SI KIDAL SANG PENOLONG

SI KIDAL SANG PENOLONG
Si kidal sang penolong eps 233


__ADS_3

Jaroni begitu ambisi dalam melatih jurus yang ki Parta ajarkan.


Ki Parta dan Toglo duduk sambil memperhatikan gerakan-gerakan yang Jaroni mainkan.


"Otaknya pintar, cepat tanggap aki pun tidak begitu susah mengajarkannya." Cetus ki Parta.


Toglopun tersenyum ikut merasa senang, karena benar jaroni pingin belajar bela diri.


"Iya ki, dia ingin sekali belajar, karena dia dulu hampir tewas di hajar orang-orang berandal, mungkin dari situlah ke inginannya yang kuat ingin bisa bela diri." Ujar Toglo.


"Iya jaman sekarang, banyak sekali kejahatan muncul, kalau kita tidak bisa membela diri kita akan menjadi santapan empuk bagi orang-orang berandal." Ujar Kiparta.


"Iya betul ki, jaman sekarang penuh dengan modus kejahatan, di mulai dari kejahatan kecil sampai ke jahatan intelektual yang berdasi." Ujar Toglo


Begitu Toglo sama ki Parta lagi asik ngobrol, samar-samar dari kejauhan banyak orang yang berdatangan menuju pada tempatnya ki Parta dan Toglo berada.


"Assalam mu'alaikum, wah rupanya ada murid baru nih." Sapanya.


Kiparta dan Toglo menolehkan pandangannya ke arah pusat suara.


"Wa alaikum salam." Jawab Toglo dan ki Parta hampir berbarengan.


"Iya itu yang lagi berlatih murid baru aki datangnya dari kota." Jawab Kiparta.


kemudian lima orang yang baru datang itu memperhatikan setiap gerakan yang Jaroni peragakan, sampai tercengang penuh pujian.


"Wah murid baru aki sangat cemerlang, masa baru sekali ini berlatih, gerakannya sudah cukup bagus ki, gesit dan agresip." Ujarnya.


"Iya, mungkin di tunjang dengan tekadnya yang kuat." Ujar Kiparta.


Kemudian setelah itu Jaroni, selesai sudah latihannya untuk malam ini, Jaroni pun langsung memburu pada para murid Kiparta, memperkenalkan dirinya sebagai murid baru.


Mereka pun menyambutnya dengan sangat ramah tamah.


Latihanpun di langsung kan dengan ke lima murid Kiparta yang sudah berada di tingkat atas.


Latihanpun terus berlangsung, semenrara Toglo dan Jaroni pamit pada ki Parta dan semua muridnya yang lagi melakukan latihan.


Para murid ki parta di minta untuk berhenti dulu.


"Saya pamit dulu ki, dan semuanya kami ijin pamit pulang ya, semoga kalian semua sukses." Ujar Toglo dan Jaroni sambil mengulurkan tangannya pada Ki Parta dan ke lima murid seniornya ki Parta.


"Iya nak Toglo, Jaroni, kalian hati-hati di jalan." ujar Kiparta.


"Iya kawan, hati-hati." Ucap ke lima muridnya Kiparta.


Setelah itu Toglo dan Jaroni berjalan menuju sepedanya yang di parkir di depan rumahnya Kiparta, Toglo dan Jaroni pun pamit pada istrinya Kiparta dan semua penduduk Kampung Rawan, karena di malam hari para warga Kampung Rawan ada di rumah pada nongkrong di teras.


Kedua sahabat itu kini sudah meluncur dengan sepeda gunungnya menuruni jalan kecil di Kampung Rawan.


"Kamu hebat Jar, cepat tanggap, baru sekali saja gerakanmu sudah nampak gesit, pokoknya yang rajin latihan, dan pola makan yang seimbang giji, gua yakin lo' akan menjadi petarung yang hebat nantinya." Cetus Toglo sambil mengayuh sepedanya.


"Gua tidak muluk-muluk ingin jadi petarung, gua cuma ingin bisa bela diri aja, ketika gua di gangguin oleh orang berandal, seperti kejadian tempo lalu." Celoteh Jaroni.

__ADS_1


"Ya petarung itu bukan berarti lo' harus naik ring, maksud gua, lo' akan bisa membela diri lo ketika mendapat ancaman." Jelas Toglo.


"Iya Glo, makasih ya, lo' sudah menyempatkan waktu untuk gua, gua banyak berhutang budi sama lo' tapi gua belum bisa membalas budi baik lo' sama gua." Ujar Jaroni.


"Ah elo' lupakan itu semua, sesama manusia harus bisa saling tolong menolong, seperti yang sering di lakukan sama Bos Nandi." Ujar Toglo.


Dalam perjalanannya mereka terus saja ngobrol, sehingga tidak terasa saking asiknya, mereka telah sampai di gang dukuh tepat di depan rumahnya Jaroni.


"Alhamdulilah sudah sampai nih." Cetus Toglo.


Jaroni melangkah turun dari sepedanya Toglo.


"Makasih ya Glo, lo' gak mampir dulu, kita ngopi dulu bentar." Ajak Jaroni.


"Terima kasih atas tawarannya, ma'af gua tidak bisa berlama-lama, kasihan nenek dan kedua adik gua, gua pulang dulu ya, sampai ketemu besok." Ujar Toglo.


"Iya Glo makasih, hati-hati di jalan."


"Oke makasih." Jawab Toglo, sambil mengayuh lagi sepedanya menuju Gang Sawah.


Tidak lama kemudian Toglo telah sampai di depan rumahnya.


Tok


Tok


Tok


"Assalam mu'alaikum." Sapa Toglo sembari memandang ke arah pintu.


"Bang Wanda." Sapa Wiwin.


"Adek belum tidur?." Tanya Toglo.


"Belum Bang lagi mengerjakan PR matematika." Jawab Wiwin.


"Anak pintar." Tukas Toglo sambil mengusap-ngusap rambutnya Wiwin.


Lalu Toglo melangkah masuk dan langsung memburu pada nenek Jumi yang lagi duduk di bangku bambu.


"Assalam mu'alaikum nek." Ujar Toglo sambil mengulurkan tangannya, dan nenek jumi pun langsung menyambut hulurannya tangan Toglo kemudian Toglo mencium punggung telapak tangannya nenek Jumi.


"Wa alaikum salam, habis dari mana kamu?." Jawab nenek Jumi lanjut bertanya.


"Abis nganterin temen nek." Jawab Toglo.


"Ooh, kamu sudah makan belum, makan dulu sana tuh ada sayur kesukaanmu, tadi Wiwin yang masak, ternyata masakannya Wiwin enak sekali." Ucap Nenek Jumi.


"Aah yang bener nek." Ujar Toglo semringah.


"Iya, cobain aja pasti kamu ketagihan." Ujar nenek Jumi.


Kemudian Wiwin berjalan mendekati Toglo, sambil senyum-senyum tipis.

__ADS_1


"Kamu kenapa dek ko senyum-senyum begitu?." Tanya Toglo.


"Enggak ko." Jawab Wiwin singkat.


"Ooh abang tau, pasti kamu ingin supaya abang mencicipi masakanmu ya." Cetus Toglo.


Wiwin tidak berkata, ia cuma menganggukan kepalanya.


"Sebentar abang mau bersihin badan dulu." Ujar Toglo.


"Jangan mandi malam-malam Bang, kata ibuk guru juga tidak baik buat kesehatan tubuh." Tegur Wiwin.


"Lalu bagaimana, abang bau keingat nih." Ujar Toglo.


"Abang cukup di lap aja pakai air hangat, tuh sudah aku sediain." Ujar Wiwin sambil menunjuk ke arah ember dipojok ruangan.


Toglopun menoleh kearah pojok ruangan.


"Wah waah.. Adik abang ini sangat perhatian sekali, makasih ya." Ujar Toglo sembari melangkah mendekati ember yang berisikan air hangat tersebut.


Kemudian Toglo membawanya ke luar menuju kamar mandi.


Selepas Toglo mengelap badannya dengan air hangat, dan sudah ganti salin dengan baju kaos oblong dan celana pendek, ia pun langsung melangkah ke dapur untuk makan, karena sepulang kerja Toglo langsung mengantarkan Jaroni ke Kampung Rawan, jadi belum sempat mengisi perutnya dengan nasi.


"Wah benar apa kata nenek, masakan dek Wiwin sangat enak sekali, gak nyangka ternyata dek Wiwin pintar juga ya' masak." Gerutu Toglo.


Sementara Wiwin sendiri, mengintip Toglo yang lagi menyantap makanan, sambil senyum-senyum semringah.


"Wah Bang Wanda makannya enak sekali kayanya, asiik pasakanku di sukainya." Batin Wiwin. Kemudian ia kembali ke tempat nenek Jumi yang sudah mulai rebahan.


"Nenek udah mau tidur?." Tanya Wiwin.


"Iya nak, nenek pingin meluruskan pinggang, duduk terus rasanya pegel pinggang nenek." Ujar nenek Jumi.


"Ya sudah atuh nek, nenek tidur aku belum mau tidur, lagian Pr matematika masih satu soal lagi belum ku isi." Tukas Wiwin.


"Selesaikan dulu tugas dari ibuk guru, baru kamu tidur." Ujar nenek Jumi.


"Ita nek." Jawab Wiwin singkat.


.......................


Pukul 06:30


Toglo sudah meluncur lagi dengan sepedanya mengantarkan Wiwin ke sekolah.


"Sudah sampai." Uajr Toglo sembari menghentikan laju sepedanya.


Wiwin melangkah turun dari sepedanya Toglo, lalu di hulurkannya tangan Wiwin untuk memberi salam dan mencium punggung telapak tangannya Toglo.


"Aku masuk kelas ya, Abang hati-hati kerjanya." Ucap Wiwin.


"Iya dek, kamu juga jangan malas-malasan, belajar yang rajin supaya tetap juara satu." Ujar Toglo.

__ADS_1


"Iya Bang." Jawab Wiwin sambil melangkah meninggalkan Toglo yang lagi berdiri memandang.


Setelah Wiwin masuk kelas, Toglo langsung membalikan sepedanya dan di goes lagi menuju tempat kerjanya di jalan Gang Si'iran.


__ADS_2