SI KIDAL SANG PENOLONG

SI KIDAL SANG PENOLONG
Si kidal sang penolong eps 176


__ADS_3

Kini malam pun telah berganti pagi, udara masih tersa sejuk, cuaca pun nampak cerah. Nandi, Sindi dan Anggita pun pamit pulang, karena hari itu memulai lagi masuk kantor.


Sedangkan Rendi juga sudah bersiap-siap untuk berangkat kerja lagi setelah libur satu hari.


"Ma'ap buk aku pulang dulu ya, ibuk jaga kesehatan ya, bila ibuk butuh apapun telpon aja aku ya buk." Ujar Sindi sambil memeluk ibuk Suminar.


Buk sumi yang banyak dipanggil orang-orang, kini nampak terlihat sedih, karena harus di tinggal lagi oleh anak-anaknya, rasa rindu dan kangennya baru saja di rasakan, kini harus di tinggal kembali, tapi buk Sumi pun mengerti dengan ke ada'an anaknya yang harus patuh dan taat pada suaminya.


"Iya tidak apa-apa Sin, ibuk pun mengerti ke ada'anmu, selama suami masih berada di jalan yang benar patuh dan taatlah kepadanya." Ujar buk Suminar.


Nandi pun tersentuh hatinya ketika sang mertua yang begitu iklas dan tulus memberikan petùah pada anaknya dengan sangat bijaksana sekali, tidak terasa di manik bola matanya Nandi kini telah berkaca-kaca seperti langit yang mendung mau turun hujan.


"Aku juga minta ma'ap buk, andaikan ada sikap dan kata-kataku yang kurang berkenan di hati ibuk." Ucap Nandi sembari memberi sungkem pada sang mertua.


"Tidak nak Nandi, justru ibuk yang berterima kasih padamu, yang sudah memberikan kebahagia'an pada anak dan cucuku, semoga kalian selalu dalam lindungan illahi Robbi." Tutur buk Suminar.


"Amiin, sama-sama buk, ibuk dan bang Rendi juga semoga selalu di jauhkan dari segala mara bahaya." Ujar Nandi.


Selepas itu Rendi keluar sambil mendorong motornya dengan berpakaian rapi, pakaian seragam kerja yang di lapisi oleh jaket.


"Ku tinggal kerja dulu ya buk." Ujar Rendi.


"Iya Ren kamu hati-hati ya kerjanya, jaga kesehatan dan keselamatan." Jawab buk Sumi.


"Dek aku duluan ya, soalnya takut ke jebak macet, dek Gita Om berangkat dulu ya." Ujar Rendi pada Sindi dan Nandi serta Anggita.


"Iya bang, hati-hati."


"Om hati-hati ya, jangan ngebut-ngebut bawa motornya." Ujar Anggita.


"Iya sayang, makasih ya, kamu juga jadi anak yang baik ya dan jangan nakal." Ucap Rendi sambil mengelus-ngelus rambutnya Anggita.


"Iya Om." Jawab Anggita.


Setelah itu Rendi berangkat duluan, karena takut terjebak macet, apalagi dari jalan ketupat sampai jalan Delima telat sedikit saja perjalanan akan jadi terhambat oleh arus kendara'an yang semakin memadati jalan.


Kemudian Nandi, Sindi dan Anggita sudah memasuki mobilnya, Sedangkan buk Suminar berdiri di depan teras melepaskan kepergian Nandi, Sindi dan Anggita.


"Dah nenek." Anggita melambaikan tangannya di balik kaca jendela mobil.


Buk Suminar pun membalas lambaian tangan dari cucunya, sehingga tidak terasa di bening bola matanya nampak berkaca-kaca, menahan rasa sedih ditinggal orang yang di sayanginya.


"Hati-hati di jalan." Ucap buk Suminar.


Selepas itu Nandi pun sudah melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah.


Sementara buk Suminar masih tetap berdiri memandang kepergiannya mobil pajero new sport sampai hilang di telan jarak yang semakin jauh.


"Sendiri lagi nih, ya beginilah se orang ibuk, bila anak-anaknya sudah pada dewasa dan berkeluarga, ya harus bagai mana lagi." Gerutu buk Suminar sambil melangkah masuk ke dalam rumah.


.............


Sementara di temat lain, di sebuah gang Sawah, Wanda alias Toglo, dan adiknya Wawan, Wiwin serta nenek Jumi lagi duduk di bangku bambu sambil menikmati udara pagi, dengan di temani secangkir kopi dan teh pait ke suka'annya nenek Jumi.


"Lihatlah langit yang begitu indah, dan awan putih berlari-lari, sungguh indahnya ya nek cipta'an Allah swt." Ucap Wiwin sambil mendongakan wajahnya ke atas langit.

__ADS_1


"Iya cucuku, kalau kita kaji lebih dalam lagi, betapa besarnya cipta'an sang pencipta, kita harus banyak bersukur, melaksanakan perintahnya dan menjauhi segala yang di larang oleh agama kita." Jelasnya nenek Jumi.


Wanda dan Wawan tersenyum melihat ke luguan wajahnya Wiwin.


"Perkata'an nenek itu betul, coba dek Wiwin perhatikan langit dan bumi pun sujud padanya, masa kita selaku manusia mahluk paling lemah, mau sombong diri." Ujar Toglo memberi wejangan pada adiknya biar ia bisa lebih mengenal pada dirinya dan tuhannya.


"Iya bang terima kasih, aku pun bersyukur sudah di karuniai orang-orang baik, ada Nenek, Anggita, pak Nandi dan buk Sindi, mereka semua orang-orang yang berhati baik." Ujar Wiwin.


Setelah itu Toglo dan Wawan bersiap-siap untuk berangkat lagi kerja.


"Nek, adek ku berangkat dulu ya." Ujar Wanda dan Wawan.


"Iya cucuku, kalian hati-hati kerjanya, jangan lupa jaga kesehatan." Ujar nenek Jumi.


"Bang Wanda, ka Wawan hati-hati." Ucap Wiwin.


"Iya Nek, Adek terima kasih, Assalam mualaikum." Ujar Wanda dan Wawan.


"Wa alaikum sallam."


Lalu ke dua kaka beradik itu menaiki sepedanya, dengan menggoes melintas di jalanan kecil yang berbatu, yang di kiri kanannya banyak membentang lahan pertanian sawah dan ladang, yang sudah di penuhi oleh para petani ada yang lagi merawat sayur-sayuran dan ada pula yang lagi memberi pupuk dan lain sebagainya.


Saling tegur sapa antara Toglo dan para petani yang berpapasan.


"Hai Toglo, berangkat kerja lagi nih?."


"Iya mang, kapan tuh akan di panennya?." Toglo balik bertanya sambil menghentikan laju sepedanya


"Ya paling dua mingguan lagi." Jawabnya.


"Ya sudah, hati-hati."


"Ya terima kasih mang." Ujar Toglo sambil menggoes kembali sepedanya.


Toglo dan Wawan terus melaju kencang dengan sepeda gunungnya, saling kejar-kejaran di antara keduanya, ke dua kaka ber'adik ini begitu menyenangkan, terutama Toglo yang selalu mengajarkan pada adiknya supaya menjadi lelaki yang kuat dan gigih dalam memperjuangkan hdup.


Tidak lama kemudian mereka telah sampai di gang Si'iran, Wawan langsung berbelok menuju tempat kerjanya di lapak pak Dirman, sedangkan Toglo lurus menuju bengkel.


Setibanya di tempat bengkel Nampak terlihat oleh Toglo, Mira dan Gito yang lagi duduk di bangku.


"Selamat pagi bang Gito dan mba Mira, tumben nih sudah datang duluan?." Tanya Toglo.


"Pagi juga glo, baru aja gua dan Mira buka kedai." Ujar Gito.


"Bentar ya gua mau buka dulu bengkel." Ucap Toglo.


"Oke."


Selepas itu Toglo lalu membuka pintu rolling door bengkel, kemudian semua peralatan berikut kursi-kursi di keluarkannya.


Dan setelah itu munculah tiga motor dan berhenti di tempat parkiran samping bengkel, mereka adalah tiga anak buahnya Toglo yaitu Asep, Gio dan Peri.


"Assalam mu'alaikum." Sapa mereka.


"Wa alaikum sallam." Jawab Toglo.

__ADS_1


"Udah ngopi belum bang?." Tanya Asep pada Toglo.


"Kalau ngopi sih udah tadi di rumah, kalau kalian mau ngopi, ya sudah ngopi sana nanti gua nyusul, lagian jam kerja masih lama ko." Jawab Toglo.


Asep, Gio dan Peri lalu berjalan menuju kedai, nampak Hasan dan Doni lagi duduk asik sambil menyeripit kopi.


"Selamat pagi semuanya." Sapa Asep.


"Pagi juga, eeh Asep, Gio dan Peri, Toglo sudah datang?." Tanya Hasan.


"Sudah bang, lagi beres-beres dulu, paling bentar lagi juga ke sini." Jawab Gio.


Kemudian Asep dan kawan-kawan langsung memesan kopi pada Mira.


"Mba kopi hitam tiga." Pesan Asep pada sang pelayan kedai.


"Oke, pait manis apa sedang?." Tanya Mira.


Lalu Asep dengan kocaknya menjawab pertanya'an Mira dengan gaya sair lagu dangdut.


"Terlalu pait, jangan....Terlalu manis jangan.. Ooo yang sedang-sedang saja, hehee." Ujar Asep.


Hasan, Doni dan Mira sendiri pun jadi tertawa dengan tingkahnya Asep yang kocak.


Hahahahaha


Hahaha


Hahahaaa..


"Dasar lo' Sep, masih pagi juga sudah bikin sensasi." Ujar Mira.


"Ya bercanda dong Mba, biar aliran darah jadi lancar, betul gak Per." Ucap Asep sambil menoleh pada Peri.


Sambil me manggutkan kepalanya, Peri pun berkata.


"Yoo'ii."


Kemudian Mira pun langsung bikinin kopi pesanan Asep, sambil senyum-senyum sendiri, karena masih terlintas di benaknya Mira tingkahnya Asep yang jenaka.


Tak lama lagi tiga gelas kopi sudah mendarat di atas nampan lalu Mira membawanya ke tempat dimana Asep, Gip dan Peri lagi duduk.


"Ini kopinya, selamat menikmati cita rasa kopi dari hasil bikinan gue." Ujar Mira.


Asep dan kedua temannya lalu meraih gelas kopi yang nampak masih mengepul. Dengan seripitan pertama Asep dan kedua temannya begitu nikmatnya menikmati kopi tersebut.


**********


Bersambung


Mohon ma'ap atas segala kekurangannya, dan terima kasih banyak atas segala dukungannya.


Salam sehat dan sukses selalu.


"Assalam mu'alaikum"

__ADS_1


__ADS_2