi lama kelama'an Toglo pun sudah bisa beradaptasi dengan kendara'annya Nandi, wajar saja bila Toglo sedikit kaku membawa motornya Nandi, karena sehari-harinya Toglo selalu bersepeda.


Mereka pun sudah pergi meninggalkan rumahnya Bah Jamrong, Honda Civic warna merah kini melaju di jalan pesisir pantai selatan, jalanan kecil dengan banyaknya tikungan kiri kanan dengan medannya yang naik turun, terus Nandi melaju dengan kencang, Gito dan Toglo mengikutinya dari belakang.


Tidak lama kemudian Nandi, Gito dan Toglo telah sampai di kantor kepolisian Delima raya. Setelah mobil terparkir di halaman kantor kepolisian Nandi langsung membuka pintu mobil itu, lalu membuka pintu bagian belakang untuk mengeluarkan Handoko yang di batu oleh Gito dan Toglo.


"Ayo keluar kau brengsek." Ujar Gito.


"Diam lo', gue juga bisa keluar sendiri." Bentak Handoko sambil melangkah keluar dari dalam mobilnya.


"Apa lo' gua habisin lo di sini." Ujar Gito.


"Heh emangnya gue takut sama kalian, gue juga gak takut di bawa ke kantor polisi, paling nantinya kalian bertiga yang berbalik ngandang di jeruji besi, hahaha." Celetuk Handoko tertawa puas.


"Ah banyak bacot lo, dasar ceo brengsek dan pengecut." Ujar Gito sambil menuntun Handoko memasuki ke dalam kantor polisi.


Setibanya di dalam Nandi langsung menyapa petugas.


"Assalam mu'alaikum pak, selamat sore." Sapa Nandi.


"Wa alaikum Salam, Sore juga pak Nandi, ada yang perlu kami Bantu, ayo silahkan duduk." Ujar polisi.


Nandi lalu duduk di kursi berhadapan dengan polisi, dan Gito pun langsung mendudukan Handoko di kursi sampingnya Nandi.


"Begini pak saya msu melaporkan, tentang orang ini yang sudah menteror keluarga saya, hingga istri saya hampir ke hilangan nyawanya." Jelas Nandi.


"Oke, apa ada bukti untuk menguatkan laporan pak Nandi?." Tanya Pak Polisi.


Handoko menyeringai sambil me mandang polisi dan berkata.


"Dia itu bohong pak polisi, dia cuma ingin menjatuhkan saya." Cetus Handoko.


Kemudian Toglo berkata sambil mengeluarkan handpondnya. "Ini pak saya punya bukti yang saya rekam dua jam yang lau." Ujar Toglo sambil membuka rekaman di handpondnya dan di berikan pada polisi itu.


Pak Polisi pun langsung menerima handponnya Toglo lalu di taro di meja.


Nampak jelas terdengar, suara Handoko yang lagi berbicara, dengan sebuah ancaman dengan prrkata'an penuh ke bencian ingin melenyapkan Nandi melalui cara halus.


Setelah selesai rekaman itu, pak polisi langsung mengembalikan handpond tersebut pada Toglo.


"Di sini sudah jelas bahwa ada sudah melakukan ancaman pada pak Nandi, dan saudara Handoko bisa kena pasal sebuah ancaman." Ujar pak polisi.


Dengan sangat tenangnya Handoko, menanggapi itu srmua lalu ia berkata.


"Sebentar pak polisi, oke saya memang salah, dan jujur aja saya memang berkata begitu, tapi saya juga tidak terima dengan perlakuan mereka di tempat guru saya, dan dua orang ini telah memukuli saya, dan membuat keributan di rumah guru saya." Hanfoko membela diri sambil menunjuk pada Gito dan Toglo.


Lalu pak polisi berbalik bertanya pada Gito dan Toglo. "Benatkah apa yang di katakan saudara Handoko ini?." Tanya pak polisi.


"Iya benar pak saya pukul dia karena kesal dengan ucapannya." Jawab Toglo dengan tenangnya tanpak ada rasa takut sekalipun.


"Bila pun saya harus ngandang di sel, ketiga orang ini pun harus ngandang pak." Ujar Handoko.


Nandi nampak metah padam mukanya, menahan rasa kesalnya pada Handoko.


"Tidak bisa begitu pak, saya melakukan itu karena saya membela diri dari amukan Bah Jamrong yang mau menghabisi saya dan kedua sahabat saya, dan terpaksa sayapun melumpuhkannya, malahan tangan Sahabat saya terkena luka goresan, oleh aksinya Bah Jamrong." Jelasnya Nandi membeberkan semua perkara yang terjadi, dan menyuruh Toglo untuk memperlihatkan bukti dati luka cakaran itu.


Toglo pun langsung membuka jaketnya, lalu memperlihatnya luka di pangkal lengannya.


"Ini luka goresan dari Bah Jamrong." Ujar Toglo.

__ADS_1


"Siapa Bah Jamrong itu?." Tanya pak polisi.


"Bah Jamrong adalah dukun santet yang sangat di takuti di wilayah pesisir pantai selatan, dan saudara handoko ini berniat mau membinasakan saya dan keluarga saya melalui tangannya Bah Jamrong." Cetus Nandi.


"Saya sudah lama mengenal pak Nandi dari semenjak masih remaja dan saya percaya dengan semua laporannya pak Nandi, dengan bukti rekaman dan luka yang di alami saudara Toglo, terbukti hukum telah memberatkan anda! Jadi hari ini Sudara Handoko kami tahan atas perminta'annya pak Nandi karena perbuatan anda yang telah bikin resah dan mengancam keselamatan nyawa orang." Ujar Pak Polisi.


"Wah ini tidak adil pak." Ujar Handoko sembari mentap Nandi, Gito dan Toglo dengan penuh kebencian.


Seletelah semua beres, dan Handoko di nyatakan terjerat pasal sebuah ancaman, Nandi, Gito dan Toglo di persilahkan untuk meninggalkan kantor kepolisian.


Kini sang biang kerok yang sudah meresahkan seluruh keluarga Nandi sudah tertangkap, mungkin tuhan telah memberi jalan dan petunjuk pada Nandi, dengan adanya bukti rekaman dan luka cakaran pada Toglo, dan semua bukti ada pada Tohlo semua.


Nandi pun merasa kagum akan kepintaran dan kecerdikan Toglo, awalnya Nandi pun tidak mengira kalau Toglo sudah merekam pembicara'annya Handoko di sebuah telepon, entah dengan Siapa waktu itu Handoko berbicara.


...................................


Tidak lama kemudian Nandi, Gito dan Toglo telah sampai di Gang Si'iran, nampak Distributorpun sudah sangat sepi karena para karyawan sudah pulang.


Sinar merah jingga nampak sudah menggurat di atas cakra wala sebelah barat bumi nusantara.


Lalu Nandi masuk kedalam rumah, sementara Gito dan Toglo duduk di bangku besi di bawah pohon mangga.


Lima menit kemudian Nandi keluar membawa nampan berisikan tiga gelas kopi.


"Kita ngopi dulu biar lebih pres." Ujar Nandi sembari mendaratkan nampan di meja.


"Wah cakep tuh." Ujar Gito.


"Ayo Glo di minum kopinya nanti keburu dingin." Ucap Nandi


"Iya pak Bos terima kasih." Jawab Toglo.


"Oh iya Di' kita kudu hati-hati sama Handoko, gua punya piling kalau nanti dia keluar dari penjara, sepertinya dia akan balas dendam, gua lihat di binar bola matanya seperti ada dendam yang begitu besar pada kita." Cetus Gito.


"Iya benar gua pun merasakan itu." Ujar Nandi.


"Maksud lo gimana?." Tanya Gito.


"Ma'af ku belum bisa menceritakannya." Jawab Toglo.


"Ah elo' pake rahasia-rahasiahan segala sama kita." Ujar Gito.


"Kata orang tua dulu, kalau kita merencanakan sesutu jangan dulu di keluarkan dengan ucapan, biasanya suka gak jadi." Ujar Toglo.


"Ya apaun rencana lo' Glo, yang penting tidak menyalahi aturan." Ujar Nandi.


"Iya kagak lah pak bos."


...................


Sementara di tempat lain.


Pandi dan Nina lagi asik makan bersama pak Juna dan ibuk Yohana, Setelah pak juna membicarakan tentang hubungan mereka, bagi Pandi kapanpun pandi selalu siap, tapi Nina yunitanya selalu bilang masih ingin mrlanjutkan karirnya dalam berbisnis bersama Astuti.


Pandi pun nurut apa kata Nina, tapi pak Ardi juna dan ibuk Yohana, sangat mengkhawatirkan pada hubungan mereka yang terlalu lama takut terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.


Sebagai orang tua yang selalu bijak dalam mengambil sikap, akhirnya pak Ardi juna dan ibuk Yohana pun mengikuti semua kemauannya Nina.


Memang tidak ada salahnya kalau Nina ingin berkarir dulu demi masa depan hidupnya Nanti.


Selepas makan Nina pun mengajak Pandi untuk ngobrol berdua di luar di dekat taman samping rumah.


"Aa mau ngopi gak? kalau mau kopi tinggal panggil satpam?." Tanya Nina.

__ADS_1


"Boleh." Jawab Pandi.


Kemudian Nina pun langding memanggil satpam yang berjaga di depan geeebang rumahnya. Dan pak satpam.langsung memenuhi panggilannya Nina.


"Iya Non ada apa?." Tanya Satpam.


"Ma'af pak, bisa minta tolong beli'in kopi ke depan untuk Aa Pandi." Pinta Nina.


"Oh bisa-bisa Non."


"Ooh iya mang, mamang punya roko gak?." Tanya Pandi.


"Kebetulan bos hari ini mamang lagi kodong." Jawabnya.


"Nah ini buat Bapak beli roko." Ujar Pandi sambil memberikan uang lima puluh ribu rupiah untuk si Bapak Satpam.


Lima menit kemudian Satpam pun telah datang membawa segelas kopi untuk Pandi.


"Ini Bos kopinya." Ujar Satpam sambil menyodorkan gelas kopi itu, lalu Pandi pun meraih gelas kopi tersebut dari hulurannya tangan Satpam.


"Terima kasih ya pak." Jawab Pandi.


"Iya Bos sama-sama." Saut pak Satpam.


Kopi nampak masih mengepul, lalu Pandi menyeripitnya perlahan.


Seripiiit...


Aaahhh


Satu seripitan kopi nampak begitu nikmat sekali, Nina pun sampai terus memandangi wajah Pandi yang begitu terasa nikmatnya ketika mendengar serpitan dari kedua bibirnya Nandi.


"Biasa aja kali minumnya, gak usah pake Uaaahh segala." Ejek Nina.


"Hahaha, lo kagak tau arti dari seripitan kopi, ada beberapa paktor yang bisa kita rasakan." Jelas Pandi.


"Emang apa paktornya?." Tanya Nina.


"Yang pertama, dengan minum kopi dapat meningkatkan kinerja otak, sehingga berpikir juga lebih konsisten.


Yang kedua, bisa menghilangkan setres, karena jantung akan terus memompa darah untuk mengalirkan keseluruh organ lainnya.


Dan yang ke tiga atau yang terakhir kopi bisa menghilang racun atau candu dari nikotin tembakau." Jelasnya Pandi.


Ninapun manggut-manggut pertanda mulai paham dengan penjelasannya Pandi.


"Tapi bukan kah kopi bisa menyebabkan asam lambung naik." Ujar Nina yunita.


"Iya betul, di sisi lain kopi juga mempunyai epek negatip, bagi yang mempunyai asam lambung tinggi tidak di anjurkan untuk minum kopi." Ujar Pandi.


"Wah waah, ternyata pacarku ini seorang Dokter juga, hebat nih Dokter Pandi." Ujar Nina sambil tersenyum tipis.


"Wualaaah, itumah ngeledek ya, sudah berani ya sekarang ngrjek aku." Cetus pandi sambil mencubit cubitan kecil pada Nandi.


Nina pun tertawa-tawa riang sambil menjerit-jerit karena merasakan geli.


"Aawwww, ampun geli sayang aaww." Teriak Nina.


Jeritan Nina sampai terdengar oleh Ibuk Yola Yohana dan Ardi Juna Pranata, lalu ia keluar dari dalam rumahnya. Nampak terlihat oleh Ardi dan Yohana Nina lagi asik bercanda sama Pandi, mereka pun tersenyum ceria lalu membalikan lagi tubuhnya memasuki ke dalam rumah.


**********


Bersambung.

__ADS_1


Nantikan kisah lanjutannya di episode selanjutnya, jangan lupa sertakan like, comentar, favorit, vote serta hadiahnya bila suka.


Terima kasih atas dukungannya salam sehat sejahtera, dan sukses selalu.


__ADS_2