
Ke kagetan temannya itu, tidak membuat Toglo merasa kasihan, malah Toglo lagsung melancarkan serangannya pada orang itu, tapi tiba-tiba serangan Toglo mendadak berhenti, ketika melihat orang yang akan ia hajar merendahkan tubuhnya dengan bersujud memohon ampun.
"Ampuuun ampun bang ku menyerah." Lirihnya sembari mengacungkan kedua tangannya.
Toglo pun timbul rasa iba di hatinya, melihat lawannya sudah memohon-mohon ampun begitu.
"Oke kali ini gua ma'apin, dan kamu pergi dari wilayah ini bawa temanmu itu, tapi awas jika suatu sa'at nanti gua melihat kalian berdua bikin ulah yang sama, tidak ada lagi kata ma'ap dari gua." Ujar Toglo.
"Baik bang."
Kemudian lelaki itu langsung memburu temannya, dengan memboyongnya pergi dari Gang Asam, sedangkan Wulan yang sedari tadi menyaksikan perkelahiannya Toglo dengan kedua orang yang tidak di kenalnya.
Perlahan keluar dari tempat persembunyiannya dan berjalan ke arah Toglo yang lagi celingukan mencari dirinya.
"Wan aku di sini." Sapa Wulan.
Lalu Toglo menoleh ke arah suara yang me manggilnya. "Eeh dikira kemana gitu, taunya di situ." Balas Toglo.
"Habisnya gue takut Wan, Kedua orang itu siapa sih." Ujar wulan sembari menghampiri Toglo.
"Kirain kamu kenal, emang bukan warga sini?." Tanya Toglo.
"Ku gak kenal Wan, itu bukan warga sini." Jawab Wulan.
"Ya sudah tidak usah di pikirn, ayo naik." Ajak Toglo.
Kemudian Wulan pun langsung menaiki lagi sepeda, lalu Toglo menggoesnya kembali menuju rumahnya Wulan.
Tidak lama kemudian Toglo pun telah sampai di depan halaman rumahnya Wulan.
"Kamu jangan langsung pulang ya, ku tau pasti kamu haus." Ujar Wulan.
Toglo pun tersenyum tipis sambil berkata.
"Tau aja sih, kalau gua haus." Ujar Toglo.
"Ya taulah kan lo' habis berantem pasti capek." Ujar Wulan sambil melangkah turun dari sepedanya Toglo.
Toglo pun lalu menyenderkan sepedanya pada pohon mangga depan rumahnya Wulan, lalu melangkahkan tungkai kakinya menuju teras rumah, dan duduk di kursi rotan yang terpasanga di teras depan rumah.
"Bentar ya Wan, gue masuk dulu." Ujar Wulan.
"Okee siip." Jawab Toglo.
Selang beberapa menit Wulan keluar membawa segelas air putih, yang di ikuti oleh seorang wanita kira-kira berusia empat puluh lima tahunan.
Toglo pun berdiri sambil mengulurkan salam pada wanita itu yang tak lain adalah ibuknya Wulan.
__ADS_1
"Selamat sore Tante." Sapa Toglo.
"Sore juga, ooh jadi ini yang namanya Wanda itu." Ujar ibuknya Wulan.
"Iya Tante, saya Wanda, teman kerjanya Wulan, cuma beda bagian aja." Jawab Toglo.
"Iya Tante sudah tau." Ucapnya.
Toglo kaget dengan jawaban ibuknya Wulan, lalu Toglo bertanya. "Tante tau dari mana?."
"Wulan yang cerita, tentang kamu, Tante pun ikut senang, kalau nak Wanda mau mengantarkan anak Tante, maklum cuma ada satu kendara'an itupun rebutan dengan bapknya, terpaksa Wulan ngalah, karena bapaknya kerjanya jauh, ayo di minum, maap cuma adanya air putih." Ujarnya.
"Tidak apa-apa Tante, terima kasih." Ujar Toglo sambil meraih gelas yang berisikan air putih.
Gelekgek
Glekgek..
Toglo dengan hausnya meminum segelas air putih, hanya dalam satu tegukan.
"Waah segeerr, Makasih ya." Ujar Toglo.
"Sama-sama Wan." Jawab Wulan sambil menurunkan tubuhnya duduk di kursi di sampingnya Toglo.
"Ma'ap ya, gua gak bisa berlama-lama, soalnya di tunggu sama Wawan." Ucap Toglo.
"Oke sama-sama, salam ya buat ibuk dan bapakmu." Ujar Toglo sembari melangkah kan kakinya turun dari teras rumah, memburu pada sepedanya yang bersandar di pohon mangga.
Setelah itu Toglo pun langsung menggoes lagi sepedanya meninggalkan rumahnya Wulan.
Sedangkan Wulan berdiri di depan teras memandang kepergiannya Toglo sampai menghilang di telan jarak yang semakin menjauh.
...............................
Sementara di tempat lain.
Kedua lelaki yang bertarung dengan Toglo telah tiba di lokasi, sebuah perkumpulan bela diri beraliran hitam.
Setibanya di dalam gerbang, kedua lelaki itu langsung berteriak memanggil Gurunya.
"Guru gu guruu."
Selang beberapa menit terdengar suara pintu terbuka, bersama'an dengan munculnya seorang pria paruh baya, berbadan tegap.
"Heh kenapa kalian, apa yang terjadi?." Bertanya.
"Celaka guru, kami dapat di kalahkan oleh se orang pemuda di gang Asam." Ujarnya.
__ADS_1
"Bodooh, percuma kalian saya ajarkan bela diri, kalau bela diri kalian masih dangkal, makanya giatlah berlatih, terus siapa pemuda itu?." Tanya sang Guru.
"Tidak tau guru, cuma saya mengenal dari pakaian yang di pakainya."
"Memang pakaiannya gimana?."
"Pemuda dan salah satu wanita yang di boncengnya mengenakan pakaian seragam, PT Anggita Surya Mandiri, begitu guru yang kami tau."
"Tidak salah lagi, itu adalah para pekerjanya Nandi, pasti pemuda itu masih termasuk The famili Gang Si'iran." Gerutu sang guru.
"Lantas bagaimana selanjutnya Guru?."
"Balas penghina'an ini." Jawab sang Guru.
Kemudian ketua pimpinan Black Crow, mengumpulkan semua murid-muridnya yang sudah terlatih, untuk memancing dan bikin kekacauan di sekitar wilayah Gang Si'iran.
"Penghina'an ini kita harus balas, dan kita bergerak di malam hari, kita bikin suasana di gang Si'iran kacau, dan kita teror biar mereka ke bingungan." Begitu tutur dari Guru besar Black Crow.
................
Di lain tempat.
Waktu itu hari sudah mulai senja, angin dingin sudah meniup merasuk masuk menyelimuti jantung kota.
Suasana di Gang Si'iran nampak tidak seperti biasanya, sepi mencekam, anak-anak yang biasa main sepeda di kala senja, kini tidak nampak terlihat.
Nandi masih duduk bersama anak istri di depan pekarangan rumah sambil menikmati udara yang terasa sejuk.
"Suasana senja hari ini, rasanya agak berbeda dengan biasanya, ada apa ya?." Cetus Nandi bertanya-tanya.
"Mungkin perasa'anmu saja kali Aa." Pungkas Sindi.
"Tidak sayang, beda banget, biasanya anak-anak suka ramai bersepeda, ini sama sekali tidak ada." Ujar Nandi.
Kemudian Anggita eka putri, ikut membenarkan apa yang di pikirkan ayahnya.
"Iya ayah benar, aku pun tidak melihat teman-teman aku keluar, biasanya pada ramai memanggil dan mengajak aku bermain." Celoteh Anggita.
"Tuh, Anggita pun tau itu." Ujar Nandi.
Insting dan perasa'an Nandi sangat peka, dan bisa membaca akan ada gelagat yang tidak beres, kemudian Nandi mengirim sebuah chat pada semua Sahabatnya, untuk kumpul selepas isa.
Setelah itu, terdengar suara adzan maghrib, panggilan bagi kaum muslimin dan muslimat untuk melaksanakan ibadah solat maghrib.
Nandi dan anak istri segera beranjak dari tempat duduknya memasuki kedalam rumah, dan segera mengambil air wudhu.
Selepas Nandi selesai melaksanakan ibadah solat maghrib, mereka langsung menuju ruang makan, untuk makan malam bareng keluarga.
__ADS_1