
Setelah bngkel terbuka, satu persatu pelangganpun pada berdatangan, dari berbagai macam merk kendara'an roda dua.
Kini peralatan bengkel Nandi semakin canggih dari mulai motor biasa sampai ke motor injection.
Makanya tak heran apabila bisnis Nandi dalam bidang otomotip semakin maju pesat, tapi anehnya banyak orang yang bertanya-tanya pada nandi, kenapa Nandi tidak membeli mobil, kalau dilihat dari segi bisnisnya yang semakin maju Nandi sangat mampu membeli mobil yang mewah sekalipun.
Nandi tidak mau menonjolkan kekaya'annya pada orang lain, dia hanya senang dengan kendara'an roda dua, yang sangat simple digunakannya.
Pak Dirman dan Bu sari, sering memberi saran pada Nandi, janganlah bangga dengan harta yang didapat hari ini, tapi syukurilah dan banyak berbagi pada orang yang sangat membutuhkannya, karena besok atau lusa nasib orang kadang bisa berubah.
Kini matahari pun sudah bergeser, dan jam dinding yang menempel dibengkelnya Nandi sudah menunjukan pukul 9:30 menit.
Kamal dan Hasan lagi disibukan dengan pekerja'annya, sedangkan Nadi masih asik duduk sambil pegang handponnya.
Tiba-tiba hpnya menyala ada panggilan masuk dari no yang sudah tersimpannya Nandi lalu mengangkatnya.
''Iya kang Haloo, ada apa?.'' Tanya Nandi.
''Bang, seperti yang telah kita bicarakan kemarin, sekarang bang kojeck semakin menjadi bang, para pedagang selalu dimintai jatah, dengan alasan buat keamnan, tapi kalau gak ngasih dia main kasar.'' Jawab sipenelpon.
''Ooh begitu, jadi kojeck sekarang sudah bikin ulah, kurang ajar se'enaknya dia malakin para pedagang, ini gak bisa dibiarkan kang, secepatnya saya meluncur kesana.'' Jawab Nandi.
Pembicara'an Nandi sama sipelpon tersebut terdengar oleh Kamal dan Hasan, Kamal dan Hasan saling Pandang.
''San sepertinya bos kita lagi ada masalah.'' Ucap Kamal.
''Ya kayanya sih, coba lo tanyain.'' Ucap Hasan.
''Oke, bentar gua tanyain.'' Ucap Kamal sambil berdiri lalu nyamperin Nandi.
''Ma'ap nih kalau gua kepo, emang lo ada masalah apa sih di?.'' Tanya Kamal.
''Itu mal, dikawasan jln ketupat, pas dekat lampu merah, lo tau kan disitu kan banyak pertokoan disepanjang jalannya, dan banyak sekali mobil yang keluar masuk, nah disitu tempatnya bang kodar mencari sesuap nasi, dan sekarang diambil alih oleh bang kojeck katanya, yang jadi masalah kojeck malah malakin para pedagang dengan dalih untuk keamanan.'' Ucap Nandi menjelaskan.
''Wah tidak bisa didiamkan kalau begitu, kitq harus bela para pedagang.'' Ucap Kamal.
''Sekarang Gua cabut dulu ya.'' Ucap Nandi.
''Terus gua gimana di.'' Ucap Kamal.
''Ya lo tetep disini, masa para pelanggan mau lo tinggalin.'' Jawab Nandi.
''Ya iya itu juga lagi gua pikirin, tapi masalahnya lo sendirian.'' Ucap Kamal.
''Gak apa-apa, tenang aja, insa allah gua bisa jaga diri.'' Ucap Nandi.
''Ya gua percaya sih sama lo, kalau temennya banyak gimana.'' Ucap Kamal.
Disa'at itu Hasanpun nyamperin, berhubung kerja'annya sudah rampung, sambil menunggu prlanggan lain datang, makanya hasan pingin tau apa yang lagi diperbincangkan oleh Nandi dan Kamal.
''Ada apa sih, kayanya serius amat?.'' Tanya Hasan.
''Ada masalah dikit san.'' Jawab Nandi.
''Emang masalah apa'an di?.'' Tanya Hasan.
''Waktu kan gua lagi dibrngkel yang dijalan ketupat, terus ada ribut-ribut dikawasan pertokoan deket lampu merah itu, terus gua tanya pada orang yang lewat, yang kebetulan orang itu kerjanya ditoko dikawasan itu, dia menjelaskan panjang lebar sama gua, katanya ada keributan perebutan kekuasa'an dan Bang kodar yang biasa mencari napkah disitu samapai kena tusuk.'' Ucap Nandi.
''Terus apa huungannya dengan lo di.'' Kata Hasan.
''Yang jadi permasahannya, orang itu tadi nelpon gua, sekarang bang kojeck, malakin para pedagang dengan alasan buat keamanan, kalau gak ngasih main kasar dia.'' Jawab Nandi.
''Wah kalau begitu, tidak bisa dibiarkan, kasihan para pedagang, apalagi pedagang kecil.'' Ucap Hasan.
''Gua ikut di.'' Ucap Hasan.
''Kalau kalian ikut, gimana dengan pelanggan yang service atau belanja, atuh ga ada orang'' Jawab Nandi.
''Iya juga sih.'' Balas Hasan.
''Gini aja gimana kalau salah satu dari kalian tetap stey dibengkel.'' Ucap Nandi.
''Ya gimana ya, lo ngasih pilihannya sangat membingunkan kita, iya gak mal.'' Ucap Hasan.
''Betul itu.'' Balas Kamal.
''Maksud lo berdua, bingung gimana.'' Ucap Nandi.
''Ya bingung aja, sementara kita kan sahabatan dari kecil, masa lo punya masalah kita hanya berdiam diri aja, apalagi ini demi kemanusia'an.'' Ucap Hasan.
''Tanks ya, emang lo berdua, pandi dan gito sahabat sejati gua, tapi kali ini, sory bukannya gua gak mau bantuan lo, tapi gimana pelanggan kita, nanti malah kecewa, pokonya salah satu harus ada yang dibengkel.'' Ucap Nandi.
__ADS_1
''Ya udah, gua aja yang ngalah, gua tetap disini, sementara lo mal ikut sama Nandi, gimana.'' Pungkas Hasan.
''Is oke, no problem.'' Jawab Kamal.
''Okee kalau begitu, ayo kita cabut mal.'' Ucap Nandi.
Nandi dan Kamal lalu menghidupakan motornya, kini kedua motor tersebut telah melaju meninggalkan Hasan yang lagi berdiri memandang kepergiannya Nandi dan Kamal.
''Suee, gua ditinggal sendiri, gimana kalau yang mau service membludak bisa kewalahan gua, nasib-nasib.'' Gerutu Hasan.
..........................
Sementara dikawasan pertokoan jalan ketupat, tepatnya dipertiga'an lampu merah antara jalan ketupat dan jalan mengkudu.
Tempat perdagangan antara kaki lima dan pertokoan, sangat ramai dikunjungi oleh para konsumen.
Disalah satu toko sembako miliknya haji puad hasan, lagi ramai sekali dikunjungi oleh para pembeli, dari yang keperluan rumah tangga sampai pembeli buat dijual lagi seperti warung dan sebagainya.
Keluar masuk para pembeli dari sebuah toko tersebut, tidak lepas dari perhatian empat lelaki, tiga diantaranya berambut gondrong dan satunya lagi berkepala botak dengan kumis tebal berjaket kulit warna hitam, seperti lagi berbincang-bincang dengan pandangan yang terus tertuju pada toko pak haji puad hasan.
''Coba kalian perhatikan, toko itu ramai sekali pengunjungnya, Bun ayo mintain jatah bulan ini, dia belum ngasih sama sekali.'' Ucap lelaki yang kepala botak.
''Okee Bang, emang cuma pak haji doang yang harus kita pungut pajaknya.'' Jawab lelaki yang bernama Jabun.
''Ya semualah, sampai pedagang kaki limapun harus membayar pajak pada kita.'' Jawab dibotak.
Jabunpun lalu bergegas pergi menuju toko sembako itu, yang di ikuti dengan kedua kawannya.
Sesampainya didepan toko, Jabun dan kedua kawannya dengan gaya pertenteng, memasang wajah seram dan mata merah berkata.
''Assalam mualaikum pak haji.'' Ucapnya Jabun.
''Wa alaikum salam.'' Jawab pak haji puad.
''Wah ramai sekali nih toko pak haji.'' Kata Jabun.
''Alhamdulilah bang, oh ya abang ada perlua apa, mau brlikah, apa ada keperluan yang lain?.'' Tanya pak haji puad.
''Jawaban yang kedua pak haji, kita ada perlu, biasa jatah buat keamanan, pak haji belum ngasih.'' Ucap Jabun.
''Kan kemarin saya sudah ngasih, pada petugas kelurahan yang biasa kesini setiap bulan.'' Jawab pak haji.
Pak haji puad saling pandang dengan pelayannya, seperti minta pendapat.
Pelayannya yang bernama ipung, seperti memberi kode dan berbisik.
''Jangan dikasih pak, nanti malah kebiasa'an.'' Bisik ipung.
''Gimana kalau dia meruksak dagangan saya.'' Ucap pak haji sambil berbisik.
Sijabun pas melihat pak puad, seperti ada gelagat tidak mau ngasih jatahnya, ia langsung terpancing amarahnya, dengan wajah seram jabun langsung mengebrak meja tempat kasir.
''Lama amat sih pak haji, apa perlu saya acak-acak dagangannya.'' Bentak sijabun.
''Iya Banh sabaarr atuh.'' Ucap pak haji sambil membuka laci.
Setrlah laci tempat menyimpan duit itu terbuaka, pak haji puad lalu mengambil selebar uang 20.000 rupiah.
''Ini Bang.'' Berkata pak haji sambil memberikan uang tersebut.
''Apa-apa'an nih, masa cuma 20.000, yang bener aja pak haji.'' Bentak jabun.
''Ya saya kan punya karyawan bang, kalau dimintai terus, karyawan saya gak bakalan kegaji.'' Jawab pak haji Puad.
''Terserah pak haji itu mah, gua gak peduli, cepetan.'' Bentak jabun.
Dengan sangat terpaksa pak haji puad mengambil lagi uang 20.000, karena demi keselamatan mata pencahariannya, walau dihati sangat dongkol.
Setelah menerima uang tambahan dari pak haji puad, sijabun dan kedua kawannya pun tertawa senang sekali.
''Hahaha, nah begitu dong pak haji, masa pak haji pelit.'' Ucap Sijabun tertawa puas.
Begitulah suasana, dikawasan pertokoan jalan ketupat, banyak para pedagang yang mengeluh, karena harus membayar pajak keamanan pada preman, yang dipimpin oleh bang kojeck.
Seperti yang lagi dialami oleh pedagang kaki lima, karena dipaksa harus membayar uang keamanan sama anak buahnya bang kojeck.
Dengan roman yang sangat sedih, seorang wanita yang berusia kira-kira 40 tahunan, lagi membereskan dagangannya, karena ditendang oleh anak buahnya bang kojeck.
''Ya allah, baru aja jualan hari ini ada untung lumayan, malah ada orang-orang brengsek itu, sejujurnya saya tidak iklas, kalau begini terus mau makan apa anak-anaku yang masih pada kecil dan butuh biaya sekolah, turunkanlah dewa penolong ya allah, semoga preman-preman itu disadarkan.'' Ucap wanita tersebut.
Di sa'at wanita itu lagi berkata sendiri dengan nada melas, munculah tiga motor dengan suaranya yang cukup nyaring dan menusuk telinga.
__ADS_1
Lalu ketiga motor tersebut berhenti didepan wanita jualan ketupat sayur.
Dan salah satu dari pengendara motor tersebut turun, terus menghampiri wanita itu.
''Kenanpa bu ko dagangannya acak-acakan begini?.'' Tanya pemuda yang bawa motor itu.
''Ini nak, hari ini nasib ibu lagi apes, dagangan ibu diacak-acak sama preman-preman.'' Jawab wanita itu.
''Loh ko bisa bu, bagaiman ceritanya?.'' Tanya pemuda itu.
''Semenjak adanya penguasa baru dikawasan ini, banyak para pedagang yang mengeluh, karena dimintai jatah tiap dua minggu sekali nak.'' Ucap wanita itu.
''Emang para pedagang disini tidak ada yang berani melawan, atau melaporkan pada pihak yang berwajib.'' Kata pemuda itu.
''Sudah nak, para pedagang ada yang melawan, tapi hasilnya malah babak belur, akhirnya mereka kapok.'' Jawab wanita itu.
''Wah ini sudah keterlaluan, dan tidak bisa dibiarkan, kira-kira ibu tau dimana mereka bermarkas?.'' Tanya pemuda itu.
''Mereka kalau habis memungut upah dari para pedagang, suka kumpul di sebuah ruko yang kosong, yang dulu pernah ditinggali sama bang kodar, itu tuh disebelah toko elektronik.'' Ucap wanita itu sambil menunjukan telunjuknya kesebuah ruko yang kosong.
''Mal, Gito ayo kita kesana.'' Ucap pemuda itu yang tak lain adalah Nandi.
''Oke siaap, gua sudah gatal pingin menghajar preman-preman yang suka memeras para pedagang itu.'' Saut Gito.
''Jangan Nak, jangan nekad mereka terlalu berbahaya, dan sangat sadis.'' Ucap wanita itu.
''Insa allah bu kita semua bisa jaga diri, ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut.'' Jawab Nandi.
Wanita penjual ketupat sayur itu hanya bisa diam, dan mendoakan Nandi dan kawan-kawan, semoga bisa mengantisipasi para preman bengis itu.
Nandi, Kamal dan Gito lalu berjalan kearah ruko kosong yang ditunjukan oleh wanita penjual ketupat sayur itu.
Sementara, Kojeck dan anak buahnya lagi senang-senang sambil minum-minuman keras, nampak 8 botol minuman keras telah terpajang dimeja.
Suara tawa, dan ocehan kojeck beserta anak buahnya, nampak terdengar riang grmbira, tanpa mereka sadari dibalik kesenangannya banyak orang yang sudah dirugikannya.
Kegembira'an kojeck dan ketiga temannya, mungkin suatu pertanda buruk, karena disa'at mereka lagi asik pesta pora dengan minum-minuman keras, Terdengar suara benda keras yang dijatuhkan secara sengaja.
Praaakkk praaaakk.
Sebuah peti kayu berhamburan meluncur kearah mereka.
''Setan alas apa itu.'' Teriak kojeck.
Mereka pun lalu beranjak dari trmpat duduknya semula, menuju pada arah peti-peti kayu yang dilemparkan itu.
Ke'empat preman itu lalu memburu ketempat dimana peti-peti kayu itu berada, dan setibanya disitu tidak ada orang sama sekali.
''Tidak ada siapa-siapa bang.'' Ucap anak buahnya yang bernama gompal.
''Sialan, lantas tadi itu siapa, masa peti-peti itu bisa lompat sendiri.'' Jawab Kojeck.
''Apa mungkin hantu penunggu disini, tidak suka dengan keberada'an kita disini bang.'' Saut gompal.
''Aah lo pada masih aja percaya sama tahayul, mana ada hantu dijaman modern begini.'' Jawab Kojeck.
Begitulah celotehan ke'empat preman itu yang sempat dibikin bingung dengan peti-peti kayu yang bisa lompat sendiri.
Pada sa'at mereka mau membalikan badannya untuk kembali ketempat semula mereka pesta pora, betapa kaget kojeck dan kawan-kawannya, karena dihadapannya sudah berdiri tiga lelaki berpostur tinggi kekar dan berisi.
''Busseeett dah.'' Ucap Kojeck dan Gompal serentak kaget.
''Owalaaaahh, enak benar ya hidup kalian, pesta pora dengan uang hasil memeras para pedagang, rupanya kau mau pasang taring disini.'' Ucap Salah satu dari ketiga pemuda itu.
''Oooh, rupanya kau Nandi, kebetulan ada disini, pucuk dicinta ulampun tiba, jadi tidak susah-susah gue cari kalian.'' Ucap kojeck berlaga sok jagoan.
''Haiii, kojeck golali, masih untung waktu itu, gua gak hajar lo, kalau tau begini gua mampusin sekalian.'' Bentak Kamal.
''Lancang sekali mulut mu, waii kenapa kalian diam aja hajar mereka.'' Teriak Kojeck mulai terpancing emosinya.
Mendengar Teriakan dari Kojeck ketiga lelaki berambut gondrong itu langsung menyerang, Ketiga pemuda itu, yang tak lain adalah Nandi, Kamal dan Gito.
♤♤♤♤♤♤♤♤☆▪︎☆▪︎☆♤♤♤♤♤♤♤♤
BERSAMBUNG.
Nantikan kelanjutan kisahnya, diepisode selanjutnya.
Terima kasih atas dukungannya semoga sukses selalu.
Selamat membaca.
__ADS_1