
Malam yang heuning sunyi terus mengukir dan berpikir di benak nyaToglo, sebuah api dendam yang bergejolak ingin membalas semua perlakuan empat pemuda yang sudah berbuat kurang ajar pada adiknya.
Sepertinya Toglo terus kepikiran dan tidak bisa tidur dengan nyenyaknya, ingin rasanya dia keluar malam-malam tapi setelah di pikir lagi nanti adiknya dan nenek Jumi akan bertanya-tanya kalau ia keluar untuk mencari ke empat pemuda itu.
"Gua harus bisa control emosi gua, kalau sekarang gua tinggalin adik dan nenek, gua terlalu ego, tidak memikirkan nasib adik dan nenek yang sudah merawat dan membesarkan gua." Batin Toglo ber monolog.
Toglo menoleh pada Wawan nampak sudah terlelap tidur, lalu Toglo mengangkat tubuhnya dari tempat tidur, dan berjalan keluar kamar, lalu toglo menghampiri rak tempat menyimpan buku-buku, dan di ambilnya sebuah buku pedoman hidup, untuk mengalihkan rasa amarahnya yang kini sedang bergejolak di benaknya.
Mungkin dengan membaca buku membuat dirinya bisa berpikir lebih dewasa, dan lebih bijak dalam mengambil kesimpulan hidup.
Kini malampun semakin larut, rasa kantuk sudah mulai menyerang Toglo, ia pun berhenti membaca buku, lalu di simpannya kembali ke tempatnya semula.
Dilangkahkan kakinya menuju ruangan tempat tidur, karena besoknya Toglo harus pagi-pagi sekali untuk mendapatarkan Wiwin masuk sekolah dasar, di usia Wiwin yang sudah menginjak usia delapan tahun mungkin sudah terlalu ke tua'an, tapi bagi Toglo demi membuat adiknya supaya bisa lebih baik di masa depan, tidak ada kata terlambat bagi Toglo asalkan adiknya bisa sekolah dan bisa cerdas, tidak seperti dirinya sekolah dasarpun tidak sampai lulus karena keada'an paktor ekonomi yang kurang menunjang bagi Toglo untuk melanjutkan sekolah pada waktu itu, apalagi melihat kondisi nenek jumi yang sudah berusia senja, makanya Toglo memutuskan tidak melanjutkan sekolahnya, demi membantu nenek Jumi mencari napkah hidup.
............
Ke esokan harinya Sebelum matahari memancarkan cahayanya Toglo sudah bersiap-siap untuk mengantarkan Wiwin masuk sekolah dasar, Wiwin yang sudah memakai seragam putih merah dengan tas di gendongnya di balik punggung.
"Nek aku berangkat sekolah dulu ya." Ujar Wiwin sambil mengulurkan tangannya lalu di ciumnya punggung telapak tangan nenek Jumi.
"Ia cucuku, kamu belajar yang rajin ya, jangan kecewakan abangmu yang sudah dengan susah payah bekerja demi adik-adiknya supaya bisa maju." Tutur nenek jumi memberikan wejangan pada Wiwin.
"Iya nek, aku akan selalu belajar supaya aku bisa jadi anak pintar." Balas Wiwin.
Nenek Jumi tersenyum semringah melihat Wiwin seperti bersemangat ingin sekolah, lalu Toglo pun pamit. "Aku berangkat nek sekalian kerja, dan makanan sudah ke sediakan, dan kamu wan temani dulu nenek ya biar hari ini tidak usah masuk kerja dulu, nanti abang yang bilang pada pak Dirman."
Lalu nenek Jumi dan Wawan pun berkata.
"Iya nak hati-hati kerjanya." Nenek Jumi.
"Iya bang, abang hati-hati ya." Wawan.
"Iya terima kasih, Assalam mualaikum." Sapa Toglo sambil mendorong sepedanya keluar rumah, lalu Toglo menaiki sepeda gunungnya, yang di ikuti oleh Wiwin duduk di jok belakangnya Toglo.
Di goesnya sepeda gunung menyusuri jalan kecil di tengah-tengah ladangnya para petani.
Tidak lama kemudian, Toglo telah sampai di dedepan Sekolah Dasar Negri, lalu Toglo menghentikan laju sepedanya, dan Wiwin turun dari sepeda kemudian di ikuti oleh Toglo, lalu mereka berjalan menuju ruangan tempat penerimaan murid baru, setibanya di depan pintu yang sudah terbuka sedikit Toglo mengucapkan salam.
"Assalam mualaikum." Sapa Toglo.
Kemudian dari dalam pun menjawab. "Wa alaikum sallam wr wb, silahkan masuk."
Toglo dan Wiwin pun langsung memasuki ruangan tersebut, kemudian seorang ibuk guru mempersilahkan pada Toglo dan Wiwin untuk duduk.
"Silahkan duduk, bapak yang kemarin daptar di online kan?." Tanya Ibuk Guru.
"Iya betul buk." Jawab Toglo.
"Yang mau masuk anak bapak?." Ibuk Guru lanjut bertanya.
"Bukan buk, ini adik saya yang paling bontot." Jawab Toglo.
"Ya sekarang isi bio data, Nama, Alamat tanggal lahir adik bapak dan nama orang tua, Bapak tinggal ngisi disitu sudah tercantum." Ujar Buk Guru sambil memberikan selembar kertas untuk Toglo isi.
Setelah semua lengkap terisi semua, ibuk gurupun mengantarkan Wiwin untuk memasuki ruangan kelas satu dan Toglo mengikutinya dari belakang.
"Nah ini ruangan kelas adek, adek belajar yang rajin ya biar jadi anak pintar, sekarang adik cari tempat duduk yang adek suka." Ujar buk Guru.
"Baik buk Guru, ku pingin duduk paling depan Buk Guru." Ujar Wiwin.
"Bagus itu, biasa nya anak-anak lebih memilih bangku paling belakang,, anak pintar." Ujar buk Guru.
Wiwin pun langsung memasuki ruangannya dan duduk di bangku paling depan, lalu Toglo mengikutinya, untuk memberi semangat pada adiknya.
"Nah sekarang dek Wiwin sudah bisa sekolah, belajar yang rajin, nanti pulangnya abang jemput, ingat jangan nakal ya, dan ini buat adek jajan, kalau ada sisanya nanti di tabung." Ujar Toglo.
"Iya bang terima kasih."
Kemudian Toglo pun keluar dari ruangan kelas satu, dan menuju lagi pada ruangan tempat penerimaan murid baru, karena ada beberapa administrasi yang harus Toglo bayar.
__ADS_1
Setelah semua selesai Toglo pun keluar dari ruangan tersebut memburu pada sepeda gunungnya yang terparkir di halaman sekolah.
Setelah Toglo menaiki sepedanya lalu ia pun mengayuhnya meninggalkan sekolah tersebut, menuju Gang Si'iran untuk memulai lagi beraktipitasnya.
Pukul 07:15 menit.
Toglo telah sampai di tempat kerjanya, seperti biasa Toglo membuka pintu rolling dor bengkel dan toko spare part, lalu toglo menata kursi-kursi di ruang tunggu para castamer, dan mengeluarkan semua peralatan bengkel, setelah semua beres, Toglo berjalan ke tempat kerjanya Wawan untuk member tahu pada pak Dirman bahwa Wawan hari ini tidak masuk karena sakit.
Kemudian setelah itu Toglo pergi ke kedai untuk menghangatkan tubuhnya dengan minum kopi, apalagi Toglo belum sempat sarapan karena tadi harus mengantar dulu Wiwin ke sekolah.
Setiba di kedai nampak Gito dan Hsan serta Doni sudah Stay di kedai sambil minum kopi dan makanan yang tersedia di kedai itu.
"Assalam mualaikum, selamat pagi bang, wah tumben sudah pada nongkrong." Sapa Toglo.
"Wa alaikum salam, di rumah suntuk gua glo, mana bini ngomel melulu." Jawab Hasan.
"Ngomel kenapa sih bang, kayanya teh Lina orangnya baik dan penurut, kalaupun ngomel-ngomel pasti ada sebabnya dong." Ujar Toglo.
"Ya iya sih, bini gua emang baik, ya gua juga sih yang salah, ya tapi gua gak nyaman kalau bini sudah ngomel mulu, ya makanya gua cepat kesini." Ujar Hasan.
Selepas itu Kamal datang, yang sudah berpakaian rapi menghampiri pada mereka yang lagi asik duduk.
"Selamat pagi para sahabatku semua." Sapa Kamal.
"Pagi juga pak bos." semua menjawab serempak.
"Wah tumben nih pagi-pagi sudah berpakaian rapi begini, kalau gua perhati'in lo' ganteng juga Kamaludin, tapi sayang sih." Cetus Hasan.
"Sayang kenapa Hasan bin maun?." Tanya Kamal memaksa.
"Ya sayang masih jauh cantikan Astuti, kenapa ya ko Astuti mau sama lo'." Ujar Hasan mengejek.
"Iih dasar lo' Hasan bin maun, pagi-pagi sudah bikin ribut, yang penting istri gua kan cinta sama gua." Jawab Kamal.
Selepas itu para karyawan pun sudah berdatangan dan salah satu wanita yang berjalan kaki masuk kedai memberi sapa'an. "Selamat pagi semuanya." Sapanya.
Kemudian Wanita itu melirik ke arah Toglo sambil berkata. "Hai Wanda, apa kabar?." Tanya wanita itu yang tak lain adalah Wulan.
"Alhamdulilah kabar baik, sebaliknya gimana kabarmu, ko jalan kaki?." Toglo balik bertanya.
"Aku baik juga, motornya belum beres." Jawab Wulan.
Kamal, Hasan dan Gito tersenyum sambil bolak balik memandang pada Toglo dan Wulan, lalu Gito melemparkan canda'annya pada wulan.
"Ya mending di bonceng lagi atuh sama Aa Wanda naik sepeda, cihuuyy." Ujar Gito.
"Iih pak Gito bisa aja." cetus Wulan agak malu-malu kucing.
Toglo sendiri tertunduk seperti malu, namun tak lepas dari netranya terkadang memandang pada Wulan yang nampak lebih cantik dan anggun pagi itu. "Wulan kau nampak cantik sekali hari ini." Batin Toglo tersenyum semringah.
Pukul 8:00
Semua karyawan mulai memasuki ruangan kerjanya masing-masing, dan Nandi pun sudah nampak berjalan memasuki kantor.
Singkat cerita.
Pukul 10:00 Toglo meminta ijin pada Nandi untuk menjemput Wiwin yang baru masuk sekolah, dan Nandipun sangat senang mendengarnya bila Wiwin sudah mulai masuk sekolah. Nandi dengan sangat bijaksana memberi ijin pada Toglo.
Lalu Toglo langsung memburu pada sepedanya untuk menjemput Wiwin pulang dari sekolah.
Dengan kencangnya Toglo mengayuh sepedanya menuju sekolah tempat Wiwin belajar, sungguh luar biasa Toglo dalam menjalankan sepedanya, dan akhirnya Toglo sudah sampai di depan sekolah, bertepatan dengan keluarnya murid kelas satu, Toglo terus memperhatikan setiap siswa-siswi yang keluar dari ruangan kelas satu, ternyata Wiwin keluarnya paling belakangan, lalu Toglo memanggilnya.
"Dek Wiwin." Panggil Toglo.
Wiwinpun langsung lari begitu melihat abangnya berdiri dengan mengacungkan tangannya.
"Wah abang pas banget jemputnya." Ujar Wiwin.
"Iya dong, kan abang juga pernah sekolah, biasanya kelas satu keluarnya paling duluan." Ujar Toglo.
__ADS_1
"Hehe abang, ayo kita pulang bang, nanti kan abang balik lagi kerja."
"Okaayy." Jawab Toglo.
Setelah kedua kakak beradik sudah berada di atas sepeda kemudian sang kakak langsung melajukan sepedanya dengan meggoesnya, sepeda gunung kini meluncur dengan cepat.
Tidak lama kemudian mereka pun sudah sampai di depan rumah. "Abang balik kerja lagi ya." Toglo.
"Iya bang hati-hati." Wiwin.
Toglo langsung memutar balikan sepedanya dan menggoesnya menuju Gang Si'iran, sepeda gunung kini meluncur lagi bagaikan anak panah keluar dari busurnya.
Mungkin sudah kehendak semesta atau mungkin lagi mengalami kesialan aja, secara tidak di sengaja ketika Toglo melaju di jalanan yang menurun, secara tidak di sengaja ia berpapasan dengan empat pemuda yang mau di carinya, lalu Toglo bethenti sambil menyeringai penuh dendam dan berkata.
"Pucuk di cinta ulampun tiba, kalau sudah jodoh takan kemana, woii berhenti lo'." Bentak Toglo.
Ke empat pemuda itupun tersontak kaget sambil menghentikan langkahnya. "Heeh siapa lo' tiba-tiba bentak kami, mau cari ribut lo'." Ujarnya balas membentak.
"Lo' lo' semua harus bertanggung jawab." Ujar Toglo penuh emosi.
"Heh kuya, bertanggung jawab apa'an, perasa'an saya tidak pernah punya masalah sam lo'." Ujarnya terpancing rmosi.
"Memang kalian tidak pernah punya masalh sama gua, tapi setelah kalian memukuli adik gua di ujung gang Si'iran, sekarang jadi berurusan sama gua." Ujar Toglo.
Ke empat pemuda itu memanggutkan kepalanya dan saling pandang sesama temannya, seperti ingat apa yang ia lakukan pada pemuda bersepeda itu. "Ooh itu, kalau emang iya lo' mau apa." Ujarnya menantang.
Toglo geram mukanya merah menyala kelima jari tangannya sudah di kepalkan membentuk tinju.
"Keparat, gua habisin kalian." Ujar Toglo langsung melesat menyerang pemuda songong itu.
Kini perkelahianpun terjadi, Toglo di keroyok oleh empat orang pemuda, tapi itu semua tidak membuat Toglo gentar, malah Toglo semakin bringas, hingga tinju Toglo telah bersarang di pelipisan orang itu.
Deeaass..
Blaakk.
Satu orang telah terjatuh tak kuat menahan bobot pukulan tinju Toglo yang besar.
Toglo semakin bringas dan kejam, Kelebatan-kelebatan pukulan dan tendangan Toglo telah membuat mereka ke teter.
Hiiuuuukkk
Duk
Duk
Deeaaass.
Dua pukulan dan satu tendangan Toglo telah bersarang pada mereka, nampak terlihat mereka terhuyung sempoyongan, di sa'at itu pula elbo Toglo menghantam dagu dari mereka.
Deaass..
Auuuuggghhhh.
Blaaak.
Tak kuasa menahan keseimbangan tubuhnya, yang di sertai dengan banyaknya kunang-kunang yang berterbangan keluar dari netranya akhirnya jatuh tersungkur di jalan gang yang dicor.
Sementara tinggal dua orang lagi, lagi mengatur keseimbangannya supaya tidak terjatuh, mendadak sekelebatan tendangan memutar dan sutu pukulan jep telah membuat mereka tertidur di atas cor jalan Gang yang mau tembus ke Gang Si'iran.
"Lega sudah sekarang hati gua, maapin gua telah berlaku kasar pada kalian, karena kalian sendiri yang menjual masalah sama gua." Gerutu Toglo sambil melompat menaiki sepedanya, seperti tidak ada rasa kasihan di hati Toglo, pemuda sableng dan sadis bila hatinya tersakiti, padahal jiwa dan hatinya baik dan penyayang dan sangat peduli pada orang yang tertindas.
**********
Bersambung.
Jangan lupa sertakan like, comentar, favorit, vote serta hadiahnya bila suka.
Terima kasih atas dukungannya, salam sehat dan sukses selalu.
__ADS_1